Leon
Aku pulang dari panti tanpa meminta Raina ikut. Hujan menebal di jalan, dan aku menyalakan wiper dengan kecepatan rendah. Aku terus mengingat kalimatnya: “Aku mendengarkan. Itu belum berarti semuanya selesai.” Aku tidak akan menyalahkan Raina karena belum siap memaafkan.
Di rumah, cincin itu masih tersimpan di laci tempat ia kutaruh. Aku mengeluarkannya dan meletakkannya kembali di meja makan, tepat di tempat Raina meninggalkannya. Aku tidak tahu apakah ia ingin mengambilnya atau tidak, tetapi aku tidak ingin menyembunyikannya.
Pagi berikutnya, aku mengirim pesan kepada Raina: “Aku bisa datang ke panti kalau kamu masih ingin bicara. Kalau tidak, aku akan menunggu.” Ia membalas beberapa menit kemudian: “Datang setelah makan siang. Kita bicara di halaman.”
Aku tiba sesuai waktu. Raina duduk di bangku dekat pohon. Buku catatan Farah berada di sampingnya. Aku duduk agak jauh, memastikan ia tidak merasa terpojok.
“Kamu bisa mulai,” katanya.
Aku menarik napas. “Aku mencintaimu bukan karena janji kepada Farah. Aku pernah berkata begitu, tapi aku harus mengatakannya lagi dengan jelas. Aku mencintaimu karena aku mengenalmu dan memilihmu.”
“Kapan kamu tahu?”
“Aku tidak punya satu tanggal pasti. Perasaanku tumbuh lewat hal-hal kecil. Saat kamu menegurku karena terlalu mengatur, saat kamu mulai kembali kuliah, saat kamu memilih jujur meski takut aku marah.”
“Tapi kamu tetap meragukanku saat foto muncul.”
“Iya. Itu tidak sejalan dengan cintaku. Aku membiarkan rasa takut mengalahkan sikap yang seharusnya kuberikan.”
“Kamu takut kehilangan aku?”
“Iya. Tapi ketakutan itu bukan alasan untuk mengendalikanmu. Aku harus mengelolanya sendiri.”
Raina memainkan ujung lengan bajunya. “Aku tidak ingin Farah menjadi alasan kita bertengkar setiap kali ada masalah.”
“Aku juga tidak. Aku akan berhenti memakai pesan atau kenangannya sebagai tolok ukur hubungan kita.”
“Aku juga tidak ingin menggunakan Azzam untuk menyakitimu.”
“Aku tahu kamu tidak melakukannya.”
Ia memandang buku catatan di bangku. “Aku membaca lagi halaman terakhir. Ada bagian yang terlipat di sampul. Aku belum tahu apakah itu benar-benar kelanjutan kalimatnya.”
“Kamu tidak perlu menunjukkannya kalau belum siap.”
“Aku ingin membacanya dulu. Mungkin nanti aku akan menunjukkannya.”
“Baik.”
Aku tidak meminta ia membuka buku itu. Aku tidak ingin jawabannya menjadi semacam surat izin untuk mencintainya. Hubungan kami harus berdiri pada apa yang kami pilih sendiri.
“Aku ingin pulang,” katanya, “tapi aku belum mau pulang hari ini.”
“Aku akan menunggu sampai kamu merasa siap.”
“Kalau aku kembali, kita perlu membuat kesepakatan.”
“Katakan.”
“Kalau salah satu dari kita marah, kita boleh minta jeda. Tapi kita harus bilang kapan akan kembali bicara. Tidak pergi sambil membanting pintu.”
“Aku setuju.”
“Kita juga tidak mengulang pertanyaan yang sudah dijawab hanya karena orang lain membuat gosip.”
“Aku setuju.”
“Kalau kamu cemburu, bilang kamu cemburu. Jangan bertanya seolah aku bersalah.”
“Aku akan melakukan itu.”
“Dan kalau aku takut kamu mencintai aku karena Farah, aku akan mengatakannya tanpa menuduhmu.”
“Terima kasih.”
“Aku juga harus mengakui awal pernikahan kita,” kataku. “Aku menekanmu ketika kamu baru kehilangan penglihatan dan tidak punya tempat aman untuk pulang. Permintaan Farah atau uang yang diterima tantemu tidak membenarkan itu. Aku seharusnya tetap bertanggung jawab atas kecelakaan dan perawatanmu tanpa mensyaratkan pernikahan.”
Raina menatapku. “Dan menyembunyikan statusmu bukan cara melindungiku.”
“Benar. Itu keputusan yang merampas kesempatanmu menentukan pilihan dengan mengetahui keadaan sebenarnya.”
“Aku memilih mencoba hidup bersamamu sekarang,” katanya. “Pilihan itu tidak membuat caramu dulu menjadi benar.”
“Aku mengerti. Aku tidak akan memintamu membenarkannya.”
Kami menyusun kesepakatan itu perlahan. Tidak ada janji bahwa kami tak akan bertengkar lagi. Kami hanya menyepakati cara yang lebih baik untuk berhenti sebelum melukai satu sama lain.
“Devi menemukan bukti Marta menjual foto,” kataku. “Kamu ingin melihatnya?”
“Belum. Aku percaya Devi menyimpan bukti. Aku ingin tahu dulu apa yang akan kamu lakukan.”
“Aku tidak akan menghubunginya tanpa persetujuanmu. Kalau kamu ingin menghadapi Marta, aku akan mendampingimu. Kalau kamu tidak ingin, kita bisa meminta pengacara mengirim peringatan agar foto itu tidak disebarkan lagi.”
“Aku ingin bicara dengannya sendiri, tapi tidak sendirian.”
“Aku akan ikut.”
“Jangan membentak atau mengancam.”
“Aku tidak akan.”
Raina menatapku, mencari kepastian. “Aku belum memaafkan semuanya.”
“Kamu tidak perlu memaksa diri.”
Ia mengangguk. Kami duduk beberapa saat dalam diam. Aku tidak memintanya kembali. Ia tidak menjanjikan kapan akan pulang. Namun kami sudah sepakat bicara lagi, dan aku menganggap itu cukup untuk hari ini.
Aku berpamitan kepada Raina dan Bu Asih. Jika ia ingin menunjukkan buku itu, ia akan memberi kabar. Aku tidak akan menunggu di halaman sampai ia merasa wajib menemui lagi.
***
Raina
Aku menunggu sampai Leon pergi dari halaman panti sebelum membuka buku catatan Farah. Ia tidak meminta aku pulang, dan aku belum bersedia. Bu Asih duduk di dekatku sambil membawa teh hangat.
“Bagaimana rasanya?” tanyanya.
“Lebih ringan, tapi aku belum siap pulang.”
“Tidak apa-apa. Kamu bisa memberi waktu pada dirimu.”
Aku mengambil buku catatan dan membuka bagian dalam sampul. Ada lipatan kertas tipis yang menempel pada lapisan kain. Kali ini aku membukanya dengan hati-hati. Tulisan Farah muncul di sana, samar tetapi terbaca.
“Aku berharap Leon mencintai Raina bukan karena ia merasa harus, tetapi karena ia mengenal dan memilihnya. Aku ingin mereka bahagia dengan cara mereka sendiri.”
Aku membaca kalimat itu dua kali. Catatan ini membicarakan cinta yang tidak boleh dipaksakan. Farah pernah ikut mendorong pernikahan kami; tulisan itu tidak menghapus tekanan yang kualami waktu itu. Kini aku memahami bahwa harapannya tentang kebahagiaan juga tidak mengikat pilihanku hari ini. Dadaku sesak, tetapi kali ini bukan karena takut. Aku menangis karena akhirnya memahami maksudnya.
Tepi kertasnya cocok dengan sobekan yang selama ini kusimpan. Bekas lipatan membuat beberapa huruf pudar, tetapi kali ini kalimatnya terbaca utuh. Aku teringat saat pertama kali membaca potongan itu dan membayangkan Farah sedang menguji apakah Leon mencintaiku. Kini aku melihat bahwa ia justru ingin aku bebas dari rasa wajib.
“Aku ingin Leon membacanya,” kataku kepada Bu Asih, “tapi aku tidak ingin dia menganggap tulisan itu sebagai bukti bahwa ia harus bertahan denganku.”
“Katakan itu saat kamu menunjukkannya.”
“Aku ingin dia tahu aku tidak kembali hanya karena Farah meminta.”
“Kamu bisa kembali karena pilihanmu sendiri.”
Aku mengangguk. Aku memotret halaman itu untuk memastikan tulisannya tersimpan, lalu menutup buku itu. Aku tidak akan menyebarkan fotonya. Pesan itu milik keluarga kami, dan aku ingin menyampaikannya sendiri kepada Leon.
“Kamu menemukannya?” tanya Bu Asih.
Aku mengangguk dan menunjukkan halaman itu. “Aku pikir inilah kelanjutannya.”
“Apa yang kamu rasakan?”
“Dalam catatan ini, Farah berharap kami bahagia dengan cara sendiri. Aku tidak harus menjadi penggantinya.”
Bu Asih memegang tanganku. “Itu pesan yang indah.”
Aku menyimpan buku itu di pangkuan. Aku tidak ingin kalimat tersebut menjadi satu-satunya alasan untuk kembali kepada Leon. Namun, kalimat itu membantuku menerima bahwa aku tidak wajib mengisi ruang yang ditinggalkan Farah. Aku bisa menjadi Raina, dan Leon tetap bisa mencintai Farah sebagai bagian dari masa lalunya.
Ajeng datang berlari dari ruang bermain. “Kak Raina, kamu menangis lagi?”
“Kali ini karena membaca sesuatu yang membuat Kakak lega.”
“Bukan sedih?”
“Bukan sedih.”
Ia melihat buku di tanganku. “Buku itu yang membuat Kakak lega?”
“Iya. Isinya pesan dari seseorang yang menyayangi Kakak.”
Ajeng mengangguk, lalu menunjuk gambar rumah yang ia berikan kepadaku. “Kalau sudah lega, Kakak boleh pulang nanti.”
Aku tertawa kecil. “Mungkin nanti.”
Aku membantu Bu Asih membereskan ruang baca. Sambil menyusun buku, aku menceritakan pesan Farah kepada Riri yang datang mengunjungiku. Ia mendengarkan tanpa menyela.
“Kamu sudah bicara dengan Leon tentang tulisan itu?” tanyanya.
“Belum. Aku ingin menunjukkannya, tapi tidak ingin ia menyimpulkan bahwa aku langsung memaafkan semuanya.”
“Jelaskan begitu. Kamu boleh berbagi kabar baik sambil tetap menjaga batas.”
“Aku tidak mau dia mencintaiku karena merasa Farah menitipkan aku kepadanya.”
“Dan kamu tidak harus pulang untuk membuktikan bahwa kamu mencintainya.”
Kata-kata Riri membuatku lega. Aku menulis pesan kepada Leon bahwa aku menemukan kelanjutan kalimat Farah dan ingin memperlihatkannya sore ini. Ia membalas bahwa ia akan datang bila aku mengizinkan. Aku menjawab, “Datanglah. Kita bicara di ruang baca.”
Sebelum Leon tiba, aku membaca catatan Farah dari awal sampai akhir sekali lagi. Aku tidak lagi mencari bukti bahwa Leon mencintaiku. Aku mencoba melihat perjalanan kami sendiri: dari rasa tanggung jawab, menjadi kepercayaan, lalu kasih sayang yang kami pilih. Ada luka dan kesalahan, tetapi tidak semuanya harus menentukan akhir.
Bu Asih bertanya apakah aku siap pulang setelah berbicara dengannya.
“Aku belum tahu. Aku ingin mendengar diriku sendiri dulu.”
“Itu sudah cukup.”
Aku duduk dengan buku Farah di samping tas. Aku merasa lebih dekat pada jawaban, tetapi tidak ingin menjadikan kalimat itu jaminan. Aku akan menunjukkan tulisan tersebut dan mendengar apa yang Leon katakan. Setelah itu, aku akan memilih berdasarkan apa yang kami berdua lakukan, bukan hanya berdasarkan kenangan.
Ketika Leon datang, aku menyambutnya di ruang baca. Aku membuka sampul buku dan menunjukkan kalimat lengkap itu tanpa menyerahkannya sebagai bukti atau tuntutan.
“Aku ingin kamu tahu bahwa aku tidak pulang karena Farah meminta,” kataku. “Aku ingin memahami apakah kita bisa memilih satu sama lain dengan jujur.”
Leon membaca kalimat itu, lalu mengembalikan buku kepadaku. “Kamu benar. Pesan Farah tidak bisa menjawab untuk kita. Aku harus menunjukkan pilihanku lewat cara aku memperlakukanmu.”
“Dan aku perlu waktu untuk melihatnya.”
“Aku akan memberimu waktu.”
Kami tidak memperpanjang percakapan sampai berubah menjadi janji besar. Aku menyimpan buku itu, lalu berkata bahwa aku bersedia menghadap Tante Marta bersamanya. Ada hal yang perlu kami selesaikan, tetapi aku ingin melakukannya sebagai pasangan yang saling mendukung, bukan sebagai orang yang sedang membuktikan diri.
“Kita hadapi Marta hari ini?” tanyanya.
“Ya. Beri aku waktu sebentar untuk bersiap. Aku akan mengirim pesan kalau sudah siap.”
Ia mengangguk dan berpamitan kepada Bu Asih. Aku melihatnya berjalan keluar, lalu menarik napas lega. Aku belum pulang, tetapi sekarang aku tahu pilihan itu mulai terasa milikku sendiri.