Pagi di kota Neo Xi’an tampak biasa. Orang-orang lalu-lalang dengan pakaian formal, sibuk mengejar waktu, sibuk dengan rapat, sibuk dengan hidup yang terasa kosong.
Namun bagi Li Feng, pagi itu adalah awal dari sesuatu yang tidak akan bisa dijelaskan oleh sains atau logika modern.
Ia berdiri di balkon apartemennya, menatap matahari terbit.
Udara terasa berat — bukan karena polusi, tapi karena energi spiritual yang ia rasakan makin menebal di atmosfer.
> “Qi dari dua dunia mulai bersentuhan…” gumamnya pelan.
“Alam Zhenlong perlahan menyusup ke dunia ini.”
Tangannya masih menggenggam medali naga hitam. Kini benda itu tak lagi bersinar, namun terasa hidup — seolah bernapas bersama dirinya.
Li Feng memejamkan mata dan menarik napas dalam, mencoba mengatur energi di tubuhnya.
Dalam kesunyian itu, suara samar terdengar di kepalanya — suara yang dalam dan bergema seperti dari zaman purba.
> “Yang Mulia, darah naga di dalam tubuhmu belum sepenuhnya bangkit.”
“Untuk memulihkan kekuatanmu, kau harus menemukan Tulang Naga Pertama — artefak yang dulu menyegel takhta kekaisaran.”
> “Di mana aku bisa menemukannya?” tanya Li Feng dalam hati.
“Di bawah kota modern ini… tersembunyi reruntuhan Zhenlong yang tertelan waktu.”
---
Sementara itu, di gedung tinggi distrik utara, seseorang sedang mengamati layar besar yang menampilkan citra wajah Li Feng.
Pria itu berjas hitam, dengan simbol naga putih di kerahnya — anggota Ordo Malam Abadi.
Ia dikenal dengan nama Zhao Han, salah satu “Pemburu Bayangan” paling berbahaya di organisasi itu.
> “Kaisar Zhenlong yang legendaris… sekarang hanya manusia di dunia modern,” ujarnya dingin.
“Perintah sudah jelas. Tangkap dia hidup-hidup. Direktur ingin jiwanya diambil sebelum gerbang dunia terbuka.”
Asistennya mengangguk.
> “Tim pengejar sudah berangkat. Target terdeteksi di distrik timur, apartemen 7B.”
Zhao Han menatap layar holografik dengan senyum tipis.
> “Mari kita lihat, seberapa kuat seorang raja tanpa takhta bertahan di dunia tanpa mahkota.”
---
Sore itu, Li Feng meninggalkan apartemennya untuk mencari petunjuk tentang Tulang Naga Pertama.
Langkahnya membawanya ke sebuah area tua di pinggiran kota — sebuah pasar gelap yang menjual barang antik dan artefak langka.
Di sana, suasananya kontras: lampu redup, aroma dupa, dan suara pedagang berbisik seperti bayangan masa lalu yang hidup kembali.
Saat ia berjalan melewati deretan kios, matanya tertarik pada satu benda: sebuah pedang kuno dengan ukiran naga yang sama persis dengan simbol di medalinya.
> “Dari mana kau mendapatkan pedang ini?” tanya Li Feng pada si penjual, seorang pria tua bermata satu.
“Hanya satu orang di dunia ini yang tahu makna ukiran itu…” gumam si tua itu lirih.
“Dan itu bukan manusia biasa.”
Belum sempat Li Feng bertanya lebih lanjut, suara ledakan mengguncang seluruh pasar.
Dinding bata pecah, dan dari balik asap, muncul tiga sosok berpakaian hitam, masing-masing mengenakan masker naga putih.
> “Target ditemukan,” ucap salah satu dari mereka dingin.
“Jangan biarkan dia kabur.”
Li Feng menatap mereka, matanya menyipit. Dalam dirinya, naluri seorang raja yang dulu memimpin ribuan pasukan kembali bangkit.
> “Jadi ini… pemburu yang dikirim Ordo itu.”
Tanpa menunggu, salah satu dari mereka menyerang — menebas dengan bilah energi berbentuk sabit.
Namun gerakan Li Feng begitu cepat. Ia memutar tubuh, menahan serangan dengan tangan kosong. Saat sabit energi itu menyentuh kulitnya, cahaya keemasan muncul, memantul seperti logam suci.
> “Apa—?! Tubuhnya memantulkan serangan qi?!”
Li Feng tersenyum tipis.
> “Kalian berburu naga… tapi lupa bahwa naga tidak pernah menjadi mangsa.”
Tangannya bergerak cepat, menepuk d**a lawannya. Seketika, ledakan qi keemasan menghantam tubuh pemburu itu, membuatnya terpental menembus dua kios sekaligus.
Dua lainnya mundur, saling bertukar pandang.
> “Dia belum sepenuhnya bangkit, tapi kekuatannya sudah setara dengan Master Qi!”
“Tunggu bala bantuan!”
Namun Li Feng sudah melangkah maju. Setiap langkahnya mengguncang lantai pasar. Cahaya naga mengalir di bawah kakinya — jejak dari kekuatan yang pernah mengguncang dunia kuno.
> “Aku tidak lagi duduk di takhta emas…” katanya pelan.
“Tapi aku tetaplah raja.”
Dalam satu hentakan, gelombang qi emas memancar ke segala arah, menghempas para pemburu dan memadamkan semua lampu di area itu.
Ketika cahaya kembali, hanya Li Feng yang masih berdiri di tengah reruntuhan pasar, dengan mata menyala seperti bara naga.
---
Beberapa menit kemudian, Zhao Han tiba di lokasi.
Ia menatap pemandangan kehancuran itu dengan mata tajam.
> “Dia sudah mulai bangkit,” katanya pelan.
“Kalau dibiarkan, dunia ini akan tahu bahwa legenda itu nyata.”
Ia memungut pecahan pedang naga yang sempat dijatuhkan Li Feng. Saat disentuh, Zhao Han merasakan aliran energi aneh — bukan energi modern, melainkan qi kuno dari zaman kerajaan.
> “Gerbang antar dunia… sudah mulai terbuka,” gumamnya.
---
Sementara itu, Li Feng kembali ke apartemennya.
Tubuhnya lelah, tapi pikirannya tajam. Ia menatap cermin dan melihat pantulan wajahnya sendiri — setengah manusia modern, setengah sosok raja kuno.
> “Aku harus menemukan Tulang Naga sebelum mereka menemukanku.”
“Jika gerbang benar-benar terbuka penuh, maka perang dua dunia akan dimulai.”
Ia memejamkan mata, dan di dalam kesadarannya muncul peta samar — reruntuhan kuno di bawah tanah Neo Xi’an, dengan simbol naga yang memandu arah.
Namun suara lain tiba-tiba muncul… lembut, tapi penuh rasa rindu.
> “Yang Mulia…”
“Apakah kau masih mengingatku?”
Li Feng terkejut.
Itu suara seorang perempuan — suara yang sama dari mimpinya.
Suara Hua Lin, permaisuri yang dulu mati di sisinya di dunia lama.
Air mata menetes tanpa sadar.
> “Hua Lin…”
“Kau masih hidup?”
---
🌕 Cliffhanger Bab 4: Li Feng membangkitkan kekuatannya di dunia modern, tapi kini musuh sejati mulai bergerak.
Sementara itu, suara permaisurinya dari masa lalu menembus dua dunia — menandakan bahwa jiwa-jiwa dari Zhenlong mulai kembali.
---