Raina
Pagi setelah percakapan itu terasa lebih ringan, meski tidak sepenuhnya bebas dari canggung. Aku terbangun sebelum alarm kedua berbunyi dan menemukan Leon sudah berada di dapur. Ia menyiapkan roti panggang, telur, dan teh. Ada satu sisi roti yang terlalu gelap.
“Kamu bangun sebelum tiga alarm?” tanyaku.
“Dua alarm. Yang pertama membuatku sadar, yang kedua mengancam martabatku.”
“Roti ini yang menjadi korban?”
“Roti itu berkorban agar telur matang dengan baik.”
Aku tertawa. Hal sederhana itu membuat suasana pagi terasa dekat lagi. Kami sarapan tanpa berpura-pura bahwa percakapan semalam tidak pernah terjadi. Leon bertanya apakah aku ingin membicarakannya lagi, dan aku menjawab belum perlu.
“Aku tidak sedang menghindar,” kataku. “Aku cuma ingin membiarkan jawabannya menetap dulu.”
“Aku mengerti.”
“Aku juga ingin bilang bahwa mendengar kamu menyebut Farah tidak otomatis membuatku berpikir kamu bohong.”
“Aku senang kamu tahu itu.”
“Tapi mungkin aku masih akan merasa takut sesekali.”
“Kalau itu terjadi, bilang padaku. Aku tidak akan menganggapnya sebagai tuduhan.”
Aku membawa kalimat itu bersamaku ke kampus. Saat bertemu Riri, aku menceritakan bahwa aku sudah berbicara dengan Leon. Aku tidak mengulang seluruh percakapan, tetapi memberitahunya bahwa Leon menjawab dengan jelas dan tidak marah.
“Kamu merasa lebih baik?” tanya Riri.
“Sedikit. Belum hilang semua.”
“Itu kemajuan.”
“Aku takut kalau aku membicarakannya terlalu sering, Leon merasa harus membuktikan cintanya terus-menerus.”
“Kamu bisa mengingatkan dia bahwa kamu tidak sedang meminta bukti tanpa akhir. Kamu hanya ingin bisa bicara kalau rasa takut itu muncul.”
“Bu Asih juga bilang begitu.”
“Bu Asih dan aku ternyata sepakat.”
“Kalian berdua memang sering sepakat kalau menyuruhku jujur.”
“Karena kamu kadang menganggap diam itu cara paling sopan untuk menjaga semua orang.”
Aku mengangkat bahu. “Aku sedang belajar.”
Hari kuliah berjalan dengan biasa. Aku mencatat materi, mengikuti diskusi kelompok, dan mengirim revisi kepada Riri sebelum pulang. Tak ada kejadian besar yang membuat percakapan malam sebelumnya terasa kecil. Justru rutinitas itu memberiku ruang untuk memahami bahwa jawaban Leon tidak menghapus sejarahnya dengan Farah. Jawabannya menempatkan sejarah itu di masa lalu tanpa menghapus arti yang pernah dimilikinya.
Leon menjemputku di dekat gerbang kampus. Saat masuk mobil, ia tidak langsung bertanya bagaimana hariku. Ia menunggu sampai aku memasang sabuk pengaman.
“Kelasnya lancar?”
“Lancar. Riri berhasil mengirim revisi sebelum dosen mengirim pesan pengingat ketiga.”
“Sebuah prestasi.”
“Dia bilang itu karena aku mengawasi.”
“Berarti kamu cocok menjadi pengawas tugas.”
“Aku tidak mau mengambil pekerjaan tambahan.”
Leon tersenyum dan mulai mengemudi. Beberapa menit kemudian, ia bertanya, “Kamu masih memikirkan percakapan kita?”
“Iya, tapi tidak dengan cara yang sama seperti sebelumnya.”
“Apa ada yang ingin kamu tanyakan lagi?”
“Aku ingin tahu apakah kamu sering merasa bersalah saat mengingat Farah.”
Ia terdiam sejenak sebelum menjawab. “Kadang. Ada hal yang tetap membuatku berpikir aku seharusnya melakukan lebih banyak. Tapi aku tahu rasa bersalah itu tidak berarti aku harus menjadikan hidupku hukuman.”
“Kamu merasa bersalah karena tak bisa menjaganya?”
“Itu bagian dari dukaku. Aku sering mengulang hal yang tidak bisa kuubah. Tapi aku sedang belajar menerima bahwa tidak semua kehilangan bisa dicegah.”
Aku memperhatikan jalan di depan. “Aku tidak ingin kamu merasa harus berhenti membicarakannya.”
“Aku tahu.”
“Aku juga tidak ingin menjadi satu-satunya tempat kamu berusaha menebus semua penyesalan.”
“Kamu bukan tempat penebusan. Kamu pasanganku.”
“Aku senang mendengarnya.”
“Kalau suatu saat aku perlu membicarakan duka, aku akan bertanya dulu apakah kamu siap mendengarkan. Kamu juga boleh bilang kalau waktunya tidak tepat.”
“Aku akan berusaha jujur.”
“Itu saja yang kuminta.”
Di rumah, kami memasak makan malam bersama. Leon memotong sayuran, sementara aku menyiapkan bumbu. Percakapan kami berpindah ke tugas, rapat, dan daftar belanja. Ketika ia salah memasukkan garam terlalu banyak, aku mengambil alih panci dengan ekspresi serius.
“Kamu baru saja merusak masakan,” kataku.
“Aku belum merusak. Aku sedang memberi rasa.”
“Rasanya seperti laut.”
“Kita bisa menambahkan air.”
“Atau kamu bisa mengakui kesalahan.”
“Aku mengakui bahwa laut memiliki kadar garam yang tinggi.”
“Itu bukan permintaan maaf.”
Ia tertawa dan mengambil panci kecil untuk membuat ulang bagian yang terlalu asin. Kami akhirnya makan dengan masakan yang masih layak dan saling menyalahkan dengan ringan. Aku merasa lebih mudah bernapas di rumah.
Setelah makan, aku mengeluarkan buku catatan Farah dari kotak dan meletakkannya di meja. Leon melihatnya, tetapi tidak menyentuhnya.
“Kamu ingin membacanya bersama?” tanyanya.
“Bukan malam ini. Aku hanya ingin bilang, aku belum tahu apakah aku akan bertanya kepada Mama tentang halaman itu.”
“Kita tidak perlu memutuskan sekarang.”
“Aku takut kalau aku bertanya, aku justru mencari jawaban yang tidak mungkin diberikan.”
“Itu masuk akal. Kamu boleh membiarkan kalimat itu tetap tidak lengkap.”
“Aku tidak ingin seluruh pernikahan kita bergantung pada satu kalimat yang bahkan tidak selesai.”
“Pernikahan kita berdiri pada banyak hal yang kita lakukan sekarang.”
Aku menutup buku itu perlahan. “Aku sedang mencoba mengingatnya.”
Leon tidak memberikan pidato panjang. Ia hanya mengangguk dan duduk di dekatku. Aku menyandarkan bahu sebentar pada lengannya. Tidak ada jawaban ajaib yang menghapus duka atau keraguan. Namun aku mulai memahami bahwa aku bisa bertanya tanpa meminta Leon membuang masa lalunya, dan ia bisa mengingat Farah tanpa mengurangi cintanya kepadaku.
Sebelum tidur, aku mengirim pesan kepada Riri bahwa aku sudah sampai pada kesimpulan sederhana: aku tidak harus bersaing dengan kenangan, tetapi tetap berhak meminta kejelasan. Ia membalas dengan emoji jempol dan menyuruhku tidur, karena tugas besok tidak akan mengerjakan dirinya sendiri.
Aku menaruh buku catatan Farah kembali ke dalam kotak, memastikan tutupnya rapat, lalu menyimpannya di rak yang sama. Aku tidak membuangnya dan tidak menjadikannya pusat hidupku. Barang itu bagian dari kisah Leon, sementara hubungan kami tetap dibentuk oleh pilihan yang kami buat sekarang. Aku mengingat ucapan Bu Asih: jangan menyimpulkan sebelum bertanya. Kali ini aku sudah bertanya, dan jawabannya boleh tinggal bersamaku tanpa harus segera diuji berulang kali.
Aku meletakkan ponsel dan mematikan lampu. Leon mengucapkan selamat malam. Aku membalasnya, lalu memejamkan mata. Pertanyaan itu belum lenyap sepenuhnya. Bedanya, sekarang pertanyaan itu tidak lagi terkunci di dalam diriku.