Langit Jakarta kembali mendung, seakan mencerminkan isi hati Cassandra. Sudah tiga minggu sejak ia secara resmi mengambil alih Adinegara Corp. Setiap hari dipenuhi rapat, gugatan hukum, dan manuver kejam untuk menjatuhkannya. Cassandra sadar, posisi yang ia duduki kini adalah kursi panas yang dikelilingi racun.
Namun dia bukan Cassandra yang dulu.
Di ruang kerjanya yang didominasi warna abu dan emas, ia berdiri di depan jendela besar yang menghadap ke pusat kota. Tangannya menggenggam secangkir kopi hitam, pahit tanpa gula—seperti kenyataan yang ia hadapi setiap hari.
"Ratu, kau sudah menjatuhkan raja pertamamu. Tapi kerajaan ini masih penuh musuh," gumamnya.
Ketukan di pintu mengalihkan perhatiannya.
"Masuk," ucapnya tanpa menoleh.
Seorang pria masuk dengan langkah percaya diri. Wajahnya tampan, rahangnya tegas, rambut cokelat gelap disisir rapi ke belakang. Matanya—mata yang dulu membuat Cassandra jatuh cinta—menatapnya dengan campuran kagum dan ragu.
"Arvino," ujar Cassandra, akhirnya menoleh.
"Selamat atas jabatan barumu," katanya datar.
"Aku tak butuh ucapan selamat darimu. Langsung saja, kenapa kamu ke sini?"
Arvino menatap sekeliling ruangan. "Kau mengubah semuanya. Bahkan ruangan ini tak lagi terasa seperti Adinegara Corp yang dulu."
"Karena aku bukan pemilik yang dulu," jawab Cassandra dingin. "Kau datang sebagai mantan tunangan atau mantan kaki tangan Darwin?"
Arvino menarik napas. "Aku datang... sebagai seseorang yang ingin menebus kesalahan."
Cassandra tertawa pelan, nyaris sinis. "Kesalahan? Kau menikahi sepupuku dua bulan setelah aku ‘mati’. Kau membantu pamanku mencuri perusahaanku. Lalu sekarang kau ingin menebus semuanya dengan kata-kata manis?"
"Aku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi waktu itu. Kami semua yakin kau mati. Dan Darwin... dia bilang kau bunuh diri karena tekanan bisnis."
"Kau percaya begitu saja? Setelah semua yang kita lewati?"
Arvino terdiam. Cassandra mendekat, menatap matanya dari dekat.
"Aku mencintaimu, Vino. Sampai aku rela pergi tanpa kabar agar kamu tak ikut terbunuh waktu itu. Tapi kau malah memilih berpaling. Dan sekarang, kau datang ke sini?"
"Aku... menyesal," bisik Arvino. "Dan aku ingin berada di pihakmu. Sekarang."
Cassandra menatapnya lama. Lalu kembali ke mejanya.
"Aku tidak butuh penyesalan. Aku butuh orang yang bisa dipercaya. Dan kamu... belum tentu salah satunya."
---
Hari itu, Cassandra bertemu seseorang yang sudah lama dia cari—Vania Wijaya, mantan sekretaris pribadi ayahnya. Wanita itu kini hidup sederhana di sebuah rumah kontrakan pinggiran kota, setelah kabur dari perusahaan karena ancaman Darwin.
"Bu Vania, aku butuh kebenaran. Siapa yang membunuh Ayah?"
Vania menatap Cassandra dengan mata berair. Ia mengeluarkan sebuah flashdisk dari laci kecil.
"Ayahmu pernah merasa hidupnya terancam. Dia sempat merekam percakapan terakhirnya dengan... ibumu."
Cassandra membeku.
Dengan tangan gemetar, ia menyalakan laptop dan memutar file itu. Suara ayahnya terdengar jelas, lalu disusul suara seorang wanita—lembut tapi dingin.
"Kau terlalu lunak, Reza. Perusahaan ini butuh tangan besi. Dan anakmu... dia terlalu mirip denganmu. Lemah."
"Dia pewaris kita, Maya!"
"Justru karena itu. Jika dia tumbuh terlalu cepat, dia akan melawan. Dan aku tak bisa membiarkan itu terjadi."
Seketika seluruh dunia Cassandra runtuh lagi.
Bukan hanya pamannya. Tapi ibunya sendiri. Ibunya yang selama ini dia kira hancur karena kehilangan suami, ternyata dalang utama segalanya.
"Terima kasih, Bu Vania. Kau sudah menyelamatkanku," bisik Cassandra.
---
Malam itu, Cassandra berdiri di balkon rumah keluarga Adinegara. Langit cerah, kontras dengan pikirannya yang gelap. Arvino tiba-tiba muncul di belakangnya.
"Kenapa kamu masih di sini?" tanya Cassandra, tidak menoleh.
"Karena aku tahu kamu butuh sekutu."
Cassandra menghela napas. "Dan kamu yakin aku bisa mempercayaimu?"
"Aku tahu aku sudah hancurkan kepercayaanmu. Tapi... izinkan aku membuktikannya."
Mereka saling menatap. Untuk pertama kalinya, mata Cassandra terlihat lelah. Ia tak berkata apa-apa. Tapi tak juga menyuruh Arvino pergi.
Dan itu cukup.
---
Keesokan harinya, Cassandra kembali ke kantor. Kali ini ia membawa kejutan besar.
Di ruang rapat besar, ia mengadakan konferensi pers. Para wartawan membludak, penasaran dengan isu-isu terbaru tentang konflik internal Adinegara Corp.
"Ladies and gentlemen," ujar Cassandra di podium, "Hari ini aku ingin mengumumkan satu hal penting."
Ia mengangkat flashdisk dan menunjukkannya ke kamera.
"Ini adalah bukti bahwa kematian ayahku bukan kecelakaan. Bukan bunuh diri. Tapi pembunuhan. Dan pelakunya... adalah orang yang sangat dekat dengan keluarga kami."
Wartawan geger. Kamera menyorotnya dari berbagai sudut.
"Aku akan menyerahkan bukti ini kepada pihak berwajib, dan memastikan bahwa siapa pun pelakunya akan menerima hukuman. Tak peduli dia sedarah denganku atau tidak."
Di balik layar, Maya—ibu Cassandra—menatap televisi dengan senyum tipis.
"Anakku sudah benar-benar berubah. Tapi jangan pikir kau bisa menang semudah itu."
Dan permainan baru pun dimulai.
---
Malam itu, rumah Cassandra diledakkan.
Untungnya, dia sudah mencium rencana itu sejak pagi. Dengan bantuan Arvino, ia berhasil menghindar. Namun seluruh rumah keluarganya habis terbakar.
"Pesannya jelas," gumam Cassandra sambil menatap bara api. "Ibuku tak main-main."
"Ini sudah terlalu berbahaya, Cass," kata Arvino. "Kamu harus keluar dari kota. Untuk sementara."
"Keluar?" Cassandra menoleh tajam. "Tidak. Ini tanahku. Ini warisanku. Aku tak akan mundur satu langkah pun."
Arvino menatapnya lama, lalu tersenyum kecil.
"Itulah Cassandra yang kukenal."
Cassandra mengalihkan pandangan ke langit malam. Dingin. Hitam. Tapi penuh bintang.
"Aku tak peduli berapa banyak peluru yang diarahkan padaku. Aku akan berdiri sampai akhir. Aku bukan lagi gadis lemah yang bisa disingkirkan."
Dan dari kejauhan, seseorang sedang memantau mereka. Seorang pria bertubuh tinggi dengan earset di telinganya, melapor ke telepon satelit.
"Target bertahan. Siapkan rencana kedua."