Leon
Hari ketiga sejak tayangan itu muncul, kantor kembali dipenuhi pertanyaan. Aku menolak satu wawancara dan meminta tim komunikasi membuat jawaban singkat untuk media. Aku juga melarang mereka menyebut kehidupan pribadi Raina tanpa izin. Langkah itu benar, tetapi tidak memperbaiki apa yang telah kukatakan kepadanya.
Sepanjang hari, aku menulis beberapa pesan untuk Raina lalu menghapusnya. Aku ingin meminta maaf lagi, tetapi takut kata-kataku terdengar seperti usaha mengakhiri pertengkaran tanpa memahami lukanya. Aku tahu ia ingin didengarkan. Namun setiap kali mengingat foto itu, aku kembali merasa kehilangan kendali.
Aku pulang lebih awal. Raina sedang duduk di ruang tengah, melipat pakaian bersih. Ia mengangkat wajah, lalu kembali melipat.
“Kita bisa bicara?” tanyaku.
“Bisa. Tapi aku ingin kita bicara bergantian, tanpa meninggikan suara.”
“Baik.”
Aku duduk di kursi seberangnya. “Aku minta maaf karena bertanya apakah kamu masih mencintai Azzam. Kamu sudah menjawab dan sudah bercerita sebelum foto itu muncul. Aku seharusnya tidak membuatmu merasa harus membuktikan dirimu.”
Raina meletakkan pakaian di pangkuannya. “Aku menghargai permintaan maafmu.”
“Aku cemburu dan marah pada media, tapi aku melampiaskannya kepadamu.”
“Itu yang membuatku terluka.”
“Aku tahu.”
“Aku tidak ingin menjadi tempat kamu melampiaskan semua tekanan kantor.”
“Kamu bukan tempat pelampiasan.”
“Tapi malam itu kamu memperlakukanku seperti aku bagian dari masalah yang harus kamu selesaikan.”
Aku menarik napas. “Aku tidak ingin begitu.”
“Niatmu tidak mengubah dampaknya.”
“Benar.”
Ia menatapku. “Aku sudah bilang Azzam datang lagi. Aku bilang apa yang dia katakan. Aku bilang aku menolaknya. Aku bahkan memberi tahu ada orang yang mungkin memotret. Aku melakukan semua yang kamu minta soal keterbukaan.”
“Aku tahu.”
“Tetap saja, saat foto muncul, kamu menanyakan apakah aku masih mencintainya.”
“Aku salah.”
“Aku tidak bisa terus menerus menjawab pertanyaan yang sama setiap kali orang luar membuat cerita.”
“Aku tidak akan memintamu begitu lagi.”
“Aku ingin mempercayaimu, tapi aku perlu waktu.”
“Aku akan memberi waktu.”
Raina kembali melipat pakaian. Aku merasakan rasa takut bahwa jarak di antara kami akan semakin lebar. Aku ingin mengatakan bahwa aku juga terluka oleh foto dan komentar, tetapi mengucapkannya saat itu terasa seperti memindahkan kesalahan kepadanya.
“Apa yang kamu butuhkan dariku sekarang?” tanyaku.
“Aku butuh kamu berhenti bertanya seolah aku bersalah. Aku butuh kamu mengingat bahwa aku sudah memilih untuk jujur. Dan aku butuh kita tidak membahas ini saat kamu sedang marah.”
“Baik.”
“Kalau kamu perlu jeda, katakan kapan kamu akan kembali. Jangan pergi begitu saja.”
“Aku akan berusaha.”
Ia mengangkat alis. “Kamu bisa bilang ‘aku akan melakukannya’ tanpa berusaha?”
Aku sadar jawabanku terdengar seperti janji setengah hati. “Aku akan mengatakannya dengan jelas dan melakukannya.”
Raina mengangguk. Kami sempat diam. Aku melihat tangannya berhenti melipat. Aku ingin meraih tangannya, tetapi ia belum memberi tanda bahwa ia siap.
“Aku juga perlu mengatakan sesuatu,” katanya. “Aku tidak akan menghapus Farah dari hidupmu. Tapi aku tidak mau kamu memakai namanya untuk membandingkan aku dengan masa lalu, dan aku juga tidak mau memakai Azzam untuk menyakitimu.”
“Aku tidak pernah ingin membandingkan kalian.”
“Aku tahu. Tapi saat kita bertengkar, aku takut kita akan melakukannya.”
“Aku akan menjaga kata-kataku.”
“Aku juga.”
Untuk beberapa detik, percakapan terasa mungkin diselamatkan. Lalu ponselku bergetar. Devi mengirim potongan komentar dari sebuah akun yang menyebut Raina mencari perhatian dengan bertemu mantannya. Aku seharusnya mengabaikannya. Namun aku membuka gambar itu dan membacanya sampai selesai.
“Jangan baca komentar itu,” kata Raina.
“Aku hanya ingin tahu apa yang mereka tulis.”
“Kamu tidak bisa mengendalikan mereka dengan membacanya.”
“Aku tahu.”
“Kalau begitu, letakkan ponselmu.”
Aku menutup layar, tetapi amarahku telanjur muncul. “Mereka menuduhmu macam-macam.”
“Aku tidak bisa mengendalikan mereka.”
“Aku tahu, tapi aku tidak bisa diam saja.”
“Kamu bisa menjaga perusahaan dan meminta tim menangani itu. Kamu tidak perlu membawa amarah itu ke rumah.”
“Kamu seolah-olah tidak peduli.”
“Aku peduli. Aku hanya tidak ingin kita bertengkar karena komentar orang.”
“Kamu bilang ingin bicara, lalu sekarang kamu ingin menghentikannya lagi.”
“Aku ingin berhenti sebelum kamu kembali meninggikan suara.”
“Aku tidak meninggikan suara.”
“Belum.”
Kalimat itu membuatku tersulut. Aku berdiri terlalu cepat hingga kursi bergeser. “Kamu selalu menganggap aku akan mengulang kesalahan yang sama.”
Raina berdiri. “Aku sedang mencoba mencegahnya.”
“Aku sudah minta maaf.”
“Permintaan maaf bukan berarti aku harus langsung merasa baik.”
“Aku tidak meminta itu.”
“Tapi kamu marah karena aku masih terluka.”
“Aku marah karena apa pun yang kulakukan sekarang tidak cukup.”
“Aku tidak memintamu melakukan semuanya. Aku memintamu mendengar.”
Aku melihat pakaian terlipat di sofa dan ponsel di tanganku. Aku tahu suara kami meninggi. Aku bisa berhenti, duduk kembali, dan meminta jeda. Namun tubuhku bergerak lebih dulu. Aku berjalan ke pintu depan.
“Leon, jangan pergi dalam keadaan seperti ini,” kata Raina.
Aku berhenti dengan tangan di gagang. Ada malam pertama pernikahan kami yang terlintas di kepala: aku pernah meninggalkannya sendirian karena marah dan mengira jarak akan menyelesaikan semuanya. Aku pernah berjanji tidak mengulangi cara itu.
“Aku hanya perlu keluar sebentar,” kataku.
“Katakan kapan kamu akan kembali.”
Aku tidak menjawab. Aku membuka pintu dan melangkah keluar, lalu membantingnya di belakangku. Suaranya memenuhi rumah.
Begitu pintu tertutup, aku sadar telah mengulangi kesalahan yang sama. Di dalam, Raina tidak mengejarku. Aku berdiri di lorong dengan tangan mengepal, marah pada komentar orang, pada diriku sendiri, dan pada kenyataan bahwa aku kembali membiarkan semuanya melukai orang yang paling ingin kulindungi.
Ponselku bergetar. Devi menanyakan apakah ia perlu mengatur sopir menjemputku. Aku membalas bahwa aku akan berjalan sebentar dan meminta agar tidak ada yang menghubungi Raina atas namaku. Aku tidak ingin orang lain masuk ke dalam pertengkaran kami atau menjadikannya bahan pembicaraan kantor.
Aku melewati halaman, lalu berhenti di luar gerbang. Suara pintu yang kubanting masih terngiang. Aku tahu Raina mungkin mengira aku pergi tanpa peduli kapan akan kembali, meski sebelumnya ia memintaku memberi tahu. Aku telah mengulang pola lama yang kami berdua takutkan. Malam itu, langkahku menjauh dari rumah, tetapi pikiranku tertinggal bersama Raina di balik pintu yang baru saja kututup terlalu keras.