Raina
Kunjungan ke rumah Mama Farah sudah direncanakan sejak akhir pekan. Leon mengatakan Mama ingin makan siang bersama kami dan Raihan sebelum jadwal kuliahnya kembali padat. Aku menyambut ajakan itu. Sejak percakapanku dengan Leon tentang buku catatan Farah, aku berusaha tidak menghindari keluarganya. Aku ingin hadir sebagai diriku sendiri, bukan sebagai seseorang yang harus mengisi kursi kosong.
Pagi itu aku memilih pakaian sederhana dan membawa kue yang kubeli dalam perjalanan. Leon menungguku dekat pintu, memastikan aku membawa catatan petunjuk pemeriksaan yang masih kusimpan.
“Aku sudah membawanya,” kataku.
“Aku cuma memastikan.”
“Kamu tidak perlu memeriksa tas seperti Pak Arif memeriksa mobil sebelum berangkat.”
“Pak Arif memeriksa mobil karena dia profesional.”
“Kalau begitu, kamu bisa menjadi profesional dalam mengingat aku sudah dewasa.”
Leon mengangkat kedua tangan. “Baik. Aku akan mempercayai pemeriksaan mandirimu.”
Perjalanan berlangsung tenang. Aku melihatnya sesekali fokus pada jalan, lalu mengingatkan diri bahwa kecemasan tidak selalu berarti ada sesuatu yang salah. Ketika kami tiba, Mama menyambut kami dengan pelukan hangat. Raihan sudah berada di ruang makan dan membantu menata piring.
“Raina, apa kabar kuliahmu?” tanya Mama.
“Baik, Ma. Tugas kelompok sedang banyak, tapi jadwalnya masih bisa kuatur.”
“Syukurlah. Jangan sampai kamu kelelahan.”
“Saya akan menjaga waktu.”
Kami makan bersama. Raihan menceritakan rencana kerja barunya, sementara Leon menjawab pertanyaan Mama mengenai kantor. Suasana terasa akrab. Aku sempat membantu membawa piring ke dapur, dan Mama menemaniku sambil menuangkan air.
“Aku senang melihat kalian semakin dekat,” katanya.
“Kami sedang belajar menjalani hari-hari biasa, Ma.”
“Itu yang paling penting. Pernikahan tidak selalu dibangun dari peristiwa besar.”
Aku mengangguk. Mama tampak hendak mengatakan sesuatu, lalu memilih menyusun sendok. Ia tidak menekanku dengan pertanyaan, tetapi rautnya berubah hati-hati.
“Raina, boleh Mama bertanya sesuatu?”
“Tentu.”
“Kalian sudah memikirkan soal anak?”
Pertanyaan itu disampaikan lembut, tanpa nada menuntut. Namun tubuhku menegang sebelum sempat kucegah. Mama segera menyadarinya.
“Kamu tidak perlu menjawab sekarang,” tambahnya. “Mama hanya bertanya kabar. Mama tidak ingin membuatmu merasa harus melakukan apa pun.”
Aku menelan ludah. “Kami belum membicarakannya secara khusus.”
“Itu tidak apa-apa. Kalian masih punya waktu.”
Aku tahu ia tidak sedang memaksaku. Ia bahkan berusaha membuat pertanyaannya terdengar ringan. Tetapi di kepalaku, kata-kata itu menyatu dengan tulisan Farah yang belum lengkap. Aku membayangkan apakah keluarga ini menunggu aku memberi Leon sesuatu yang tidak sempat ia miliki dari pernikahan pertamanya. Apakah aku akan dianggap berhasil menjadi istrinya jika suatu hari kami memiliki anak?
“Aku ingin kalian memilih saat kalian berdua siap,” kata Mama. “Jangan merasa harus memenuhi harapan siapa pun.”
“Saya mengerti, Ma.”
Raihan masuk ke dapur membawa teko kosong. Ia melirik kami, lalu bertanya apakah perlu menambah air. Aku berterima kasih dan mengambil kesempatan untuk kembali ke meja. Percakapan berlanjut soal kuliah dan pekerjaan, tetapi pertanyaan tadi tertinggal di pikiranku.
Dalam perjalanan pulang, Leon menyadari aku lebih diam.
“Kamu terganggu dengan pertanyaan Mama?”
“Sedikit.”
“Aku bisa bicara dengannya kalau kamu merasa ia menekanmu.”
“Dia tidak menekan. Dia bertanya dengan baik.”
“Tetap saja kamu boleh merasa tidak nyaman.”
Aku menatap jendela. “Aku tahu. Aku cuma jadi memikirkan banyak hal.”
“Soal anak?”
“Soal apa yang diharapkan orang dari pernikahan kita.”
Leon tidak buru-buru menjawab. “Kita tidak perlu memenuhi harapan orang. Kalau suatu hari kita membicarakan anak, itu harus karena kita berdua menginginkannya, bukan karena siapa pun menunggu.”
“Aku tahu kamu pernah mengatakan itu.”
“Aku akan mengatakannya lagi kalau kamu perlu mendengarnya.”
Aku mengangguk, tetapi bagian diriku yang takut menjadi pengganti belum bisa tenang. Aku tidak ingin menyalahkan Mama karena pertanyaannya. Ia kehilangan Farah dan mungkin juga membayangkan masa depan untuk putranya. Namun aku perlu memastikan bahwa harapan orang lain tidak berubah menjadi tugas yang harus kupenuhi.
Sesampainya di rumah, aku mengirim pesan kepada Mama, mengucapkan terima kasih atas makan siangnya. Ia membalas bahwa ia senang kami datang dan menyuruhku fokus pada kuliah. Pesannya membuatku merasa bersalah karena sempat menafsirkan pertanyaan lembutnya sebagai tuntutan.
Leon sedang membalas pesan kantor di ruang kerja. Aku berdiri di ambang pintu.
“Aku ingin bicara soal pertanyaan Mama, tapi belum sekarang.”
Ia segera meletakkan ponsel. “Baik. Kamu boleh menentukan waktunya.”
“Aku belum tahu apa sebenarnya yang kurasakan.”
“Kamu tidak harus merapikannya dulu sebelum bicara.”
“Aku hanya tidak mau menuduh Mama atau kamu.”
“Kita bisa membicarakan rasa takutmu tanpa menyalahkan siapa pun.”
Aku mengangguk, lalu duduk di kursi seberangnya. Untuk hari ini, aku memilih menyelesaikan bacaan kuliah dan membiarkan pikiranku beristirahat. Pertanyaan Mama mungkin lahir dari perhatian, tetapi ia membuka ruang yang masih rapuh dalam diriku. Aku belum menemukan jawabannya. Setidaknya kali ini Leon tahu aku sedang memikirkan sesuatu, dan aku tidak harus berpura-pura semuanya baik-baik saja.
Sebelum tidur, aku mengingat foto Farah di taman. Aku tidak perlu memiliki kesukaan yang sama dengannya agar diterima keluarga Leon. Aku hanya perlu datang sebagai Raina, dengan caraku sendiri. Pikiran itu belum menghapus semua kecemasan, tetapi membuatnya terasa lebih kecil.
***
Leon
Raina mencoba menjalani harinya seperti biasa setelah makan siang bersama Mama. Ia menghadiri kuliah, mengerjakan tugas, dan bertanya kepadaku apakah aku ingin makan malam lebih awal. Namun aku mengenalnya cukup baik untuk melihat bahwa pertanyaan Mama masih membebaninya.
Aku tidak menghubungi Mama untuk memintanya menarik ucapannya. Ia sudah bertanya dengan halus dan langsung mengatakan bahwa kami tidak perlu menjawab. Mengubahnya menjadi teguran hanya akan membuat Raina merasa menjadi penyebab ketegangan keluarga. Yang bisa kulakukan adalah memastikan Raina tahu bahwa masa depannya tidak ditentukan orang lain.
Malam itu, Raina duduk di meja makan dengan buku terbuka. Aku meletakkan semangkuk buah di sampingnya.
“Kamu belum makan buah sejak tadi,” kataku.
“Aku sedang membaca.”
“Buahnya tidak akan mengganggu bacaan.”
“Kalau kamu terus mengawasi, aku malah merasa sedang ujian.”
“Aku hanya mengantar.”
“Kalau begitu, terima kasih.”
Ia mengambil sepotong apel. Aku duduk di seberangnya.
“Kamu mau membicarakan pertanyaan Mama?” tanyaku.
Raina menutup bukunya. “Aku merasa buruk karena pertanyaan sederhana itu membuatku berpikir macam-macam.”
“Kamu tidak perlu merasa buruk.”
“Mama tidak memaksa. Dia bilang kami punya waktu. Tapi aku langsung memikirkan apakah keluarga mengharapkan aku memberi sesuatu kepada kamu.”
“Kamu tidak berutang anak kepada siapa pun.”
“Aku tahu.”
“Kamu juga tidak perlu membuktikan bahwa kamu pantas menjadi istriku.”
Ia mengusap tepi halaman. “Kadang aku takut keluarga melihatku melalui apa yang bisa kulakukan untukmu. Bukan sebagai Raina.”
“Kalau ada yang membuatmu merasa begitu, kita bisa membicarakannya. Tapi dari yang kulihat, Mama hanya ingin tahu kabar kami. Ia tidak meminta apa pun.”
“Aku tidak ingin menuduhnya.”
“Kamu tidak menuduh. Kamu sedang menjelaskan rasa takutmu.”
Raina menatapku. “Kamu benar-benar tidak ingin punya anak karena merasa harus meneruskan keluarga atau menggantikan sesuatu?”
“Aku ingin membangun masa depan bersama kamu. Anak mungkin menjadi bagian dari masa depan itu kalau kita berdua menginginkannya, tetapi bukan untuk menggantikan Farah atau memenuhi harapan keluarga.”
“Kalau aku belum siap lama?”
“Kita akan membicarakannya lagi saat kamu siap. Tidak ada tenggat.”
“Kalau aku tidak tahu apakah aku ingin?”
“Kita tidak perlu memutuskan malam ini. Aku tidak akan menjadikan jawabanmu sebagai syarat mencintaimu.”
Raina menarik napas, seolah mencoba menerima perkataanku tanpa buru-buru mengujinya. “Terima kasih.”
“Kamu juga boleh bilang kepada Mama kalau pertanyaan seperti itu membuatmu tidak nyaman.”
“Aku mungkin akan bilang kalau nanti muncul lagi.”
“Baik.”
Ia kembali membuka bukunya. Aku tidak menambah janji. Aku mengerti bahwa jawaban yang terus diulang dapat terdengar seperti usaha membujuk, sementara Raina perlu waktu merasakan bahwa batasnya sungguh dihormati.
“Aku akan berusaha tidak membaca pikiranmu,” kataku.
“Bagus. Karena pikiranku sendiri kadang susah dibaca.”
“Kalau begitu kita punya kesamaan.”
Ia tersenyum tipis. Kami sepakat bahwa bila pertanyaan tentang anak muncul lagi, Raina boleh menjawab bahwa kami belum menentukan apa pun. Aku tidak akan mengambil alih percakapan kecuali ia memintaku. Ia juga tidak perlu menghibur Mama atau menjelaskan pilihannya lebih dari yang ia inginkan.
“Kamu tidak perlu menjadi juru bicara untuk semua hal,” katanya.
“Aku tahu. Kadang aku terlalu cepat merasa harus menyelesaikan keadaan.”
“Kita bisa berhenti sebentar sebelum menjawab.”
“Aku akan mengingatnya.”
Kami menaruh piring ke bak cuci bersama. Raina membilas, aku mengeringkan. Pembicaraan itu tidak berakhir dengan keputusan besar, tetapi kami telah menyebut batas yang bisa kami pegang bila keluarga kembali bertanya. Aku merasa itu lebih berguna daripada berpura-pura pertanyaan tersebut tidak pernah mengganggunya.
Pagi berikutnya setelah percakapan kami, Raina bersiap ke kampus lebih awal. Ia sedang mencari buku catatan ketika ponselnya berdering.
“Riri?” tanyaku.
“Bukan. Nomor tidak dikenal.”
Ia menolak panggilan itu. Beberapa detik kemudian, pesan masuk. Aku tidak mencoba membaca layar.
“Ada apa?”
“Tidak tahu. Mungkin urusan kampus.”
Ia memasukkan ponsel ke tas dan melanjutkan bersiap. Aku tidak ingin membuatnya merasa diawasi. Saat kami tiba di kampus, aku menurunkannya di tempat biasa.
“Aku mungkin pulang agak sore,” katanya.
“Kabari kalau jadwal berubah.”
“Iya.”
Ia menutup pintu dan berjalan menuju gedung bersama beberapa mahasiswa. Aku menunggu sampai ia masuk, lalu meminta Pak Arif kembali ke kantor. Panggilan dari nomor tak dikenal itu terlupakan di tengah pekerjaan.
Sore harinya Raina pulang dengan wajah lelah, tetapi tidak murung. Ia bercerita tentang latihan presentasi dan kesalahan file yang berhasil diperbaiki Riri. Aku menganggap hari itu berjalan biasa. Aku tidak tahu bahwa orang yang menghubunginya tadi akan datang lagi ke kampus.
Malam tersebut, kami membahas rencana akhir pekan ke panti. Raina ingin membantu Bu Asih, dan aku sudah mengosongkan jadwal. Ia tampak senang ketika melihatnya di kalender.
“Kamu benar-benar menolak rapat lain?”
“Aku minta Devi menjadwalkan ulang hal yang tidak mendesak.”
“Bagus. Bu Asih akan memastikan kita makan.”
“Aku tidak keberatan.”
“Kamu juga harus berbincang dengan anak-anak. Jangan cuma duduk dekat pintu.”
“Aku akan berusaha.”
“Kalau mereka mengajak bermain, kamu ikut.”
“Aku tidak bisa menjanjikan kemampuan bermain.”
“Cukup jangan membuat alasan rapat.”
“Baik, Bu.”
Raina tertawa. Aku merasa lega melihatnya kembali ringan. Namun di bawah percakapan sehari-hari itu, ada perubahan yang belum kuketahui. Nomor tak dikenal yang muncul di ponselnya ternyata bukan urusan kampus, dan masa lalu Raina sedang berusaha mengetuk pintu lagi.
Aku kemudian memeriksa kembali jadwal rapat dan memastikan akhir pekan benar-benar kosong. Mengosongkan satu sore tidak menyelesaikan semua urusan kantor, tetapi penting bagiku untuk hadir di tempat yang berarti bagi Raina. Aku tidak ingin membiarkan ketegangan dari luar membuatku lupa pada kehidupan yang kami bangun di rumah.