Raina
Hari kelima di panti terasa lebih tenang. Aku bangun dengan mata sembap dan langsung membantu Bu Asih menyiapkan sarapan. Ajeng bertanya apakah aku masih tinggal di sini. Aku menjawab bahwa aku akan berada beberapa hari lagi, lalu ia menyuruhku duduk di sebelahnya supaya bisa menunjukkan gambar baru.
“Ini rumah yang kemarin,” katanya. “Aku tambah pohon.”
“Pohonnya besar sekali.”
“Biar rumahnya teduh.”
Aku tersenyum. Anak-anak tidak meminta penjelasan panjang. Mereka hanya ingin aku melihat gambar mereka, ikut makan, dan sesekali membantu mencari krayon yang hilang.
Bu Asih memperhatikan aku merapikan buku-buku di rak. “Kamu sudah membaca catatan Farah?”
“Sampai halaman terakhir. Ada bagian yang sulit kubaca.”
“Apa kamu menemukan jawaban yang kamu cari?”
“Belum sepenuhnya. Aku tahu dia ingin kami bahagia, tapi aku tidak mau memakai pesannya sebagai alasan Leon harus memilihku.”
“Pilihan Leon harus datang dari dirinya.”
“Iya.”
Aku menceritakan bagaimana Leon meminta maaf melalui pesan dan berjanji tidak memaksaku pulang. Bu Asih bertanya apakah aku ingin membalas lebih panjang. Aku menjawab belum. Pesan singkat bahwa aku aman sudah cukup untuk saat ini.
“Kamu boleh menunggu,” katanya. “Tapi pikirkan juga apa yang perlu kamu katakan nanti. Bukan untuk menghukum Leon, melainkan supaya ia tahu bagian mana yang melukaimu.”
“Aku ingin dia mengerti bahwa aku sudah jujur lebih dulu. Foto itu membuat dia kembali meragukanku.”
“Katakan begitu.”
“Aku juga ingin dia mengerti bahwa aku tidak bisa terus membuktikan aku bukan pengganti Farah.”
Bu Asih menggenggam tanganku. “Itu juga penting.”
Siang itu Riri datang membawa beberapa pakaian dan makanan ringan. Ia duduk bersamaku di halaman.
“Leon sudah tahu kamu aman?”
“Sudah. Aku membalas pesannya.”
“Apa dia memaksamu pulang?”
“Tidak. Dia bilang akan menunggu.”
“Bagus.”
Aku menatap jalan di luar pagar. “Aku masih mencintainya, Ri. Tapi aku juga takut kalau pulang terlalu cepat, kami kembali bertengkar.”
“Kamu tidak harus menentukan sekarang.”
“Aku tidak mau dia mengira aku pergi untuk menguji cintanya.”
“Kamu pergi karena butuh ruang. Itu alasannya.”
“Iya.”
“Kalau dia mengerti, bagus. Kalau belum, kamu bisa menjelaskan lagi nanti. Tapi kamu tidak perlu meminta maaf karena menjaga dirimu.”
Aku mengangguk. Riri tidak menyuruhku memaafkan atau membenci Leon. Ia hanya mengingatkanku bahwa perasaanku sendiri juga perlu didengar.
Ajeng datang membawa dua gelas air. Satu hampir tumpah ketika ia berlari.
“Pelan-pelan,” tegur Bu Asih.
“Aku mau kasih Kak Raina minum.”
“Terima kasih, Jeng,” kataku sambil menerima gelas itu.
“Kalau Kakak pulang, rumahnya jangan lupa dikasih pohon.”
Aku menatap gambar di pangkuannya. “Kakak akan ingat.”
Sore harinya aku membantu anak-anak mengerjakan pekerjaan sekolah. Aku membaca soal untuk mereka dan membiarkan Ajeng mewarnai buku gambarnya di meja yang sama. Suasana panti membuatku merasa menjadi bagian dari sesuatu, bukan sekadar orang yang sedang bermasalah.
Ketika malam datang, aku membaca kembali beberapa halaman buku Farah. Aku tidak mencari kalimat yang bisa membenarkan keputusanku. Aku hanya ingin mengenal perempuan yang pernah menyayangiku dari jauh. Di salah satu halaman, ia menulis tentang harapannya agar orang yang ia cintai berani hidup setelah kehilangan.
Aku menutup buku. Aku belum tahu bagaimana Leon akan menunjukkan bahwa ia mendengarkanku. Namun untuk malam ini, aku tidak membiarkan ketakutan memaksaku memilih antara pulang segera atau pergi selamanya. Aku boleh tinggal di panti, mencintai Leon, dan tetap marah kepadanya.
***
Leon
Devi menemuiku di kantor pada pagi keenam sejak Raina tinggal di panti dengan map tipis. Ia tidak tampak puas dengan apa yang dibawanya.
“Saya menemukan jalur foto itu sampai ke akun infotainment,” katanya. “Seseorang mengirimkan gambar dari kampus dan meminta bayaran.”
Aku menatapnya. “Siapa?”
“Tante Marta.”
Untuk beberapa detik aku tidak menjawab. Marta adalah tante Raina, orang yang pernah menyerahkan Raina kepadaku setelah menerima uang. Ia sudah mengancam bicara kepada wartawan dan beberapa kali mencoba meminta uang. Aku tidak menyangka ia akan menjual foto Raina.
“Apa buktinya?”
“Pengelola akun bersedia memberikan salinan percakapan pengiriman dan bukti transfer kepada tim hukum. Nomor serta rekeningnya cocok dengan data Marta yang pernah ia berikan saat mengurus Raina. Tim belum meminta penjelasannya. Saya belum menghubungi Tante Marta.”
“Jangan hubungi dia dulu.”
“Baik.”
“Apakah Raina sudah tahu?”
“Belum. Saya tidak ingin menyampaikan sebelum Anda memutuskan bagaimana.”
Aku menutup map. Rasa marah muncul, tetapi kali ini aku tidak membiarkannya mengarah kepada Raina. “Kita tidak perlu menyebarkan bukti ini ke media. Simpan semuanya. Jangan mengancam Marta.”
“Saya mengerti.”
“Aku ingin melindungi Raina, tapi bukan dengan membuat keputusan atas namanya. Tanyakan dulu apakah ia ingin tahu.”
Devi mengangguk. “Saya akan menunggu arahan.”
Aku duduk dan memikirkan apa arti informasi itu bagi pertengkaran kami. Foto itu memang diperjualbelikan, tetapi hal tersebut tidak membenarkan pertanyaanku. Aku sudah tahu Raina bercerita jujur. Marta yang menjual foto adalah masalah tersendiri; rasa tidak percayaku tetap kesalahanku.
“Pak,” kata Devi, “ada seseorang menunggu di lobi. Azzam.”
Aku mengangkat kepala. “Apa Raina tahu dia datang?”
“Saya tidak tahu.”
“Jangan biarkan dia menemui Raina. Aku yang akan bicara dengannya.”
Devi mengatur pertemuan di ruang tamu kecil, bukan ruang kerjaku. Azzam berdiri ketika aku masuk. Wajahnya tegang, tetapi ia tidak mencoba bersikap akrab.
“Leon,” katanya.
“Kamu datang untuk apa?”
“Aku ingin memastikan kamu tahu Raina menolakku di kampus.”
Aku menatapnya tanpa menjawab.
“Dia sudah cerita kepadaku,” kataku.
Azzam terlihat terkejut. “Dia sudah cerita?”
“Sebelum foto itu muncul.”
Ia menunduk. “Kalau begitu, aku justru membuat masalah lebih besar.”
“Kenapa kamu datang lagi setelah dia meminta kamu berhenti?”
“Aku ingin meminta maaf dan mengatakan pertunanganku batal. Aku pikir aku berhak menjelaskan, padahal dia tidak meminta.”
“Dia sudah bilang kepadamu untuk tidak mencarinya lagi.”
“Iya. Aku tidak akan datang ke kampus lagi.”
“Apa yang kamu inginkan dariku sekarang?”
“Aku bersedia memberi pernyataan kalau perlu. Aku bisa menjelaskan bahwa Raina menolak dan meminta aku pergi. Aku tidak ingin orang memakai foto itu untuk merusak hidupnya.”
Aku merasakan kecemburuan lama bergerak, tetapi kali ini aku menahannya. Azzam tidak sedang meminta Raina kembali. Ia sedang mengakui tindakannya.
“Kamu masih mencintainya?” tanyaku.
Ia terdiam sejenak. “Aku pernah mencintainya. Aku tidak akan memakai perasaan itu untuk mengganggu pernikahannya. Aku salah karena datang lagi setelah ia jelas menolak.”
“Kalau kamu bersaksi, lakukan karena ingin mengatakan yang sebenarnya, bukan untuk mendekatinya.”
“Aku paham.”
“Aku tidak akan menjadikan ini alasan untuk menghubunginya tanpa persetujuannya.”
Azzam mengangguk. “Itu hakmu. Aku hanya ingin kamu tahu dia tidak memberi harapan kepadaku.”
Sebelum pergi, Azzam menyerahkan pernyataan tertulis mengenai pertemuan di kampus. Ia tidak meminta bertemu Raina atau menitipkan salam. Aku menyimpannya sebagai keterangan sukarela yang tidak akan diumumkan tanpa persetujuan Raina.
Setelah ia pergi, aku duduk lama di ruang tamu. Raina memang sudah berkata begitu sejak awal. Azzam hanya mengulang kebenaran yang telah ia sampaikan kepadaku. Aku menyadari betapa aku menuntut bukti tambahan bukan karena Raina tidak jujur, tetapi karena aku tidak mampu mengendalikan rasa takutku.
Aku meminta Devi menyimpan bukti itu bersama tim hukum, tanpa menghubungi Marta atau mengumumkannya. Aku kemudian mengirim pesan kepada Riri, menanyakan apakah Raina bersedia mempertimbangkan pertemuan. Aku tidak akan berangkat ke panti sebelum ada jawaban tentang batas yang ia inginkan.