Hujan turun deras membasahi langit malam Neo Xi’an. Kilatan petir sesekali membelah gelapnya langit, menyinari deretan gedung kaca yang menjulang tinggi. Di lantai tiga puluh dua salah satu apartemen sederhana, seorang pemuda berdiri di depan cermin kamar mandinya, menatap refleksi dirinya sendiri dengan mata sayu.
Namanya Li Feng, 24 tahun, pegawai toko elektronik yang hidupnya berkutat antara lembur, kopi sachet, dan kamar sempit berukuran tiga kali empat meter. Tak ada yang istimewa darinya—setidaknya, itulah yang ia yakini selama ini.
Namun malam itu, ada sesuatu yang berbeda.
Cerminnya—yang biasa memantulkan wajah lelahnya—tiba-tiba terasa... asing.
Tatapan dari balik pantulan itu tidak lagi miliknya.
Pupilnya tampak berubah menjadi warna keemasan redup, berputar seperti bara api di dalam kegelapan. Seketika udara di sekelilingnya menegang, seolah ruangan sempit itu tak lagi cukup menampung sesuatu yang jauh lebih besar.
Li Feng berusaha mundur, tapi tubuhnya kaku.
Suara berat bergema di dalam kepalanya.
> “Seribu tahun… aku tertidur. Dunia ini telah berubah.”
Jantungnya berdentum keras. Ia menatap bayangan di cermin, dan kali ini sosok di sana bukan lagi dirinya—melainkan seorang pria berjubah hitam bermahkota giok, berdiri tegak di atas istana megah yang terbuat dari batu putih. Angin meniup jubahnya, dan di belakangnya, ribuan pasukan berlutut seraya berseru:
> “Hidup Kaisar Qin Yuan! Penguasa Zhenlong!”
Li Feng terhuyung ke belakang, memegangi kepalanya. Potongan ingatan asing menyeruak ke dalam pikirannya—perang, darah, kehormatan, pengkhianatan.
Semuanya terasa nyata.
Ia menatap cermin lagi, kini berkeringat. “Apa yang terjadi padaku…?”
Suara itu kembali berbicara, kali ini lebih tenang, tapi penuh wibawa.
> “Tubuh ini milikmu, tapi jiwamu… adalah milikku.”
Li Feng terjatuh ke lantai. Napasnya tersengal.
Suara hujan di luar seperti lenyap, digantikan oleh bisikan samar dari masa lalu.
> “Kau adalah wadah baruku… warisku. Bersiaplah, karena takhta yang hilang akan kembali.”
Gelap.
Listrik padam.
Dan untuk sesaat, seluruh kota Neo Xi’an seperti terdiam.
---
Keesokan paginya, Li Feng terbangun di ranjangnya dengan kepala berat. Cahaya matahari pagi menembus tirai, tapi yang terasa hanyalah dingin di punggungnya. Ia menatap jam dinding—telat setengah jam dari waktu kerja.
“Lembur kemarin bikin pusing… mimpi aneh banget lagi,” gumamnya sambil memijat pelipis.
Namun ketika ia berdiri, ia melihat lambang naga bermahkota terukir samar di telapak tangannya, bercahaya keemasan sebelum memudar perlahan.
“Ini… bukan mimpi,” bisiknya.
Ia mengenakan jaket, berlari keluar apartemen dengan pikiran kalut. Di jalanan ramai Neo Xi’an, kehidupan berjalan seperti biasa—mobil melaju, orang-orang sibuk menatap ponsel, pedagang kaki lima berteriak menjajakan sarapan.
Namun setiap kali Li Feng melangkah, ia merasa tanah itu bergetar halus, seperti menunduk pada langkahnya. Orang-orang yang lewat di dekatnya menatap sekilas lalu cepat-cepat menghindar, tanpa tahu mengapa d**a mereka tiba-tiba sesak saat berpapasan dengannya.
---
Di perjalanan menuju toko, Li Feng melewati jembatan layang yang menghubungkan dua blok gedung. Di bawahnya, seorang gelandangan tua duduk bersandar pada dinding beton, menatap kosong ke arah langit.
Saat Li Feng lewat, pria itu tiba-tiba berbicara tanpa menoleh.
> “Paduka Kaisar… akhirnya kau bangkit.”
Li Feng berhenti. “Apa yang kau katakan?”
Gelandangan itu perlahan berdiri. Mata tuanya menatap langsung ke dalam mata Li Feng—dan di sana, untuk sesaat, terlihat pantulan istana kuno terbakar api.
> “Kami telah menunggu selama seribu tahun,” katanya lirih. “Zhenlong runtuh, tapi warisanmu tak pernah padam.”
Li Feng tertegun. “Siapa kau?”
Pria tua itu tersenyum samar dan menyerahkan sesuatu—medali kecil dari batu giok hitam, berukir naga yang melingkar menggigit ekornya sendiri.
Begitu jari Li Feng menyentuhnya, kilatan cahaya keemasan menyambar, dan tiba-tiba dunia di sekitarnya menghilang.
---
Li Feng berdiri di tengah aula megah, pilar tinggi menjulang di sekelilingnya, dan ribuan prajurit bersenjata menundukkan kepala di hadapannya. Ia mengenakan jubah ungu tua dengan bordir emas, dan di tangannya tergenggam pedang panjang berukir tulisan kuno.
> “Paduka Kaisar Qin Yuan!”
“Gerbang Kegelapan telah terbuka!”
“Rakyat memohon keputusan Anda!”
Semua berlutut, dan Li Feng—atau entah siapa dirinya saat itu—menatap mereka dari atas takhta batu giok.
Ia merasakan dua kesadaran di dalam dirinya, saling bertarung. Satu adalah dirinya sendiri, yang manusiawi dan rapuh. Yang lain… jiwa sang kaisar, yang dingin, penuh wibawa, dan sarat dengan kekuatan abadi.
> “Gerbang Kegelapan tidak boleh terbuka,” suara dalam itu bergema. “Bila perlu… aku akan mengorbankan jiwaku lagi.”
Dan saat ia mengucapkannya, dunia di sekitarnya pecah. Cahaya menyilaukan menelan segalanya.
---
Li Feng terbangun di bawah jembatan, tubuhnya basah oleh hujan. Gelandangan tadi sudah menghilang, hanya menyisakan medali giok di tangannya yang kini berdenyut pelan seolah hidup.
Ia berdiri dengan lutut gemetar. Langit di atasnya masih mendung, tapi entah mengapa, udara di sekelilingnya kini bergetar.
Setiap tarikan napas membawa aroma logam dan badai.
Dari jauh, terdengar suara teriakan seorang anak kecil yang hampir tertabrak mobil.
Refleks, Li Feng mengangkat tangannya. Angin berputar tiba-tiba, menciptakan hembusan kuat yang mendorong mobil itu berhenti beberapa meter sebelum menabrak anak itu.
Orang-orang menatapnya, bingung. Anak kecil itu menangis, tapi tak terluka sedikit pun.
Li Feng terdiam. “Aku barusan... apa yang kulakukan?”
Suara dalam kepalanya menjawab dengan tenang.
> “Itu hanya sekelumit dari kekuatan sejati kita.”
> “Kau… siapa sebenarnya?”
“Aku adalah engkau. Engkau adalah aku. Dua jiwa, satu tubuh. Dan dunia ini akan kembali berguncang karenanya.”
---
Malamnya, Li Feng duduk di tepi ranjang, memandangi medali giok hitam di tangannya. Cahaya lampu temaram membuat ukiran naga itu tampak hidup.
> “Zhenlong…” gumamnya. “Nama itu terdengar akrab, tapi aku tak tahu dari mana.”
Ia membuka ponselnya dan mencoba mencari di internet. Namun tak ada hasil apa pun. Tidak ada catatan sejarah, tidak ada catatan arkeologi. Seolah kerajaan itu tak pernah ada.
Tapi ia tahu… ia pernah berdiri di sana.
Ia pernah memerintah ribuan orang, pernah menatap dunia dari atas takhta yang menjulang tinggi.
Kini, takhta itu telah hilang, dan ia terjebak di dunia yang tak mengenalnya lagi.
Namun jauh di dalam hatinya, sesuatu berbisik.
> “Takhta mungkin telah hilang, tapi darah raja tak akan pernah padam.”
Li Feng menggenggam medali itu erat, dan saat ia memejamkan mata, angin berhembus pelan dari jendela.
Di kejauhan, di balik bayangan gedung tinggi, cahaya kehitaman tampak muncul sejenak—seolah ada sesuatu yang mulai terbangun kembali.