Leon
Beberapa bulan setelah Raina kembali ke rumah, kami belajar menjalani hari-hari tanpa menganggap satu pertengkaran sebagai akhir. Kami masih berbeda pendapat. Bedanya, kini kami berusaha menyampaikan jeda dengan jelas dan kembali bicara pada waktu yang disepakati. Tidak setiap percakapan berjalan mudah, tetapi Raina tidak lagi harus menebak apakah aku akan pergi atau diam berhari-hari.
Pagi itu kami berangkat mengunjungi makam Farah. Raina membawa bunga putih dan sebuah surat pendek yang ditulisnya sendiri. Ia tidak membacakan isinya kepadaku. Aku tidak bertanya. Ada kenangan yang boleh disimpan seseorang tanpa harus dibagikan seluruhnya.
“Kamu yakin ingin pergi hari ini?” tanyaku ketika kami berhenti di depan gerbang pemakaman.
“Iya. Aku sudah memikirkannya sejak minggu lalu.”
“Kalau nanti kamu ingin pulang lebih cepat, bilang saja.”
“Aku tahu. Dan kamu jangan menganggap kunjungan ini sebagai tanda bahwa aku sudah tidak sedih.”
“Aku tidak akan.”
Kami berjalan pelan melewati deretan nisan. Raina mengenali jalan itu, meskipun beberapa bulan telah berlalu sejak kunjungan terakhir. Ia berhenti di depan makam Farah dan membersihkan daun kecil yang jatuh di atas batu. Aku berdiri beberapa langkah di belakangnya, memberi ruang.
Raina meletakkan bunga. “Hai, Farah,” ucapnya lirih. “Aku datang lagi.”
Aku menundukkan kepala. Ada rasa bersalah yang masih muncul ketika memikirkan malam-malam ketika aku memakai namanya untuk mengukur hubungan kami. Aku tidak bisa mengubah apa yang telah terjadi, tetapi aku bisa berhenti menjadikan kenangannya alasan untuk menuntut Raina.
Raina membuka suratnya dan membacanya dalam hati. Setelah beberapa saat, ia melipat kertas itu kembali. “Aku ingin mengatakan terima kasih,” katanya. “Tapi aku tidak mau bicara seolah kamu memberi kami perintah.”
“Aku juga berterima kasih,” jawabku. “Namun pilihan kita tetap milik kita.”
Ia mengangguk. “Aku masih merindukanmu, Farah. Aku juga belajar bahwa merindukan seseorang tidak berarti aku harus berhenti menjalani hidup.”
Aku mendengar suaranya bergetar. “Kamu mau aku mendekat?” tanyaku.
“Iya.”
Aku berdiri di sampingnya. Ia tidak menangis keras, hanya membiarkan air mata turun tanpa menyembunyikannya. Aku menggenggam tangannya setelah ia meraih tanganku lebih dulu.
“Dulu aku takut kalau mencintaimu berarti mengkhianati kenangan Farah,” katanya. “Sekarang aku tahu bukan begitu.”
“Aku juga takut kehilangan lagi, lalu membuat ketakutan itu menjadi aturan untukmu.”
“Kita sudah membicarakannya.”
“Dan aku masih harus membuktikan bahwa aku mengingatnya.”
Raina mengusap sudut matanya. “Kamu tidak harus sempurna. Aku hanya ingin kamu jujur saat takut, bukan mengubahnya menjadi tuduhan.”
“Aku akan berusaha.”
“Kalau kamu gagal, kita bicarakan. Jangan menunggu sampai semuanya menumpuk.”
Aku mengangguk. Kami diam sejenak. Angin menggerakkan ujung kertas yang ia pegang. Raina melipat surat itu dan menyelipkannya di antara bunga, lalu menindihnya dengan batu kecil agar tidak terbang.
“Apa kamu ingin membacakan surat itu?” tanyaku.
“Tidak hari ini.”
“Baik.”
Keputusan kecil itu terasa sederhana, tetapi aku tahu dulu aku mungkin akan mendesak dengan alasan ingin memahami. Kini aku mengerti bahwa kedekatan tidak berarti seseorang harus membuka semua ruang pribadinya setiap saat.
Raina memandang nisan Farah lama sekali. “Aku ingin kamu tahu, aku tidak merasa sedang menggantikan siapa pun. Aku datang ke sini sebagai diriku sendiri.”
“Kamu memang selalu menjadi dirimu sendiri.”
“Aku sedang belajar mempercayai itu.”
Kami menaruh satu tangkai bunga lagi, kemudian berdoa dalam diam. Aku meminta maaf kepada Farah atas caraku pernah membebankan janjinya kepada Raina. Aku juga berharap Raina terus mendapatkan ruang untuk tumbuh, termasuk ruang untuk mengubah pikiran jika suatu hari ia perlu.
Setelah selesai, Raina mengusap tangannya pada rok. “Kita pulang?”
“Kalau kamu siap.”
“Aku siap.”
Di perjalanan, ia membuka jendela sedikit. Udara sore masuk dan membawa aroma tanah basah. Kami tidak membahas hal lain selama beberapa menit. Lalu Raina bertanya apakah aku ingat ucapan Farah yang tertulis di buku.
“Aku ingat maknanya,” jawabku. “Ia berharap kita bahagia dengan cara kita sendiri.”
“Dan bukan berarti kita harus selalu bahagia setiap hari.”
“Betul. Bahagia juga bisa berarti kita berani jujur ketika sedang kecewa.”
Ia tersenyum kecil. “Jawabanmu lumayan.”
“Lumayan saja?”
“Jangan minta nilai tinggi.”
Aku tertawa, dan ia ikut tertawa. Tawa itu tidak menghapus kesedihan. Ia hanya memberi ruang bagi hidup untuk bergerak berdampingan dengannya.
Sebelum sampai rumah, Raina menyentuh lenganku. “Ada hal lain yang ingin kubicarakan malam ini.”
“Kita bisa bicara kapan pun kamu siap.”
“Jangan khawatir. Bukan masalah buruk.”
Aku mencoba menebak, tetapi ia menggeleng dan berkata bahwa ia ingin menyampaikannya saat kami duduk berdua. Aku menghormati keinginannya. Hari itu kami pulang dari makam Farah dengan kenangan tetap utuh, tanpa meminta Raina menjadi penjaganya seorang diri.
Malam itu Raina duduk di sampingku dan menyampaikan hal yang ia janjikan sejak perjalanan pulang. Ia telah memeriksakan diri beberapa hari sebelumnya dan kini hamil muda. Ia sengaja menunggu waktu tenang untuk memberitahuku sendiri. Aku mendengarnya sampai selesai sebelum memeluknya setelah ia mengulurkan tangan.
“Aku senang, tetapi aku juga takut,” katanya. “Aku ingin tetap kuliah dengan penyesuaian yang diperlukan. Aku belum ingin kabarnya diumumkan.”
“Kita ikuti pemeriksaan dan bicarakan kebutuhanmu,” jawabku. “Ini bukan cara membayar pesan Farah atau harapan keluarga.”
“Aku ingin memberi tahu keluarga pada ziarah bersama akhir pekan depan. Untuk sekarang simpan dulu di antara kita.”
Aku mengangguk. Kami membicarakan jadwal kontrol berikutnya tanpa mengubah seluruh hidupnya menjadi rencana yang kususun sendiri.
***
Raina
Pada akhir pekan berikutnya aku membawa bunga putih yang kupilih sendiri. Leon menyetir, sementara aku memegang rangkaian bunga di pangkuan. Kami sudah sepakat bahwa aku akan menentukan kapan dan bagaimana menyampaikan kabar kehamilan. Ia tidak bertanya lagi apakah aku yakin.
Mama dan Raihan menunggu di gerbang pemakaman. Riri dan Bu Asih datang bersama Ajeng. Aku merasa gugup melihat mereka semua, tetapi tidak merasa terpojok. Mereka tahu kami datang untuk berziarah; belum ada yang tahu alasan lain yang kubawa.
“Kamu siap?” tanya Leon pelan.
“Ya. Tapi kalau aku berhenti, jangan lanjutkan untukku.”
“Aku tidak akan.”
Kami berjalan bersama menuju makam Farah. Ajeng menggenggam tangan Bu Asih dan sesekali menunjuk bunga-bunga yang tumbuh di sepanjang jalan. Ia bertanya apakah Farah suka warna putih. Mama menjawab bahwa Farah menyukai bunga sederhana, tetapi ia juga senang melihat warna cerah di taman.
Aku membersihkan daun kecil di atas nisan dan meletakkan bunga. “Hai, Farah,” ucapku dalam hati. “Aku datang sebagai diriku sendiri.”
Kami berdoa dalam diam. Aku memikirkan pesan di buku catatannya: ia berharap Leon mencintaiku karena mengenal dan memilihku, serta ingin kami bahagia dengan cara sendiri. Dulu aku menganggap pesan itu seperti tugas. Sekarang aku memahami bahwa Farah justru membebaskan kami untuk memilih.
Setelah doa selesai, Mama berdiri di sampingku. “Kamu baik-baik saja?”
“Aku baik. Ada hal yang ingin kusampaikan kepada kalian, tapi aku ingin menyelesaikannya dulu di sini.”
Mama mengangguk. Tidak ada yang mendesak. Aku menatap makam Farah sekali lagi, lalu berbalik kepada keluarga.
“Aku hamil muda,” kataku. “Aku sudah memeriksakan diri dan akan mengikuti kontrol dokter. Aku masih merasa senang sekaligus takut. Aku ingin memberi tahu kalian sendiri, tapi aku minta kabar ini dijaga dulu dan jangan dijadikan tuntutan.”
Mama menutup mulutnya, lalu matanya berkaca-kaca. Ia tidak langsung memelukku. “Boleh aku memelukmu?”
Aku mengangguk. Ia memelukku dengan hati-hati.
“Terima kasih sudah memberi tahu kami,” katanya. “Kamu tidak perlu membuktikan apa pun dengan kabar ini. Kami akan mengikuti batas yang kamu minta.”
Mama menarik napas dan melanjutkan, “Dulu aku pernah bertanya tentang cucu. Aku tidak menyadari pertanyaan itu mungkin terasa seperti tuntutan. Maafkan aku kalau membuatmu merasa harus memenuhi harapanku.”
Aku terdiam sejenak. “Waktu itu aku memang merasa seolah hanya itu yang diharapkan dariku. Tapi aku tahu Mama tidak bermaksud menyakitiku. Aku ingin kita tetap bisa bicara jujur seperti ini.”
Mama mengangguk. “Kamu boleh mengingatkanku kalau aku lupa. Kamu bukan pengganti Farah dan bukan jawaban untuk kesedihan kami. Kamu adalah Raina.”
Dadaku terasa lapang. Aku tidak membutuhkan mereka menyangkal masa lalu; aku hanya ingin diterima tanpa dibandingkan. “Terima kasih sudah mendengarkan,” kataku.
Raihan mengusap matanya dan mencoba tersenyum. “Farah pasti ingin kita saling menjaga, tapi itu tidak berarti kamu harus menanggung semuanya.”
“Aku tahu,” jawabku. “Aku akan meminta bantuan kalau membutuhkannya.”
Bu Asih merangkul bahuku. “Kamu juga boleh berubah pikiran tentang siapa yang menemani kontrol atau kapan ingin bertemu. Kami tidak akan menganggapnya sebagai penolakan.”
Aku menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Aku senang panti masih terasa seperti rumah.”
“Pintunya selalu terbuka,” jawabnya. “Tapi kamu tetap boleh memilih kapan datang.”
Riri menyela dengan nada ringan, “Dan kalau kalian mau makan siang bersama, beri tahu aku supaya aku tidak datang saat semua piring sudah kosong.”
Tawa kecil kami mengendurkan suasana. Ziarah itu tetap penuh rasa haru, tetapi tidak berubah menjadi pertemuan yang menuntutku memberi jawaban atas semua hal. Aku bisa membawa kabar baik dan kesedihan di waktu yang sama.
Raihan tersenyum. “Kalau kamu butuh bantuan, bilang. Aku tidak akan mengatur.”
Riri menggenggam tanganku. “Aku tetap sahabatmu, apa pun yang kamu rasakan.”
Bu Asih ikut tersenyum. “Dan panti tetap terbuka kalau kamu ingin datang.”
Aku merasa lega. Tidak ada yang menanyakan nama bayi atau membuat rencana atas tubuhku. Mereka hanya mendengar. Leon berdiri di sampingku dan tidak mengambil alih percakapan.
“Aku belum tahu bagaimana hari-hari berikutnya,” kataku. “Aku tetap ingin kuliah selama dokter mengizinkan. Kalau aku perlu mengubah jadwal, aku akan memutuskan setelah konsultasi.”
“Tentu,” kata Mama. “Kami akan mendukung keputusanmu.”
Aku menyentuh batu nisan dengan ujung jari. “Aku ingin kamu tahu, Farah, aku tidak menjalani ini karena merasa berutang. Aku memilih hidupku sendiri. Aku juga memilih Leon, dengan segala proses yang masih harus kami jalani.”
Leon meraih tanganku setelah aku lebih dulu mendekat. Genggaman itu terasa hangat. Aku tidak merasa sedang meminta restu untuk bahagia; aku hanya membagikan kabar kepada orang-orang yang kusayangi.
Ajeng menarik lengan Bu Asih. “Kak Raina punya bayi?”
“Iya, tapi masih kecil sekali,” jawabku.
“Boleh aku menggambar untuknya?”
“Boleh. Kamu boleh memberi gambar kalau kamu mau, tapi kamu tidak harus menjaga atau mengurus apa pun.”
Ajeng mengangguk puas. “Aku mau menggambar bunga.”
Kami meninggalkan makam dengan langkah pelan. Sebelum keluar, aku menoleh sebentar. Aku masih merindukan Farah, tetapi rasa rindu tidak lagi terasa seperti larangan untuk melanjutkan hidup. Keluargaku berjalan bersamaku, masing-masing memberi ruang.
Di taman bunga dekat gerbang, Ajeng berlari melihat kupu-kupu. Riri dan Bu Asih mengikutinya, sementara Mama dan Raihan berbicara tentang makan siang. Kami memutuskan makan bersama di rumah kami beberapa hari kemudian, tanpa membuat acara besar. Sebelum berpisah, Mama memastikan aku tidak keberatan jika keluarga berdoa bersama untuk kesehatanku. Aku mengiyakan. Aku senang mereka menawarkan, bukan memaksakan. Aku duduk di bangku bersama Leon.
“Bagaimana rasanya?” tanyanya.
“Lega. Aku senang mereka mendengar tanpa membuat keputusan untukku.”
“Kamu sudah menyampaikan batasmu dengan jelas.”
“Aku ingin tetap begitu. Kalau nanti ada yang berubah, aku akan bilang.”
“Aku akan mendengarkan.”
Aku menyandarkan bahu sebentar padanya. Hari itu tidak menjawab semua pertanyaan tentang masa depan. Namun kabar yang kubagikan tetap menjadi milikku, kenangan Farah tetap menjadi bagian dari keluarga, dan pilihan untuk melangkah tetap berada di tanganku.