Raina
Malam itu, setelah makan malam dan percakapan kami selesai, aku menggeser kotak kayu Farah ke atas meja. Saat pertama membukanya bersama keluarga, aku hanya memilih foto dan selendang. Semalam aku mulai membaca buku catatan krem dan menemukan potongan kalimat yang kini ingin kuperiksa lagi.
Sebelum Leon kembali ke ruang kerjanya, aku sempat berkata, “Aku ingin membuka buku catatan Farah sebentar.”
“Kamu ingin aku menemani?”
“Tidak usah. Aku ingin membaca sendiri dulu.”
“Kamu tidak perlu membaca semuanya.”
“Aku tahu. Kalau aku merasa tidak nyaman, aku akan berhenti.”
“Baik. Panggil aku kalau kamu berubah pikiran.”
“Terima kasih sudah memberi ruang.”
“Kapan pun.”
Ia tidak meminta penjelasan lebih jauh. Aku menunggu sampai langkahnya menjauh, lalu menarik kotak itu mendekat.
Sejak pengakuan Leon semalam, aku berusaha percaya bahwa perasaannya lahir dari hubungan kami, bukan dari pesan Farah atau rasa kewajiban. Namun potongan kalimat yang kubaca membuat pikiranku terus kembali kepada buku itu.
Aku membuka kait kecil pada kotak. Kain pembungkusnya terlipat di sisi dalam. Selendang dan foto yang kupilih masih kusimpan dekat tempat tidur. Aku mengambil kembali buku catatan krem.
“Aku cuma akan melihat sebentar,” bisikku kepada diri sendiri.
Tidak ada orang yang melarangku membaca buku itu. Mama bahkan sudah mengatakan aku boleh memilih sendiri. Namun tetap saja rasanya seperti membuka pintu ke bagian kehidupan Farah yang sangat pribadi. Aku mengambilnya dengan hati-hati dan meniup debu tipis dari sampulnya.
Halaman-halamannya berisi catatan pendek, daftar belanja, beberapa doa, dan potongan pikiran yang ditulis pada waktu berbeda. Aku membaca beberapa baris tanpa urutan. Ada catatan Farah tentang bunga yang ia tanam, tentang Raihan yang lupa membawa payung, dan tentang Leon yang bekerja terlalu larut.
Aku tersenyum membaca satu bagian yang menceritakan Leon pulang membawa makanan, tetapi lupa membeli sendok. Bahkan dari tulisan itu, aku bisa membayangkan Farah menggodanya.
Aku langsung membuka halaman dekat bagian belakang, tempat selembar kertas terlipat menempel pada sampul. Kertas yang sama yang kutemukan semalam tampak pernah sobek di bagian bawah. Tulisan tangan Farah berbeda dari catatan lain; hurufnya sedikit goyah, seperti ditulis saat ia sedang lelah.
“Aku berharap Leon mencintai Raina bukan karena ia merasa harus...”
Kalimat itu tetap terputus. Bagian bawah kertasnya hilang, dan tidak ada halaman berikutnya yang menyambung. Aku membaca ulang baris yang sama. Dadaku mengencang.
Leon baru saja mengatakan ia mencintaiku, bukan karena pesan Farah. Namun mengapa Farah merasa perlu menulis kalimat itu? Aku sudah tahu permintaan Farah menjadi salah satu alasan awal pernikahan kami. Yang kutakutkan sekarang adalah apakah perasaan Leon masih sekadar kewajiban, meskipun ia baru saja mengatakan bahwa ia memilihku dengan tulus.
Aku menutup buku itu, tetapi kata-kata tersebut tetap terlihat jelas di pikiranku.
Aku mencoba mengingat kapan Farah menulisnya. Kertas itu tidak memiliki tanggal. Tulisan tangannya tampak lemah, tetapi aku tidak tahu apakah ia menulisnya saat sakit atau sekadar sedang lelah. Aku juga tidak tahu apakah kalimat tersebut membahas pernikahan kami, atau kekhawatiran umum yang ia catat untuk dirinya sendiri.
Aku kembali membuka buku dan memeriksa halaman sebelum serta sesudahnya. Ada catatan tentang obat, daftar hal yang ingin dibicarakan dengan Mama, dan beberapa kalimat tentang doa. Tidak ada baris yang langsung menjelaskan potongan itu. Bagian bawah kertas benar-benar sobek; mungkin sisa tulisannya hilang bersama potongan yang tak lagi ada.
“Aku tidak boleh membuat kesimpulan hanya dari setengah kalimat,” bisikku.
Tetapi pikiran tidak selalu patuh pada nasihat yang masuk akal. Aku tahu Leon baru saja mengatakan ia mencintaiku. Aku tahu ia sudah mengatakan perasaannya bukan karena pesan Farah. Namun mungkin ada bagian dari dirinya yang tetap dipengaruhi keinginan Farah. Aku tidak tahu bagaimana memisahkan keduanya.
Aku mencoba membayangkan bertanya langsung. “Apakah kamu mencintaiku, atau hanya memenuhi pesan Farah?” Kalimat itu terdengar seperti tuduhan, dan aku tidak ingin menghapus kebahagiaan sejak malam pengakuan kami dengan pertanyaan yang belum kutahu maksudnya.
Aku meletakkan kertas itu kembali di tempatnya, memastikan tidak melipatnya lebih jauh. Aku tidak akan merusak tulisan Farah hanya karena takut pada maknanya.
“Raina?” Suara Leon terdengar dari balik pintu ruang kerja. “Kamu masih bangun?”
Aku membeku sesaat. Aku tidak ingin ia melihat wajahku berubah. Aku memasukkan buku itu kembali ke kotak dan menutup tutupnya.
“Iya. Aku sedang merapikan barang,” jawabku.
“Perlu kubantu?”
“Tidak, terima kasih. Sudah hampir selesai.”
Ia tidak memaksa masuk. “Kalau kamu butuh apa-apa, panggil aku.”
“Baik.”
Aku duduk di tepi ranjang, berusaha menenangkan napas. Leon tidak melakukan sesuatu yang salah malam ini. Ia telah menyatakan perasaannya kepadaku. Tetapi potongan kalimat Farah membuatku takut bahwa aku mungkin hanya memahami setengah dari cerita.
Aku bisa saja keluar dan menunjukkan catatan itu kepadanya. Namun aku belum tahu apa yang ingin kutanyakan. Aku takut jika pertanyaanku terdengar seperti tuduhan setelah ia membuka hatinya. Jadi aku memilih menyimpan buku itu untuk malam ini.
Aku juga teringat cara Leon memandangku ketika mengatakan cinta. Tidak ada tuntutan agar aku menjawab dengan cara tertentu. Ia bahkan berhenti sebelum menyentuh tanganku, menunggu persetujuanku. Sikap itu seharusnya menjadi bukti bahwa ia melihatku sebagai diriku sendiri. Namun tulisan Farah membuat pikiranku mencari kemungkinan lain.
“Mungkin aku hanya takut bahagia,” bisikku.
Aku tahu kalimat itu tidak sepenuhnya benar. Aku bahagia, hanya saja aku takut kebahagiaan itu dibangun di atas sesuatu yang belum kupahami. Aku ingin menanyakan maksud Farah, tetapi satu-satunya orang yang bisa menjawab mungkin sudah tidak ada. Leon hanya dapat menjelaskan perasaannya sendiri; ia tidak bisa menafsirkan halaman yang belum lengkap.
Aku menyimpan buku itu kembali ke kotak. Aku belum memutuskan apakah akan membicarakannya besok atau menunggu sampai pikiranku lebih jernih.
Aku menutup kait kotak dan merapikan selendang yang sedikit bergeser. Aku tidak ingin barang-barang Farah rusak karena aku gelisah. Setelah menyimpan kotak di meja kecil, aku duduk diam sampai napasku kembali tenang. Kebahagiaan setelah pengakuan kami belum hilang, tetapi kini berdampingan dengan pertanyaan yang belum terjawab.
Saat Leon masuk beberapa menit kemudian, aku sudah berada di tempat tidur. Ia bertanya apakah aku lelah. Aku mengangguk dan mengatakan ingin tidur lebih awal.
“Kamu baik-baik saja?” tanyanya.
“Aku cuma capek.”
Ia menerima jawabanku. Aku memalingkan wajah ke bantal dan menyimpan kalimat Farah sendirian.