Raina
Makan malam itu sederhana. Aku membantu menata meja, sementara Leon memeriksa makanan yang dipesan karena ia mengaku masih belum bisa memasak tanpa membuat sesuatu terlalu matang. Ia menaruh piring di hadapanku dengan sikap serius.
“Malam ini tidak ada roti hangus,” katanya.
“Karena kita tidak membuat roti.”
“Aku belajar memilih medan yang tepat.”
Aku tertawa. “Itu terdengar seperti strategi perang.”
“Strategi rumah tangga. Kita harus makan.”
Kami mulai makan sambil membicarakan tugas kuliahku dan rapat Leon. Suasananya hangat, tanpa ada percakapan besar yang direncanakan. Setelah selesai, Leon berdiri dan membereskan piring. Aku mengikutinya ke dapur.
“Biarkan aku yang cuci,” katanya.
“Kita bisa mencuci bersama.”
“Kamu sudah mengerjakan tugas seharian.”
“Dan kamu bekerja seharian. Tidak perlu berlomba menjadi orang paling lelah.”
Ia menyerahkan satu piring kepadaku. “Baik. Kita adil.”
Kami menyelesaikan pekerjaan dapur dengan percakapan kecil. Sesekali tangan kami hampir bersentuhan saat meraih alat yang sama. Tidak ada yang buru-buru menarik diri. Aku menyadari bahwa kedekatan sederhana seperti itu terasa berbeda setelah percakapan tentang Selin dan Azzam. Kami tidak perlu berpura-pura tak punya luka untuk berada dekat.
Setelah semuanya rapi, Leon mengajakku duduk di ruang keluarga. Ia tampak lebih serius. Jantungku berdegup sedikit lebih cepat.
“Ada yang ingin kamu bicarakan?” tanyaku.
“Ada. Aku sudah memikirkannya sejak beberapa hari ini.” Ia menghela napas. “Aku tidak ingin kamu mengira aku mengatakan ini karena pesan Farah, karena merasa berutang kepadamu, atau karena takut sendirian.”
Aku duduk tegak. “Aku mendengarkan.”
“Aku mencintaimu, Raina.”
Kalimat itu begitu sederhana, tetapi dadaku terasa penuh. Leon tidak menunduk atau menyodorkan janji yang muluk. Ia hanya menatapku, membiarkanku mendengar setiap kata.
“Aku tahu aku tidak memulai pernikahan kita dengan cinta. Aku menikahimu karena tanggung jawab dan karena Farah meminta aku menjaga kamu. Tapi perasaan yang tumbuh setelahnya adalah milikku. Aku mencintai kamu karena kamu adalah Raina. Cara kamu menertawakan roti gosong, keberanianmu menentukan batas, dan caramu tetap mengejar kuliah meski banyak hal terasa berat.”
Aku menahan air mata. “Kamu tidak merasa harus menyebut Farah?”
“Dia bagian penting dari hidupku. Tapi aku tidak sedang menyampaikan pesannya. Aku ingin mengatakan perasaanku sendiri.”
“Aku takut suatu saat kamu menganggapku hanya sebagai amanatnya.”
“Aku mengerti. Aku tidak bisa memaksa kamu langsung percaya hanya karena aku mengucapkan satu kalimat. Aku akan menunjukkan lewat sikapku.”
Aku meremas ujung baju. Ada banyak jawaban yang berputar di kepalaku. Aku ingin memastikan ini bukan dorongan sesaat, tetapi ia sudah berbicara jujur tentang ketakutannya, dan aku telah melihat perhatiannya hadir dalam banyak keputusan kecil.
“Aku juga mencintaimu,” kataku akhirnya. “Aku tidak tahu kapan perasaan itu berubah. Mungkin ketika kamu mulai bertanya sebelum memutuskan sesuatu untukku. Mungkin saat kamu mendengarkan ceritaku tentang Azzam tanpa membuatku merasa bersalah.”
Wajah Leon melembut. “Kamu yakin dengan jawabanmu?”
“Aku yakin dengan perasaanku malam ini. Aku tidak ingin menjanjikan bahwa kita tidak akan pernah takut atau bertengkar. Tapi aku ingin memilihmu dan membangun hubungan ini bersama.”
“Itu lebih dari cukup.”
Ia tidak menarikku begitu saja. Ia membuka telapak tangannya di antara kami. Aku meletakkan tanganku di sana. Genggamannya hangat, dan ia menunduk mencium punggung tanganku dengan lembut.
“Terima kasih sudah jujur,” katanya.
“Terima kasih sudah mengatakan ini sebagai dirimu sendiri.”
Kami duduk lama, berbicara tentang hal-hal yang ingin kami lakukan bersama: mengatur jadwal kuliah, makan malam tanpa ponsel, dan sesekali mengunjungi panti tanpa membuat rencana besar. Tidak ada janji soal anak atau masa depan yang harus segera dipenuhi. Untuk pertama kalinya, aku merasa hubungan kami tidak berdiri hanya di atas kewajiban.
“Aku ingin kamu tahu,” kata Leon, “aku tidak mengharapkan hidup kita langsung berubah setelah malam ini. Kita tetap akan punya hari yang melelahkan, beda pendapat, dan urusan masing-masing.”
“Bagus. Aku tidak mau cinta berubah jadi kewajiban untuk selalu bahagia.”
“Aku juga tidak mau begitu.”
“Kalau suatu saat aku ragu, aku ingin bisa bilang tanpa kamu menganggap perasaanku sebagai penolakan.”
“Kamu boleh ragu. Aku akan mendengarkan.”
“Dan kalau kamu takut kehilangan, bilang sebelum kamu mengambil keputusan untukku.”
“Aku akan berusaha.”
Aku menatapnya. “Kita tidak perlu menjadi sempurna untuk mencoba.”
“Tidak. Kita hanya perlu jujur dan mau memperbaiki diri.”
Aku merasa lebih tenang mendengar itu daripada jika ia menjanjikan hidup tanpa masalah. Kami sepakat untuk menjaga waktu pribadi masing-masing, melanjutkan kuliah dan pekerjaan, serta saling bertanya sebelum membuat rencana bersama. Tidak ada yang terdengar seperti sumpah di depan banyak orang. Namun hal-hal kecil itu membuat pengakuan Leon terasa nyata.
Malam itu aku masuk kamar dengan hati ringan. Di meja kecil, kotak kayu berisi barang-barang Farah masih tersimpan sejak Mama menyerahkannya. Aku telah membukanya bersama Mama, Leon, dan Raihan beberapa waktu lalu, tetapi belum membaca buku catatan bersampul krem di dalamnya.
Aku menarik kotak itu mendekat. Selendang biru dan foto Farah sudah kupilih untuk kusimpan. Aku membuka tutupnya, memindahkan kain pembungkus, lalu mengambil buku catatan itu. Aku tidak berniat membaca semuanya. Hanya ingin melihat apakah ada halaman yang bisa menjelaskan kebiasaan Farah menulis.
Di halaman dekat bagian belakang, selembar kertas kecil yang terlipat menarik perhatianku. Bagian bawahnya sobek, dan tulisan tangan Farah tampak lebih goyah daripada halaman lain.
“Aku berharap Leon mencintai Raina bukan karena ia merasa harus...”
Kalimat itu berhenti begitu saja. Aku membaca ulang, lalu menutup buku. Beberapa menit lalu Leon baru saja mengatakan bahwa cintanya bukan karena pesan Farah. Kini kata-kata yang belum selesai membuatku takut ia mungkin pernah memulai hubungan kami demi memenuhi pesan itu.
Aku tidak membangunkannya atau memanggilnya dari ruang kerja. Aku memasukkan buku itu kembali ke kotak dan memutuskan untuk menyimpan pertanyaanku sampai aku memahami apa yang sebenarnya membuatku takut.
***
Leon
Pagi setelah aku mengatakan bahwa aku mencintai Raina, rumah terasa sama sekaligus berbeda. Meja makan masih memiliki noda kecil yang belum sempat kubersihkan, dan aku masih harus mengecek laporan perusahaan. Namun setiap kali melihatnya, aku mengingat bahwa ia telah membalas perasaanku dengan pilihannya sendiri.
“Kamu tersenyum sendiri,” katanya saat meletakkan cangkir.
“Aku baru sadar.”
“Sadar apa?”
“Bahwa aku sedang bahagia.”
Ia mengangkat alis. “Kamu biasanya baru bahagia setelah kopi.”
“Pagi ini kopinya belum kuminum.”
“Berarti penyebabnya bukan kopi.”
“Sepertinya bukan.”
Ia tersenyum, lalu duduk. Kami sarapan bersama sebelum ia membuka buku catatannya. Aku memperhatikan caranya menandai beberapa jadwal kuliah. Ia tampak fokus, tetapi tidak tegang seperti beberapa hari lalu.
“Kelasmu minggu ini bagaimana?” tanyaku.
“Aku perlu menemui dosen pembimbing untuk membicarakan tugas. Aku mau mengaturnya dengan Riri.”
“Kalau kamu perlu diantar—” Aku berhenti, lalu memperbaiki kalimatku. “Kamu ingin diantar atau berangkat bersama Riri?”
“Aku belum tahu. Nanti aku kabari.”
“Baik.”
Raina menutup buku. “Terima kasih sudah mengubah pertanyaannya.”
“Aku ingin membiasakan diri.”
“Jangan terlalu tegang. Aku tidak sedang memberi nilai.”
“Aku merasa sedang ujian.”
“Kalau begitu, nilaimu sementara bagus.”
Setelah sarapan, kami membagi pekerjaan rumah. Aku membersihkan meja, sementara Raina menyiram tanaman kecil di jendela. Ia menanyakan apakah aku akan ke kantor. Aku menjelaskan ada rapat siang, tetapi bisa bekerja dari rumah sampai waktunya.
“Kamu tidak perlu tinggal hanya karena aku di rumah,” katanya.
“Aku tahu. Aku memang ingin menyelesaikan berkas di sini.”
“Baik. Aku akan belajar di ruang keluarga.”
Kami menjalani pagi masing-masing. Saat rapat, aku menggunakan headset dan menutup pintu. Setelahnya, aku keluar dan mendapati Raina membaca. Di meja ada kotak kayu Farah, sudah dipindahkan dari sudut ke tempat yang lebih mudah dijangkau.
“Kamu mau membukanya?” tanyaku.
Ia melihat kotak itu. “Aku sedang berpikir untuk merapikan barang-barang di dalamnya nanti. Aku belum ingin membahas isi surat atau buku yang tersimpan.”
“Tidak perlu terburu-buru.”
“Aku tahu. Kotak itu sudah pernah kubuka bersama Mama dan Raihan. Waktu itu aku hanya memilih foto dan selendang. Buku catatan Farah tetap di dalam.”
“Kamu boleh membacanya kapan saja.”
“Mungkin suatu hari.”
Aku tidak bertanya lebih jauh. Ia sudah menentukan batasnya, dan aku tidak ingin menjadikan pengakuan cintaku malam kemarin sebagai alasan untuk masuk ke semua ruang pribadinya.
Raina kembali membaca. Aku membuat teh dan meletakkannya dekat tangannya setelah bertanya. Ia berterima kasih, lalu bercerita bahwa ia ingin mengejar tugas yang tertunda. Aku mendengarkan tanpa menyusun jadwal untuknya.
Menjelang makan siang, Devi menelepon tentang rapat lanjutan. Aku menyelesaikan urusan kantor sebentar, lalu kembali. Raina mengajakku makan di teras agar ia bisa menghirup udara segar.
“Aku senang dengan yang kamu katakan semalam,” ujarnya.
“Aku juga senang kamu membalasnya.”
“Tapi jangan berpikir setelah kita saling mengatakan cinta, semua ketakutan langsung hilang.”
“Aku tidak berpikir begitu.”
“Bagus. Aku ingin kita tetap bicara kalau ada yang berubah.”
“Aku berjanji akan terus berusaha.”
Raina menatapku. “Aku menyukai kata ‘berusaha’ lebih daripada janji sempurna.”
“Aku juga.”
Kami menghabiskan makan siang dengan tenang. Ia menceritakan sedikit tentang tugas kuliahnya, aku menceritakan rapat yang berjalan lebih singkat dari dugaan. Saat ia tertawa mendengar cerita tentang laporan yang harus direvisi karena angka di satu tabel tertukar, aku merasa lega. Kebahagiaan kami tidak bergantung pada satu pengakuan. Ia hadir dalam percakapan kecil yang berlanjut setelahnya.
Setelah makan, Raina menunjukkan jadwal kuliahnya. Ia ingin bertemu Riri untuk menyelesaikan bagian tugas kelompok dan mempertimbangkan konsultasi dengan dosen pembimbing. Aku bertanya apakah ia ingin aku membaca jadwal itu bersamanya atau hanya mendengarkan rencananya.
“Dengarkan saja dulu,” katanya. “Kalau aku butuh bantuan, aku bilang.”
Aku mengangguk. Ia menjelaskan hari-hari yang akan padat, lalu menandai waktu istirahat untuk dirinya sendiri. Aku tidak menyela dengan saran tentang sopir atau keamanan. Saat selesai, ia terlihat puas.
“Kamu sudah tahu langkah berikutnya,” kataku.
“Iya. Rasanya menyenangkan membuat rencana tanpa merasa harus meminta izin untuk setiap hal.”
“Kamu tidak perlu meminta izinku untuk mengatur kuliahmu.”
“Aku tahu. Tapi aku senang kamu mendukungku.”
“Aku akan mendukungmu dengan cara yang kamu minta.”
Ia tersenyum dan menyimpan jadwalnya. Aku ingin mengingat percakapan itu. Mencintainya tidak berarti mengatur hidupnya; artinya hadir ketika ia mengundangku masuk.
Sore menjelang, aku harus menyelesaikan dua panggilan kerja. Raina berkata ia akan membaca di ruang keluarga. Aku memberi tahu bahwa rapat mungkin terdengar dari balik pintu, lalu menutupnya setelah ia mengangguk.
Ketika selesai, aku mendapati ia sedang menandai halaman dengan kertas kecil. Ia menjelaskan materi yang sedang dipelajarinya dan bertanya pendapatku tentang salah satu bagian. Aku mencoba menjawab tanpa menggurui.
“Aku tidak paham kenapa dosen menaruh teori ini sebelum contohnya,” katanya.
“Mungkin supaya kalian mencari contoh sendiri.”
“Atau supaya kami membaca dua kali.”
“Bisa jadi.”
Ia tersenyum dan mencatat idenya. Aku merasa senang bukan karena ia meminta pendapatku, melainkan karena ia nyaman mengutarakan ketidaksetujuan. Kami belajar menjadi pasangan tanpa menghapus kebiasaan dan suara masing-masing.
Saat makan malam, kami memilih makanan sederhana. Raina bercerita tentang Riri yang mengirim daftar tugas dengan judul “rencana menyelamatkan semester”. Aku tertawa mendengar namanya.
“Riri selalu membuat hal biasa terdengar seperti misi besar,” kataku.
“Dia bilang itu supaya kami tidak menunda.”
“Apakah berhasil?”
“Sedikit. Aku sudah mulai mengerjakan bagian yang paling sulit.”
“Aku bangga kepadamu.”
“Terima kasih.” Ia menatapku hangat. “Aku juga bahagia kamu mengatakan apa yang kamu rasakan semalam.”
“Aku ingin terus jujur.”
Kami membereskan meja bersama. Aku tidak tahu bahwa di antara barang-barang Farah, Raina sudah menemukan kalimat yang membuatnya kembali diam. Malam itu, yang kulihat hanya istriku yang tampak lega dan lebih dekat denganku.
Sebelum tidur, aku berterima kasih sekali lagi karena ia sudah mempercayai jawabanku. Ia membalas dengan senyum, dan aku mengira tak ada lagi yang mengganjal di antara kami.