Suara mesin kendaraan memenuhi udara pagi Neo Xi’an. Langit masih kelabu sisa hujan semalam, tapi kota itu tak pernah benar-benar tidur. Orang-orang berjalan cepat di trotoar, sibuk dengan rutinitas dan layar ponsel mereka.
Namun di tengah keramaian itu, Li Feng berjalan dengan langkah berat, seolah setiap suara di dunia terasa terlalu keras baginya.
Ia tidak tidur semalaman. Pikiran tentang mimpi aneh, kekuatan aneh, dan gelandangan misterius yang memanggilnya “Paduka Kaisar” terus berputar di kepalanya.
Di saku jaketnya, medali giok hitam yang diberikan pria tua itu terasa hangat—kadang berdenyut, kadang bergetar halus, seperti benda hidup.
“Apakah aku gila… atau dunia yang gila?” gumamnya pelan.
Begitu tiba di toko elektronik tempatnya bekerja, rekan-rekannya menatap aneh.
“Bro, kamu kelihatan pucat banget,” kata rekan kerjanya, Jun. “Lembur lagi, ya?”
Li Feng hanya tersenyum tipis. “Bisa dibilang begitu.”
Namun setiap kali ia menatap refleksi dirinya di kaca etalase toko, mata keemasannya nyaris tampak kembali. Ia buru-buru memalingkan wajah, berusaha bersikap normal.
---
Menjelang sore, toko mulai sepi. Li Feng mengambil waktu istirahat dan berjalan keluar untuk menghirup udara.
Langit berwarna oranye, dan angin sore meniup rambutnya. Ia membuka jaket dan menatap medali giok yang kini berpendar lembut.
Tiba-tiba, suara dalam kepalanya terdengar lagi—lebih jelas dari sebelumnya.
> “Angin ini… bukan angin dari dunia ini.”
“Terlalu lemah. Terlalu hampa.”
Li Feng mengerutkan kening. “Kau lagi?”
> “Kita adalah satu, Li Feng. Aku adalah Qin Yuan, Kaisar Dinasti Zhenlong.”
“Kau adalah wadah baruku… penerus takhta yang telah lama terkubur.”
“Takhta? Kaisar? Zhenlong?” Li Feng berbisik. “Aku hanya orang biasa. Aku bukan siapa-siapa.”
Suara itu terdiam sejenak, lalu menjawab dengan nada dalam dan tenang:
> “Kau memang bukan siapa-siapa… di dunia ini. Tapi di dunia lain, darahmu adalah simbol kekuasaan. Gerbang antar dunia mulai terbuka, dan roh-roh lama bangkit dari tidur panjang mereka.”
Li Feng tertawa hambar. “Kedengarannya seperti cerita novel murahan.”
Namun tawa itu terhenti ketika tanah di bawah kakinya bergetar. Ia menatap sekeliling—semua orang masih berjalan seperti biasa, tak merasakan apa pun.
Tapi di mata Li Feng, bayangan hitam mulai muncul di antara orang-orang—bentuk samar seperti asap yang berbisik dalam bahasa tak dikenal.
> “Mereka mulai menembus batas dunia,” bisik suara itu.
“Gerbang Kegelapan perlahan terbuka.”
---
Malamnya, Li Feng berjalan pulang melewati jalan sempit yang sepi. Hujan tipis turun, membentuk genangan di antara lampu neon yang berkelap-kelip.
Dari kejauhan, ia melihat sosok perempuan berdiri di bawah lampu jalan. Rambut hitam panjangnya menutupi wajah, dan tubuhnya bergetar pelan.
“Permisi… kamu baik-baik saja?” tanya Li Feng, mendekat dengan hati-hati.
Perempuan itu menatapnya perlahan. Matanya kosong—tanpa cahaya, tanpa jiwa. Dan di balik pupilnya, bayangan hitam berputar seperti kabut hidup.
Seketika, hawa dingin menusuk. Li Feng mundur selangkah, tubuhnya gemetar.
“Ini… bukan manusia.”
Bayangan hitam itu keluar dari tubuh wanita itu, berubah menjadi bentuk kabut dengan wajah menyeramkan, menatapnya dengan mata merah menyala.
> “Kaisar Zhenlong…” bisiknya dengan suara parau. “Kami menemukanmu akhirnya…”
Li Feng terkejut. “Kau… tahu aku?”
> “Gerbang telah retak. Kami, para roh terbuang, akan bangkit. Dunia ini akan menjadi milik kami lagi!”
Makhluk itu melesat cepat, menembus udara, menyerang. Refleks, Li Feng mengangkat tangannya—dan dari medali giok hitam di lehernya, gelombang cahaya emas memancar keluar.
Udara bergetar, waktu terasa melambat, dan simbol naga bermahkota muncul di udara di belakangnya.
> “Dengan nama Zhenlong… enyahlah!”
Cahaya keemasan menyambar bayangan itu, memaksa wujud hitam itu menjerit sebelum menghilang seperti asap terbakar.
Li Feng terhuyung, lututnya lemas. “Apa barusan… kekuatanku?”
Suara dalam kepalanya menjawab lirih.
> “Itu hanyalah sebagian kecil dari warisan kekuatan kerajaan. Kau mulai terbangun, Li Feng. Tapi semakin kuat kau, semakin banyak makhluk dari masa lalu yang akan mencarimu.”
Li Feng menatap medali gioknya. “Kalau begitu, aku harus tahu segalanya tentang masa laluku… tentang Zhenlong, tentang dirimu.”
> “Kau ingin tahu?”
“Ya. Aku ingin tahu siapa sebenarnya aku.”
> “Kalau begitu… datanglah ke tempat di mana dunia lama dan dunia baru bersinggungan. Ke Reruntuhan Gunung Heiyun. Di sana, kebenaran menunggumu.”
---
Dua hari kemudian, Li Feng mengambil cuti. Ia berangkat menuju pinggiran kota, ke kawasan terlarang yang disebut Heiyun, sebuah gunung kecil yang kini dikelilingi pagar logam dan tanda “Area Arkeologi Nasional”.
Namun begitu kakinya menjejak tanah di area itu, medali giok di dadanya bergetar hebat.
> “Kau ingat tempat ini?” tanya suara itu pelan.
“Aku… merasa pernah berdiri di sini,” jawab Li Feng.
Di hadapannya, berdiri reruntuhan batu besar setengah terkubur tanah. Ukiran naga, burung phoenix, dan simbol kerajaan tampak samar di antara lumut.
Saat ia menyentuh salah satu ukiran itu, kilatan cahaya menyilaukan menyambar.
Sekejap kemudian, dunia di sekitarnya berubah.
Ia tidak lagi berdiri di reruntuhan, melainkan di lapangan istana kuno yang megah, dikelilingi dinding tinggi dan bendera kerajaan berkibar tertiup angin.
Ratusan prajurit berlutut di hadapannya, dan di tengah aula, sosok tinggi berjubah putih berdiri membungkuk dalam hormat.
> “Paduka Kaisar Qin Yuan,” katanya. “Gerbang Kegelapan menelan sebagian dunia. Tapi kami, Penjaga Langit, akan terus berjuang untuk mempertahankan cahaya.”
Li Feng menatap sekeliling dengan mata lebar.
“Ini… masa lalu?”
> “Tidak,” jawab suara itu. “Ini adalah kenangan… serpihan jiwaku yang masih tertinggal.”
> “Dan kau harus melihat akhir dari kerajaan yang kau tinggalkan.”
---
Langit berubah merah darah. Teriakan perang bergema di seluruh istana. Dari gerbang timur, pasukan berpakaian hitam menyerbu, diiringi kabut tebal dan suara lonceng keabadian. Di tengah medan perang, Gerbang Kegelapan terbuka—pusaran raksasa dengan cahaya ungu pekat yang menyedot segala hal di sekitarnya.
> “Kaisar!” teriak seorang jenderal. “Gerbang tak bisa ditutup!”
“Kalau begitu… aku yang akan menutupnya,” suara Qin Yuan menggema, tegas dan berwibawa.
Ia mengangkat pedangnya ke langit. Cahaya keemasan melesat, dan pusaran gelap itu mulai menyusut. Namun bersamaan dengan itu, tubuhnya mulai berubah menjadi partikel cahaya.
> “Untuk melindungi dunia… aku akan menyerahkan jiwaku.”
Dan semuanya lenyap.
---
Li Feng terbangun di reruntuhan Gunung Heiyun, napasnya tersengal. Matahari hampir terbenam, dan di tangannya kini tergenggam pedang kecil dari batu giok emas, berukir tulisan kuno:
> “Hanya yang memiliki dua jiwa dapat membuka gerbang yang tertutup.”
Li Feng menatap langit senja dengan mata yang kini berpendar keemasan.
Ia tahu, dunia ini akan segera berubah.
Dan ia adalah kunci yang akan menentukan masa depannya.
Namun dari balik pepohonan, seseorang diam-diam mengamati—seorang pria berjubah hitam dengan tato naga di lehernya.
> “Jadi… raja itu benar-benar telah kembali.”
---