Hujan turun deras malam itu. Butiran air menabrak kaca jendela apartemen kecil Li Feng, membentuk irama monoton yang seolah meninabobokan seluruh kota. Namun, bagi Li Feng, malam itu bukanlah malam biasa.
Sejak kejadian di reruntuhan kuil tua dan kemunculan medali naga hitam, ia tidak bisa tidur tenang.
Mimpi itu kembali datang.
Ia berdiri di atas singgasana megah berwarna emas, dikelilingi oleh ribuan prajurit berlutut di bawah.
Di langit, naga merah raksasa berputar-putar, menyemburkan api ke arah musuh-musuh yang menyerbu tembok kota.
Dan di bawah kakinya, mengalir sungai darah — darah dari pemberontak dan pengkhianat.
> “Hamba bersumpah setia pada Kaisar Qin Yuan, sang penguasa seluruh daratan Zhenlong!”
“Hidup Kaisar! Hidup selamanya!”
Suara itu bergema ribuan kali, seperti guntur yang mengguncang langit.
Namun di tengah gegap gempita itu, ada satu sosok perempuan bergaun putih berdiri di tangga istana, menatapnya dengan mata penuh kesedihan.
Wajahnya lembut, tapi di balik senyumnya tersimpan perpisahan.
> “Yang Mulia... bila dunia ini runtuh, izinkan aku tetap berada di sisimu, meski harus melalui seribu kehidupan.”
Dan kemudian—cahaya menyilaukan.
Li Feng terbangun dengan terengah, napasnya memburu. Tubuhnya berkeringat dingin, dan di dadanya, medali naga hitam itu bergetar pelan — seolah hidup.
Dia memandangi cermin di depan tempat tidur.
Namun pantulan yang ia lihat bukan dirinya — melainkan seorang pria berambut panjang dengan mata tajam seperti elang, mengenakan jubah kekaisaran merah tua, berdiri tegap di balik refleksi.
> “Qin Yuan…”
“Aku… adalah Qin Yuan.”
Kata-kata itu meluncur tanpa sadar dari bibirnya, tapi begitu diucapkan, sesuatu di dalam tubuhnya bereaksi.
Suara “boom” kecil terdengar dari d**a, dan gelombang panas menjalar ke seluruh tubuhnya. Arah aliran energi yang sebelumnya tidak pernah ia rasakan kini terbuka — seperti jalur qi yang selama ini tersegel.
Lampu kamar berkedip-kedip, udara bergetar.
> “Sungguh… energi spiritual?”
“Tapi ini dunia modern… mana mungkin ada qi sejati di sini?”
Li Feng terhuyung, tapi di saat bersamaan, sesuatu muncul dalam pikirannya — potongan ingatan masa lalu: peperangan, takhta, dan pengkhianatan dari jenderal kepercayaannya sendiri, Han Yue.
Ingatan itu menampar keras kesadarannya.
> “Han Yue… kau yang menikamku dari belakang.”
“Dan kini aku terlahir kembali untuk menagih utang darah itu.”
Namun belum sempat ia memahami lebih jauh, ponselnya bergetar.
Pesan masuk — dari nomor tak dikenal.
📩 Pesan:
> “Selamat datang kembali, Yang Mulia.”
“Kami sudah lama menantikan kebangkitanmu.”
Li Feng membeku.
Matanya menyipit, dan napasnya menegang.
Belum pernah ia memberi tahu siapa pun tentang mimpi atau medali itu. Siapa yang bisa tahu julukan “Yang Mulia”?
Pikiran logisnya menolak, tapi insting seorang raja yang tertidur di dalam dirinya segera bereaksi.
Tanpa ragu, ia membuka lemari besi kecil tempat ia menyimpan medali naga hitam itu.
Namun kali ini, medali tersebut bersinar terang, memancarkan simbol naga yang menari di udara.
Dari simbol itu, terdengar suara tua dan dalam — bukan manusia, tapi gema spiritual dari masa lampau.
> “Keturunan darah naga... akhirnya kau terbangun.”
“Kekaisaran Zhenlong runtuh, tapi roh para leluhur masih menunggu di balik gerbang dunia.”
“Buka kembali jalur menuju Alam Kaisar. Dunia ini membutuhkanmu lagi.”
Li Feng menatap simbol naga itu dengan campuran kagum dan ngeri.
> “Alam Kaisar… gerbang dunia…”
“Apakah ini berarti dua dunia itu… mulai terhubung lagi?”
Saat itu juga, cahaya dari medali menembus langit malam Neo Xi’an.
Sebuah simbol naga berwarna emas muncul sesaat di awan, membuat seluruh sistem kamera kota mendadak error.
Ribuan orang yang melihat dari jendela mengira itu fenomena alam, tapi bagi beberapa orang tertentu… itu adalah tanda kebangkitan.
---
Beberapa kilometer dari sana, di sebuah gedung kaca tinggi bertuliskan “Ordo Malam Abadi”, seorang pria berjas hitam tersenyum sambil menatap layar holografik yang menampilkan citra simbol naga di langit.
> “Jadi benar... legenda itu nyata.”
“Sang Kaisar Zhenlong telah bangkit di dunia manusia.”
Ia menekan sebuah tombol, lalu berkata pada asistennya:
> “Kirim pasukan pemburu. Pastikan kita menemukan Li Feng sebelum Gerbang Kaisar terbuka sepenuhnya.”
---
Sementara itu, Li Feng masih berdiri di depan cermin, tubuhnya dikelilingi energi qi berwarna keemasan.
Matanya yang sebelumnya hitam kini berkilau samar dengan cahaya naga.
Ia menggenggam medali erat-erat dan berbisik pada dirinya sendiri:
> “Jika dunia ini benar-benar terhubung kembali…”
“Maka aku, Qin Yuan… akan kembali merebut takhtaku.”
Cahaya emas di kamarnya perlahan padam, menyisakan kesunyian yang menegangkan.
Namun jauh di langit, gerbang dimensi mulai retak, menandai awal dari kembalinya kekuatan para raja kuno ke dunia modern.
---
🕊️ Cliffhanger Bab 3: Li Feng (Qin Yuan) telah benar-benar terbangun, tapi kini Ordo Malam Abadi mulai bergerak untuk memburunya.
Gerbang antara dua dunia perlahan terbuka.
Dan suara dari masa lalu terus memanggil namanya…