Leon
Pada hari kelima setelah malam percakapan itu, Raina tidak tiba-tiba berubah menjadi orang yang tak pernah ragu. Aku juga tidak berharap begitu. Ia tetap punya hari-hari ketika pikirannya tampak jauh, tetapi kini ia lebih mudah mengatakan bahwa ia sedang memikirkan sesuatu. Aku belajar menunggu tanpa menganggap setiap diam sebagai penolakan. Empat hari sebelumnya, kami menjalani kuliah, pekerjaan, dan urusan rumah seperti biasa. Kami tidak mengulang percakapan itu setiap malam, tetapi masing-masing memberi ruang bila ada hal yang ingin dibicarakan. Perlahan, ketegangan yang sempat mengisi rumah kami berubah menjadi kewaspadaan yang lebih lembut: kami mulai memperhatikan, lalu bertanya, bukan menduga.
Perusahaan masih menghadapi sisa kabar tentang pernikahanku. Tim komunikasi menyarankan agar aku tidak menanggapi setiap komentar. Aku setuju. Aku tidak ingin membiarkan kehidupan pribadi kami terus menjadi bahan perdebatan. Pada saat yang sama, aku memastikan urusan itu tidak dibebankan kepada Raina. Devi membantuku mengatur jadwal, dan aku mulai menolak rapat yang tidak membutuhkan kehadiranku.
Suatu sore, aku pulang sebelum matahari terbenam. Raina sedang duduk di ruang tengah, menandai bacaan kuliah. Ia menengadah ketika mendengar pintu.
“Kamu pulang cepat.”
“Rapat terakhir dipindah ke besok. Aku memutuskan tidak mengisi waktunya dengan rapat lain.”
“Itu keputusan yang sehat.”
“Aku belajar dari seseorang.”
“Siapa?”
“Istriku yang sering menyuruhku makan siang.”
Raina tersenyum. “Aku tidak tahu siapa orang itu.”
“Aku juga sedang mencari tahu.”
Aku meletakkan tas dan duduk di kursi sebelahnya. “Bagaimana kuliahmu?”
“Tugas presentasi. Riri ingin mengubah desainnya lagi.”
“Kamu setuju?”
“Aku bilang kita perlu menyelesaikan isi dulu. Desainnya sudah bagus.”
“Kedengarannya kamu yang memimpin.”
“Aku hanya mencegah kami menghabiskan tiga jam memilih warna.”
Kami berbicara tentang kuliah dan pekerjaan. Setelah beberapa saat, Raina menutup bukunya.
“Aku ingin menjelaskan satu hal tentang percakapan kita,” katanya.
“Aku mendengarkan.”
“Aku tidak menyesal bertanya. Aku juga tidak ingin kamu mengira aku akan terus menuntut penjelasan yang sama.”
“Aku tidak berpikir begitu.”
“Aku cuma masih menyesuaikan diri dengan jawabannya. Selama ini aku membuat banyak dugaan sendiri, lalu memperlakukannya seperti fakta.”
“Kamu tidak perlu menyalahkan diri karena takut.”
“Aku tahu. Aku hanya ingin lebih cepat bicara lain kali.”
“Aku juga akan berusaha bertanya saat melihat kamu berubah, tanpa menganggap kamu harus menjawab saat itu juga.”
“Itu akan membantu.”
“Tentang catatan Farah, kamu mau membawanya saat kita bertemu Mama nanti?”
Raina terdiam. “Aku belum memutuskan. Aku mungkin ingin bertanya, tetapi bukan untuk mencari izin agar kita menikah. Aku cuma ingin tahu apakah ada konteks sebelum kalimat itu.”
“Kita bisa bertanya kalau kamu siap. Kalau kamu memilih tidak melakukannya, itu juga tidak apa-apa.”
“Kamu tidak merasa aku sedang menyalahkan Farah?”
“Tidak. Kamu sedang mencoba memahami tulisan yang menyentuh kehidupanmu. Aku tidak akan menganggap rasa ingin tahu sebagai penghinaan.”
Ia tampak lega. “Terima kasih.”
Kami tidak melanjutkan percakapan itu lebih jauh. Raina kembali membaca, sementara aku membalas beberapa pesan kantor. Menjelang makan malam, ia menyiapkan sayur dan aku mengurus lauk. Kami bekerja tanpa banyak bicara, tetapi kesunyian kali ini terasa nyaman.
Saat makan, ponselku bergetar beberapa kali. Aku memeriksa layar dan melihat pesan dari Devi tentang komentar baru yang beredar. Raina memperhatikan perubahan ekspresiku.
“Ada masalah?”
“Ada orang yang mengangkat berita lama lagi. Tim komunikasi akan mengurusnya.”
“Kamu perlu membalas?”
“Tidak. Kalau aku menanggapi setiap komentar, aku hanya memberi mereka alasan untuk melanjutkan.”
“Bagus.”
Aku menaruh ponsel menghadap ke bawah. “Aku akan berhenti membaca sampai besok.”
“Itu juga keputusan sehat.”
“Istriku yang misterius pasti setuju.”
“Istrimu itu mungkin akan menyita ponselmu kalau kamu tidak berhenti.”
“Aku menyerah secara sukarela.”
Raina tersenyum. Percakapan ringan itu mengingatkanku bahwa kehidupan kami lebih luas daripada kabar tentang pernikahan dan rasa bersalah yang kubawa dari masa lalu. Ada tugas, makan malam, lelucon, dan keputusan kecil untuk kembali satu sama lain.
Setelah makan, Raina menghubungi Bu Asih untuk menanyakan jadwal kunjungan akhir pekan. Aku mendengar ia bercerita bahwa ia sedang belajar lebih jujur mengungkapkan kekhawatiran. Bu Asih menjawab dengan suara yang tak terlalu jelas dari seberang telepon. Raina tertawa kecil dan berjanji akan datang membantu di panti.
“Bu Asih bilang apa?” tanyaku setelah panggilan berakhir.
“Katanya jangan datang hanya untuk bekerja. Aku juga harus duduk dan makan.”
“Nasihat yang baik.”
“Kamu mau ikut?”
“Kalau kamu ingin aku ikut, tentu.”
“Aku ingin. Tapi tidak perlu kalau jadwal kantormu berubah.”
“Aku akan mengosongkan waktu.”
“Jangan menjanjikan hal yang belum pasti.”
“Benar. Aku akan menandainya di kalender dan memberi tahu kalau ada perubahan.”
“Itu lebih baik.”
Aku memasukkan jadwal itu ke kalender. Di dalam hati, aku memahami bahwa tindakan kecil seperti ini bukan pembuktian yang diminta Raina, melainkan cara kami saling memberi tempat. Aku tidak perlu menyebut Farah untuk menjelaskan masa laluku, dan Raina tidak perlu menyembunyikan rasa takut demi menjaga perasaanku.
Malamnya, sebelum tidur, ia membawa kotak kenangan Farah dari lemari dan memeriksa apakah buku catatannya tersimpan rapi. Aku menunggu di dekat pintu.
“Kamu ingin aku membantumu menyimpannya?”
“Tidak perlu. Aku hanya ingin memastikan kotaknya tidak lembap.”
“Baik.”
Ia meletakkan buku itu kembali dan menutup kotak. “Aku belum siap membaca semuanya.”
“Kamu tidak harus melakukannya.”
“Mungkin suatu hari aku akan bertanya kepada Mama. Mungkin juga tidak.”
“Apa pun pilihanmu, kita bisa menghadapinya bersama.”
Raina memandangku beberapa detik. “Aku percaya kamu.”
“Terima kasih.”
“Aku belum selalu merasa tenang, tapi aku percaya.”
“Aku tidak akan meminta kamu merasa lebih cepat dari yang kamu mampu.”
Ia mengangguk, lalu menyimpan kotak itu. Kami mematikan lampu dan berbaring. Sebelum tertidur, aku mengingat lagi mimpi buruk yang mengucapkan nama Farah. Aku tidak bisa menghapus apa yang telah kudengar Raina, tetapi aku bisa memastikan ia tidak harus menebak sendirian apa artinya.
Pagi berikutnya, aku mengantar Raina ke kampus. Ia membawa tas kuliah dan bekal kecil yang disiapkannya sendiri. Sebelum turun, ia menoleh kepadaku.
“Makasih sudah mendengarkan.”
“Makasih sudah bicara.”
“Nanti aku kabari kalau pulang.”
“Baik. Semoga kelasnya lancar.”
Ia turun dan melambaikan tangan sebelum berjalan menemui Riri. Aku melihatnya beberapa saat, lalu mengarahkan mobil kembali ke kantor. Ada hal-hal dari masa lalu yang tetap tinggal, dan ada ketakutan yang mungkin sesekali kembali. Namun hari ini kami tidak menghindar dari percakapan. Itu satu langkah kecil, cukup untuk membuat jalan di depan terasa bisa kami tempuh bersama.