Raina
Pagi itu Leon tampak lebih pendiam dari biasanya. Ia tetap membuatkan kopi, tetap bertanya apakah aku ingin sarapan, tetapi jawabannya pendek-pendek. Aku ingat percakapan kami tentang Azzam. Aku sudah menceritakan semuanya beberapa hari lalu, dan Leon sudah berjanji mendengar tanpa membuatku merasa diadili. Mungkin perasaan tidak selalu selesai pada satu percakapan.
“Kamu sedang memikirkan sesuatu?” tanyaku.
Ia meletakkan cangkir di meja. “Aku tidak ingin membuatmu khawatir.”
“Kalau kamu diam, aku malah menebak-nebak.”
Leon menarik kursi di hadapanku. “Aku masih merasa cemburu kalau ingat Azzam pernah menjadi bagian penting dari hidupmu.”
Aku menahan napas. “Kamu merasa aku menyembunyikan sesuatu lagi?”
“Tidak. Kamu sudah jujur kepadaku. Ini tentang perasaanku sendiri yang belum sepenuhnya tenang.”
Kejujurannya membuatku lega sekaligus sedih. Aku tidak ingin kecemburuan menjadi tembok di antara kami, tetapi aku juga tidak ingin berpura-pura bisa menghapus masa lalu hanya karena sudah memilih hidup bersama Leon.
“Apa yang kamu butuhkan?” tanyaku.
“Aku perlu waktu sebentar untuk menenangkan diri. Aku tidak mau bicara saat pikiranku dipenuhi rasa takut, lalu mengatakan sesuatu yang akan menyakitimu.”
“Kamu mau pergi?”
“Aku ingin berjalan sendiri. Bukan meninggalkanmu atau menghukummu. Aku akan kembali sore ini.”
Aku menatap wajahnya, mencoba melihat apakah ada marah yang ia tahan. Yang kulihat hanya kegelisahan. “Kalau kamu berubah pikiran, kabari aku. Jangan menghilang tanpa pesan.”
“Aku janji. Ponselku tetap menyala.”
“Dan jangan menyetir kalau kamu terlalu kesal.”
Ia mengangguk. “Aku akan berjalan di taman dekat rumah. Pak Arif tidak perlu mengantar.”
Percakapan itu berbeda dari masa-masa awal pernikahan kami. Dulu Leon mungkin akan memutuskan sendiri dan menganggap keheningannya cukup menjelaskan. Sekarang ia memberitahuku apa yang dirasakan dan berapa lama ia perlu menepi.
“Terima kasih sudah bilang terus terang,” ujarku.
“Aku tidak ingin mengulang kesalahan lama.”
Ia meraih kunci, lalu berhenti di dekat pintu. “Kamu tidak harus menungguku sambil cemas.”
“Aku tidak akan cemas.”
“Kamu yakin?”
“Tidak sepenuhnya. Tapi aku tahu kamu akan memberi kabar.”
Ia tersenyum kecil. “Aku akan kembali sore.”
Setelah pintu tertutup, rumah terasa lebih sepi. Aku membuat teh dan mencoba mengerjakan catatan kuliah. Beberapa kali mataku berpindah ke jam, tetapi aku tidak mengirim pesan. Leon meminta ruang sebentar, dan aku ingin menghormatinya sebagaimana ia menghormati keputusanku saat menghadapi Tante Marta.
Riri menelepon menjelang siang. “Kamu kedengaran serius. Ada masalah?”
“Leon sedang menenangkan diri. Dia bilang masih cemburu saat mengingat Azzam.”
“Dia marah kepadamu?”
“Tidak. Dia bilang itu perasaannya, bukan kesalahanku. Dia hanya minta waktu sampai sore.”
“Bagus kalau dia bisa menjelaskan. Tapi kamu sendiri bagaimana?”
“Aku sedikit takut dia akan berubah pikiran tentang hubungan kami.”
“Kamu sudah tanya?”
“Dia bilang ini bukan tentang meninggalkanku.”
“Kalau begitu, pegang kata-katanya dulu. Nanti kalian bicara lagi.”
Aku menghela napas. “Kamu selalu terdengar lebih bijak lewat telepon.”
“Karena kalau bertemu langsung, aku bisa sekalian memarahimu sambil menyuapi.”
Aku tertawa. “Terima kasih, tapi aku masih bisa makan sendiri.”
“Aku tahu. Itu tidak menghentikanku.”
Sesudah panggilan berakhir, aku menulis beberapa kalimat di buku catatan. Bukan untuk menyusun pembelaan, melainkan untuk memahami perasaanku sendiri. Aku tidak menyesal pernah mencintai Azzam. Namun kisah itu sudah selesai dan pilihanku hari ini adalah Leon. Aku ingin ia mempercayai pilihanku, bukan karena aku menghapus masa lalu, melainkan karena aku jujur tentangnya.
Aku menulis kalimat itu, lalu mencoretnya. Rasanya terlalu seperti jawaban ujian. Aku mencoba lagi dengan kata-kata yang lebih sederhana: aku ingin Leon mengenalku tanpa meminta aku menjadi seseorang yang tidak punya masa lalu. Aku pun ingin mengenal Leon tanpa memintanya berhenti merindukan orang-orang yang pernah ia kehilangan.
Di halaman berikutnya, aku menulis tiga hal yang bisa kulakukan jika percakapan terasa berat: meminta jeda, bertanya maksudnya, dan mengatakan jika aku butuh didengarkan saja. Daftar itu tidak mengubah perasaan cemas, tetapi membuatnya terasa punya bentuk.
Pukul dua lewat sedikit, aku hampir mengirim pesan kepada Leon hanya untuk bertanya apakah ia masih marah. Aku berhenti sebelum menekan tombol kirim. Ia tidak mengatakan dirinya marah. Ia mengatakan perlu waktu dan akan kembali. Aku memutuskan mempercayai apa yang benar-benar ia ucapkan, bukan cerita buruk yang dibuat pikiranku sendiri.
Leon mengirim pesan sekitar pukul tiga. “Aku baik-baik saja. Sedang berjalan pulang. Maaf membuatmu menunggu.”
Aku membalas, “Terima kasih sudah memberi kabar. Aku di rumah.”
Setengah jam kemudian, ia masuk dengan setangkai bunga dan beberapa bunga kecil berwarna putih. Aku berdiri dari sofa.
“Katamu kamu kembali sore,” ujarku.
“Aku berusaha menepati janji.” Ia menyodorkan bunganya. “Aku ingin bicara. Kalau kamu siap.”
“Aku siap.”
Leon memandang bunga itu sebentar. “Aku juga ingin menceritakan sesuatu tentang Selin. Bukan untuk membandingkanmu dengannya. Aku hanya sadar ada bagian dari rasa takutku yang belum pernah kuceritakan dengan baik.”
Aku menerima bunga itu. “Kita bisa bicara setelah kamu istirahat.”
“Boleh. Tapi aku tidak mau menunda terlalu lama.”
“Kita duduk dulu. Kamu sudah berjalan jauh.”
Kami duduk berhadapan. Bunga-bunga itu kuletakkan di vas kecil. Leon menarik napas, lalu mulai menceritakan nama yang pernah ia sebut dalam kisah masa lalunya. Aku mendengarkan, kali ini tanpa mencoba menebak bagian akhirnya.
***
Leon
Aku memandangi vas kecil di meja. Bunga yang kubeli sederhana, jauh dari buket besar yang biasa dikirim ke acara perusahaan. Aku memilihnya karena teringat Raina pernah mengatakan ia menyukai bunga kecil yang tidak berbau terlalu kuat.
“Aku tidak tahu harus mulai dari mana,” kataku.
“Mulai dari bagian yang ingin kamu ceritakan.”
“Selin adalah perempuan yang pernah kucintai sebelum Farah. Kami berencana menikah.”
Raina tidak menyela. Ia menautkan kedua tangannya di pangkuan dan menunggu.
“Dia meninggal sebelum hari pernikahan kami. Waktu itu aku merasa semua yang sudah kurencanakan runtuh dalam satu hari. Aku marah kepada keadaan, kepada diriku sendiri, bahkan kepada Tuhan. Setelah itu aku berusaha tidak berharap terlalu banyak kepada siapa pun.”
Raina menunduk. “Kamu pernah bilang kehilangan itu membuatmu takut berharap lagi.”
“Benar. Tapi aku tidak pernah menjelaskan seberapa kuat ketakutan itu memengaruhi caraku mencintai orang. Saat Farah sakit, aku kembali merasa bisa kehilangan seseorang yang kusayangi. Ketika aku menikahimu, Farah masih hidup. Aku memakai tanggung jawab dan permintaannya sebagai alasan, padahal aku belum memahami perasaanku sendiri. Setelah ia meninggal, aku semakin berpegang pada pesan-pesannya.”
“Aku tahu kamu menikahiku bukan karena cinta.”
“Aku tahu. Tapi belakangan aku sadar, aku sering memperlakukan rasa takut seolah-olah itu bentuk perlindungan. Aku ingin memastikan kamu baik-baik saja, ingin mengatur jarakmu dari bahaya, ingin tahu setiap hal. Hari ini, saat memikirkan Azzam, kecemburuanku muncul lagi. Bukan karena kamu berbuat salah. Aku takut terlambat menyadari kalau aku kehilanganmu.”
Raina menatapku. “Kamu takut aku akan kembali kepadanya?”
“Ada bagian kecil dalam diriku yang takut begitu. Tapi aku tahu kamu sudah menolaknya dan memilih jujur kepadaku. Aku tidak ingin ketakutan itu menjadi tuduhan.”
“Saat kamu pergi tadi, aku memang takut kamu sedang menjauh dariku.”
“Maaf. Aku seharusnya memastikan kata-kataku tidak membuatmu merasa ditinggalkan.”
“Kamu sudah bilang akan kembali sore. Itu membantuku. Aku hanya berharap kamu tidak pergi setiap kali merasa cemburu.”
“Aku tidak akan menjadikan itu kebiasaan. Tadi aku butuh waktu supaya bisa bicara dengan tenang. Lain kali aku akan tetap menjelaskan apa yang kubutuhkan dan kapan aku akan kembali.”
Ia mengangguk pelan. “Aku tidak bisa menghapus sejarahku dengan Azzam. Tapi aku bisa jujur tentang apa yang terjadi sekarang.”
“Aku tahu.”
“Dan kamu tidak bisa menghapus kehilangan Selin atau Farah. Tapi kamu bisa menceritakan apa yang kamu rasakan sebelum rasa takut itu berubah menjadi keputusan untukku.”
Kalimat itu membuat tenggorokanku terasa sempit. “Kamu benar.”
Aku menceritakan tentang rencana pernikahanku dengan Selin, tentang hari-hari ketika keluarga kami membicarakan masa depan, dan bagaimana kabar kematiannya membuatku merasa tak berdaya. Aku tidak memberikan rincian yang tak perlu. Yang ingin kupahami sendiri adalah bagaimana kehilangan itu mengajariku menutup pintu sebelum seseorang sempat pergi.
“Aku menyimpan banyak hal sendirian setelah itu,” kataku. “Orang-orang mengira aku kuat karena tetap bekerja dan menjalani hidup. Aku pun membiarkan mereka berpikir begitu. Padahal aku hanya tidak tahu bagaimana meminta bantuan.”
“Apa Farah tahu?”
“Dia tahu aku pernah kehilangan Selin, tetapi aku jarang menjelaskan ketakutanku. Aku tidak mau Farah merasa harus memperbaiki sesuatu yang bukan kesalahannya.”
“Mungkin dia juga ingin mendengarkanmu.”
“Mungkin. Aku terlalu sibuk mengira bahwa diam berarti melindunginya.”
Raina mengangguk. “Aku pernah melakukan hal yang sama. Aku menyimpan pertemuan dengan Azzam karena takut membuatmu marah. Ternyata diam justru membuatku makin takut.”
“Aku bersyukur kamu akhirnya cerita.”
“Aku juga bersyukur kamu sekarang cerita tentang Selin.”
“Setelah dia meninggal, aku berpikir kalau tidak berharap, aku tidak akan terluka lagi,” kataku. “Ternyata aku hanya membuat orang yang kusayangi ikut menanggung jarak yang kubuat.”
Raina menyentuh ujung vas, memastikan bunga itu berdiri tegak. “Aku turut berduka kamu melewati semua itu sendirian.”
“Farah tahu sebagian. Tapi aku jarang membicarakannya setelah menikah.”
“Kamu takut aku akan menganggap diriku pengganti Selin?”
“Aku takut kamu mengira aku mencintaimu karena ingin mengisi tempat yang kosong. Aku tidak ingin itu terjadi.”
“Aku juga tidak mau menjadi pengganti siapa pun.”
“Kamu bukan pengganti. Kamu Raina.”
Aku mengatakannya tanpa menghitung apakah kalimat itu sudah cukup sebagai pengakuan cinta. Aku belum ingin memaksa kata-kata yang belum siap keluar. Namun aku ingin ia tahu bahwa aku melihatnya sebagai dirinya sendiri, bukan sebagai obat bagi kehilangan lamaku.
“Aku tidak menyesal kamu jujur,” katanya. “Aku hanya perlu waktu untuk memahami semuanya.”
“Kamu boleh mengambil waktu sebanyak yang kamu perlukan.”
Aku menatapnya lama. “Apa yang membuatmu begitu takut saat aku bilang masih cemburu?”
“Aku khawatir suatu saat kamu menganggap masa laluku sebagai alasan untuk tidak memercayaiku.”
“Aku tidak ingin melakukan itu.”
“Aku tahu niatmu bukan menyakitiku. Tapi kalau kamu mulai bertanya dengan nada menuduh, aku akan mengingatkanmu tentang percakapan ini.”
“Tolong lakukan. Aku ingin mendengarnya sebelum aku melangkah terlalu jauh.”
“Dan kalau aku merasa pembicaraan tentang Azzam membuatku seperti sedang diperiksa, aku akan bilang berhenti.”
“Aku akan menghentikannya.”
Ada sesuatu yang lega di wajah Raina. Aku ikut merasa lega, tetapi tidak menganggap percakapan itu menghapus semua akibat masa lalu. Kepercayaan bukan sakelar yang bisa dinyalakan sekali lalu tidak perlu dirawat.
Raina berdiri untuk mengambil air. Aku hampir mengikutinya, lalu memilih menunggu. Saat ia kembali, ia duduk di sampingku, bukan terlalu dekat, tetapi cukup untuk membuatku merasa ia tidak sedang menjauh.
“Bunganya bagus,” katanya.
“Aku lega. Aku hampir membeli buket besar, lalu teringat kamu tidak suka aroma yang terlalu kuat.”
“Jadi kamu ingat.”
“Aku berusaha memperhatikan.”
Ia tersenyum tipis. “Terima kasih sudah pulang dan menjelaskan.”
“Terima kasih sudah mendengarkan.”
Kami tidak menyelesaikan semua rasa takut malam itu. Tetapi aku tidak lagi menyembunyikan nama Selin di balik sikap dingin. Raina pun tidak diminta menghapus Azzam dari hidupnya; cukup jujur tentang batas yang ia pilih sekarang.