Leon
Sebulan berlalu sejak kami saling menyatakan cinta. Raina kembali menjalani kuliah dengan jadwal yang makin teratur. Ia mengerjakan tugas bersama Riri, sesekali mengeluh tentang dosen yang memberi bacaan terlalu tebal, lalu pulang untuk makan malam denganku. Denging di telinganya semakin jarang muncul, dan ia tetap mengikuti arahan dokter. Aku belum mengetahui apa yang masih ia simpan sendiri.
Di kantor, keadaan jauh kurang tenang. Berita pernikahan keduaku masih dipakai orang untuk menyusun cerita sendiri. Ada yang menuduhku menikah demi citra, ada yang mempertanyakan apakah Raina hanya pengganti Farah. Pernyataan resmi dan penjelasan keluarga sudah meredakan sebagian kabar, tetapi perusahaan tetap harus menangani pertanyaan klien dan komentar pemegang saham. Aku berangkat lebih pagi dan beberapa kali pulang setelah Raina tidur.
Aku berusaha agar urusan kantor tidak ikut memenuhi rumah. Raina selalu bertanya bagaimana hariku, dan aku menjawab dengan ringkas. Ia juga tampak lebih pendiam dari biasanya, meski tetap mengurus kuliah dan hal-hal kecil di rumah. Aku sempat bertanya apakah ada yang mengganggunya. Ia menjawab bahwa ia hanya lelah. Aku memilih percaya pada jawabannya, walau ada bagian diriku yang merasa ia menyimpan sesuatu.
Malam ini, rapat dengan tim komunikasi dan dewan baru selesai menjelang pukul sebelas. Saat masuk rumah, aku mendapati lampu ruang tengah masih menyala. Raina duduk di sofa dengan buku kuliah terbuka, tetapi matanya tidak bergerak mengikuti halaman.
“Kamu belum tidur?” tanyaku sambil meletakkan tas.
Ia menutup bukunya. “Aku menunggu kamu pulang. Rapatnya lama?”
“Lebih lama dari perkiraan. Maaf aku tidak sempat memberi kabar.”
“Kamu sempat mengirim pesan kalau rapatnya mundur.”
“Aku seharusnya memberi kabar lagi setelah selesai.”
“Yang penting kamu sudah pulang.” Suaranya halus, tetapi ia tidak tersenyum seperti biasanya.
Aku duduk di kursi seberangnya. “Kamu baik-baik saja?”
“Iya. Hanya agak capek.”
“Kuliah?”
“Tugas kelompok. Riri mengirim revisi hampir tengah malam.”
“Kamu bisa meneruskannya besok.”
“Sudah selesai. Aku cuma membaca ulang.”
Jawabannya masuk akal. Aku ingin bertanya lebih jauh, tetapi tahu ia berhak menyimpan pikiran sampai siap membaginya. Aku mengendurkan dasi dan menghela napas. “Aku akan coba mengurangi rapat malam. Keadaan kantor belum benar-benar reda, tapi tidak semua hal harus kutangani sendiri.”
“Kamu sudah makan?”
“Sedikit di kantor.”
“Sedikit itu bukan makan.”
“Aku tahu kalimat itu akan keluar.”
“Bagus. Berarti kamu tahu harus mencari sesuatu di dapur.”
“Masih ada sup?”
“Ada. Aku hangatkan.”
Ia berdiri sebelum aku sempat menolak. Aku mengikutinya ke dapur dan melihat semangkuk sup yang disisihkan di lemari pendingin. Saat ia menyalakan kompor, aku berdiri di dekat meja.
“Aku bisa menghangatkannya sendiri,” kataku.
“Aku tahu. Tapi kamu baru pulang.”
“Kamu juga baru menyelesaikan tugas.”
“Tugasnya sudah selesai. Duduklah.”
Aku menuruti, lalu mengambil dua mangkuk. Kami makan berhadapan di meja kecil. Raina bercerita tentang tugas kuliahnya, tentang Riri yang salah mengirim berkas, dan tentang dosen yang meminta mereka mengulang bagian kesimpulan. Ia tertawa ketika menirukan ekspresi kesal Riri. Untuk beberapa menit, rumah terasa seperti rumah lagi, bukan tempat singgah di antara jadwal kantor dan kampus.
“Kamu sudah menyelesaikan semua rapat yang paling mendesak?” tanyanya.
“Sebagian. Besok masih ada pertemuan dengan tim hukum dan komunikasi.”
“Tentang berita itu?”
“Iya. Beberapa orang belum puas dengan pernyataan perusahaan.”
“Apa mereka bisa memengaruhi pekerjaanmu?”
“Tidak secara langsung. Tapi aku perlu memastikan mereka tidak menjadikan kehidupanmu bahan untuk menekan perusahaan.”
Raina mengaduk supnya. “Aku tidak ingin kamu bertengkar dengan semua orang karena aku.”
“Aku tidak bertengkar. Aku hanya menjaga batas.”
“Kamu juga harus menjaga dirimu.”
“Aku sedang belajar.”
Ia mengangguk. Tidak ada pertengkaran di antara kami, tetapi percakapan itu terasa seperti melewati sebuah pintu yang belum sepenuhnya terbuka. Aku mengira itu karena lelah. Aku tidak tahu bahwa ia sedang menimbang sesuatu yang jauh lebih pribadi daripada urusan kantor.
Malam semakin larut. Raina mengantarku sampai lorong, lalu kembali ke kamarnya. Aku mandi dan berbaring dengan pikiran masih penuh catatan rapat. Ketika ia masuk beberapa menit kemudian, aku sudah setengah tertidur. Kasur bergerak pelan saat ia berbaring di sisi lain, menyisakan jarak yang biasa kami jaga.
“Rapat besok jangan sampai terlalu malam,” katanya lirih.
“Aku akan berusaha pulang lebih awal.”
“Jangan berjanji kalau belum yakin.”
Aku membuka mata, mencari wajahnya di remang lampu. “Kamu benar. Aku akan mengabari kalau jadwalku berubah.”
“Terima kasih.”
Aku hendak menjawab, tetapi rasa kantuk menarikku kembali. Dalam tidur yang belum utuh, pikiranku melompat ke masa lalu. Aku merasa sedang mencari sesuatu di ruang yang gelap, lalu mendengar namaku dipanggil. Nama Farah terucap sebelum aku sepenuhnya sadar.
“Farah… maafkan aku. Aku tidak bisa menjagamu.”
Kesunyian sesudahnya membuatku terjaga. Raina tidak bergerak. Aku duduk setengah bangun dan menatapnya.
“Ra?”
“Kamu baru menyebut nama Farah,” katanya datar.
“Aku bermimpi buruk. Aku tidak tahu aku mengucapkannya.”
“Aku tahu.”
“Aku tidak sedang membandingkan kalian.”
“Aku tidak bilang begitu.”
Aku ingin meraih tangannya, tetapi menahan diri. “Kamu mau cerita apa yang kamu rasakan?”
Raina membalikkan tubuh menghadap sisi lain. “Besok saja. Aku mengantuk.”
“Baik. Besok.”
Ia tidak menambahkan apa pun. Aku terjaga cukup lama, mendengar napasnya yang perlahan teratur. Namaku dan nama Farah bercampur dalam mimpi, tetapi aku tidak tahu mengapa Raina terdengar lebih terluka daripada sekadar terganggu oleh mimpi buruk. Aku berjanji pada diri sendiri untuk tidak menghindari percakapan esok hari.
Pagi datang bersama pesan dari kantor dan sarapan yang nyaris tak tersentuh. Raina tampak tenang. Aku bertanya lagi apakah ia ingin membicarakan malam tadi, tetapi ia hanya mengatakan akan pergi menemui Riri untuk mengerjakan tugas.
“Kalau kamu berubah pikiran, aku pulang lebih awal,” kataku.
“Kita lihat nanti.”
Aku membiarkannya pergi tanpa memaksa. Sepanjang perjalanan ke kantor, aku mengingat kalimat yang kuucapkan dalam tidur. Aku memang merindukan Farah dan masih menyimpan duka, tetapi aku juga mencintai Raina dengan pilihanku sendiri. Aku berharap ia mengetahui perbedaan itu. Namun harapan bukan pengganti percakapan, dan kini aku harus menunggu sampai ia bersedia berbicara.
***
Raina
Aku menghabiskan pagi di panti bersama Riri, tetapi pikiranku berkali-kali kembali ke malam sebelumnya. Aku tahu Leon tidak sengaja menyebut nama Farah. Aku tahu mimpi bukan pengakuan tersembunyi yang otomatis menjelaskan isi hati seseorang. Namun kalimat yang keluar dari mulutnya membuat pertanyaan lama terasa hidup lagi: apakah Leon mencintaiku karena aku adalah Raina, atau karena ia berusaha memenuhi sesuatu yang tak sempat ia lakukan untuk Farah?
Riri menutup laptopnya dan memperhatikanku. Kami baru menyelesaikan separuh revisi tugas.
“Kamu sudah membaca halaman yang sama tiga kali,” katanya.
“Aku sedang memikirkan sesuatu.”
“Tentang tugas?”
“Bukan.”
Ia menarik kursi mendekat. “Kamu mau cerita sekarang atau menunggu sampai aku mulai menebak-nebak?”
“Jangan mulai menebak.”
“Aku tidak menebak. Aku sedang memberi pilihan.”
Aku tersenyum kecil, tetapi senyum itu segera hilang. Aku menceritakan kalimat di buku catatan Farah yang belum selesai kutemukan konteksnya. Aku juga bercerita bahwa Leon, setengah tidur semalam, menyebut nama Farah dan meminta maaf karena tak bisa menjaganya.
Riri tidak langsung menjawab. Ia mendengarkan sampai aku selesai.
“Kamu merasa kalimat itu menguatkan kekhawatiranmu?” tanyanya.
“Aku tidak tahu. Leon memang tidak sadar. Dia langsung bilang itu mimpi buruk dan bukan perbandingan. Aku juga tidak mau menuduhnya.”
“Tapi kamu tetap terluka.”
“Aku jadi bertanya-tanya apakah pernikahan kami dimulai dari rasa bersalahnya. Dia bilang mencintaiku. Aku percaya saat itu. Sekarang aku takut mungkin ada bagian dari dirinya yang merasa harus mencintaiku karena Farah merestui kami.”
“Apa kamu pernah bertanya langsung?”
“Belum. Aku takut jawabannya akan mengubah semuanya.”
“Kalau kamu tidak bertanya, jawaban yang kamu bayangkan bisa lebih menyakitkan daripada jawaban sebenarnya.”
Aku memandangi ujung meja. “Aku tahu. Tapi aku ingin bisa bertanya tanpa terdengar seperti sedang menuntut dia melupakan Farah.”
“Mencintai Farah dan mencintai kamu tidak harus saling menghapus.”
“Aku mengerti itu. Hanya saja, aku tidak mau menjadi pengganti.”
Riri mengulurkan tangan dan menyentuh punggung tanganku. “Kamu bukan pengganti karena kamu punya hidup dan hubungan sendiri dengannya. Tapi kalau ada bagian yang membuatmu ragu, kamu berhak meminta penjelasan.”
“Aku belum siap.”
“Baik. Tapi jangan mengubah ‘belum siap’ menjadi ‘tidak akan pernah bicara’.”
Aku menghela napas. “Aku akan mencoba.”
Kami meneruskan tugas, walau ritmeku masih lambat. Menjelang siang, Riri menerima telepon dari rumah dan harus pergi. Aku sebenarnya bisa pulang, tetapi memilih tinggal di panti. Sudah lama aku tidak berkunjung hanya untuk duduk dan berbincang dengan Bu Asih. Suasana tempat itu membuatku merasa lebih tenang. Anak-anak sedang belajar di ruang belakang, sementara Bu Asih merapikan beberapa buku sumbangan.
“Raina, kamu datang sendiri?” tanyanya sambil mengangkat wajah.
“Riri tadi menemani, Bu. Dia harus pulang lebih dulu.”
“Kamu mau membantu Ibu menyusun buku?”
“Tentu.”
Kami bekerja berdampingan. Bu Asih tidak langsung bertanya tentang perubahan sikapku. Ia hanya menyebut bahwa aku terlihat lebih kurus, lalu menawarkan teh. Aku hampir mengelak, tetapi kemudian menyadari aku memang membutuhkan seseorang yang bisa mendengar tanpa tergesa-gesa memberiku jawaban.
“Bu, boleh aku cerita sesuatu?”
“Tentu boleh. Kamu ingin mulai dari mana?”
Aku duduk di kursi dekat jendela. “Aku takut pernikahanku dengan Leon berdiri di atas rasa kasihan atau rasa bersalahnya terhadap Farah.”
Bu Asih menaruh teko dan duduk di hadapanku. “Apa yang membuatmu memikirkan itu?”
“Aku menemukan kalimat Farah yang terpotong di buku catatannya. Isinya tentang berharap Leon mencintaiku bukan karena merasa harus. Lalu semalam Leon menyebut nama Farah saat setengah tidur dan meminta maaf karena tidak bisa menjaganya.”
Bu Asih mendengarkan dengan cermat. “Apa Leon pernah mengatakan bahwa cintanya sekarang hanya kewajiban menjalankan pesan Farah?”
“Tidak. Dia mengatakan mencintaiku karena aku adalah aku. Aku percaya kepadanya waktu dia mengatakannya, tapi sekarang pikiranku kembali ragu.”
“Kalau begitu, ada perbedaan antara hal yang kamu ketahui dan hal yang kamu takutkan.”
Aku menunduk. “Aku takut jawaban yang sebenarnya.”
“Itu wajar. Namun ketakutan tidak akan mendapat kepastian kalau hanya kamu simpan sendiri.”
“Aku tidak ingin membuatnya merasa harus memilih antara aku dan Farah.”
“Kamu tidak perlu meminta dia memilih. Kamu bisa menjelaskan bahwa kamu menghormati kenangannya, tetapi ingin tahu bagaimana ia memandang hubungan kalian. Bicara terus terang bukan berarti menyalahkan.”
“Bagaimana kalau dia mengira aku tidak menerima masa lalunya?”
“Katakan dengan jelas bahwa kamu tidak meminta dia melupakan Farah. Kamu hanya ingin memahami tempatmu di hidupnya sekarang.”
Kata-kata itu terdengar sederhana ketika Bu Asih mengucapkannya, tetapi dadaku tetap sesak. “Aku sudah menunda terlalu lama.”
“Kamu baru mengambil waktu untuk memahami perasaanmu. Sekarang kamu bisa memilih untuk membicarakannya.”
Aku menatap halaman panti yang terang oleh matahari. “Saya akan bicara dengannya, Bu. Mungkin bukan hari ini, tapi saya tidak ingin terus diam.”
“Pilih waktu ketika kalian tidak sedang terburu-buru. Bicarakan perasaanmu, bukan kesimpulan yang belum tentu benar.”
“Baik.”
Bu Asih menggenggam tanganku sebentar. “Kamu tidak harus menyelesaikan semuanya dalam satu percakapan. Yang penting kalian mulai mendengar satu sama lain.”
Aku merasa bahuku sedikit mengendur. Riri benar; aku tidak perlu menunggu sampai pikiranku menjadi sempurna. Aku hanya perlu jujur tentang apa yang membuatku takut.
Sebelum pulang, aku membantu anak-anak membereskan buku. Mereka bertanya kapan aku akan datang lagi. Aku berjanji akan mencoba mampir pada akhir pekan, lalu berpamitan kepada Bu Asih.
Di perjalanan pulang, aku menyusun kalimat di kepala. Aku tidak akan berkata, “Kamu masih mencintai Farah, bukan?” karena itu menuduh dan memaksanya membela diri. Aku akan mengatakan bahwa aku melihat kalimat yang terpotong, mendengar namanya dalam tidur, dan merasa takut menjadi pengganti. Aku akan bertanya apa yang ia rasakan tanpa meminta jawaban yang menyenangkan.
Sesampainya di rumah, Leon belum pulang. Pesannya mengatakan pertemuan kantor selesai terlambat. Aku menaruh tas, memanaskan makan malam, lalu menuliskan beberapa poin di kertas agar tidak kehilangan keberanian. Kertas itu kusimpan di dalam buku kuliah, bukan karena ingin membaca naskah, tetapi agar aku mengingat bahwa perasaan ini pantas dibicarakan.
Ketika Leon mengirim pesan, “Aku mungkin pulang setelah jam sembilan. Kamu sudah makan?”, aku menjawab, “Sudah. Kita perlu bicara saat kamu pulang, kalau kamu masih punya tenaga.”
Balasannya datang beberapa detik kemudian. “Tentu. Aku akan pulang secepat yang bisa.”
Aku membaca jawabannya dua kali. Untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu, aku tidak menyusun alasan untuk membatalkan percakapan. Aku belum tahu apakah kata-kataku akan menghilangkan keraguan. Namun setidaknya aku tidak akan membiarkan keraguan itu tumbuh sendirian.