Leon
Tak lama setelah aku meninggalkan panti, Raina mengirim pesan dan memintaku kembali. Bu Asih akan mendampinginya. Kami sudah berbicara tentang kalimat Farah; sekarang Raina ingin menghadapi Tante Marta dan menyampaikan sendiri batas yang selama ini ia tahan.
Raina duduk di samping Bu Asih. Ia membawa buku Farah dan map berisi salinan bukti. “Aku ingin bicara sendiri. Tolong jangan menjawab untukku kecuali aku meminta,” katanya.
“Aku akan menunggu isyaratmu,” jawabku.
Bu Asih memastikan Raina nyaman sebelum kami melanjutkan. Ia tidak ingin pembicaraan ini berubah menjadi pertengkaran atau tontonan. Kami sepakat membatasi pertemuan pada apa yang Marta lakukan dan apa yang harus berhenti.
Kami kemudian membicarakan Tante Marta. Raina ingin menghadapinya di rumah, dengan aku dan Bu Asih mendampingi. Devi mengirim salinan bukti bahwa Marta mengirim foto kepada akun infotainment dan menerima bayaran. Raina membaca ringkasannya dan meminta Devi menyimpan bukti asli.
“Aku tidak ingin membalas dengan mempermalukannya,” kata Raina. “Aku hanya ingin dia berhenti menjual cerita tentang hidupku.”
“Kita bisa mengatakan itu dengan tegas,” jawabku.
“Jangan bicara untukku.”
“Baik. Aku akan berdiri di sampingmu.”
Atas permintaan Raina, Devi mengundang Marta ke rumah sore itu untuk membicarakan pengiriman foto dan permintaan uang. Marta mengetahui pokok pertemuannya sebelum datang. Kami tidak mengundang media atau orang lain. Bu Asih memilih ikut sebagai pendamping Raina. Aku meminta pengacara perusahaan menyiapkan surat peringatan, tetapi tidak mengirimkannya sebelum Raina menentukan sikap.
Sesudah waktu pertemuan disepakati, aku mengantar Raina dan Bu Asih ke rumah. Kami duduk di ruang tamu dengan salinan bukti yang telah dibaca Raina.
Marta datang dengan wajah seolah-olah tak terjadi apa-apa. Ia membawa tas besar dan langsung memandang Raina.
“Akhirnya kamu pulang juga. Aku sudah mencari kabarmu.”
Raina berdiri tegak. “Kamu tidak mencari kabarku. Kamu menjual fotoku.”
Marta tertawa pendek. “Jangan menuduh kalau tidak punya bukti.”
Raina meletakkan salinan bukti di meja. “Ini bukti pengiriman dan pembayaran. Aku tidak akan berdebat tentang apa yang sudah kamu lakukan.”
Marta melihat kertas itu, lalu mengalihkan pandangan kepadaku. “Kamu membiarkan istrimu bicara kasar kepada keluarganya?”
“Raina bisa bicara sendiri,” kataku. “Saya di sini untuk mendampinginya.”
Marta menyilangkan tangan. “Aku hanya butuh sedikit bantuan. Keluarga harus saling menolong.”
“Kamu sudah menerima uang untuk menjual foto saya,” kata Raina. “Aku tidak akan memberimu uang lagi.”
“Aku melakukan itu karena kamu tidak pernah memikirkan keluargamu.”
“Kamu menyerahkanku kepada Leon setelah menerima uang. Kamu juga mengancam bicara kepada wartawan. Itu bukan cara keluarga menolong.”
Wajah Marta mengeras. “Jangan ungkit masa lalu.”
“Kamu yang membawa masa lalu itu ke media.”
Aku menahan diri agar tidak menyela. Raina tidak meminta aku menjawab untuknya. Ia berdiri dengan suara tenang, meski tangannya sedikit gemetar.
“Aku ingin kamu berhenti menghubungi media tentang aku. Jangan menjual foto atau cerita tentang hidupku. Jika kamu ingin berbicara, lakukan langsung dan jangan meminta uang.”
Marta menatapku lagi. “Kalau aku tidak setuju?”
Raina menjawab sebelum aku sempat bicara. “Kami akan meminta bantuan hukum untuk menghentikan penyebaran foto. Aku tidak akan menutup-nutupi apa yang terjadi.”
Aku menambahkan, “Bukti disimpan. Kami tidak ingin mempermalukan Anda, tetapi kami akan menjaga privasi Raina.”
Marta tampak kehilangan keberanian yang dibawanya. Ia meraih tasnya, tetapi masih berusaha menyelamatkan muka.
“Kamu akan menyesal memperlakukan keluargamu begini,” gerutunya.
“Aku sudah terlalu lama menyesal karena tidak berani menetapkan batas,” jawab Raina.
Di ambang pintu Marta berhenti. “Aku tidak akan menghubungi wartawan lagi.”
“Aku harap kamu memegang kata-katamu,” kata Raina. “Aku tidak meminta kamu mengakui semuanya hari ini. Aku hanya meminta kamu berhenti menjual foto dan cerita tentang hidupku.”
Marta tidak menjawab. Ia pergi tanpa mendapatkan uang. Kami tidak merayakan atau bertepuk tangan. Bu Asih mendekati Raina dan bertanya apakah ia baik-baik saja.
“Aku tidak tahu apakah aku bisa memaafkannya,” kata Raina.
“Kamu tidak perlu menentukan itu sekarang,” jawab Bu Asih.
“Aku lega dia pergi. Tapi aku tidak merasa menang.”
“Menjaga dirimu bukan perlombaan,” kataku.
Raina menoleh kepadaku. “Terima kasih karena tidak mengambil alih.”
“Kamu sudah cukup jelas. Aku hanya perlu berdiri di sampingmu.”
Kami menyimpan salinan bukti ke dalam map. Dengan persetujuan Raina, Devi akan mengajukan permintaan penurunan unggahan kepada platform dan menyimpan jawabannya untuk ditinjau tim hukum. Raina tidak ingin menjadikan urusan ini tontonan lain. Aku mengatakan surat peringatan dari pengacara tetap bisa disiapkan jika batasnya dilanggar, tetapi keputusan mengirimkannya tetap miliknya.
“Aku gemetar,” katanya. “Tapi aku lega.”
Aku tidak menyentuhnya sebelum bertanya, “Boleh aku memegang tanganmu?”
Raina menatapku sesaat, lalu mengangguk. Aku menggenggam tangannya pelan.
“Terima kasih,” katanya. “Aku perlu kembali ke panti sebentar. Aku ingin berpikir sebelum memutuskan apa pun.”
“Tentu. Aku akan mengantarmu.”
Aku mengantar Raina dan Bu Asih kembali ke panti. Raina duduk bersama Bu Asih di belakang dan tidak banyak bicara. Aku tidak memintanya memberi jawaban. Di panti, aku berpamitan dan berkata bahwa aku akan menunggu kabarnya.
“Aku akan memberi tahu kamu setelah aku siap,” katanya.
“Baik. Aku tidak akan memutuskan untukmu.”
Aku pulang sendiri. Perasaanku lega karena Marta telah mendengar batas Raina, tetapi aku tahu persoalan kami belum selesai hanya karena satu percakapan berjalan lebih baik. Aku harus tetap mendengarkan ketika tidak ada orang lain yang menyaksikan, dan ketika rasa takutku muncul lagi.
Di rumah, aku tidak langsung menghubunginya. Aku meletakkan ponsel di meja dan menunggu ia memilih kapan akan berbicara. Aku memikirkan bagaimana ia berdiri di hadapan Marta meski tangannya gemetar. Keberaniannya bukan izin bagiku untuk menganggap ia sudah pulih. Ia tetap berhak merasa takut, marah, atau berubah pikiran.
Aku menyimpan map bukti di tempat yang aman dan mengirim Devi pesan singkat untuk tidak mengambil langkah lain sebelum Raina menyetujuinya. Setelah itu aku duduk sendiri, menyadari bahwa mendukungnya berarti membiarkan keputusan tetap berada di tangannya, termasuk keputusan tentang hubungan kami.
***
Raina
Setelah kembali ke panti bersama Bu Asih, aku tetap duduk di ruang tengah dengan tangan dingin. Aku berhasil mengatakan apa yang selama ini ingin kukatakan, tetapi tubuhku masih gemetar. Bu Asih memberiku segelas air. Leon sudah pulang setelah mengantarku. Setelah menenangkan diri beberapa saat, aku mengirim pesan dan memintanya datang kembali. Ia duduk di sampingku, tidak terburu-buru meminta jawaban tentang hubungan kami.
“Kamu ingin pulang ke rumah?” tanyanya setelah beberapa saat.
Aku memikirkan jawabannya. “Aku ingin pulang, tapi bukan karena merasa harus. Aku ingin pulang karena aku memilih mencoba lagi.”
Leon mengangguk. “Aku akan menghormati pilihanmu. Kita bisa pulang bersama atau menunggu sampai kamu siap.”
“Aku mau pulang hari ini. Tapi aku ingin kita membawa kesepakatan yang tadi kita bicarakan.”
“Aku akan menjaganya.”
“Dan kalau kita bertengkar lagi, kita tidak pergi sambil membanting pintu.”
“Aku tidak akan mengulanginya.”
“Kalau kamu perlu jeda, bilang kapan akan kembali.”
“Iya.”
Aku memegang buku catatan Farah di pangkuanku. Leon sudah membaca kalimat lengkap itu sore tadi, jadi kami tidak perlu mengulanginya. Aku hanya ingin memastikan bahwa kami memahami pesannya dengan cara yang sama.
“Aku tidak ingin pesan Farah menjadi beban untukmu,” kataku.
“Aku mengerti. Itu bukan perintah untuk mencintaimu. Itu harapan agar kita memilih hidup kita sendiri.”
“Aku juga ingin begitu.”
Leon menundukkan kepala. “Aku minta maaf karena beberapa hari lalu aku membuatmu merasa harus membuktikan kesetiaanmu. Aku sudah tahu kamu jujur, tapi tetap membiarkan rasa takutku melukai kamu.”
“Aku belum bisa melupakan itu begitu saja.”
“Aku tidak meminta kamu melupakannya.”
“Aku ingin melihat kamu mempercayai aku saat situasi sulit, bukan hanya saat semuanya tenang.”
“Aku akan berusaha menunjukkannya.”
“Jangan cuma berjanji.”
“Kamu benar. Aku akan membuktikannya lewat tindakan.”
Aku menatapnya lama. “Aku juga minta maaf karena pergi tanpa memberi tahu kamu langsung. Aku tahu kamu khawatir.”
“Kamu mengirim kabar bahwa kamu aman. Aku tidak berhak menuntut lebih dari yang sanggup kamu berikan malam itu.”
“Terima kasih.”
Ia mengulurkan tangan, tetapi menunggu. Aku menyambutnya. Kami berpelukan dengan hati-hati, tidak seperti adegan dalam cerita yang menghapus semua masalah dalam satu sentuhan. Pelukan itu hanya mengatakan bahwa kami masih ingin mencoba.
Bu Asih tersenyum dari dekat pintu. “Kalian pulanglah sebelum hujannya turun lagi.”
Ajeng berlari membawa gambar rumah dengan atap biru dan pohon besar. “Kak Raina, jangan lupa gambar ini.”
“Kakak bawa.”
“Nanti kirim foto rumah kalian ada pohonnya.”
“Kalau ada kesempatan, Kakak kirim.”
Ajeng puas. Aku berpamitan kepada Bu Asih dan berterima kasih karena ia memberiku tempat untuk tenang. Leon menawarkan membawakan tas, tetapi aku mengangkatnya sendiri.
“Aku bisa membawanya,” kataku.
“Aku tahu. Kalau kamu ingin kubantu, bilang.”
Aku tersenyum. “Baik.”
Dalam perjalanan pulang, kami tidak banyak bicara. Aku memegang buku Farah dan gambar Ajeng di pangkuan. Leon menyetir dengan hati-hati dan tidak menanyakan apakah aku sudah memaafkannya. Aku menghargai itu.
Sesampainya di rumah, cincinku masih berada di meja makan. Leon mengatakan ia sempat menyimpannya di laci agar aman, lalu mengembalikannya ke meja. Ia memberitahuku tanpa mengartikan tindakan itu sebagai keputusan tentang hubungan kami. Aku mengambilnya dan memakainya kembali, bukan sebagai tanda bahwa semua luka selesai, tetapi sebagai pilihan untuk melanjutkan pernikahan kami dengan kesepakatan baru.
“Kamu ingin aku menyimpan buku ini?” tanyanya.
“Aku akan menyimpannya sendiri. Aku mungkin ingin membacanya lagi.”
“Baik.”
Aku meletakkan gambar Ajeng di meja samping. Rumah itu terasa sunyi, tetapi tidak lagi seperti ruang yang menungguku meminta maaf karena pergi. Kami masih punya banyak hal untuk dipelajari. Namun kali ini, kami memulai kembali dengan kejujuran, bukan janji kepada orang lain.
Malam itu kami duduk di ruang tengah sambil minum teh. Aku bercerita bahwa panti memberiku waktu untuk menenangkan diri, dan aku ingin tetap bisa mengunjunginya. Leon mengatakan bahwa aku tidak perlu meminta izin untuk bertemu Bu Asih atau anak-anak.
“Aku ingin kita punya rutinitas bersama, tapi aku juga tetap butuh waktuku sendiri,” kataku.
“Aku mengerti. Kita bicarakan jadwalnya bersama-sama.”
Kami membahas kuliah dan rapatnya, lalu sepakat memberi kabar jika pulang terlambat atau perlu waktu sendiri. Tidak ada aturan panjang yang menjamin kami tak akan berselisih. Hanya ada cara sederhana agar yang satu tidak perlu menebak-nebak.
Sebelum tidur, Leon bertanya apakah aku ingin ia tinggal di kamar atau memberi ruang. Aku memilih agar kami tidur di kamar yang sama, tetapi tidak ingin ada kedekatan yang kupaksakan. Ia menerima jawabanku dan menyalakan lampu lorong seperti yang kuminta. Aku tahu satu malam tidak menyembuhkan semua luka, tetapi aku merasa aman menentukan batas.