Raina
Pagi di panti datang dengan suara anak-anak berlarian dan Bu Asih memanggil mereka untuk sarapan. Aku bangun setelah tidur yang terputus-putus. Ajeng masih berada di kamar sebelah, bonekanya sudah kembali ke pelukan. Aku merasa sedikit malu karena menangis di hadapannya, tetapi Bu Asih mengatakan tidak apa-apa.
“Kamu mau pulang hari ini?” tanyanya saat kami duduk di meja dapur.
“Aku belum tahu.”
“Tidak apa-apa. Kamu bisa mengambil keputusan setelah lebih tenang.”
Aku mengecek ponsel. Ada beberapa panggilan dari Leon dan satu pesan dari Riri yang mengatakan Leon tahu aku aman. Aku tidak membalas panggilan. Aku mengirim pesan singkat kepada Leon: “Aku aman di panti. Aku belum siap bicara. Tolong beri aku waktu.”
Balasannya tidak datang segera. Aku meletakkan ponsel dan mencoba makan roti. Bu Asih tidak bertanya apakah Leon sudah membalas. Ia mengajakku membantu menyusun pakaian sumbangan.
Menjelang siang, Ajeng duduk di lantai dekatku dan mewarnai gambar. Ia beberapa kali memandang wajahku.
“Kak Raina, kamu masih sedih?”
“Sedikit.”
“Leon bikin Kakak sedih?”
Aku terdiam. Bu Asih yang sedang melipat pakaian menoleh, tetapi tidak menjawab untukku.
“Kami bertengkar,” kataku akhirnya. “Kakak dan Leon sama-sama mengatakan hal yang membuat satu sama lain sedih.”
“Nanti baikan?”
“Kakak belum tahu.”
Ajeng mengerutkan dahi. “Kalau minta maaf, biasanya baikan.”
“Kadang perlu waktu, Jeng.”
Ia kembali mewarnai. “Kalau aku marah sama teman, Bu Asih suruh aku bilang kenapa.”
“Itu nasihat yang bagus.”
“Kakak juga bilang kenapa?”
“Kakak sudah mencoba.”
Ajeng mengangguk seolah memahami, lalu menunjukkan gambarnya. Ia mewarnai rumah dengan atap biru dan dua jendela merah.
“Ini rumah siapa?” tanyaku.
“Rumah Kak Raina dan Leon.”
Aku menahan napas. “Kenapa jendelanya merah?”
“Biar hangat.”
Aku memeluknya sebentar. Bu Asih kemudian mengajaknya mencuci tangan untuk makan siang. Aku mengusap mataku dan kembali melipat pakaian.
“Anak-anak kadang bertanya langsung,” kata Bu Asih setelah Ajeng pergi. “Mereka tidak selalu punya cara halus.”
“Aku tidak ingin dia ikut khawatir.”
“Kamu bisa bilang bahwa orang dewasa sedang menyelesaikan masalah. Tidak perlu memberi semua detail.”
“Aku takut kalau aku pulang, kami bertengkar lagi.”
“Kalau kamu belum siap, jangan memaksa diri. Tapi jangan membuat keputusan besar hanya karena satu malam yang buruk.”
“Aku tidak ingin berpisah. Aku hanya ingin dia mengerti bahwa aku tidak bisa terus membuktikan diriku.”
“Kalau begitu, itu yang perlu kamu katakan saat kalian bicara.”
Aku mengangguk. Bu Asih menyarankan agar aku beristirahat dan tidak membaca komentar di internet. Aku menurut. Setiap kali ponsel bergetar, aku tidak langsung memeriksanya. Aku hanya ingin menjalani satu jam tanpa membayangkan apa yang sedang dilakukan Leon.
Sore harinya, Riri menelepon. Ia menawarkan untuk datang ke panti, tetapi aku bilang tidak perlu. Ia bertanya apakah Leon tahu aku aman.
“Sudah. Aku mengirim pesan.”
“Bagus. Kamu tidak perlu membalasnya sebelum siap.”
“Aku tahu.”
“Aku bisa menemanimu besok kalau kamu perlu pulang mengambil barang.”
“Aku membawa yang kubutuhkan.”
“Kalau begitu, aku tetap bisa datang sekadar duduk.”
“Terima kasih, Ri.”
Setelah telepon berakhir, aku membantu Bu Asih menyiapkan makan malam. Anak-anak bercerita tentang kegiatan mereka. Aku tertawa ketika Ajeng mengaku menaruh krayon di dalam kotak pensil yang salah. Untuk beberapa jam, aku bisa menjadi bagian dari rumah yang penuh suara tanpa harus menjelaskan semuanya.
Namun saat hendak tidur, pikiranku kembali pada cincin yang kutinggalkan. Aku tidak tahu apakah Leon menyimpannya atau membiarkannya di meja. Aku tidak pergi karena berhenti mencintainya. Aku pergi karena perlu mendengar isi hatiku sendiri sebelum kata-kata kami saling melukai lebih jauh.
***
Leon
Aku tidak tidur di kamar kami. Aku tertidur sebentar di sofa dan terbangun beberapa kali karena mengira mendengar Raina berjalan di lorong. Setiap kali bangun, rumah tetap kosong.
Pada pagi yang sama ketika Raina memberi kabar dari panti, Pak Arif kembali. Ia sudah memeriksa kampus, rumah Riri, dan beberapa tempat yang biasa didatangi Raina. Ia tidak melihatnya. Ia tidak mendatangi panti karena Riri meminta agar lokasi Raina dihormati. Aku memahami itu, meskipun rasa cemas membuatku ingin pergi ke sana sendiri.
“Apa Bu Raina masih aman?” tanyaku.
“Riri mengatakan beliau aman, Pak.”
“Dia menghubungimu langsung?”
“Tidak. Saya tidak ingin membuatnya merasa dicari-cari.”
Aku mengangguk. “Terima kasih sudah menjaga batasnya.”
Devi datang membawa kopi dan beberapa berkas. Ia meletakkannya tanpa membuka pembicaraan kantor.
“Beliau mengirim pesan kepada saya,” katanya. “Katanya aman, tetapi belum siap bicara.”
Aku merasa lega dan terpukul pada saat bersamaan. “Dia bilang begitu?”
“Iya. Saya tidak bertanya lebih jauh.”
“Bagus.”
Aku membuka pesan dari Raina dan membacanya beberapa kali: ia aman, belum siap bicara, minta waktu. Aku menulis, “Aku mengerti. Aku tidak akan memaksamu. Maaf karena membanting pintu dan membuatmu merasa tidak dipercaya.” Aku mengirimnya, lalu tidak menambahkan apa pun.
Beberapa menit kemudian, Raina membalas, “Terima kasih.” Hanya dua kata, tetapi cukup untuk memastikan ia membaca pesanku. Aku tidak menuntut percakapan lanjutan.
“Pak, apa saya perlu mengurus jadwal kantor?” tanya Devi.
“Iya. Tapi aku akan tetap di rumah.”
“Anda tidak ingin mencari Bu Raina?”
“Aku ingin, tapi dia meminta waktu. Kita sudah tahu dia aman.”
Devi mengangguk. “Itu keputusan yang baik.”
Aku hampir bertanya apakah ia menganggapku kejam, tetapi menahan diri. Aku tidak membutuhkan Devi untuk membenarkan perasaanku. Aku perlu bertanggung jawab pada tindakanku.
Aku mendekati meja makan. Cincin Raina masih berada di atasnya, tempat ia meninggalkannya. Aku mengambil kotak kecil dari lemari, lalu berhenti sebelum memasukkannya. Menyimpannya bisa terlihat seperti aku mengambil keputusan atas benda itu. Aku meletakkan cincin di atas kain bersih dan memindahkannya ke laci yang aman, tanpa mengunci atau menyembunyikannya.
“Pak Arif, kalau Raina ingin kembali mengambil barang, jangan menghalangi,” kataku melalui telepon.
“Tentu, Pak.”
“Jangan mendesaknya untuk pulang.”
“Saya mengerti.”
Hari itu berjalan lambat. Aku menghadiri rapat daring, tetapi tidak bisa fokus. Setiap kali layar menampilkan wajahku, aku melihat ekspresi Raina saat bertanya mengapa aku bicara seperti orang-orang di media. Aku telah mengabaikan penjelasan langsungnya demi sebuah gambar buram.
Menjelang sore, Mama menelepon. Ia bertanya apakah kami baik-baik saja setelah melihat berita. Aku tidak menceritakan pertengkaran secara terperinci, tetapi mengakui Raina sedang membutuhkan ruang.
“Kamu sudah meminta maaf?” tanyanya.
“Sudah.”
“Kamu sudah mendengarkan apa yang membuatnya pergi?”
Aku terdiam. “Aku sedang mencoba.”
“Jangan hanya mencoba menjelaskan dirimu. Dengarkan dulu.”
“Aku tahu, Ma.”
“Kalau dia belum siap pulang, hormati itu. Pastikan saja dia tahu kamu ingin berbicara tanpa memaksanya.”
“Aku sudah mengirim pesan.”
“Bagus. Beri dia waktu.”
Setelah telepon berakhir, aku duduk di ruang tengah dan melihat tempat Raina biasanya membaca. Aku tidak tahu kapan ia akan kembali. Aku hanya tahu aku tidak ingin memaksanya pulang dengan alasan ia adalah istriku. Pernikahan tidak memberiku hak untuk mengabaikan batasnya.