Hujan deras mengguyur kota Jakarta malam itu. Petir menyambar di langit kelam, seolah menyambut kedatangan seseorang yang sudah lama menghilang dari peredaran. Seorang wanita melangkah keluar dari mobil hitam mewah, dengan tumit tinggi yang tak gentar menapaki genangan air. Wajahnya tersembunyi di balik kacamata hitam dan mantel kulit panjang.
Wanita itu adalah Cassandra Adinegara, pewaris tunggal keluarga Adinegara yang selama lima tahun terakhir menghilang tanpa jejak.
Semua orang mengira ia telah mati.
Namun kenyataannya, Cassandra memilih menghilang karena pengkhianatan yang dilakukan oleh orang-orang terdekatnya. Ayahnya dibunuh secara misterius, perusahaannya direbut paksa oleh pamannya, dan tunangannya—Arvino—justru menikahi sepupunya.
Dan sekarang, Cassandra kembali. Bukan sebagai gadis lemah yang dulu mereka injak, tapi sebagai wanita tangguh yang siap menghancurkan setiap orang yang telah menghancurkan hidupnya.
---
Suara ketukan pintu menggema di aula perusahaan Adinegara Corp. Semua orang menoleh ketika wanita berpakaian serba hitam itu melangkah masuk dengan penuh percaya diri. Sekretaris terburu-buru berdiri, bingung harus menyapa atau mengusir.
"A-anda siapa, Nona?" tanya sang sekretaris gugup.
Cassandra melepaskan kacamatanya. Mata tajam berwarna hazel menatap langsung ke wajah sekretaris itu.
"Katanya ini perusahaan keluarga Adinegara?" suaranya tenang, tapi penuh tekanan.
"I-iya, tapi..."
"Aku Cassandra Adinegara. Pemilik sah perusahaan ini. Panggilkan pamanku. Sekarang."
Sekretaris itu membeku. Ruangan seketika sunyi. Seseorang menjatuhkan map dari tangannya karena shock.
Tidak lama kemudian, seorang pria paruh baya dengan perut buncit dan setelan jas mahal muncul dari balik pintu ruangan utama.
"Cassandra?" Pria itu—Paman Darwin—tercengang. "Tuhan… kau masih hidup?"
Cassandra tersenyum dingin. "Kau kelihatan kecewa aku tidak mati, Paman."
---
Ruangan rapat penuh dengan para pemegang saham yang penasaran. Beberapa mulai berbisik-bisik, membahas berita kembalinya pewaris sah perusahaan.
Darwin mencoba bersikap tenang. "Sungguh mengejutkan bahwa kau masih hidup, Cassandra. Tapi… kau tidak punya hak apa-apa di perusahaan ini lagi. Surat warisan ayahmu tidak valid tanpa kehadiranmu dalam lima tahun terakhir."
Cassandra membuka map biru di tangannya dan melempar dokumen ke atas meja.
"Aku sudah kembali. Dengan surat kuasa dari pengacara ayahku yang menyatakan bahwa jika aku hidup kembali dalam waktu tujuh tahun, seluruh warisan otomatis kembali padaku. Dan itu termasuk perusahaan ini, rumah keluarga, dan semua aset."
Semua orang menoleh. Darwin pucat.
"Ini tidak bisa diterima!" teriaknya. "Kau hanya wanita muda yang tidak tahu apa-apa soal bisnis!"
Cassandra tertawa pelan. Tawanya dingin dan menusuk.
"Lima tahun aku belajar di bawah para pemilik konglomerat dunia. Aku pernah duduk semeja dengan mafia Rusia, bersulang dengan taipan minyak Timur Tengah, dan berdagang saham di Wall Street. Kau pikir aku masih Cassandra yang dulu?"
Dia berdiri, menatap seluruh ruangan.
"Aku datang bukan untuk meminta kembali hakku. Aku datang untuk merebutnya—dengan kekuatan penuh."
---
Cassandra pulang ke rumah lamanya malam itu. Vila besar yang kini terlihat kotor dan tak terawat. Tapi dia tak gentar. Satu per satu dia akan kembalikan semua yang dirampas.
Di dalam kamar lamanya, dia menatap foto lama—foto dirinya bersama Arvino, pria yang dulu sangat dia cintai. Kini pria itu adalah suami sepupunya, Natasha.
"Aku pernah mencintaimu sampai mengorbankan segalanya," gumam Cassandra. "Tapi kini, kamu hanya bagian dari masa lalu yang harus aku kubur."
Ia membuang foto itu ke tempat sampah.
Besok, dia akan menghadiri pesta ulang tahun perusahaan. Sebuah acara glamor tempat semua tokoh penting hadir—dan tempat yang tepat untuk membuka langkah pertamanya.
---
Gedung megah sudah dipenuhi orang ketika Cassandra muncul dengan gaun hitam panjang belahan tinggi dan rambut disanggul elegan. Semua mata menatapnya, sebagian dengan kagum, sebagian dengan takut.
Natasha—sepupunya—melotot dari jauh. Arvino yang berdiri di sampingnya langsung menegang.
"Cassandra?" bisik Natasha. "Dia... hidup?"
Cassandra mendekat dengan senyum misterius.
"Selamat malam, Natasha. Arvino. Sudah lama tak bertemu." Suaranya tenang, tapi menusuk.
"Cassandra, tunggu," ujar Arvino terbata, "Kau benar-benar kembali?"
"Aku tidak kembali untukmu," potong Cassandra tegas. "Aku datang untuk apa yang seharusnya menjadi milikku."
Tatapan Cassandra beralih ke Natasha. "Oh ya, selamat atas pernikahan kalian. Sayang sekali aku tak sempat hadir di pemakamanku sendiri."
Natasha menegang. "Kau tak bisa datang seenaknya dan mengacaukan hidup kami!"
"Aku belum mulai mengacau, sayang. Tapi percaya deh, kamu akan tahu rasanya saat hidupmu benar-benar dihancurkan."
---
Di tengah acara, Cassandra naik ke podium, mengejutkan semua tamu undangan. Darwin bergegas ke depan, berusaha menghentikannya.
"Tamu-tamu terhormat," suara Cassandra terdengar melalui mikrofon. "Perkenalkan, aku Cassandra Adinegara. Dan aku akan mengambil kembali takhta keluargaku malam ini."
Dia menunjukkan dokumen-dokumen yang sudah divalidasi pengacara internasional. Dalam hitungan detik, suasana jadi riuh.
Saham-saham milik Darwin dibekukan.
Kontrak kerja sama yang ia buat diam-diam—dengan mafia Cina—dibocorkan lewat layar proyektor oleh Cassandra.
Dan di ujung podium, Cassandra hanya tersenyum.
"Bermain kotor itu hobi masa kecil, Paman. Tapi sayang, sekarang aku sudah dewasa."
---
Satu per satu, Cassandra menyingkirkan musuh-musuhnya. Natasha kehilangan reputasi sosial karena skandal yang terbongkar. Arvino dipecat dari jabatan CEO karena penyalahgunaan dana. Darwin… dipenjara karena kasus pencucian uang.
Dalam waktu tiga bulan, Cassandra mengubah keadaan.
Namun kemenangan itu tak membuatnya puas.
Karena ternyata, dalang utama di balik pembunuhan ayahnya bukan Darwin, tapi seseorang yang tak pernah ia curigai…
Ibunya sendiri.
---
Cassandra menatap ibunya yang duduk di ruang tamu rumah keluarga. Wajah wanita itu masih secantik dulu, hanya saja matanya tak lagi menyimpan kasih.
"Jadi selama ini… Ayah dibunuh karena kamu ingin kendali penuh?" tanya Cassandra lirih.
Ibunya tersenyum kecil. "Ayahmu terlalu lemah. Dia ingin menyerahkan semuanya padamu. Padahal kamu hanya seorang gadis. Kamu tak akan bertahan di dunia sekeras ini."
"Aku bisa. Dan aku akan membuktikannya." Suara Cassandra gemetar tapi tegas.
Ibunya mendekat. "Kalau begitu, mari kita lihat seberapa jauh kamu bisa berjalan, Ratu kecil. Karena permainan baru saja dimulai."
Dan Cassandra tahu, perjuangannya belum selesai. Tapi kali ini, dia tidak akan lari.
Dia akan berdiri.
Dia akan bertarung.
Dan dia akan menang.