Raina
Hari keempat di panti, aku mengambil buku catatan Farah dari tas kecil yang kubawa. Aku sengaja membawanya saat pergi karena ingin membaca dalam suasana lebih tenang. Aku menuju ruang kecil dekat perpustakaan panti.
Bu Asih melihat buku di tanganku. “Kamu ingin membacanya?”
“Aku ingin melihat lagi sampai halaman terakhir. Mungkin ada bagian yang terlewat.”
“Kamu mau sendiri atau ditemani?”
“Sendiri dulu, Bu.”
Ia mengangguk dan menutup pintu setengah, memberi ruang tanpa mengunci diriku dari orang lain. Aku membuka halaman pertama. Tulisan Farah rapi, sebagian memakai tinta biru dan sebagian pensil. Ia mencatat hal-hal sederhana: jadwal kontrol, resep makanan, nama bunga yang ingin ditanam, juga cerita tentang Leon yang pernah lupa membawa payung.
Aku membaca pelan. Kenangan Farah terasa manusiawi, bukan gambaran sempurna yang selama ini kubangun di kepala. Ia bisa bercanda, bisa kesal, dan bisa mengkhawatirkan orang-orang yang dicintainya. Aku berhenti beberapa kali, terutama saat menemukan namaku.
Di salah satu halaman, Farah menulis bahwa ia ingin aku merasa diterima. Di halaman lain ia berharap Leon berhenti menyalahkan dirinya atas hal-hal yang tidak mampu ia kendalikan. Catatan itu membuatku memahami bahwa ia mencintai Leon dan juga menginginkan kebaikanku. Namun aku tidak ingin menggunakan kata-katanya untuk menentukan apa yang Leon rasakan sekarang.
Aku sampai pada halaman yang pernah membuatku ragu. Kalimat itu masih sama: ia berharap Leon mencintaiku bukan karena merasa harus. Bagian bawah kertas kecil itu tetap sobek. Aku belum menemukan bagian yang hilang. Aku membalik halaman, memeriksa bagian belakang, lalu menelusuri seluruh buku sampai ujung.
“Apa kamu menemukan sesuatu?” tanya Bu Asih dari ambang pintu.
“Belum tahu. Aku menemukan catatan terakhir, tapi aku perlu membacanya sekali lagi.”
Aku membuka halaman paling belakang. Ada tulisan pendek tentang kebahagiaan yang tidak harus mengikuti bentuk yang sama bagi semua orang. Sebagian kalimatnya jelas, sebagian lagi tertutup bekas lipatan. Aku mengusap kertas dengan hati-hati, tidak ingin merobeknya.
“Aku takut salah memahami,” kataku.
“Kamu tidak harus memutuskan maknanya sekarang,” jawab Bu Asih.
Aku membaca ulang halaman itu. Farah tidak sedang memberi perintah kepada Leon. Ia menulis tentang harapan, bukan kewajiban. Namun satu bagian yang paling ingin kupahami belum terbaca utuh. Aku menutup buku dan memegang sampulnya.
“Aku pikir aku akan menunjukkan catatan ini kepada Leon suatu hari nanti,” kataku. “Tapi bukan untuk membuktikan bahwa dia harus mencintaiku.”
“Apa yang kamu inginkan?”
“Aku ingin dia memilihku karena dirinya sendiri. Aku ingin percaya pada pilihannya, bukan pada pesan orang lain.”
Bu Asih duduk di sampingku. “Itu keinginan yang wajar.”
Ajeng muncul di pintu sambil membawa gambar rumah yang ia warnai. “Kak Raina, kamu sudah tidak menangis?”
Aku tersenyum tipis. “Sudah lebih baik.”
“Nanti pulang ke rumah?”
Aku memeluknya sebentar. “Belum hari ini.”
“Kalau pulang, jangan lupa bonekaku.”
“Kakak akan mengembalikannya.”
Ia puas dengan jawaban itu dan kembali bermain. Aku menyimpan buku catatan dengan hati-hati. Aku belum menyelesaikan semua keraguan, dan aku belum tahu kapan siap bicara dengan Leon. Tetapi sekarang aku memahami bahwa aku tidak perlu tinggal di rumah malam itu hanya karena takut ia marah. Aku juga tidak harus meninggalkan pernikahan kami untuk meminta ruang.
Aku mengirim pesan kepada Leon: “Aku sudah membaca lagi buku Farah. Aku masih perlu waktu, tapi aku aman. Jangan cari aku dulu.”
Balasannya datang setelah beberapa menit: “Aku mengerti. Aku akan menunggu sampai kamu siap.”
Aku membaca pesannya sekali, lalu meletakkan ponsel. Untuk hari ini, itu cukup. Aku menutup buku catatan dan memandang halaman terakhir yang belum sepenuhnya kupahami. Jawabannya mungkin ada di sana, tetapi yang paling penting belum tertulis di kertas: Leon harus menunjukkan melalui tindakannya bahwa ia mendengarkanku. Aku belum pulang, tetapi aku belum menutup pintu selamanya.
Bu Asih duduk di kursi sebelahku. “Kamu ingin menjawab pesannya?”
“Tidak malam ini. Aku sudah bilang aku aman dan butuh waktu.”
“Kamu sudah menyampaikan yang perlu.”
“Aku takut kalau aku diam, dia mengira aku ingin mengakhiri semuanya.”
“Kamu bisa mengatakannya saat siap bicara. Kamu tidak perlu memaksakan percakapan malam ini hanya untuk meredakan takut.”
Aku menarik napas perlahan. “Aku masih mencintainya. Tapi aku juga harus menjaga diriku.”
“Dua hal itu bisa benar bersamaan.”
Aku memandang buku Farah yang tertutup. “Aku ingin pulang suatu hari nanti, tapi aku ingin kami bisa bicara tanpa saling melukai.”
“Kalau begitu, pegang keinginan itu. Nanti kalian bisa membahas apa yang perlu berubah.”
“Aku akan mencoba.”
Bu Asih mengusap bahuku. “Untuk sekarang, makan sedikit dan istirahat.”
Aku menurut. Di dapur, ia menyisakan nasi dan sayur untukku. Aku makan pelan sambil mendengar suara anak-anak dari ruang sebelah. Hari ini aku belum pulang. Aku belum memutuskan soal cincin atau masa depan kami. Aku hanya memberi diriku ruang untuk berhenti menangis dan memahami apa yang perlu kukatakan saat nanti berhadapan dengan Leon.
Sebelum tidur, aku menyimpan gambar Ajeng di samping buku catatan Farah. Dua benda itu mengingatkanku pada hal yang berbeda: kasih sayang yang sederhana dan harapan yang belum selesai kupahami. Aku tidak perlu menjawab semuanya sekaligus. Besok aku akan bangun, membantu Bu Asih, dan menjalani hari satu langkah demi satu langkah. Keputusan untuk kembali akan datang setelah aku siap bicara, bukan karena seseorang memaksaku.
Aku menutup mata dengan perasaan sedih yang masih ada, tetapi tidak lagi sendirian. Untuk malam ini, itu sudah cukup. Besok mungkin masih sulit, tetapi aku akan menghadapinya tanpa menyembunyikan apa yang kurasakan. Aku sudah meminta waktu, dan Leon tahu aku aman. Kini aku perlu menjaga janji itu kepada diriku sendiri.
***
Leon
Keesokan harinya, Mama menelepon menjelang siang. Ia sudah melihat berita tentang Raina dan Azzam, lalu bertanya apakah kami baik-baik saja. Aku menjawab Raina sedang tinggal sementara di Panti Asuhan Kasih Ibu dan sudah mengirim kabar bahwa ia aman. Mama tidak langsung menyalahkanku. Ia hanya meminta aku datang agar kami dapat bicara langsung.
Raihan membuka pintu rumah. Wajahnya serius, tetapi ia mempersilakanku masuk. Mama duduk di ruang tengah dengan secangkir teh yang belum disentuh.
“Bagaimana keadaan Raina?” tanyanya.
“Dia aman. Dia meminta waktu.”
“Kamu tahu dia di panti?”
“Raina sudah menyampaikan langsung bahwa ia di panti, tetapi belum siap bertemu. Aku tidak ingin memaksanya. Pak Arif dan Devi mencari sebentar untuk memastikan keselamatannya.”
Raihan menyilangkan tangan. “Apa yang terjadi sampai dia pergi?”
Aku menjelaskan foto itu muncul, bagaimana aku menanyainya dengan nada tinggi, dan bagaimana pertengkaran berakhir dengan pintu yang kubanting. Aku juga mengakui bahwa Raina telah bercerita tentang Azzam sebelum foto itu muncul.
Mama menghela napas. “Jadi kamu sudah tahu kebenarannya, tetapi tetap bertanya apakah dia masih mencintai Azzam?”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Aku marah pada media dan takut mereka akan menyerangnya. Aku membuat ketakutanku terdengar seperti tuduhan.”
Raihan menatapku tajam. “Kamu tahu bagaimana rasanya saat orang tidak percaya padamu?”
“Aku tahu.”
“Kalau begitu, kenapa kamu membuat Raina merasakannya?”
Aku tak punya jawaban yang bisa membenarkan tindakanku. “Aku salah.”
Mama menaruh cangkir. “Aku juga harus mengakui sesuatu. Beberapa hari lalu aku bertanya soal anak. Aku takut pertanyaanku membuat Raina merasa hanya diharapkan menggantikan Farah.”
“Kami sudah membicarakannya. Ia tahu Mama tidak menuntut, tetapi pertanyaan itu menyentuh ketakutannya menjadi pengganti.”
“Dia tidak mengatakan langsung. Tapi aku melihat ia diam. Aku sudah menjelaskan bahwa tidak ada tuntutan, tetapi aku tetap khawatir ucapanku menambah bebannya.”
“Raina tidak pernah bilang Mama menekannya.”
“Aku tahu. Tapi kadang niat baik tetap bisa terasa berat. Kamu harus mengingat itu.”
Raihan mengangguk. “Raina bukan pengganti siapa pun. Kak Farah menyayanginya, tapi itu tidak berarti Raina harus memenuhi semua harapan keluarga.”
“Aku tahu,” kataku.
“Kamu perlu membuktikannya dengan mendengarkan, bukan mengulang kalimat itu.”
Aku menunduk. Mama benar. Aku pernah mengatakan bahwa Raina bukan pengganti Farah. Namun saat rasa takutku muncul, aku justru membuatnya merasa harus memilih antara masa lalu dan pernikahan kami.
“Aku tidak akan memaksanya pulang,” kataku. “Aku sudah minta maaf dan memberinya waktu.”
“Bagus,” ujar Mama. “Jangan datang ke panti hanya untuk meminta ia segera memaafkanmu.”
“Aku tidak akan begitu.”
Raihan duduk di kursi seberang. “Apa kamu masih percaya Raina?”
“Iya. Aku tahu ia menolak Azzam. Aku membiarkan foto membuatku bereaksi.”
“Kalau begitu, jangan biarkan kesalahan itu menjadi alasan untuk mengawasinya.”
“Aku tidak akan menghubungi Azzam atau memaksanya menjelaskan lagi.”
Mama menatapku dengan lembut. “Raina sudah kehilangan banyak hal sejak kecil. Jangan membuatnya merasa harus pergi supaya kamu mau mendengar.”
Kalimat itu menusuk lebih dalam daripada teguran Raihan. Aku melihat foto Farah di rak. Ia tersenyum seperti dalam kenanganku, tetapi kali ini aku tidak berusaha menjadikan pesannya sebagai jalan keluar. Aku harus menghadapi apa yang kulakukan kepada Raina.
“Aku takut kehilangannya,” kataku.
“Takut itu manusiawi,” jawab Mama. “Tapi rasa takut tidak boleh berubah menjadi kendali.”
Raihan berdiri dan berjalan ke dapur. “Kamu mau teh?”
“Boleh.”
Ia menuangkan teh dan meletakkan cangkir di hadapanku. Tidak ada yang mencoba menghiburku dengan mengatakan semuanya pasti baik. Aku menghargai itu. Aku harus menerima bahwa Raina mungkin memerlukan waktu lebih lama daripada yang kuinginkan.
Sebelum aku pulang, Mama berkata, “Kalau kamu benar-benar mencintainya, biarkan dia memilih kapan ia siap bicara.”
“Aku akan menunggu.”
Aku meninggalkan rumah Mama dengan satu pemahaman baru: yang harus kupulihkan bukan hanya rasa percaya Raina kepadaku, melainkan juga keyakinannya bahwa ia boleh berkata tidak, marah, dan meminta jarak tanpa kehilangan tempatnya dalam hidupku.