Raina
Hari keenam di panti berjalan lebih lambat. Aku membantu Bu Asih menyortir buku, lalu membawa beberapa ke ruang baca. Ajeng menggambar di lantai dekat kakiku. Ia membuat pohon dengan daun merah dan meminta pendapatku.
“Daunnya biasanya hijau,” kataku.
“Ini pohon musim gugur.”
“Kamu tahu musim gugur dari mana?”
“Dari buku cerita.”
Aku tertawa kecil. “Kalau begitu, gambarmu benar.”
Ponselku bergetar. Pesan dari Devi masuk: “Bu Raina, ada perkembangan tentang foto yang mungkin perlu Anda ketahui. Saya menunggu izin Anda sebelum menjelaskan.” Aku menatap pesan itu cukup lama. Aku belum siap menerima lebih banyak kabar, tetapi juga tidak ingin membiarkan orang lain membuat keputusan atas namaku.
Aku membalas, “Saya ingin tahu nanti, setelah bicara dengan Leon. Tolong jangan sebarkan apa pun dulu.”
Devi menjawab singkat bahwa ia mengerti. Aku lega ia bertanya lebih dulu. Aku tidak tahu apa yang ditemukan, tetapi setidaknya kali ini seseorang memberi ruang bagiku untuk memilih.
Bu Asih melihat wajahku berubah. “Ada kabar?”
“Devi menemukan sesuatu soal foto. Dia bertanya apakah aku mau tahu.”
“Kamu sudah memutuskan?”
“Aku akan mendengarnya setelah bicara dengan Leon. Aku tidak mau menghindar, tapi aku ingin menentukan waktunya.”
“Itu keputusanmu.”
Aku mengangguk. Menjelang sore, Ajeng tertidur di sofa dengan gambar masih di tangan. Aku menyelimutinya dan kembali duduk bersama Bu Asih. Aku menceritakan bahwa Leon telah mengirim pesan meminta maaf, tetapi aku masih belum siap pulang.
“Kamu ingin bertemu dengannya?” tanya Bu Asih.
“Aku belum yakin. Kalau dia datang, aku mau dia bertanya dulu.”
“Kamu bisa meminta itu.”
“Aku tidak mau dia mengira aku menghukumnya.”
“Menetapkan batas bukan hukuman.”
Kalimat itu membuatku teringat pada nasihatnya sebelumnya. Aku bisa memberi Leon kesempatan tanpa harus menghapus rasa sakitku. Aku bisa mendengar permintaan maafnya tanpa langsung mengucapkan bahwa semuanya baik-baik saja.
Tak lama kemudian, Riri menelepon. Ia mengatakan Leon bertanya apakah aku sudah siap bicara, tetapi tidak meminta lokasi panti.
“Aku belum siap bertemu,” kataku. “Tapi kalau dia ingin datang, bilang dia boleh menunggu di luar. Aku akan memutuskan nanti apakah mau keluar.”
“Kamu yakin?”
“Iya. Aku tidak ingin menghindar selamanya. Aku hanya belum tahu apa yang akan kukatakan.”
Riri menyampaikan pesanku. Aku meletakkan ponsel dan melihat halaman buku Farah yang tadi kubaca. Ada tulisan yang belum selesai kupahami. Aku tidak ingin membiarkan pesan itu menentukan jawabanku kepada Leon. Jika kami berdamai, harus ada percakapan yang jujur di antara kami, bukan hanya kata-kata Farah.
Bu Asih duduk di sampingku. “Kalau dia datang, kamu tidak harus keluar.”
“Aku tahu.”
“Dan kalau kamu keluar, kamu boleh kembali masuk kapan saja.”
“Aku tahu, Bu.”
Aku memandangi gambar Ajeng. Rumah kecilnya memiliki dua jendela merah dan pohon besar. Aku ingin suatu hari membawa gambar itu pulang. Aku belum yakin kapan, tetapi untuk pertama kalinya sejak pergi, gagasan pulang tidak terasa mustahil. Yang belum kutahu adalah apakah Leon memahami bahwa aku pergi agar bisa didengar, bukan agar ia mengejarku dengan janji kosong.
Aku membayangkan percakapan yang akan terjadi jika Leon datang. Aku ingin mengatakan bahwa aku pergi bukan untuk membuatnya takut, tetapi karena tidak sanggup mendengar pertanyaan itu lagi. Aku ingin ia memahami bahwa kejujuranku bukan bukti yang bisa diminta setiap kali ia cemas.
Aku menuliskan kalimat itu di kertas, lalu mencoretnya. Aku tidak ingin datang dengan pidato. Aku ingin bicara jujur, mendengar jawabannya, dan melihat apakah ia mampu menerima dampak perbuatannya tanpa segera membela diri.
Bu Asih melihat kertas yang kucoret. “Kamu sedang menyiapkan percakapan?”
“Aku berusaha.”
“Kamu boleh membawa catatan kalau takut lupa.”
“Aku tidak ingin terdengar seperti membaca tuntutan.”
“Kalau begitu, simpan saja. Kamu tidak wajib menyampaikan semuanya dalam satu waktu.”
Aku melipat kertas itu dan memasukkannya ke buku. Aku belum memutuskan bertemu Leon. Namun aku menyadari ada bagian diriku yang ingin mendengar apakah ia benar-benar memahami kesalahannya.
***
Leon
Sesudah Riri menyampaikan bahwa Raina mengizinkanku menunggu di luar, aku meninggalkan kantor saat langit mulai mendung. Devi sudah menyimpan bukti tentang foto dan tidak menghubungi Tante Marta. Aku membawa map itu di kursi penumpang, tetapi tidak akan membukanya di hadapan Raina kecuali ia meminta.
Di perjalanan, aku mengingat janji kepada Farah. Ia pernah berharap Raina dan aku menemukan kebahagiaan dengan cara kami sendiri. Aku dulu menganggap janji itu sebagai amanah yang harus kutunaikan, tetapi selama beberapa hari terakhir aku menjadikannya alasan untuk merasa bersalah. Aku mencintai Farah dan kehilangan dirinya. Namun janji kepadanya tidak memberiku hak untuk meminta Raina tinggal ketika ia sedang terluka.
Aku juga mengingat janji kepada Raina: aku akan bertanya sebelum mengatur, memberi tahu ketika membutuhkan jeda, dan mendengarkan sebelum menyimpulkan. Aku telah melanggar semuanya saat foto itu muncul. Meminta maaf tidak menghapus pelanggaran tersebut. Aku harus membuktikan lewat sikap bahwa ia dapat berbicara tanpa takut aku akan menghukumnya dengan marah.
Saat tiba di panti, aku tidak masuk. Aku mengirim pesan kepada Riri bahwa aku berada di luar dan ingin bicara jika Raina siap. Riri membalas bahwa ia sudah menyampaikan pesanku. Aku menunggu di bawah pohon dekat pagar, menjauh dari pintu agar tidak menghalangi siapa pun.
Hujan mulai turun rintik-rintik. Aku berdiri di sana dan melihat cahaya dari ruang tengah. Aku tidak tahu apakah Raina berada di balik jendela itu. Aku tidak meneleponnya lagi. Aku tidak mengetuk pintu. Aku hanya menunggu izin yang mungkin tidak datang malam ini.
Pak Arif mengirim pesan menanyakan apakah ia perlu menjemputku.
“Tidak perlu,” balasku. “Aku akan menunggu sebentar, lalu pulang kalau Raina belum siap.”
Aku menyimpan ponsel. Dalam perjalanan tadi aku telah menyiapkan banyak kalimat, tetapi semuanya terdengar terlalu indah dan terlalu mudah. Yang sebenarnya perlu kukatakan sederhana: aku salah karena tidak mempercayai kejujurannya; aku salah karena membanting pintu; dan aku tidak akan meminta ia pulang sebelum siap.
Pintu panti terbuka. Bu Asih keluar membawa keranjang pakaian. Ia melihatku dan berhenti beberapa langkah dariku.
“Leon,” sapanya.
“Bu Asih. Saya tidak akan masuk tanpa izin Raina.”
“Bagus. Dia tahu kamu di sini.”
“Saya hanya ingin meminta maaf kalau dia bersedia mendengar.”
Bu Asih menatapku lama. “Jangan minta dia mengurangi rasa sakitnya supaya kamu merasa lebih baik.”
“Saya tidak akan meminta begitu.”
“Kalau dia belum keluar, kamu pulang dengan tenang.”
“Baik, Bu.”
Ia kembali masuk. Aku tetap menunggu di luar. Hujan membasahi bahuku, tetapi aku tidak bergeser ke teras. Aku tidak ingin membuat kehadiranku terasa seperti tuntutan.
Beberapa menit kemudian, kulihat bayangan bergerak di jendela. Aku tidak bisa memastikan siapa. Jantungku berdetak cepat. Aku ingin memanggil nama Raina, tetapi menahan diri. Jika ia ingin bicara, ia akan keluar atas pilihannya sendiri.
Aku menatap jalan yang basah dan teringat malam pertama ketika aku meninggalkannya sendirian. Aku pernah berpikir pergi adalah cara mengakhiri pertengkaran. Kini aku mengerti pintu yang kubanting bukan hanya memisahkan dua ruangan; pintu itu membuat Raina merasa tidak aman untuk tinggal.
Aku mengeluarkan ponsel dan mengetik pesan, lalu menghapusnya. Tidak ada kalimat yang bisa menggantikan kesediaanku untuk menunggu. Aku menyimpan ponsel kembali dan berdiri dalam hujan yang semakin rapat.
Malam ini mungkin Raina tidak akan keluar. Aku akan pulang jika ia memintaku pergi. Aku tidak akan memaksa. Namun aku tidak akan lari dari kesalahan yang telah kubuat. Jika ia memberiku kesempatan, aku akan mendengar sampai selesai—tanpa membela diri, tanpa menyalahkan foto, dan tanpa memakai nama Farah sebagai alasan.
Aku duduk di bangku dekat pagar. Dari dalam terdengar suara anak-anak membaca bersama. Aku membayangkan Raina ikut mendengarkan, tetapi tidak berani memastikan. Hujan membasahi lengan bajuku dan membuat udara dingin. Aku bisa saja pergi lalu kembali esok hari, tetapi aku memilih menunggu sebentar sambil menjaga jarak dari pintu.
Mama mengirim pesan, menanyakan apakah aku sudah sampai. Aku menjawab bahwa aku berada di luar panti dan akan pulang jika Raina tidak ingin bertemu. Mama membalas, “Jangan paksa. Dengarkan dia.” Aku menyimpan ponsel dan memandang jalan.
Aku teringat malam pertama kami di rumah, ketika Raina berjalan menjauh setelah mengetahui dirinya istri kedua. Saat itu aku mengira ia harus tinggal karena keadaan. Kini aku tahu cinta tidak berarti menahan seseorang di tempat yang tidak membuatnya aman. Aku berharap bisa mengatakan itu kepadanya, tetapi tidak akan memanggilnya keluar untuk mendengar kalimatku.
Hujan turun semakin rapat. Aku berdiri dan mundur beberapa langkah agar tidak menghalangi pintu. Jika Raina memilih tidak menemui, aku akan pulang. Aku ingin ia mengetahui bahwa aku datang untuk meminta maaf, bukan untuk mengambil keputusan atas namanya.
Aku membayangkan ia mungkin melihatku dari salah satu jendela. Aku tidak melambai atau memanggil. Aku tidak ingin membuat pemandangan itu menjadi permintaan yang harus ia jawab. Aku hanya berdiri di bawah hujan, menerima bahwa kali ini aku tidak bisa mengatur kapan kami akan bicara.
Bu Asih kembali keluar beberapa saat kemudian. Ia membawa payung dan menyerahkannya kepadaku.
“Kamu akan sakit kalau terus berdiri basah,” katanya.
“Terima kasih, Bu.”
“Raina tahu kamu menunggu. Beri dia waktu.”
“Saya akan pulang kalau dia belum siap.”
“Itu lebih baik.”
Aku membuka payung, tetapi tetap berdiri di tempat. Aku tidak meminta Bu Asih menjadi perantara atau membujuk Raina. Ia mengangguk kecil dan masuk kembali. Aku memahami bahwa menunggu bukan berarti menuntut balasan. Aku bisa datang, meminta izin, lalu menerima jawabannya meskipun jawabannya belum diberikan malam ini. Aku akan menyimpan payung itu dan pulang dengan tenang bila Bu Asih menyampaikan bahwa Raina ingin sendiri. Aku tidak akan kembali menggedor pintu atau meminta orang lain membujuknya. Aku akan membiarkan keputusan berikutnya menjadi milik Raina.
Aku tidak akan menganggap kesediaanku menunggu sebagai pengorbanan yang harus ia bayar.