Leon
Rapat terakhir selesai lebih cepat dari perkiraan. Aku memberi tahu tim bahwa Devi akan menyusun tindak lanjut, lalu meninggalkan kantor sebelum ada yang menambahkan agenda baru. Pesan Raina terus terngiang: kita perlu bicara. Ia tidak menyebutkan tentang apa, tetapi aku menduga percakapan itu berhubungan dengan nama Farah yang kuucapkan dalam tidur.
Aku tidak ingin pulang dengan jawaban yang sudah kusiapkan sendiri. Aku harus mendengarkan dulu. Di mobil, Pak Arif menanyakan apakah aku ingin mampir membeli makan malam.
“Tidak perlu, Pak. Raina sudah makan.”
“Bapak ingin langsung pulang?”
“Iya. Tapi tidak usah terburu-buru. Jalanan masih ramai.”
Sesampainya di rumah, aku melihat Raina duduk di meja makan dengan secangkir teh. Ada buku kuliah di sampingnya dan selembar kertas yang sebagian tertutup tangan. Ia tampak berusaha tenang, tetapi jari-jarinya bergerak di sekitar gagang cangkir.
“Aku sudah pulang,” kataku.
“Kamu kelihatan capek.”
“Aku baik-baik saja. Kamu mau bicara sekarang?”
Ia menarik napas panjang. “Iya. Aku sudah menunggu waktu yang tepat terlalu lama.”
Aku duduk di seberangnya. “Aku mendengarkan.”
“Aku ingin kamu membiarkan aku menyelesaikan dulu. Setelah itu kamu boleh menjelaskan.”
“Baik.”
Raina menunduk sebentar, seolah sedang memastikan urutan kalimatnya. “Beberapa minggu lalu aku membuka lagi buku catatan Farah. Ada satu kalimat yang terpotong. Aku berharap Leon mencintai Raina bukan karena ia merasa harus… Aku tidak menemukan kelanjutannya. Sejak itu aku bertanya-tanya apa yang membuatmu memilihku.”
Aku menahan diri untuk tidak langsung menyela. Ia melanjutkan.
“Lalu semalam kamu menyebut nama Farah saat tidur dan meminta maaf karena tidak bisa menjaganya. Aku tahu itu mimpi dan kamu tidak sengaja mengatakannya. Tapi setelah membaca kalimat itu, aku jadi takut bahwa kamu mencintaiku karena merasa bersalah, atau karena Farah merestui kita.”
Raina mengangkat wajah. Matanya berkaca-kaca, tetapi suaranya tetap jelas.
“Aku tidak meminta kamu melupakan Farah. Aku juga tidak ingin membandingkan diri dengannya. Aku cuma perlu tahu apakah kamu mencintaiku karena aku adalah aku. Aku takut menjadi pengganti.”
Aku menarik napas, memastikan kata-kataku tidak berubah menjadi bantahan. “Terima kasih sudah mengatakan semuanya. Aku tahu kamu menyimpan ini cukup lama.”
“Aku seharusnya bicara lebih awal.”
“Kamu bicara saat kamu siap. Aku menyesal karena namaku dan nama Farah keluar dalam mimpi yang membuatmu makin khawatir.”
“Kamu tidak bisa mengatur apa yang kamu ucapkan saat tidur.”
“Benar. Tapi aku bisa bertanggung jawab atas apa yang kukatakan sekarang.”
Ia diam, menunggu.
“Aku mencintai Farah,” kataku perlahan. “Ia bagian dari hidupku dan akan selalu menjadi seseorang yang pernah sangat berarti. Aku juga berduka karena kehilangan dia. Tapi aku tidak menikahimu untuk menggantikan Farah, dan aku tidak mencintaimu karena merasa wajib melaksanakan keinginannya.”
Raina menekan bibirnya. “Lalu apa yang membuatmu memilihku?”
“Kamu sendiri. Cara kamu tetap bicara jujur meski takut. Cara kamu belajar menjalani hidupmu lagi setelah kecelakaan. Cara kamu menegurku saat aku terlalu mengatur, dan cara kamu tertawa ketika masakanku gagal. Aku jatuh cinta pada Raina yang ada di hadapanku, bukan pada bayangan Farah.”
“Tapi awal pernikahan kita memang rumit.”
“Iya. Ada keadaan yang mempertemukan kita, ada rasa tanggung jawab, ada banyak hal yang tidak kita pilih. Aku tidak menyangkal itu. Tetapi pernikahan kita sekarang tidak dijalankan karena aku sedang membayar utang kepada orang yang sudah tiada.”
Raina memandang cangkirnya. “Bagaimana dengan kalimat Farah?”
“Aku tidak tahu kelanjutannya. Kalau kamu ingin mencari tahu dari Mama, kita bisa bertanya bersama. Tapi aku tidak akan menafsirkan potongan kalimat itu seolah-olah ia tahu apa yang ada di hatiku lebih daripada aku sendiri.”
“Aku tidak mau melibatkan Mama kalau itu membuatnya sedih.”
“Kita tidak perlu melakukannya malam ini. Kita bisa memutuskan nanti.”
Ia mengangguk kecil. Aku ingin meraih tangannya, tetapi tetap menunggu.
“Kamu tidak marah?” tanyanya.
“Tidak. Aku sedih kamu harus membawa ketakutan ini sendirian, tapi aku tidak marah karena kamu bertanya.”
“Aku takut kamu akan merasa aku menolak masa lalumu.”
“Kamu tidak pernah meminta aku menghapus Farah. Kamu meminta aku melihatmu sebagai dirimu sendiri. Itu permintaan yang adil.”
Raina mengembuskan napas panjang. “Aku masih belum tahu apa yang harus kulakukan dengan rasa takut ini.”
“Kita tidak harus menghilangkannya malam ini. Aku bisa menjawab pertanyaanmu, dan besok aku bisa menunjukkan lewat sikapku bahwa jawabanku bukan sekadar kalimat.”
“Aku tidak ingin kamu merasa harus membuktikan sesuatu setiap hari.”
“Aku tidak akan menjadikan itu tugas. Tapi aku juga tidak akan menganggap percakapan ini selesai hanya karena aku sudah menjelaskan.”
Ia akhirnya mengulurkan tangan di atas meja. Aku menyambutnya dengan lembut.
“Aku percaya kamu mencintaiku,” katanya. “Aku hanya perlu belajar percaya tanpa takut ada alasan tersembunyi.”
“Aku mengerti.”
“Kamu tidak akan menganggap aku cemburu pada orang yang sudah meninggal?”
“Tidak. Aku menganggap kamu sedang berusaha memahami tempatmu di hidupku. Itu bukan hal yang sama.”
Raina mengangguk. “Terima kasih sudah menjawab.”
“Terima kasih sudah bertanya.”
Kami tetap duduk beberapa saat tanpa mencari kesimpulan tambahan. Aku mengakui bahwa aku masih membawa duka, dan Raina mengakui bahwa duka itu kadang membuatnya merasa harus bersaing dengan kenangan. Tidak ada janji bahwa ia tidak akan pernah ragu lagi. Tidak ada janji bahwa aku akan berhenti mengingat Farah. Kami hanya sepakat bahwa hal-hal seperti ini perlu dibicarakan, bukan disembunyikan sampai terasa seperti tuduhan.
“Besok kamu ada kelas pagi?” tanyaku.
“Ada. Aku harus berangkat pukul delapan.”
“Aku bisa menyiapkan sarapan.”
“Kalau kamu bangun tepat waktu.”
“Aku akan memasang tiga alarm.”
“Dua saja. Aku tidak mau rumah ini terdengar seperti stasiun.”
Aku tertawa kecil. “Baik, dua alarm.”
Ia tersenyum untuk pertama kalinya malam itu. Kami merapikan cangkir dan bersiap tidur. Sebelum masuk kamar, aku berhenti di ambang pintu.
“Ra, kalau besok kamu masih ingin membicarakan ini, aku ada.”
“Aku tahu. Malam ini cukup.”
“Baik. Selamat malam.”
“Selamat malam.”
Aku tidur dengan perasaan lega sekaligus sadar bahwa percakapan itu baru membuka pintu. Raina masih memiliki pertanyaan tentang kalimat Farah, tetapi kini aku tahu apa yang ia takutkan. Aku tidak akan memaksanya menutup rasa itu cepat-cepat. Kepercayaan tidak dibangun dengan meminta seseorang berhenti bertanya; ia tumbuh ketika pertanyaan boleh hadir dan mendapat jawaban yang jujur.