Raina
Hari ketiga setelah makan siang bersama Mama dimulai dengan kuliah dan latihan presentasi. Aku datang lebih pagi karena Riri ingin memeriksa susunan materi sekali lagi. Sepanjang pagi, aku tidak memikirkan pertanyaan soal anak. Percakapanku dengan Leon membantu, meski kegelisahan itu belum hilang sepenuhnya.
Setelah kelas selesai, aku dan Riri keluar dari gedung. Kami sedang membahas tempat mencetak bahan ketika aku melihat Azzam berdiri di dekat gerbang kampus. Ia tidak mendekat dengan tergesa-gesa. Begitu melihatku, ia menunggu sampai aku dan Riri berhenti.
Riri langsung berdiri di sisiku. “Kamu mau aku tetap di sini?”
“Iya.”
Azzam menjaga jarak beberapa langkah. “Raina, aku cuma ingin bicara sebentar.”
“Aku sudah mengatakan aku tidak ingin kembali membahas hubungan kita.”
“Aku tahu. Aku tidak datang untuk meminta kamu kembali.”
“Kalau begitu, apa yang kamu inginkan?”
Ia menunduk sesaat. “Pertunanganku batal. Aku tahu kamu tidak perlu tahu, tapi aku ingin menjelaskan kenapa aku menghubungimu.”
“Itu urusanmu, Azzam.”
“Benar. Aku hanya ingin minta maaf karena dulu meninggalkanmu saat kamu sedang membutuhkan dukungan. Aku baru paham beberapa hal setelah semuanya terlambat.”
Riri menyela, “Kamu sudah minta maaf sebelumnya.”
“Aku tahu. Aku tidak akan lama.”
Aku melihat beberapa mahasiswa lalu-lalang di belakangnya. Kami berada di tempat terbuka dan ramai, tetapi aku tetap tidak ingin percakapan ini berlanjut. “Aku menerima permintaan maafmu, tapi itu tidak berarti kita perlu melanjutkan hubungan atau sering bertemu.”
“Aku mengerti.”
“Kamu juga harus berhenti datang ke kampus untuk mencariku.”
Ia mengangguk. “Aku akan menghormati itu.”
Riri menatapnya tajam. “Pastikan.”
Azzam mengusap tengkuknya. “Aku cuma ingin mengatakan pertunanganku batal karena kami tidak cocok. Itu bukan alasan untuk datang kepadamu. Aku sadar aku seharusnya tidak membawa urusan itu ke sini.”
“Kalau kamu sadar, jangan jadikan aku tempat untuk memproses keputusanmu.”
“Kamu benar.”
Aku merasa jantungku berdetak cepat, tetapi aku berusaha menjaga suaraku tetap stabil. Azzam pernah menjadi bagian penting hidupku. Itu tidak menghapus rasa sakit yang ia tinggalkan, dan tidak memberinya hak untuk datang kapan pun ia merasa kesepian.
“Aku sudah menikah,” kataku. “Aku memilih hidupku bersama Leon. Aku tidak ingin membuka kembali masa lalu.”
“Aku tahu. Aku tidak akan mengganggu kamu lagi.”
“Aku berharap kamu menepati kata-katamu.”
Ia mundur selangkah. “Aku akan pergi.”
Riri tidak menjawab. Aku juga tidak mengucapkan apa-apa lagi. Azzam berbalik dan berjalan menuju sisi jalan. Aku melihatnya beberapa detik, lalu memaksa diri mengalihkan pandangan.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Riri.
“Aku tidak tahu. Aku cuma ingin cepat pergi.”
“Kita bisa duduk dulu di kantin.”
“Aku ingin menyelesaikan urusan cetak.”
“Kamu yakin?”
“Iya. Setelah itu aku akan pulang.”
Kami menuju tempat percetakan kampus. Aku memilih berdiri dekat jendela sementara Riri memeriksa hasil cetak. Tanganku masih dingin. Aku bukan takut Azzam akan memaksaku kembali, tetapi kemunculannya mengingatkanku pada masa ketika aku tidak mampu menentukan arah hidup sendiri.
“Aku tadi hampir membalas pesan nomor itu,” kataku kepada Riri, “hanya untuk bertanya kenapa dia datang.”
“Kamu tidak perlu memberi dia jalur percakapan lain.”
“Aku tahu. Aku cuma ingin memastikan dia tidak mengira aku mengundangnya.”
“Kamu sudah bilang dengan jelas bahwa kamu tidak ingin dia datang lagi.”
“Iya.”
“Kamu tidak perlu membuat batasmu lebih sopan sampai artinya hilang.”
Aku menatap lembar cetakan yang keluar dari mesin. “Aku takut terdengar kejam.”
“Menjaga jarak bukan kejam. Kamu bisa bersikap baik tanpa membuka pintu.”
Kata-kata Riri menenangkan sesuatu dalam diriku. Selama ini aku sering menganggap penolakan harus disertai penjelasan panjang agar orang lain tidak terluka. Namun penjelasan panjang kadang memberi ruang untuk bernegosiasi. Aku sudah menyampaikan keputusan dengan cukup jelas. Tugas berikutnya bukan membuat Azzam menyukainya, melainkan menjalani batas itu.
Riri mengambil lembar terakhir. “Sudah. Kita bisa pulang.”
“Terima kasih sudah tetap di sampingku.”
“Tentu. Tapi kamu yang bicara sendiri.”
“Aku tahu. Itu membuatku sedikit bangga.”
“Sedikit saja?”
“Baiklah, cukup bangga.”
Kami tertawa kecil dan berjalan menuju gerbang, menjaga percakapan tetap ringan agar pertemuan tadi tidak mengambil seluruh sisa hari kami.
“Kamu harus cerita kepada Leon,” kata Riri pelan.
“Aku akan cerita malam ini.”
“Jangan karena takut dia tahu dari orang lain.”
“Aku memang ingin jujur. Aku juga tidak mau menyembunyikannya setelah dia percaya padaku.”
Riri mengangguk. “Kalau begitu, lakukan saat kalian punya waktu bicara.”
Aku menulis pesan singkat kepada Leon: “Aku pulang agak terlambat. Ada hal yang ingin kuceritakan nanti.” Aku belum menjelaskan isi pesannya. Ia membalas bahwa ia akan berada di rumah dan menungguku.
Sebelum meninggalkan kampus, aku melihat ke arah gerbang. Azzam sudah tidak ada. Aku merasa lega, tetapi percakapan itu meninggalkan beban baru. Aku telah menyampaikan batas dengan jelas. Aku tidak memberi harapan, tidak menerima ajakannya untuk bertemu berdua, dan tidak mengubah permintaan maafnya menjadi awal hubungan baru.
Namun saat berjalan ke mobil jemputan, aku melihat seseorang berdiri di dekat kios seberang jalan sambil memegang ponsel ke arah gerbang. Aku tidak bisa memastikan apakah ia memotret kami. Aku memberitahu Riri, tetapi orang itu sudah menurunkan ponselnya dan pergi bersama kerumunan.
“Kamu lihat wajahnya?” tanya Riri.
“Tidak jelas.”
“Mungkin hanya memotret sesuatu di belakang kita.”
“Mungkin.”
Aku tidak ingin langsung membuat dugaan. Tetapi kejadian itu menambah alasan untuk menceritakan semuanya kepada Leon. Aku tidak akan mengubah fakta hanya karena takut ia cemburu. Aku juga tidak akan menyembunyikan bagian yang membuatku tidak nyaman.
Aku duduk sebentar di bangku dekat kios, menunggu napasku kembali teratur. Riri menawarkan untuk menelepon Leon saat itu juga, tetapi aku ingin menyampaikan ceritanya sendiri ketika sudah pulang. Aku bukan sedang mencari izin atas keputusanku. Aku hanya ingin menjaga keterbukaan yang sudah kami sepakati. Bedanya terasa penting bagiku.
Aku tahu keputusan untuk bicara sendiri bukan pembangkangan terhadap siapa pun. Itu caraku merawat kepercayaan yang sudah kami bangun.
***
Leon
Raina mengirim pesan bahwa ia ingin bercerita ketika pulang. Kalimat itu membuatku mengingat pembicaraan kami beberapa hari lalu. Ia pernah menyimpan keraguan terlalu lama karena takut menyakiti orang lain. Kini ia memberi tahu lebih dulu bahwa ada hal yang perlu disampaikan. Aku tidak tahu apa isinya, jadi aku berusaha tidak membangun dugaan.
Aku menyelesaikan beberapa pekerjaan dari rumah. Menjelang sore, Devi mengirim pesan tentang satu komentar media yang kembali membahas pernikahan kami. Aku menjawab agar tim komunikasi menanganinya sesuai prosedur. Aku tidak ingin membawa berita itu ke Raina kecuali memang terkait langsung dengannya.
Raina pulang setelah matahari mulai turun. Ia meletakkan tas dan duduk di ruang tengah. Aku menutup laptop.
“Kamu mau bicara sekarang?” tanyaku.
“Iya. Aku bertemu Azzam di kampus.”
Aku berusaha menjaga wajah tetap tenang. “Dia datang mencarimu?”
“Iya. Aku bersama Riri. Kami bicara sebentar di dekat gerbang, tempat ramai.”
“Apa yang dia katakan?”
“Dia bilang pertunangannya batal. Dia ingin meminta maaf lagi dan menjelaskan keadaan. Aku bilang aku menerima permintaan maafnya, tapi tidak ingin hubungan kami dibuka lagi. Aku juga memintanya berhenti datang ke kampus.”
“Apa dia menghormati permintaanmu?”
“Dia bilang akan pergi dan tidak menggangguku lagi.”
Aku mengangguk. Rasa cemburu menyentuh dadaku, tetapi aku teringat kesepakatan kami: perasaan itu milikku untuk kuakui, bukan alasan untuk menuduh Raina.
“Terima kasih sudah bercerita,” kataku.
“Aku ingin jujur. Aku tahu kamu mungkin tidak nyaman mendengarnya.”
“Aku memang tidak senang dia datang lagi, tapi aku tidak menyalahkanmu.”
“Aku tidak mengundangnya.”
“Aku tahu.”
Raina menghela napas. “Riri ada di sampingku. Aku tidak bicara dengannya sendirian.”
“Terima kasih sudah menjelaskannya, tapi aku tidak meminta laporan lengkap.”
“Aku tahu. Aku hanya ingin kamu mengerti situasinya.”
“Aku mengerti. Dia datang tanpa kamu minta, menyampaikan kabar pribadinya, lalu kamu menetapkan batas.”
Raina menunduk sebentar. “Aku juga bilang aku sudah memilih hidupku bersama kamu.”
“Kamu tidak perlu mengatakannya untuk menenangkanku.”
“Aku ingin mengatakannya karena memang benar.”
Aku merasakan cemburu itu masih ada, tetapi tidak lagi mendesakku untuk bertanya dengan nada tajam. “Aku senang mendengarnya. Aku juga tidak ingin kamu merasa harus menolak Azzam dengan cara yang membuatmu tidak aman. Kalau dia kembali, kamu bisa pergi dan minta bantuan petugas kampus atau Riri.”
“Aku akan melakukannya kalau perlu. Tadi dia menjaga jarak dan pergi setelah aku meminta.”
“Baik. Aku tidak akan menghubunginya.”
“Terima kasih. Aku tidak ingin kamu membuat keadaan makin rumit.”
“Aku paham. Ini bukan sesuatu yang harus kuselesaikan dengan mendatanginya.”
Raina tampak lega. Ia telah menyiapkan diri untuk kemungkinan aku marah, padahal yang perlu kulakukan adalah mendengar dan menghargai batas yang ia tentukan.
“Kamu tidak harus membuktikan itu. Aku percaya kamu.”
“Aku juga melihat seseorang mungkin memotret kami dari seberang jalan.”
“Kamu yakin?”
“Tidak. Aku hanya melihat ponsel diarahkan ke gerbang. Bisa saja bukan memotret kami.”
“Baik. Kita tidak perlu menyimpulkan sebelum tahu.”
Ia tampak sedikit lebih tenang. “Aku berniat menceritakan ini malam ini juga. Aku tidak mau ada orang lain mengatakan sesuatu lebih dulu.”
“Aku menghargai itu. Tapi kamu tidak perlu merasa bersalah karena seseorang datang kepadamu.”
“Aku takut kamu mengira aku menyembunyikannya kalau aku menunggu.”
“Kamu sudah memilih bicara. Itu cukup.”
Aku bertanya apakah Azzam mengancam atau memaksanya. Raina menjawab tidak, hanya meminta waktu untuk bicara dan menyampaikan pertunangannya batal. Ia menolak membahas hubungan mereka lebih jauh. Riri ikut mengingatkan Azzam agar menghormati batas itu.
“Kamu mau aku melakukan sesuatu?” tanyaku.
“Jangan. Aku tidak ingin kamu menghubunginya.”
“Baik.”
“Kalau memang ada foto, mungkin kita perlu tahu dulu sebelum bereaksi.”
“Kita bisa memberi tahu tim komunikasi hanya kalau foto itu muncul. Untuk sekarang, aku tidak akan membuat langkah apa pun.”
Raina mengangguk. “Aku juga tidak mau menjadikan setiap hal sebagai masalah besar.”
“Kita boleh memperhatikan tanpa panik.”
Kami duduk sejenak. Aku bisa merasakan ketidaknyamanan dalam diriku, tetapi aku tidak ingin menyamarkannya sebagai kemarahan. “Aku cemburu karena masa lalu itu kembali berdiri di hadapanmu,” kataku. “Tapi aku tahu kamu sudah menetapkan batas.”
“Aku tidak punya perasaan yang ingin kuteruskan dengan Azzam.”
“Aku percaya.”
“Terima kasih.”
“Kalau suatu saat kamu butuh ditemani saat pulang dari kampus, bilang. Bukan karena aku ingin mengatur, tapi supaya kamu bisa memilih.”
“Aku akan bilang kalau perlu. Hari ini Riri menemaniku sampai percetakan.”
“Bagus.”
Aku berdiri untuk menyiapkan makan malam. Raina ikut ke dapur, tetapi tidak banyak bicara. Aku bertanya apakah ia ingin membantu memotong sayuran atau beristirahat. Ia memilih memotong sayuran. Kami menyelesaikan makan malam tanpa kembali mengulang pertemuan itu.
Sebelum makan, ponselnya bergetar. Ia membaca pesan, lalu meletakkannya kembali.
“Dari siapa?” tanyaku.
“Riri. Dia bilang sudah sampai rumah.”
“Bagus. Ucapkan terima kasih sudah menemanimu.”
Raina membalas pesan itu. Aku tidak bertanya apakah Azzam menghubunginya lagi. Jika ada pesan yang perlu ia ceritakan, ia tahu aku akan mendengar.
Malam itu, aku menyadari bahwa kejujuran Raina bukan sesuatu yang bisa kupakai untuk menuntut rincian tanpa batas. Ia bercerita karena ingin menjaga kepercayaan kami, bukan karena harus melaporkan setiap langkah. Aku perlu menghormati perbedaan itu. Kami makan bersama, membicarakan presentasi kuliahnya, lalu sepakat menunggu dan melihat apakah orang yang memegang ponsel tadi memang mengambil gambar.
Setelah itu aku menyimpan ponsel di ruang kerja dan tidak memeriksa unggahan apa pun. Aku ingin memberi Raina ketenangan, bukan membuatnya merasa setiap gerakannya akan dipantau. Aku masih tidak menyukai kemunculan Azzam, tetapi ketidaksukaanku tidak mengubah hak Raina untuk menentukan responsnya. Aku akan mendampinginya bila diminta dan menahan diri dari tindakan yang justru membuat persoalan lebih besar.
Aku ingin menjaga percakapan kami tetap terbuka tanpa mengubahnya menjadi pemeriksaan. Raina sudah berkata jujur; sekarang tugasku mempercayai kata-katanya.