Leon
Pagi itu Raina tampak lebih tenang daripada malam sebelumnya, tetapi ada jarak tipis dalam caranya menjawab. Aku tidak tahu penyebabnya. Ia mengatakan lelah, dan aku memilih tidak menekan dengan pertanyaan berulang.
“Kamu mau sarapan?” tanyaku.
“Nanti saja. Aku ingin mandi dulu.”
“Baik. Aku taruh buah di meja kalau kamu lapar.”
Ia mengangguk dan berjalan ke kamar mandi. Aku kembali ke dapur. Beberapa hari ini kami sudah membicarakan banyak hal, dan mungkin ia hanya butuh waktu sendiri setelah percakapan emosional. Aku tidak ingin menganggap setiap keheningannya sebagai masalah yang harus segera kupecahkan.
Setelah sarapan, Raina duduk membaca di ruang keluarga. Kotak kayu Farah berada di meja dekat sofa. Aku sempat bertanya apakah ia sudah merapikannya, tetapi ia hanya menjawab sebagian.
“Kamu ingin menyimpan kotak itu di tempat lain?” tanyaku.
“Belum. Nanti saja.”
“Tentu.”
Aku membuka laptop di seberangnya dan mulai bekerja. Kami berbagi ruangan dalam diam. Sesekali ia membalik halaman, sesekali aku membalas surel. Aku ingin menyentuh tangannya seperti malam sebelumnya, tetapi tidak ingin menganggap kedekatan kemarin sebagai izin untuk setiap saat.
Menjelang siang, aku membuat teh. “Mau kubuatkan juga?”
“Boleh.”
Aku menyiapkan secangkir dan meletakkannya di meja. “Kalau kamu mau bercerita tentang apa pun, aku ada.”
“Aku tahu.”
Jawabannya singkat, tetapi tidak dingin. Aku mencoba menerima itu. Aku pun memiliki urusan kerja yang perlu diselesaikan, jadi aku tidak duduk menatapnya menunggu cerita.
Siang hari, Devi datang membawa beberapa dokumen yang harus kutandatangani. Raina menyapanya dengan ramah. Mereka berbincang sebentar tentang jadwal kampus dan pekerjaan. Saat Devi pamit, ia sempat berkata bahwa Raina terlihat lebih cerah akhir-akhir ini.
“Aku sedang berusaha menjalani hari biasa,” jawab Raina.
“Itu juga kemajuan,” kata Devi.
Setelah pintu tertutup, aku bertanya apakah ia ingin makan. Raina setuju, lalu memilih makanan dari daftar yang tersedia. Ia makan sedikit lebih lambat dari biasanya.
“Kamu masih merasa lelah?” tanyaku.
“Sedikit. Aku tidur kurang nyenyak.”
“Mau istirahat siang?”
“Nanti. Aku ingin menyelesaikan satu bab bacaan dulu.”
“Baik.”
“Kalau kamu lelah, kamu boleh berhenti membaca,” kataku.
“Aku tahu. Aku ingin menyelesaikan bagian ini supaya besok bisa bertemu Riri tanpa memikirkan tugas.”
“Kamu sudah mengatur waktumu dengan baik.”
“Aku sedang mencoba. Dulu aku sering menunggu sampai semuanya menumpuk.”
“Kamu tidak harus mengerjakan semuanya sekaligus.”
“Itu juga sedang kupelajari.”
Aku menatapnya. “Kalau ada hal lain yang membuatmu sulit tidur, kamu boleh cerita. Tapi aku tidak akan memaksa.”
“Terima kasih. Saat ini aku hanya ingin menyelesaikan bacaan.”
“Baik. Aku akan percaya jawabanmu.”
“Kamu juga boleh mengingatkanku kalau aku mulai terlalu banyak bertanya,” kataku.
“Aku akan mengatakannya,” jawab Raina. “Untuk sekarang aku ingin menyelesaikan bacaan ini.”
“Baik, aku kembali bekerja.”
Aku ingin menawarkan untuk membacakan materinya, tetapi menahan diri. Ia tidak meminta bantuan. Aku mulai memahami bahwa mencintai seseorang tidak membuatku berhak memasuki semua pikirannya.
Sore hari, aku mengajaknya duduk di teras. Raina membawa teh, lalu duduk di sampingku. Kami membicarakan rencana makan malam dan jadwalnya dengan Riri. Tidak ada percakapan tentang pengakuan cinta beberapa hari lalu, tetapi aku tidak merasa harus memaksanya mengulang jawaban.
Aku memperhatikan cangkirnya yang masih hampir penuh. “Tehnya terlalu panas?”
“Tidak. Aku hanya sedang memikirkan jadwal besok.”
“Kamu ingin membicarakannya?”
“Nanti saja. Aku perlu menyusunnya dulu.”
“Baik.”
Aku tidak menanyakan apakah ia menyesali ucapannya waktu itu. Ia tidak menunjukkan tanda ingin menarik kembali perasaannya, dan aku tidak ingin mengubah pengakuan yang tulus menjadi kewajiban untuk terus meyakinkanku.
Setelah beberapa saat, ia berkata, “Aku senang kita tidak membuat janji yang terlalu besar.”
“Aku juga. Kita bisa menunjukkan perasaan lewat hal yang kita lakukan.”
“Seperti membiarkanku mengatur kuliah sendiri.”
“Dan seperti mengingatkan aku supaya tidak terlalu banyak bekerja.”
“Itu bukan hal kecil.”
“Aku tahu.”
“Kamu ingin makan di luar akhir pekan ini?” tanyaku.
“Mungkin. Kita lihat jadwalku dulu.”
“Baik. Aku tidak akan memesan sebelum kamu memastikan.”
Ia tersenyum sedikit. “Terima kasih.”
Aku membalas senyumnya. Aku tidak tahu apa yang membuatnya lebih pendiam, tetapi aku memilih percaya bahwa ia akan berbicara ketika siap. Aku tidak akan menyimpulkan bahwa ada yang salah hanya karena ia sedang memerlukan waktu.
Malamnya, aku membaca ulang berkas kerja di ruang kerja. Dari balik pintu, aku mendengar Raina bergerak di kamar, tetapi tidak ada suara yang membuatku khawatir. Aku mempertimbangkan untuk mengetuk dan mengajaknya makan, lalu ingat ia sudah mengatakan ingin menyelesaikan bacaan. Aku mengirim pesan singkat bahwa makanan sudah tersedia di meja.
Ia membalas, “Terima kasih. Aku ke luar sebentar lagi.”
Saat ia keluar, wajahnya tampak letih. Kami makan tanpa banyak bicara. Aku tidak menganggap keheningan itu sebagai penolakan. Setelah makan, ia mencuci cangkirnya sendiri dan mengucapkan selamat malam lebih awal.
“Istirahat yang cukup,” kataku.
“Kamu juga.”
Aku ingin mengatakan lagi bahwa aku mencintainya, namun tak perlu mengulangnya setiap kali suasana terasa sunyi. Aku sudah mengatakannya dengan jelas. Sekarang tugasku adalah menjaga agar kata-kata itu tidak menjadi tuntutan.
Sebelum tidur, aku membaca pesan dari Devi dan memastikan agenda esok tidak mengganggu jadwal Raina. Aku tidak mengubah rencananya tanpa bertanya. Kukirim satu pesan bahwa aku akan berada di rumah pada pagi hari, lalu meletakkan ponsel. Jika ia ingin bicara, ia tahu aku ada.
Aku berdoa dalam hati agar bisa membedakan perhatian dari keinginan mengendalikan. Raina tidak membutuhkan penjaga yang memutuskan arah untuknya. Ia membutuhkan pasangan yang tetap hadir sambil memberinya ruang untuk memilih.
Aku memikirkan Selin sejenak, lalu Farah, dan akhirnya Raina. Ketiganya bukan satu cerita yang sama. Aku tidak perlu membawa ketakutan lama ke dalam hubungan ini seolah-olah kehilangan pasti akan berulang. Yang bisa kulakukan hanya mencintai Raina dengan jujur hari ini.
Esok pun aku akan berusaha membuktikannya lewat sikap, bukan sekadar ucapan.
***
Raina
Aku tidak bisa melupakan kalimat di buku catatan Farah. Setiap kali Leon berbicara lembut kepadaku, pikiranku mengulang potongan itu: “Aku berharap Leon mencintai Raina bukan karena ia merasa harus...” Aku tidak tahu kelanjutannya. Mungkin Farah akan menulis bahwa Leon harus mencintaiku sebagai diriku sendiri. Mungkin ia akan menulis sesuatu yang sama sekali berbeda.
Aku merasa bersalah karena menyimpan kebingungan itu setelah Leon menyatakan cinta. Ia tidak pernah memintaku menjadi pengganti Farah. Ia bahkan mengatakan dengan jelas bahwa perasaannya adalah miliknya sendiri. Namun justru karena aku mulai mempercayainya, kalimat itu terasa semakin mengganggu.
Pagi itu aku menyiapkan sarapan bersama Leon. Kami membicarakan jadwal kuliah dan cuaca. Ia tidak menanyakan lagi kenapa aku kurang tidur.
“Kamu mau aku antar ke kampus besok?” tanyanya.
“Aku belum tahu. Riri mungkin bisa menjemputku.”
“Kalau begitu, kabari aku setelah bicara dengannya.”
“Baik.”
Aku ingin memberitahunya tentang buku itu. Aku hampir melakukannya saat ia mengulurkan cangkir. Namun aku takut pertanyaanku terdengar seperti meragukan pengakuannya. Aku juga tidak ingin memelintir kata-kata Farah yang tidak lengkap.
“Kamu mau sesuatu?” tanyanya.
“Tidak. Aku hanya sedang berpikir.”
“Tentang kuliah?”
“Sebagian.”
Ia mengangguk. “Kalau nanti kamu ingin bicara, aku siap mendengarkan.”
“Aku tahu.”
Aku membenci kebohongan kecil itu. Aku memang tahu Leon siap mendengarkan, tetapi aku belum siap menceritakan apa yang kubaca. Setelah sarapan, aku menyimpan buku catatan Farah di laci meja, bukan kembali ke kotak. Aku tidak ingin terus membuka halaman itu, tetapi juga belum sanggup menyingkirkannya dari jangkauan.
Riri mengirim pesan tentang tugas kelompok. Aku membalas dan mengatur waktu belajar dengannya. Percakapan itu mengingatkanku bahwa hidupku tetap berjalan: kuliah, tugas, teman, rumah, dan Leon. Keraguan ini belum perlu menghapus semua hal baik yang terjadi.
Menjelang sore, aku mengeluarkan buku catatan itu sekali lagi. Aku berharap menemukan potongan kertas yang hilang terselip di bagian lain. Aku memeriksa halaman-halamannya perlahan, tetapi tidak menemukannya. Ada beberapa catatan Farah tentang hari-hari biasa, tetapi tidak ada kelanjutan kalimat tersebut.
Aku menutup buku dan duduk lama di lantai dekat laci. Aku bisa membawa catatan itu kepada Leon sekarang, tetapi aku belum bisa bertanya tanpa membiarkan ketakutanku berbicara lebih dulu. Aku ingin mencari tahu apa sebenarnya yang tertulis sebelum menyimpulkan maksud Farah.
Ketika Leon mengetuk pintu, aku menyelipkan buku itu kembali ke laci.
“Kamu mau makan malam?” tanyanya.
“Iya. Sebentar lagi.”
Ia menunggu di luar, tidak masuk tanpa izin. Aku menarik napas dan berdiri. Malam itu aku memilih diam, bukan karena tidak percaya kepada Leon, tetapi karena aku takut satu kalimat yang terpotong mengubah cara pandangku terhadap semua yang baru saja kami akui.
Aku tahu aku tidak bisa menyimpan pertanyaan ini selamanya. Untuk sekarang, aku hanya belum sanggup mengucapkannya.