Raina
Malam itu aku memikirkan cerita Leon setelah ia tertidur. Selin bukan nama yang baru kudengar, tetapi baru kali ini aku memahami bagaimana kehilangannya membentuk ketakutan Leon. Aku tidak tahu apakah aku sanggup membayangkan kehilangan seseorang yang telah kupilih untuk menikah. Aku hanya tahu luka itu tidak seharusnya menjadi alasan untuk mengendalikan hidup orang lain.
Pagi harinya, Leon sudah di dapur. Ia sedang membuat roti panggang, tetapi salah satu sisinya terlalu gelap.
“Kamu sedang memanggang roti atau menguji alarm asap?” tanyaku.
Ia menoleh dan segera mematikan pemanggang. “Aku ingin menyiapkan sarapan.”
“Niatnya baik. Roti yang selamat bisa kita makan.”
“Aku akan pesan makanan saja.”
“Tidak usah. Aku bisa makan bagian yang tidak hangus.”
Ia tertawa malu. Kami makan bersama dan membicarakan percakapan semalam. Aku tidak ingin membiarkan suasana ringan membuat kami berpura-pura semua hal sudah selesai.
“Aku ingin memastikan sesuatu,” kataku. “Kamu pergi kemarin bukan karena menganggap aku bersalah?”
“Bukan. Aku pergi karena perlu menenangkan diri sebelum bicara. Rasa cemburuku datang dari ketakutanku, bukan dari tindakanmu.”
“Aku percaya padamu. Tapi kalau kamu butuh ruang, beri aku batas waktu yang jelas seperti kemarin.”
“Aku akan melakukannya.”
“Dan aku akan mencoba bertanya langsung, bukan membuat kesimpulan sendiri.”
Leon mengangguk. “Aku juga akan bertanya, bukan menuntut.”
“Aku tidak ingin kamu merasa harus menyembunyikan cemburu,” kataku. “Aku hanya ingin kita membicarakannya tanpa mencari siapa yang salah.”
“Aku akan berusaha. Kalau aku merasa tersisih, aku akan bilang begitu, bukan mengubahnya menjadi pertanyaan tentang apakah kamu masih mencintai Azzam.”
“Dan aku akan menjawab dengan jujur, bukan sekadar mengatakan apa yang kupikir ingin kamu dengar.”
“Itu sudah cukup.”
Aku menatap roti yang mulai dingin. Leon tidak menuntutku menghapus masa lalu untuk meredakan kecemburuannya. Aku pun tidak meminta ia melupakan Selin. Kami sedang membicarakan cara bertindak ketika takut, bukan membuat janji bahwa perasaan itu tidak akan muncul lagi.
Roti hangus itu membuatku tertawa lagi. Ia mengambil piringku dan menyingkirkan bagian yang terlalu gosong.
“Jangan dibuang semua,” protesku. “Ada bagian yang masih bisa dimakan.”
“Aku cuma menyelamatkan sarapan.”
“Kamu selalu ingin menyelamatkan sesuatu.”
Senyumnya meredup sedikit, dan aku sadar kalimatku mungkin menyentuh hal yang lebih dalam. Aku meraih tangannya.
“Maksudku bukan mengejek.”
“Aku tahu.” Ia membalas genggamanku. “Aku memang terbiasa berpikir kalau aku harus mencegah kehilangan sebelum terjadi.”
“Kamu tidak bisa mengendalikan semuanya.”
“Aku sedang belajar menerima itu.”
“Aku juga sedang belajar bahwa rasa cemburu tidak harus disembunyikan,” kataku. “Kalau kamu bilang sedang tidak nyaman, aku bisa mendengarkan. Tapi aku tidak mau setiap kali nama Azzam muncul, kita mengulang seluruh kisah dari awal.”
“Kita tidak perlu mengulangnya,” ujar Leon. “Aku tahu kamu menolaknya. Aku tahu kamu memilih jujur. Kalau ada sesuatu yang berubah, kamu akan memberitahuku.”
“Iya. Tapi aku juga mungkin perlu mengingatkanmu bahwa masa laluku bukan ancaman untuk pernikahan kita.”
“Aku akan mencoba mengingatnya sendiri.”
“Tidak apa-apa kalau sesekali perlu diingatkan.”
Ia mengangguk. “Dan kamu bisa mengingatkanku bahwa Selin adalah bagian dari masa laluku, bukan seseorang yang sedang kubandingkan denganmu.”
“Aku akan melakukannya.”
Aku tidak pernah bertemu Selin. Aku hanya tahu ia pernah menjadi cinta pertama Leon dan ia meninggal sebelum mereka menikah. Aku tidak perlu meminta Leon mengukur cintanya kepadaku dengan kisah itu. Yang ingin kupahami adalah bagaimana kami menjaga hubungan ini tanpa mengubah duka menjadi ukuran.
Ketika Leon selesai bercerita, aku tidak buru-buru menyentuhnya. Aku memberinya waktu untuk membiarkan kenangan itu berada di antara kami tanpa harus segera dihibur. Setelah beberapa saat, ia sendiri menarik napas panjang dan bertanya apakah aku ingin teh. Hal kecil itu menandakan ia sudah siap kembali ke saat ini.
“Aku mau,” jawabku. “Dan kamu juga harus minum.”
“Baik.”
Kami berdiri bersama. Aku tidak bisa mengubah apa yang terjadi kepada Selin, tetapi aku bisa mendengar Leon tanpa membuatnya merasa harus menyembunyikan dukanya. Begitu pula ia mendengar kisahku tentang Azzam tanpa memintaku menghapusnya.
Hari itu kami menjalani kegiatan biasa. Aku menyelesaikan sebagian tugas kuliah di ruang keluarga, sementara Leon bekerja di ruang kerjanya. Sesekali ia datang menawarkan minum, tetapi ia tidak mengawasi setiap gerakanku. Aku merasa lebih nyaman karena ia bertanya sebelum membantu.
Menjelang siang, aku mengirim pesan kepada Riri bahwa Leon sudah bercerita tentang Selin. Riri menjawab singkat bahwa ia senang kami bicara baik-baik, lalu mengingatkanku untuk tidak berubah menjadi konselor rumah tangga tanpa bayaran.
“Riri bilang aku harus menagih biaya konsultasi,” ujarku ketika Leon lewat.
“Berapa tarifnya?”
“Satu porsi roti panggang yang tidak hangus.”
“Aku akan berlatih.”
Aku kembali pada tugas. Pikiranku sesekali kembali pada Azzam, lalu pada Selin. Kedua nama itu berasal dari masa lalu kami. Namun bukan berarti masa lalu mereka harus bersaing di dalam rumah ini. Kami bisa mengakuinya, lalu memilih bagaimana menjalani hari ini.
Sore hari, Leon mengajakku menyiram tanaman. Ia membawa selang, sementara aku memegang pot-pot kecil agar tanahnya tidak berhamburan. Air sempat menyiprat ke celananya.
“Kamu menertawakanku?” tanyanya.
“Aku sedang berusaha tidak.”
“Usahamu tidak berhasil.”
“Kamu terlihat sangat serius memarahi selang.”
“Selangnya tidak patuh.”
“Mungkin dia juga perlu waktu menenangkan diri.”
Leon tertawa dan menyemprotkan sedikit air ke arahku. Aku menjerit kecil, lalu membalas dengan memercikkan air dari gayung. Untuk beberapa menit, kami hanya bermain seperti dua orang yang sedang menikmati sore.
Setelah itu, kami duduk di teras. Leon tidak mencoba mengubah momen itu menjadi pengakuan besar. Ia hanya menanyakan apakah aku ingin teh. Aku mengangguk dan memandangnya pergi ke dapur.
Ada kelembutan dalam caranya kembali, mendengarkan, lalu menjalani hari bersamaku tanpa meminta aku menenangkan semua ketakutannya. Aku mulai melihat bahwa cintanya mungkin tumbuh bukan dalam satu janji, melainkan dalam pilihan-pilihan kecil yang ia buat.
***
Raina
Empat hari terakhir terasa seperti membuka satu pintu yang selama ini kami hindari. Aku pernah menceritakan soal Azzam kepada Leon; ia sudah mendengarnya tanpa menuduhku. Sekarang Leon pun menceritakan tentang Selin, termasuk ketakutan yang terbawa setelah kehilangan perempuan yang pernah ia rencanakan untuk dinikahi.
Pagi itu aku bangun lebih dulu dan membuat sarapan sederhana. Aku tidak ingin roti hangus lagi, jadi aku mengawasi pemanggang dengan sungguh-sungguh. Leon muncul saat aku mengoleskan selai.
“Kamu sedang mengalahkanku di wilayah roti?” tanyanya.
“Aku sedang menyelamatkan sarapan.”
“Kalimat itu terdengar familier.”
“Aku belajar dari ahlinya.”
Ia duduk dan mengambil sepotong roti. “Ini tidak hangus. Aku bangga.”
“Pujianmu akan membuatku besar kepala.”
“Kalau begitu, jangan makan terlalu banyak.”
Kami tertawa. Setelah sarapan, Leon bertanya apakah aku ingin pergi ke toko buku untuk mencari perlengkapan kuliah. Aku setuju, dengan syarat kami pulang sebelum sore karena aku masih ingin menyelesaikan tugas.
Di toko, Leon berjalan di sampingku tanpa mengambil alih keranjang. Ia membiarkanku memilih buku dan alat tulis sendiri. Saat aku kesulitan meraih map di rak atas, ia bertanya apakah aku ingin dibantu.
“Tolong ambilkan yang warna hijau,” kataku.
Ia mengambilnya. “Yang ini?”
“Iya. Terima kasih.”
Aku memilih beberapa pulpen dan satu buku catatan baru. Leon sempat menunjuk sampul yang lebih tebal, tetapi tidak berkata bahwa pilihanku yang tipis kurang bagus.
“Kamu tidak akan menyarankan yang lain?” tanyaku.
“Kamu sudah memilih.”
“Kamu boleh berpendapat.”
“Kalau begitu, yang biru terlihat lebih kuat. Tapi yang hijau lebih mirip pilihanmu.”
“Aku ambil yang hijau.”
“Tentu.”
Aku menyukai bahwa ia bisa memberi pendapat tanpa menjadikannya keputusan akhir. Kami membayar belanjaan, lalu berhenti sebentar di kedai kecil untuk membeli air. Leon bertanya apakah tempatnya cukup tenang sebelum kami duduk. Aku mengangguk, dan kami menikmati minuman tanpa membahas perkara berat.
“Kamu benar-benar memilih warna hijau?”
“Kenapa? Kamu mau memperdebatkan warna seperti rapat kantor?”
“Aku sudah belajar bahwa warna hijau tidak perlu rapat.”
“Perkembangan yang mengagumkan.”
Kami menyelesaikan belanja tanpa terburu-buru. Di perjalanan pulang, aku melihat tangannya di dekat tuas persneling. Aku teringat saat pertama kali ikut dengannya, ketika aku masih takut dan merasa hidupku ditentukan oleh keputusan orang lain. Sekarang aku bisa meminta ia berhenti, memilih tempat duduk, bahkan menolak bantuan tanpa takut ia akan marah.
“Kamu melamun,” katanya.
“Aku sedang memikirkan betapa banyak hal yang berubah.”
“Kamu menyesali perubahan itu?”
“Tidak.” Aku menatap jalan di depan. “Aku takut dulu, tapi sekarang aku merasa bisa memilih.”
“Kamu memang selalu berhak memilih.”
“Aku tahu. Tapi dulu sulit mempercayainya.”
Sesampainya di rumah, aku menyimpan belanjaan dan duduk mengerjakan tugas. Leon kembali bekerja. Kami berada di ruangan yang sama selama beberapa jam, masing-masing sibuk dengan urusan sendiri. Keheningan itu tidak terasa kosong. Aku tidak perlu terus bicara untuk memastikan ia masih ada.
Aku menyelesaikan dua halaman tugas, lalu mengirimkannya kepada Riri untuk diperiksa. Ia membalas bahwa argumenku sudah jelas, hanya ada satu kalimat yang perlu dirapikan. Aku tersenyum membaca komentarnya dan memperbaiki bagian itu.
Saat Leon keluar untuk mengambil minum, aku menunjukkan layar kepadanya. “Riri bilang tugasku hampir beres.”
“Kamu bekerja keras.”
“Aku ingin kembali mengejar jadwal kuliahku. Aku tidak mau urusan Tante membuat semuanya tertunda.”
“Kamu bisa mengatur langkahnya sendiri. Kalau ada yang perlu disesuaikan, bilang.”
“Aku akan bilang.”
Ia tidak menawarkan untuk menelepon kampus atau meminta orang lain mengurusnya. Aku tahu ia bisa melakukan itu dengan mudah, tetapi ia membiarkan pencapaianku tetap menjadi milikku.
Aku lalu kembali membaca tugas sampai satu bagian terasa sulit. Alih-alih diam dan frustrasi, aku memanggil Leon dan bertanya apakah ia bisa mendengarkan pendapatku. Ia menutup berkas kerjanya setelah memastikan rapatnya selesai.
“Aku tidak tahu apakah paragraf ini terlalu panjang,” kataku.
“Boleh kubaca?”
Aku menggeser buku ke arahnya. Ia membaca, lalu memberiku satu saran kecil. Keputusan akhir tetap kubuat sendiri. Rasanya menyenangkan bisa meminta pertolongan tanpa takut bantuannya akan berubah menjadi kendali.
Menjelang sore, aku meminta Leon menemaniku berjalan sebentar di halaman. Kami duduk di bangku dekat tanaman bunga kecil.
“Kamu masih takut kehilangan?” tanyaku.
“Masih. Tapi aku berusaha tidak membiarkan rasa takut menentukan caraku memperlakukanmu.”
“Aku juga masih takut suatu hari kamu menganggapku hanya bagian dari janji kepada Farah.”
Leon memandangku. “Aku tidak mau menghindari pertanyaan itu. Aku belum punya jawaban yang sempurna hari ini, tapi aku tidak menikahimu untuk menggantikan siapa pun. Aku ingin terus mengenalmu sebagai Raina.”
“Aku tidak meminta jawaban sempurna.”
“Aku tahu.”
Aku menyadari bahwa perhatian Leon telah menjadi sesuatu yang kucari, bukan hanya sesuatu yang kuterima karena keadaan. Aku ingin mendengar ceritanya, ingin tahu bagaimana harinya, dan ingin berbagi hal-hal kecil yang dulu terasa mustahil. Perasaan itu tidak lagi terasa seperti kewajiban membalas kebaikannya.
“Mas Leon,” panggilku.
Ia menoleh. “Ya?”
Aku hampir mengatakan bahwa aku mencintainya. Kata-kata itu sudah berada di ujung lidah, tetapi aku ingin mengucapkannya saat benar-benar siap, bukan karena takut ia menunggu jawaban. Aku tersenyum saja.
Leon tidak memaksaku menjelaskan senyum itu. Ia tidak bertanya apakah aku sudah siap membalas perasaannya atau apakah aku akan selalu tinggal. Aku bersyukur ia membiarkan momen itu menjadi milikku. Aku pun tidak ingin mengucapkan sesuatu hanya untuk meredakan kecemasannya.
Aku tahu suatu hari kami mungkin akan kembali membicarakan masa lalu. Azzam bisa saja muncul lagi, dan kehilangan Selin akan tetap menjadi bagian hidup Leon. Namun hari ini kami sudah belajar bahwa masa lalu bisa disebut tanpa mengambil alih seluruh ruangan.
“Terima kasih sudah pulang dan bicara denganku.”
“Aku akan berusaha selalu pulang dengan jujur.”
“Jangan menjanjikan hal yang tidak bisa kamu pastikan.”
“Kalau begitu, aku berjanji akan berusaha. Dan kalau aku gagal, aku akan mengakuinya.”
“Itu lebih baik.”
Ia mengulurkan tangan, berhenti sejenak agar aku bisa memilih. Aku menyambutnya. Jari-jarinya hangat dan genggamannya tidak memaksa.
Kami duduk sampai matahari turun. Aku belum mengucapkan kata cinta, tetapi untuk pertama kalinya aku tahu perasaanku telah bergerak melewati rasa terima kasih. Aku ingin membangun sesuatu bersama Leon, dengan masa lalu kami tetap menjadi bagian dari cerita, bukan penentu akhir.
Besok, kami akan kembali pada urusan biasa. Untuk malam ini, aku membiarkan harapan itu tumbuh pelan-pelan.