Raina
Percakapan dengan Leon berjalan lebih tenang daripada yang kubayangkan. Ia mengakui merasa cemburu, tetapi tidak menuduhku. Aku juga tidak harus mempertahankan diri dengan menjelaskan setiap gerakanku. Setelah makan malam, kami menyelesaikan tugas rumah bersama. Meski begitu, pikiranku belum sepenuhnya ringan.
Pertemuan dengan Azzam terasa seperti pintu lama yang diketuk sekali lagi. Aku sudah menutupnya dengan jelas, tetapi seseorang mungkin telah melihat kami dan mengambil foto. Aku tidak tahu apakah itu benar. Aku tidak ingin mencari gambar yang belum tentu ada, apalagi mulai menyusun kemungkinan buruk.
Keesokan harinya, aku mengikuti kelas dan mencoba berkonsentrasi. Riri mengirim pesan bahwa ia belum melihat unggahan apa pun. Aku menjawab bahwa aku juga belum. Kami sepakat untuk tidak mencari-cari kabar sampai ada alasan nyata.
Selesai kelas, aku duduk sebentar di perpustakaan untuk merapikan catatan. Seorang teman sekelas menanyakan apakah aku masih mengerjakan bagian presentasi. Aku menjawab iya dan mengirimkan berkas yang sudah diperbarui. Rutinitas kampus membantuku mengingat bahwa hidupku tidak perlu berhenti karena satu pertemuan singkat.
Saat pulang, Leon menjemputku. Ia bertanya bagaimana kelas, bukan apakah ada kabar tentang foto.
“Presentasinya hampir siap,” kataku.
“Bagus. Kamu terdengar lebih lega.”
“Aku memang sedikit lebih tenang. Belum ada apa-apa yang muncul.”
“Kalau begitu, kita lanjutkan hari seperti biasa.”
“Setuju.”
Di rumah, aku membantu Leon menyusun beberapa dokumen yang perlu ditandatangani. Ia sedang mencoba mengurangi urusan kantor yang dibawa pulang, tetapi masih ada hal-hal yang tidak bisa ditinggalkan di meja kerja. Aku tidak keberatan membantunya selama ia tidak menganggapku harus ikut mengelola perusahaan.
“Kamu tidak perlu menyelesaikan semuanya malam ini,” kataku ketika ia membuka berkas ketiga.
“Ini hanya perlu kubaca.”
“Kamu sudah membaca dua berkas.”
“Yang ini lebih pendek.”
“Kamu selalu bilang begitu.”
Ia menutup berkasnya. “Baik. Aku akan lanjut besok.”
“Terima kasih sudah mendengar.”
“Aku mulai belajar dari seseorang.”
Aku tertawa. Setelah ia menyimpan dokumen, kami membuat teh dan duduk di ruang tengah. Aku ingin kembali membicarakan pertemuan Azzam, tetapi bukan karena ada perkembangan. Aku hanya ingin memastikan aku tidak menyimpan sesuatu yang perlu disampaikan.
“Aku sudah bilang semua yang terjadi,” kataku.
“Aku tahu.”
“Aku tidak menerima permintaannya untuk bertemu lagi. Kalau dia menghubungiku, aku akan menjaga batas dan memberitahumu kalau ada hal penting.”
“Aku percaya kamu akan menanganinya.”
“Aku tidak ingin kamu merasa harus menjaga aku dari masa laluku.”
“Aku tidak bisa mengendalikan masa lalu. Aku hanya bisa mendukung pilihanmu sekarang.”
Aku menatapnya. “Itu cukup.”
“Kalau kamu ingin aku menemani ke kampus, kamu bisa minta. Kalau tidak, aku tidak akan datang tanpa bertanya.”
“Bagus. Aku lebih nyaman kalau bisa memilih.”
Leon mengangguk. Percakapan kami selesai tanpa janji berlebihan. Aku mulai paham bahwa keterbukaan tidak harus berarti mengulang cerita sampai rasa takut hilang. Kadang cukup menyampaikan fakta, mendengar jawaban, lalu kembali menjalani hari.
Sore itu, setelah Leon selesai bekerja, aku pergi ke panti bersamanya sesuai rencana. Bu Asih menyambut kami dan langsung mengingatkan agar kami tidak hanya membantu, tetapi juga makan. Anak-anak mengajak Leon ikut bermain permainan papan. Ia duduk di lantai dan berusaha mengikuti aturan yang dijelaskan terlalu cepat. Aku tertawa melihatnya kebingungan.
“Kamu bilang akan berusaha,” kataku.
“Aku sedang berusaha memahami aturan yang berubah setiap kali giliranku.”
“Aturannya tidak berubah,” kata seorang anak.
“Mungkin aku yang tertinggal.”
Bu Asih menyodorkan piring makanan. “Kalau kalah, tetap harus makan.”
“Saya menerima aturan itu, Bu.”
Di panti, pikiranku terasa lapang. Aku duduk bersama Bu Asih setelah makan dan bercerita bahwa aku sudah berbicara jujur kepada Leon tentang Azzam. Bu Asih bertanya apakah Leon mendengarkan. Aku menjawab iya, dan ia tersenyum puas.
“Kamu tidak perlu menanggung semuanya sendiri,” katanya.
“Saya sedang belajar.”
Dalam perjalanan pulang, ponselku bergetar. Riri mengirim tautan sebuah unggahan dari akun hiburan lokal. Aku tidak membukanya langsung. Dadaku menegang. Leon melihat perubahan wajahku.
“Kamu mau membacanya sekarang atau nanti?” tanyanya.
Aku menarik napas. “Sekarang saja. Aku tidak mau membuat dugaan.”
Aku membuka tautan. Unggahan itu hanya foto buram dari kejauhan; aku berdiri dekat gerbang kampus dan Azzam beberapa langkah di depanku. Belum ada judul yang menyebut apa pun, hanya keterangan bahwa seseorang melihat kami berbicara. Aku menunjukkan layar kepada Leon.
“Ini foto yang kamu lihat?” tanyanya.
“Mungkin. Aku tidak bisa memastikan.”
“Kita tidak perlu membalasnya malam ini.”
“Aku setuju.”
Aku mengirim pesan kepada Riri bahwa aku sudah melihat unggahan itu. Lalu aku menoleh kepada Leon. “Aku sudah berniat menceritakan pertemuan itu sebelum ada foto. Aku tidak ingin kamu mengira aku jujur hanya karena sekarang ada bukti.”
“Aku tahu kamu sudah menceritakannya sebelum melihat unggahan ini.”
“Aku ingin itu tetap jelas.”
“Sudah jelas.”
Aku meletakkan ponsel dengan layar menghadap ke bawah. Foto itu mungkin akan berkembang menjadi cerita lain, atau mungkin tidak. Aku tidak tahu. Namun aku tidak menyembunyikan pertemuan tersebut, tidak kembali kepada Azzam, dan tidak sendirian menghadapi rasa takutku. Aku berniat tetap jujur kepada Leon malam itu juga, dan aku sudah melakukannya sebelum siapa pun sempat mengubah ceritanya.
Leon menyalakan lampu sein dan bertanya apakah aku ingin pulang atau mampir sebentar untuk menenangkan diri. Aku memilih pulang. Di rumah nanti, kami bisa memutuskan bersama apakah perlu menyimpan tautan unggahan itu atau mengabaikannya. Aku tidak ingin menghubungi akun tersebut, juga tidak ingin membaca komentar yang belum tentu mengatakan sesuatu berguna. Fakta yang kutahu masih sederhana: seseorang memotret kami dari kejauhan, dan gambar itu tidak menunjukkan percakapan kami. Aku sudah menceritakan pertemuan itu lebih dulu. Untuk malam ini, aku akan berpegang pada fakta dan membiarkan hal lain menunggu sampai benar-benar terjadi.
Aku mengirim pesan kepada Riri bahwa aku sudah melihat unggahannya dan berterima kasih karena ia langsung memberi tahu. Ia menjawab agar aku tidak membaca komentar, lalu mengingatkanku menyimpan tangkapan layar kalau unggahan itu berubah menjadi tuduhan. Aku menyimpan gambar tanpa membalas akun tersebut. Setelah itu aku memasukkan ponsel ke tas dan memandang jalan. Aku sudah menceritakan pertemuan itu lebih dulu; kini aku akan menunggu bersama Leon, bukan sendirian dengan dugaan.