Leon
Aku berjalan tanpa tujuan jelas menyusuri jalan di sekitar rumah. Udara malam terasa berat. Aku mengulang percakapanku dengan Raina dan menyadari betapa cepat aku membiarkan tekanan luar masuk ke dalam hubungan kami. Raina benar: ia telah bercerita sebelum foto muncul. Aku tidak seharusnya meminta kepastian seolah-olah ia belum pernah menjawab.
Aku berhenti di minimarket, membeli air, lalu duduk di bangku dekat taman kecil. Ponselku bergetar beberapa kali. Devi memberi kabar bahwa tim komunikasi sedang menyiapkan pernyataan singkat. Aku membalas agar mereka tidak menyebut Raina atau mengonfirmasi narasi tayangan. Aku tidak ingin perusahaan menggunakan kehidupan istriku sebagai bahan klarifikasi tanpa persetujuannya.
Setelah beberapa puluh menit, aku pulang. Raina duduk di ruang tengah, tidak lagi membaca buku. Ia melihatku masuk, tetapi tidak bertanya ke mana aku pergi.
“Aku sudah kembali,” kataku.
“Aku lihat.”
“Aku minta maaf karena tadi membuatmu merasa harus membuktikan diri.”
“Aku tidak mau membahasnya lagi kalau kamu masih akan bertanya hal yang sama.”
“Aku tidak akan bertanya begitu.”
“Kamu yakin?”
“Aku sadar kamu sudah menjawab. Aku takut pada cara orang memakai foto itu, tapi ketakutanku bukan bukti bahwa kamu melakukan sesuatu.”
Raina menatapku. “Kenapa kamu tidak mengatakan itu dari awal?”
“Karena aku membiarkan rasa malu dan marah mengambil alih.”
“Kamu malu karena berita itu?”
“Aku marah karena orang membicarakanmu. Lalu aku malu karena tidak bisa mengendalikan cerita yang mereka buat.”
“Kamu tidak bisa mengendalikan semua orang.”
“Aku tahu. Tapi tadi aku bertindak seolah-olah aku bisa menyelesaikannya dengan membuatmu menjawab.”
Ia diam lama. Aku tahu permintaan maaf tidak langsung membuatnya percaya lagi. Aku duduk di kursi seberang, menjaga jarak.
“Aku juga takut,” katanya. “Aku takut setiap kali masa laluku muncul, aku harus meyakinkanmu bahwa aku sudah memilihmu.”
“Kamu tidak seharusnya memikul tugas itu.”
“Aku tidak mau hubungan kita menjadi perlombaan antara Azzam dan Farah.”
“Aku juga tidak mau begitu.”
“Tapi ketika kamu bertanya apakah aku masih mencintai Azzam, aku langsung berpikir apakah kamu masih memilih Farah di dalam hatimu.”
Aku terdiam. “Kamu merasa aku menjadikanmu pengganti?”
“Aku sudah mulai menerima jawabanmu soal itu. Tapi pertanyaan tadi membuka ketakutan yang sama lagi. Aku tahu Farah penting bagimu. Aku tidak ingin meminta kamu melupakannya. Aku hanya ingin kita tidak menggunakan masa lalu untuk menyakiti satu sama lain.”
“Aku tidak ingin menyakitimu.”
“Aku tahu niatmu mungkin bukan itu.”
Percakapan itu semestinya membawa kami mendekat, tetapi aku masih merasa terpojok oleh berita dan rasa cemburu. Aku tidak mengakuinya dengan baik. Aku mulai berbicara terlalu cepat.
“Kamu juga harus paham bahwa aku tidak bisa selalu tenang ketika melihatmu bersama mantanmu.”
Raina menarik napas tajam. “Aku tidak meminta kamu selalu tenang. Aku meminta kamu tidak menuduhku.”
“Aku tidak menuduh.”
“Kamu bertanya apakah aku masih mencintainya setelah aku menjelaskan semuanya. Bagiku, itu tuduhan.”
“Aku hanya ingin dengar jawaban.”
“Kamu sudah dengar.”
“Jangan terus memutar kata-kataku.”
“Aku sedang menjelaskan dampaknya.”
Aku berdiri dan berjalan ke dapur, lalu kembali tanpa mengambil apa pun. Raina juga berdiri. Kami saling memandang, sama-sama lelah dan terluka.
“Mungkin kita perlu berhenti bicara malam ini,” katanya.
“Setiap kali ada masalah, kamu ingin berhenti.”
“Karena kamu tidak mendengarkan.”
“Aku sudah mendengar.”
“Tidak. Kamu menunggu giliran untuk membela diri.”
Kalimat itu menusuk, terutama karena aku tahu ada benarnya. Aku bisa memilih diam dan memikirkan jawabannya, tetapi malah berkata, “Kamu selalu menganggap aku salah ketika aku cemburu.”
“Aku tidak menganggap perasaanmu salah. Aku menolak cara kamu melampiaskannya kepadaku.”
Raina mengambil bukunya dan berjalan menuju kamar. Aku tahu seharusnya aku membiarkannya beristirahat. Namun rasa marahku belum selesai. Aku melihat layar televisi yang masih menampilkan potongan gambar mereka dan merasakan amarah itu kembali naik.
“Kita belum selesai bicara,” kataku.
Ia berhenti, tetapi tidak berbalik. “Aku sudah lelah.”
Aku mengatupkan rahang. Aku seharusnya mengingat kesepakatan kami untuk memberi jeda dan kembali ketika sudah tenang. Sebaliknya, aku merasa ia menjauh dan membiarkan ketakutanku menguasai akal sehat. Malam itu belum berakhir, tetapi aku sudah mulai merusak ruang aman yang baru saja kami bangun.
***
Raina
Pagi hari kedua setelah foto itu muncul, aku hampir tidak tidur. Leon akhirnya berhenti berbicara dan pergi ke ruang kerja. Kami tidak saling mengucapkan selamat malam. Saat bangun, ia sudah pergi ke kantor. Tidak ada pesan selain pemberitahuan bahwa ia akan pulang sore.
Aku berusaha mengikuti kelas. Riri melihat mataku sembap, tetapi tidak bertanya di depan teman-teman. Setelah kelas, ia menemaniku ke kantin.
“Kalian bicara lagi?” tanyanya.
“Sedikit. Tapi berakhir dengan bertengkar.”
“Kamu aman pulang nanti?”
“Iya. Aku bisa naik mobil.”
“Kalau kamu mau, aku bisa menemanimu.”
“Terima kasih. Aku ingin bicara dengan Leon sendiri dulu.”
Riri mengangguk. “Jangan paksa dirimu menyelesaikan semuanya hari ini.”
“Aku tahu.”
Aku kembali ke rumah menjelang sore. Leon belum pulang. Aku mengeluarkan buku catatan Farah dari kotak, lalu duduk di lantai dekat lemari. Aku tidak membuka halaman yang sama. Aku hanya memegang sampulnya dan memikirkan pertanyaan Leon tentang Azzam.
Aku telah bertanya apakah Leon mencintaiku karena aku adalah diriku sendiri. Ia menjawab bahwa ia mencintaiku bukan karena pesan Farah. Aku ingin mempercayai jawabannya. Namun ketika ia menganggap foto buram sebagai alasan untuk meragukanku, rasa takutku kembali: apakah aku akan selalu harus membuktikan bahwa aku bukan seseorang yang lain?
Leon pulang saat hari mulai gelap. Ia melihat buku di tanganku.
“Kamu membaca catatan Farah?”
“Belum. Aku hanya memegangnya.”
Ia meletakkan tas. “Aku minta maaf untuk tadi malam.”
“Kamu minta maaf karena bertanya soal Azzam?”
“Aku minta maaf karena menuduhmu dan tidak mendengar penjelasanmu.”
Aku menatapnya. “Kamu tadi malam bilang kita belum selesai bicara.”
“Aku salah. Kamu sudah bilang lelah.”
“Aku ingin percaya kamu paham.”
“Aku paham bahwa kamu sudah bercerita sebelum foto muncul. Aku tidak seharusnya menuntutmu menjawab seolah-olah kamu bersalah.”
Aku mengangguk pelan. “Tapi kamu tetap melakukan itu.”
“Iya.”
“Apa yang akan kamu lakukan lain kali saat cemburu?”
Ia terdiam cukup lama. “Aku akan mencoba mengatakan bahwa aku cemburu dan meminta waktu sebelum bicara, bukan langsung menanyaimu dengan nada tinggi.”
“Kamu pernah melakukan itu sebelumnya dengan baik.”
“Aku gagal kali ini.”
“Aku tidak ingin satu kegagalan menghapus semua yang sudah kita bangun. Tapi aku juga tidak ingin menganggapnya tidak penting.”
“Aku mengerti.”
Aku menutup kotak buku. “Kamu bertanya apakah aku masih mencintai Azzam. Setelah semua yang kuceritakan, pertanyaan itu membuatku merasa seperti kejujuranku tidak ada nilainya.”
“Aku menyesal.”
“Aku tidak ingin setiap foto atau kabar dari orang lain membuat kita mulai dari awal lagi.”
“Aku juga tidak mau.”
“Dan aku tidak ingin membandingkan Azzam dengan Farah. Tapi waktu kamu meragukanku, aku mulai bertanya apakah aku juga harus terus membuktikan bahwa aku bukan pengganti Farah.”
Wajah Leon berubah. “Kamu tidak perlu membuktikan itu.”
“Aku tahu secara teori. Tapi rasa takut tidak selalu hilang hanya karena kamu mengatakannya.”
“Aku tahu.”
“Aku perlu kamu mendengar tanpa membalas setiap kalimat dengan penjelasan.”
Ia mengangguk. “Aku akan mencoba.”
“Aku juga akan berusaha memberi tahu kalau aku perlu jeda, bukan pergi tanpa bicara.”
“Terima kasih.”
Untuk beberapa saat kami tidak berkata apa-apa. Aku berharap percakapan itu cukup untuk menghentikan pertengkaran. Namun Leon masih tampak gelisah. Ia berjalan ke meja, melihat ponselnya, lalu kembali.
“Tim komunikasi bilang mereka tidak akan memberi komentar,” katanya. “Tapi mereka tetap menayangkan foto itu.”
“Aku tahu.”
“Mereka menyebut kamu istri kedua seolah-olah itu satu-satunya hal tentangmu.”
“Aku tidak bisa mengatur judul mereka.”
“Aku seharusnya melindungimu dari semua ini.”
“Kamu tidak bisa melindungiku dari setiap perkataan orang.”
“Aku bisa berusaha.”
“Berusahalah dengan berdiri di sampingku, bukan mempertanyakan aku.”
Ia mengangguk, tetapi tidak menjawab. Aku duduk kembali dan menyimpan buku Farah di dalam kotak. Aku tidak ingin menggunakan masa lalu sebagai senjata. Aku juga tidak ingin membiarkan pertengkaran kami menelan makna hubungan yang telah kami bangun.
Malam itu kami tidur di kamar yang sama, tetapi tanpa percakapan panjang. Aku mendengar Leon beberapa kali bergerak. Aku ingin meraih tangannya, namun belum siap. Aku membiarkan jarak itu ada, berharap besok kami bisa berbicara lebih tenang.