Raina
Hujan turun sejak sore, mengetuk atap panti dengan irama yang mengingatkanku pada malam-malam lama. Aku berdiri di dekat jendela ruang tengah. Leon masih menunggu di luar, di bawah payung yang diberikan Bu Asih. Ia tidak mengetuk pintu atau memanggil namaku. Ia hanya berdiri cukup jauh agar orang-orang bisa keluar masuk.
“Kamu mau menemuinya?” tanya Bu Asih.
“Aku belum tahu.”
“Kamu tidak perlu keluar hanya karena dia menunggu.”
“Aku tahu.”
Ajeng datang membawa gambar rumah yang sebelumnya ia tunjukkan. “Kak Raina, Leon kehujanan?”
“Dia memakai payung.”
“Kalau dia kehujanan, nanti sakit.”
“Kakak akan bilang supaya dia pulang kalau terlalu lama.”
Ajeng mengangguk, puas dengan jawaban itu. Aku memandangi gambar di tangannya, lalu mengingat bahwa aku ingin pulang suatu hari nanti bukan karena kasihan atau takut membuat Leon sedih. Aku ingin pulang jika kami bisa berbicara dengan jujur.
“Aku mau keluar sebentar,” kataku kepada Bu Asih. “Tapi kalau aku ingin kembali masuk, aku boleh?”
“Tentu. Kamu yang menentukan.”
Aku mengenakan jaket dan membawa buku catatan Farah. Aku tidak berniat memperlihatkannya untuk membuktikan sesuatu. Aku hanya ingin menyimpan benda itu bersamaku. Sebelum membuka pintu, aku menarik napas panjang.
Leon melihatku keluar. Ia tidak mendekat sampai aku mengangguk kecil.
“Ra,” katanya.
“Aku belum siap pulang.”
“Aku mengerti. Aku tidak datang untuk memaksamu.”
“Kamu bilang begitu, tapi aku perlu tahu apa yang sebenarnya ingin kamu katakan.”
Ia menutup payung dan berdiri di bawah tepian atap, memberi jarak. “Aku ingin meminta maaf tanpa meminta kamu langsung memaafkan.”
Leon menunduk, lalu perlahan berlutut di hadapanku. Aku terkejut dan mundur setengah langkah.
“Jangan berlutut supaya aku mengasihanimu,” kataku.
“Aku tidak meminta kamu pulang,” jawabnya. “Aku hanya ingin mengakui bahwa aku salah dan bahwa aku mencintaimu karena pilihanku sendiri.”
“Kalau begitu, berdirilah dan dengarkan aku.”
Ia segera berdiri. “Aku salah karena bertanya apakah kamu masih mencintai Azzam setelah kamu lebih dulu menceritakan semuanya. Aku membiarkan foto dan tekanan orang lain mengalahkan kepercayaanku kepadamu.”
Aku tidak menjawab. Hujan memercik di dekat sepatu kami.
“Aku juga salah karena membanting pintu,” lanjutnya. “Kamu meminta aku memberi tahu kapan aku akan kembali. Aku tidak menjawab dan mengulang kesalahan lama. Kamu tidak seharusnya merasa harus pergi agar aku mau mendengar.”
“Aku pergi karena rumah itu terasa tidak aman untuk bicara,” kataku.
“Aku tahu sekarang.”
“Apa yang membuatmu berubah pikiran?”
“Mama dan Raihan mengingatkanku bahwa cinta bukan kewajiban kepada Farah. Azzam juga datang dan mengakui kamu menolaknya. Tapi seharusnya aku mempercayaimu sebelum orang lain mengatakannya.”
Aku menatapnya. “Iya. Kamu sudah mendengar dari aku.”
“Aku tahu. Aku tidak punya alasan yang membenarkan tindakanku.”
Kata-katanya tidak menghapus luka, tetapi ia tidak berusaha mengubahnya menjadi pembelaan. Aku merasa bahuku mengendur sedikit.
“Aku tidak akan pulang malam ini,” kataku.
“Baik.”
“Aku ingin bicara lagi besok, saat kita lebih tenang.”
“Aku akan datang kalau kamu mengizinkan.”
“Aku akan memberi tahu.”
Leon mengangguk. Tidak ada permohonan agar aku memakai cincin atau kembali ke rumah. Ia tidak meminta aku melupakan pertengkaran. Aku menyadari inilah yang kubutuhkan: bukan kalimat sempurna, tetapi kesediaan menerima batas yang kusampaikan.
“Ada perkembangan soal foto yang Devi tawarkan kepadamu,” katanya. “Kamu masih ingin mengetahuinya sekarang?”
“Iya, jelaskan singkat dulu,” jawabku.
“Jejak pengiriman dan pembayaran mengarah ke Tante Marta. Salinannya disimpan tim hukum. Aku belum meminta penjelasannya.”
Aku terdiam. “Tante Marta?”
“Ada bukti pengiriman dan pembayaran. Aku belum menghubunginya. Aku tidak ingin mengambil langkah tanpa membicarakannya denganmu.”
Rasa dingin menjalar di punggungku. Tante Marta pernah mengancam akan bicara kepada wartawan dan meminta uang. Aku tahu ia bisa menyakiti, tetapi membayangkan ia sengaja menjual fotoku tetap membuatku sesak.
“Aku perlu waktu untuk memikirkan itu juga.”
“Tentu.”
Aku mundur setengah langkah. “Aku akan masuk.”
“Baik. Terima kasih sudah mau mendengarkan.”
“Aku mendengarkan. Itu belum berarti semuanya selesai.”
“Aku mengerti.”
Aku kembali ke dalam panti. Bu Asih menungguku tanpa bertanya apakah aku memaafkan Leon. Aku mengatakan kami sepakat bicara lagi besok. Ia mengangguk dan menyuruhku mengganti jaket yang basah.
Malam itu aku membuka buku catatan Farah lagi. Aku membaca halaman terakhir di bawah cahaya lampu kecil. Ada lipatan di bagian dalam sampul yang belum pernah kuperiksa dengan teliti. Aku belum membukanya. Aku ingin menunggu sampai pikiranku tidak lagi dipenuhi suara pertengkaran.
Leon sudah pulang. Aku tidak tahu apakah ia tidur di rumah atau tetap bekerja. Namun untuk pertama kalinya sejak pergi, aku merasa pintu di antara kami tidak tertutup rapat. Aku belum pulang, tetapi aku sudah memilih untuk berbicara lagi.
Di dalam panti, Bu Asih menyodorkan handuk kecil. “Kamu tidak perlu menyelesaikan seluruh masalah malam ini,” katanya.
“Aku tahu. Aku cuma takut kalau aku berhenti bicara, semuanya akan kembali seperti dulu.”
“Kamu bisa menyampaikan batasmu lagi. Yang penting, kamu tidak memaksa dirimu memberikan jawaban karena kasihan.”
“Aku tidak kasihan padanya.”
“Bagus. Kamu berhak menyayangi seseorang dan tetap mengharapkan perubahan.”
Aku memegang handuk itu sambil melihat air hujan menetes dari ujung jaket. “Dia tidak memintaku pulang.”
“Itu langkah yang baik. Lihat apakah langkah berikutnya juga menghormati pilihanmu.”
Aku mengangguk. Sebelum tidur aku mengganti pakaian basah, lalu menyimpan buku catatan Farah di meja. Aku belum memeriksa lipatan di sampul. Aku ingin membacanya saat pikiranku tidak lagi berlari dari satu ketakutan ke ketakutan lain.
Ponselku berbunyi. Pesan Leon berbunyi, “Terima kasih sudah keluar. Aku akan datang besok kalau kamu masih mengizinkan.” Aku membalas bahwa ia boleh datang setelah makan siang. Aku tidak menambahkan janji bahwa aku akan pulang. Ia menjawab, “Baik. Aku akan menunggu keputusanmu.”
“Apa kamu masih marah?” tanya Bu Asih.
“Iya. Tapi marahku tidak berarti aku berhenti menyayanginya.”
“Itu bisa kamu katakan kepadanya saat waktunya tepat.”
Aku melihat hujan melemah. “Aku ingin dia tahu aku tidak pergi untuk menguji cintanya. Aku pergi karena tidak bisa bicara lagi saat itu.”
“Katakan dengan kalimatmu sendiri. Kamu tidak perlu membuatnya terdengar sempurna.”
Aku menyandarkan kepala ke dinding. Pertemuan singkat di luar panti tidak menyelesaikan semuanya, tetapi Leon sudah mendengar bahwa aku belum pulang. Ia tidak berdebat. Aku ingin percaya itu awal yang baik, namun aku akan melihat bagaimana ia bersikap setelah kami kembali ke rumah.