Raina
Pintu yang dibanting Leon masih bergetar dalam ingatanku. Aku berdiri beberapa detik di ruang tengah, tidak segera bergerak. Setelah suara langkahnya menjauh, rumah menjadi sunyi. Aku memandang meja, ponsel, lalu buku kuliah yang tergeletak. Pertengkaran kami tidak hanya tentang foto. Aku sudah berusaha jujur, tetapi Leon kembali bertanya seolah-olah kata-kataku tidak cukup.
Aku tidak ingin pergi untuk menghukumnya. Aku hanya tidak sanggup tidur di rumah itu malam ini, menunggu apakah ia pulang dengan amarah atau permintaan maaf. Aku mengambil tas kecil dan memasukkan pakaian, keperluan kesehatan, dompet, serta buku catatan kuliah. Aku juga membawa buku Farah agar bisa membacanya saat lebih tenang. Tanganku berhenti ketika melihat cincin pernikahanku.
Aku memutarnya di jari. Cincin itu bukan janji yang ingin kubuang, tetapi aku tidak tahu bagaimana memakainya saat hatiku terasa begitu jauh. Aku melepasnya perlahan dan menaruhnya di atas meja makan. Tidak ada surat. Aku takut kalau menulis, aku akan mengatakan sesuatu yang tidak kumaksudkan.
Ponselku bergetar. Riri mengirim pesan menanyakan kabarku. Aku mengetik, “Aku mau ke panti malam ini. Jangan khawatir, aku akan menghubungimu.” Aku menghapus bagian “jangan khawatir” karena tahu ia tetap akan khawatir. Akhirnya kukirim pesan singkat bahwa aku aman dan akan berada di Panti Asuhan Kasih Ibu.
Aku memanggil taksi dari aplikasi. Saat menunggu, aku berdiri dekat pintu dengan tas di samping kaki. Aku tidak mengunci kamar atau mengambil barang Leon. Aku hanya membawa kebutuhanku sendiri. Saat kendaraan datang, aku menutup pintu rumah dengan pelan. Tidak ada yang berubah di luar, tetapi aku merasa seperti meninggalkan bagian dari hidupku di balik dinding itu.
Perjalanan menuju panti terasa panjang. Aku melihat lampu jalan lewat satu demi satu dan mencoba mengatur napas. Beberapa kali aku hampir menelepon Leon, tetapi membatalkannya. Ia membutuhkan waktu setelah marah, dan aku membutuhkan tempat yang membuatku bisa menangis tanpa harus segera menjelaskan diri.
Bu Asih membuka pintu panti. Wajahnya berubah ketika melihat tas di tanganku.
“Raina, kamu kenapa? Masuk dulu.”
Aku mencoba menjawab, tetapi suaraku patah. Bu Asih merangkul bahuku dan membawaku ke ruang tengah.
“Kamu terluka?” tanyanya.
“Tidak, Bu. Aku hanya tidak sanggup di rumah malam ini.”
“Kamu mau menelepon Leon?”
“Belum. Kami bertengkar.”
Bu Asih tidak bertanya siapa yang salah. Ia menyuruhku duduk, mengambilkan air, lalu membiarkanku menangis. Aku menceritakan foto itu muncul di televisi, bagaimana Leon menanyakan apakah aku masih mencintai Azzam, dan bagaimana pertengkaran kami berakhir dengan pintu dibanting.
“Aku sudah jujur sebelum foto itu muncul,” kataku. “Aku tidak tahu harus melakukan apa lagi.”
“Kamu sudah melakukan bagianmu dengan jujur,” ujar Bu Asih. “Malam ini kamu boleh beristirahat. Besok, kalau kamu siap, pikirkan apa yang ingin kamu katakan kepadanya.”
“Aku tidak mau membuatnya khawatir.”
“Kamu mengirim kabar kepada Riri. Itu baik. Tapi kamu juga perlu memastikan Leon tahu kamu aman, walau mungkin belum sekarang.”
Aku menggenggam gelas. “Aku belum siap bicara dengannya.”
“Tidak apa-apa. Kamu bisa mengirim pesan singkat nanti, cukup mengatakan kamu aman.”
Aku mengangguk. Bu Asih mengantarku ke kamar kecil yang biasa kupakai saat berkunjung. Aku meletakkan tas di kursi dan duduk di ranjang. Dari luar terdengar anak-anak masih terjaga. Aku tidak ingin mereka melihatku menangis, tetapi tak lama kemudian Ajeng muncul di ambang pintu dengan boneka kecil di tangan.
“Kak Raina, kamu sakit?” tanyanya.
Aku mengusap pipi. “Tidak, Jeng. Kakak cuma sedih.”
“Kenapa sedih?”
Aku menatap Bu Asih yang berdiri di belakangnya. Aku belum tahu bagaimana menjelaskan pertengkaran orang dewasa kepada anak lima tahun.
“Kakak sedang ada masalah dengan Leon,” jawab Bu Asih lembut. “Tapi Kakak aman.”
Ajeng mendekat dan memeluk lenganku. “Kalau sedih, boleh pinjam bonekaku.”
Air mataku kembali jatuh. “Terima kasih. Kakak pinjam sebentar, ya.”
Ajeng meletakkan bonekanya di pangkuanku. “Nanti jangan lupa dikembalikan.”
“Kakak janji.”
Bu Asih mengantar Ajeng kembali ke ruang tengah, lalu duduk sebentar di sampingku. “Kamu tidak sendirian di sini.”
Aku tahu. Namun ada bagian diriku yang tetap berharap Leon akan datang mencari dan bagian lain yang takut mendengar suaranya. Aku membaringkan diri tanpa melepaskan pakaian. Cincin yang kutinggalkan di rumah terasa berat di pikiranku, lebih berat daripada benda kecil yang bisa digenggam.
***
Leon
Aku berdiri di luar rumah cukup lama setelah membanting pintu. Ketika akhirnya kembali masuk, ruang tengah kosong. Raina tidak ada di kamar maupun dapur. Aku memanggil namanya, lalu menyadari tas kecil yang biasa ia bawa sudah hilang.
Di atas meja makan tergeletak cincin pernikahannya.
“Ra?”
Tidak ada jawaban. Aku mengambil cincin itu, lalu meletakkannya kembali seolah benda itu membakar telapak tanganku. Aku memeriksa kamar, lemari, kamar mandi. Beberapa pakaian yang biasa ia pakai tidak ada. Ia pergi.
Amarah datang lebih cepat daripada rasa takut. Aku berjalan ke ruang tengah dan menendang kursi kecil hingga bergeser. “Kenapa dia pergi tanpa bicara?” kataku kepada rumah kosong.
Aku langsung tahu pertanyaan itu tidak adil. Aku sendiri yang pergi tanpa menjawab kapan akan kembali. Aku sendiri yang membanting pintu. Raina meminta aku mendengar, dan aku membuat rumah terasa tidak aman baginya.
Ponselku bergetar. Pesan dari Devi menanyakan apakah aku perlu bantuan. Aku meneleponnya.
“Raina pergi,” kataku.
“Anda tahu ke mana?”
“Belum.”
“Apa saya perlu menghubungi Pak Arif?”
“Iya. Minta dia periksa tempat-tempat yang mungkin didatangi Raina. Jangan hubungi media.”
Devi berhenti sejenak. “Anda sudah mencoba meneleponnya?”
Aku baru sadar belum. Aku menelepon Raina. Panggilan berdering lama, lalu masuk ke pesan suara. Aku tidak meninggalkan pesan. Aku mencoba sekali lagi dan tetap tidak mendapat jawaban.
Pak Arif tiba beberapa menit kemudian. Ia melihat cincin di meja, lalu tidak bertanya apa pun.
“Pak, saya akan memeriksa panti dan tempat yang biasa dikunjungi Bu Raina,” katanya.
“Periksa kampus juga. Tanya Riri kalau dia bisa dihubungi.”
“Baik.”
Devi datang membawa ponsel dan daftar tempat. Ia menghubungi Riri, tetapi Riri hanya mengatakan Raina aman dan meminta agar kami tidak mendesaknya. Aku merasa lega mendengar ia aman, tetapi jawaban itu juga menegaskan bahwa Raina tidak ingin bicara denganku.
“Dia bilang di mana?” tanyaku.
“Tidak. Ia meminta saya menghormati privasi Raina.”
“Aku suaminya.”
Devi menatapku hati-hati. “Saya tahu. Tapi mungkin sekarang yang paling dibutuhkan Bu Raina adalah ruang.”
Aku hendak membantah, tetapi kata-kata itu menghentikanku. Aku hampir memerintahkan Devi mencari ponsel atau meminta Pak Arif mendatangi setiap tempat. Itu tidak akan membuat Raina merasa aman. Aku duduk, menekan kedua telapak tangan ke wajah.
“Aku membanting pintu,” kataku.
Devi tidak menjawab. Pak Arif menunduk. Mereka tahu. Aku tidak bisa menyalahkan media atau Azzam atas keputusanku sendiri.
“Pak, saya akan mencari untuk memastikan keselamatannya,” kata Pak Arif. “Saya tidak akan memaksanya pulang.”
“Baik. Kalau kamu menemukannya, bilang aku ingin tahu dia aman. Jangan bilang dia harus kembali.”
Pak Arif pergi. Devi tetap tinggal untuk mengurus pesan kantor yang menumpuk. Aku berjalan ke meja makan dan mengambil cincin itu. Aku memasukkannya ke dalam telapak tangan, lalu menutup jari-jariku.
Aku menelepon Raina lagi. Kali ini panggilan langsung ditolak. Aku menunduk. Ia mungkin melihat namaku dan memilih tidak menjawab. Aku tidak berhak menuntutnya segera bicara setelah cara aku memperlakukannya.
“Apa saya perlu membatalkan jadwal besok?” tanya Devi.
“Batalkan yang tidak penting. Aku tidak akan ke kantor pagi-pagi.”
“Baik.”
“Dan jangan cari tahu lokasi Raina lewat orang lain tanpa alasan keselamatan.”
Devi mengangguk. “Saya mengerti.”
Setelah ia pergi, aku duduk sendirian. Rumah yang biasanya terasa penuh suara menjadi terlalu luas. Aku melihat dua cangkir di meja, satu masih tertinggal dari malam sebelumnya. Aku membersihkannya, lalu berhenti di depan pintu kamar. Raina tidak ada di sana.
Aku ingin marah karena ia pergi. Namun semakin lama aku duduk, semakin jelas bahwa kemarahanku hanya menutupi penyesalan. Ia pergi karena aku membuatnya merasa kejujurannya tak dipercaya. Aku meletakkan cincin itu di atas meja, tidak berani menyimpannya di tempat yang bisa dianggap sebagai keputusan dariku.
Aku kembali menelepon Raina pada tengah malam, tetapi tidak ada jawaban. Aku menulis pesan, menghapusnya, lalu akhirnya mengirim satu kalimat: “Aku minta maaf. Aku tidak akan memaksamu pulang. Tolong kabari kalau kamu aman.” Aku tidak tahu ia akan membacanya. Aku meletakkan ponsel di samping cincin dan mencoba duduk diam.
Aku menyalakan televisi tanpa suara, berharap pikiranku berhenti berputar. Foto itu muncul lagi di layar. Kali ini aku mematikan televisi sebelum narator mulai bicara. Aku tidak ingin membiarkan suara mereka mengatur langkahku lebih jauh.
Saat fajar mendekat, aku berjalan ke kamar kami dan melihat tempat Raina biasanya meletakkan buku. Ada satu pena tertinggal di meja. Aku mengambilnya dan hampir menyimpannya, lalu sadar aku sedang mencoba menjaga benda kecil seolah bisa menggantikan kehadirannya. Aku meletakkannya kembali dan duduk di tepi ranjang, menyesali betapa mudah aku mengulang kesalahan yang pernah kujanjikan tidak akan kuulangi.
Aku berjalan beberapa putaran di ruang tengah, lalu berhenti saat melihat cincin itu lagi. Aku tidak ingin mengubahnya menjadi bukti bahwa Raina telah mengakhiri pernikahan. Ia meninggalkannya karena sedang terluka, dan aku harus menghormati makna yang ia sendiri berikan. Namun aku juga takut benda kecil itu menjadi tanda bahwa ia tidak akan kembali.
Pak Arif mengirim kabar bahwa ia belum menemukan Raina. Aku meminta ia menghentikan pencarian di tempat-tempat umum dan hanya memastikan tidak ada keadaan darurat. Setelah itu aku duduk di ruang makan, mencoba makan sepotong roti. Rasanya hambar. Aku teringat Raina sering menyuruhku makan sebelum bekerja dan kini aku bahkan tidak bisa mengurus diriku sendiri.
Aku membuka lemari dan melihat pakaiannya masih tertata. Tidak ada yang rusak, tidak ada tanda bahwa ia membawa barang lebih dari yang diperlukan. Aku duduk di lantai, menyesali pertengkaran yang terjadi. Aku telah berjanji akan bertanya sebelum bertindak, tetapi saat tertekan aku melupakan janji itu. Cincin di meja mengingatkanku bahwa permintaan maaf saja tidak cukup.