Leon
Pagi itu aku sudah berada di kantor ketika Devi mengetuk pintu ruanganku. Ia membawa tablet dan tampak ragu sebelum masuk. Aku baru menyelesaikan rapat awal dan sedang membaca laporan ketika ia meletakkan perangkat itu di meja.
“Pak, ada tayangan infotainment yang membahas Raina.”
Aku mengangkat kepala. “Tentang apa?”
“Foto dari kampus. Mereka menayangkan gambar Raina dan Azzam di gerbang.”
Devi memutar tablet. Judul di layar berbunyi, “Istri Kedua CEO Bertemu Mantan.” Foto itu buram, diambil dari seberang jalan. Narator menyebut pertemuan tersebut sebagai “momen intim” dan berspekulasi bahwa Raina masih menyimpan perasaan kepada mantan kekasihnya.
Aku merasakan rahangku mengeras. “Siapa yang memberi keterangan?”
“Belum jelas. Tayangan hanya mengatakan ada saksi di sekitar kampus.”
“Apakah mereka menghubungi perusahaan?”
“Belum. Tim komunikasi sedang memantau.”
Aku menonton potongan itu lagi. Raina telah menceritakan pertemuan tersebut kepadaku sebelum foto ini muncul. Ia menjelaskan bahwa Riri berada di sampingnya dan bahwa ia meminta Azzam berhenti datang. Aku tahu semua itu. Namun gambar tersebut menampilkan mereka tanpa suara, tanpa konteks, seolah-olah satu bingkai cukup untuk mengubah cerita yang telah kudengar.
“Tolong minta tim menyiapkan respons kalau ada pertanyaan resmi,” kataku. “Jangan menyerang siapa pun dan jangan menyebut nama Raina tanpa persetujuannya.”
“Baik, Pak.”
Devi masih berdiri. “Anda ingin menghubungi Bu Raina?”
“Aku akan bicara dengannya nanti.”
Aku tahu seharusnya aku menghubungi Raina dengan tenang. Namun telepon kantor berdering, lalu seorang direktur meminta penjelasan tentang dampak berita itu terhadap citra perusahaan. Pertanyaannya berputar-putar pada hal yang sama: apakah pernikahanku stabil, apakah Raina masih berhubungan dengan mantannya, apakah kami sengaja mengatur foto itu. Aku menjawab bahwa perusahaan tidak mengomentari kehidupan pribadi karyawannya, tetapi semakin banyak pertanyaan, semakin sulit menahan rasa kesal.
Menjelang sore, aku pulang lebih cepat. Aku menemukan Raina di ruang tengah, sedang membaca catatan kuliah. Ia mengangkat wajah ketika mendengar pintu.
“Kamu pulang cepat.”
“Aku melihat tayangan tadi.”
Ia menutup bukunya perlahan. “Aku juga baru melihatnya.”
“Kamu tahu foto itu akan tersebar?”
Raina terdiam. “Tidak. Aku cuma melihat orang memegang ponsel dari jauh. Aku sudah cerita kepadamu soal itu.”
“Aku tahu kamu cerita.”
“Lalu kenapa kamu bertanya seolah aku menyembunyikan sesuatu?”
Aku berdiri di dekat meja. “Aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi di sana.”
“Aku sudah menjelaskan. Aku bersama Riri. Azzam bicara sebentar. Aku menolak dia dan memintanya tidak datang lagi.”
“Tayangan itu mengatakan kalian terlihat dekat.”
“Tayangan itu bisa mengatakan apa saja. Kamu tahu aku pulang dan menceritakannya kepadamu sebelum mereka menayangkannya.”
Aku tidak menjawab segera. Ia benar. Bukti yang kumiliki bukan hanya foto. Aku memiliki ceritanya sendiri, dan aku telah mendengarnya langsung. Namun suara narator dan tatapan orang-orang di kantor masih bergaung dalam pikiranku.
“Kamu masih mencintai Azzam?” tanyaku.
Raina menatapku tak percaya. “Apa?”
“Aku bertanya apakah kamu masih mencintainya.”
“Kamu sungguh bertanya begitu setelah aku bercerita jujur kepadamu?”
“Aku ingin mendengar jawabannya.”
“Kamu sudah mendengar jawabannya saat aku bilang aku memilih hidupku bersamamu.”
“Itu bukan jawaban untuk pertanyaan ini.”
Raina berdiri. “Aku tidak mencintai Azzam. Aku sudah mengatakan itu. Aku tidak tahu bagaimana lagi harus menjelaskan penolakanku.”
“Kamu bisa mengatakan itu tanpa menyerangku.”
“Aku tidak menyerang. Aku terluka karena kamu lebih percaya foto daripada kejujuranku.”
“Aku tidak percaya foto itu. Aku hanya ingin tahu.”
“Kamu bertanya dengan nada menuduh.”
Aku menyadari suaraku meninggi. Aku berusaha menurunkannya, tetapi kata-kata sudah telanjur keluar. “Aku harus menghadapi orang-orang yang bilang istriku bertemu mantannya diam-diam.”
“Aku tidak bertemu diam-diam. Aku sudah bilang kepadamu sebelum foto itu muncul.”
“Aku tahu.”
“Kalau kamu tahu, kenapa kamu bicara seperti mereka?”
Pertanyaan itu membuatku terdiam. Aku tidak punya jawaban yang bisa membenarkan nada suaraku. Aku lelah karena tekanan kantor dan khawatir orang akan menjadikan Raina sasaran. Namun rasa khawatirku berubah menjadi kecurigaan sebelum sempat kutahan.
“Aku perlu waktu,” kataku akhirnya.
“Aku juga.”
Raina mengambil bukunya dan berjalan ke kamar. Ia tidak membanting pintu. Ketika pintu tertutup, aku tetap berdiri di ruang tengah, menatap ponselku yang masih menampilkan judul sensasional itu. Aku telah mendengar ceritanya lebih dulu. Aku tahu fakta yang sebenarnya. Tetapi ketika tekanan publik masuk ke rumah, aku membiarkannya berbicara lebih keras daripada Raina.
Aku mematikan tayangan di ponselku. Tidak ada gunanya menontonnya lagi. Foto itu hanya menunjukkan mereka berdiri di gerbang, tetapi narator sudah membangun cerita seolah mengetahui isi percakapan. Aku merasa marah karena orang-orang menganggap kehidupan Raina milik mereka untuk dibahas. Namun, saat aku pulang, aku membawa kemarahan itu bersamaku dan menaruhnya di hadapan Raina.
Devi mengirim pesan bahwa beberapa wartawan mencoba menelepon rumah. Aku meminta Pak Arif tidak memberikan komentar dan mengingatkan penjaga agar tidak membiarkan siapa pun masuk tanpa izin. Aku melakukan itu untuk menjaga privasi, tetapi tidak pernah bertanya kepada Raina apa yang ia inginkan. Aku membuat keputusan sendiri, sama seperti saat-saat awal pernikahan kami ketika aku mengira perlindungan berarti menentukan semuanya.
Aku duduk di sofa dan mencoba menyusun permintaan maaf yang tidak terdengar seperti pembelaan. Dari kamar, aku mendengar laci dibuka dan ditutup. Aku hampir mengetuk pintu, lalu berhenti. Ia meminta ruang, dan aku perlu menghormatinya. Aku sadar berita itu akan terus beredar, tetapi pertengkaran kami tidak harus mengikuti iramanya. Jika aku kembali bicara, aku harus siap mendengar, bukan menuntut jawaban yang sudah diberikan.
Pukul delapan, aku mendapat pesan dari tim komunikasi bahwa tayangan itu mulai dibagikan ulang. Aku meminta mereka tidak menyebut nama Raina di jawaban apa pun. Namun pikiranku tetap terpaku pada komentar yang mungkin dibacanya. Aku tahu seharusnya aku menanyakan apa yang ia perlukan, bukan mengira aku bisa menentukan cara melindunginya.
***
Raina
Aku duduk di tepi ranjang dengan buku kuliah tergeletak di pangkuan. Tulisan di halaman itu tidak masuk ke kepala. Suara Leon terus berulang: “Kamu masih mencintai Azzam?” Aku sudah menceritakan pertemuan itu sebelum foto muncul. Aku sudah mengatakan Azzam datang tanpa kuundang dan bahwa aku meminta dia berhenti. Namun foto yang tidak bersuara membuat Leon kembali bertanya seolah kejujuranku tidak pernah terjadi.
Ponselku bergetar. Pesan Riri menanyakan apakah aku sudah melihat tayangan itu. Aku membalas bahwa Leon juga melihatnya dan kami sempat bertengkar. Ia langsung menelepon.
“Kamu aman?” tanyanya begitu aku menjawab.
“Iya. Kami cuma bertengkar.”
“Leon marah?”
“Dia bertanya apakah aku masih mencintai Azzam.”
Riri menghela napas keras. “Padahal kamu sudah bercerita duluan.”
“Iya. Itu yang paling menyakitkan.”
“Kamu mau aku datang?”
“Belum. Aku perlu menenangkan diri.”
“Kamu tidak harus menghadapi ini sendirian.”
“Aku tahu. Aku akan menghubungimu kalau keadaan berubah.”
Setelah panggilan berakhir, aku pergi ke dapur untuk minum. Leon tidak ada di ruang tengah. Aku mendengar langkahnya di ruang kerja. Aku ingin bicara lagi, tetapi takut percakapan akan kembali berputar pada foto dan Azzam. Aku menunggu beberapa menit, lalu mengetuk pintu.
“Boleh aku masuk?”
“Boleh.”
Leon duduk di depan laptop, tetapi layar sudah gelap. “Aku ingin minta maaf karena nadaku tadi meninggi.”
“Kamu minta maaf karena nada, atau karena bertanya apakah aku masih mencintai Azzam?”
Ia mengusap wajah. “Aku minta maaf karena membuatmu merasa aku tidak percaya.”
“Kamu masih tidak menjawab.”
“Aku tidak tahu bagaimana menjawab tanpa membuat kita kembali bertengkar.”
“Aku tidak meminta jawaban yang sempurna. Aku hanya ingin tahu apakah kamu sadar bahwa kamu mengabaikan apa yang sudah kuceritakan.”
“Aku tahu kamu sudah bercerita.”
“Tapi kamu tetap meminta penjelasan seperti aku tertangkap melakukan sesuatu.”
Ia menunduk. “Aku bereaksi buruk.”
“Aku mengerti berita itu membuatmu tertekan. Tapi aku bukan orang-orang di kantormu.”
“Aku tahu.”
“Aku juga tidak bisa mengendalikan siapa yang memotret atau apa yang mereka katakan.”
“Aku tidak menyalahkanmu karena fotonya.”
“Kamu bertanya apakah aku masih mencintai Azzam. Itu terasa seperti menyalahkanku.”
Leon tidak segera menjawab. Aku dapat melihat ia berusaha menahan sesuatu. Aku sendiri merasa dadaku sesak. Aku ingin ia mendengarkan, bukan membela diri.
“Aku sudah menceritakan semuanya sebelum foto muncul,” kataku lagi. “Aku bahkan bilang ada orang yang mungkin memotret kami. Aku tidak menyembunyikan apa pun. Kalau kamu masih takut, katakan kamu takut. Jangan ubah ketakutanmu menjadi pertanyaan yang membuatku seolah bersalah.”
“Aku tidak ingin membuatmu merasa bersalah.”
“Tapi itu yang terjadi.”
Ia berdiri, lalu berjalan ke jendela. “Orang-orang membicarakan kita seolah mereka tahu seluruh hidup kita. Aku tidak tahan melihat mereka memakai fotomu untuk menyerangmu.”
“Aku juga tidak suka. Tapi kamu justru mengulang pertanyaan mereka.”
Leon berbalik. “Aku bertanya karena aku ingin kepastian.”
“Aku sudah memberimu kepastian.”
“Aku ingin mendengarnya lagi.”
“Kamu ingin mendengar apa yang membuatmu tenang, atau kamu ingin mendengar aku?”
Pertanyaanku membuat wajahnya mengeras. “Kamu tahu aku mencintaimu.”
“Kalau begitu, mengapa kamu menempatkanku di ruang sidang dan meminta aku membuktikan kesetiaanku?”
“Aku tidak sedang menginterogasimu.”
“Kamu mungkin tidak bermaksud begitu. Tapi aku merasa seperti itu.”
Aku mundur setengah langkah. Suasana ruangan terasa makin sempit. Aku tidak ingin menjadikan pertemuan singkat di kampus sebagai perkara besar. Yang membuatnya besar adalah cara Leon menanggapinya.
“Aku akan keluar sebentar,” katanya.
“Kamu mau pergi?”
“Aku perlu menenangkan diri.”
“Baik. Tapi jangan pergi tanpa bilang kapan kamu akan kembali.”
Ia berhenti, lalu menjawab, “Aku akan kembali setelah berjalan sebentar.”
Aku mengangguk. Ia mengambil kunci dan keluar dengan langkah cepat, tetapi tidak membanting pintu. Aku berdiri sendirian di ruang kerja, mencoba menahan air mata. Kali ini ia memberitahuku bahwa ia akan kembali, sesuai kesepakatan kami sebelumnya. Namun luka dari pertanyaannya tetap tinggal.
Aku kembali ke kamar dan duduk di sisi ranjang. Aku memikirkan bagaimana aku menjawab Leon ketika ia bertanya soal Azzam. Aku tidak ingin menyangkal bahwa masa lalu pernah ada; aku hanya tidak ingin masa itu dipakai untuk mengukur kesetiaanku sekarang. Saat ia pergi, aku tahu ia telah mengatakan akan kembali. Tetapi rasa aman yang kami bangun beberapa hari terakhir mendadak terasa rapuh.
Riri mengirim pesan singkat, “Kamu tidak harus mengambil keputusan malam ini.” Aku membalas, “Aku tahu. Aku hanya ingin berhenti merasa harus membuktikan semuanya.” Ia menulis bahwa aku berhak merasa terluka sekaligus tetap mencintai Leon. Pesan itu membuatku menangis pelan. Aku tidak sedang ingin mengakhiri pernikahan. Aku hanya ingin suamiku mendengar kejujuranku tanpa membuatku merasa sedang diuji.