Raina
Klinik Dokter Mahen terasa lebih tenang daripada yang kuingat. Ia menyambut kami di ruang pemeriksaan dan mempersilakanku duduk. Leon menunggu sampai aku mengajaknya masuk ke ruang itu.
“Dengingnya mulai setelah ada suara keras?” tanya Dokter Mahen.
“Iya. Seseorang berteriak dekat rumah. Awalnya tipis, sekarang kadang terdengar seperti nada tinggi.”
“Ada nyeri, pusing berat, atau pendengaran mendadak berkurang?”
“Tidak. Hanya terasa penuh sedikit.”
Dokter Mahen memeriksa telingaku dengan alat kecil, lalu memintaku mengikuti beberapa instruksi sederhana. Ia berbicara dengan suara biasa, tidak terlalu keras. Setelah pemeriksaan, ia menurunkan alat dan menatapku.
“Dari pemeriksaan hari ini saya belum melihat keadaan yang memerlukan penanganan darurat. Tetapi denging yang berulang tetap perlu dinilai, termasuk oleh dokter THT bila diperlukan,” jelas Mahen. Ia menuliskan rencana pemantauan dan memberi tahu kapan aku perlu menghubungi klinik lagi.
“Apa saya perlu obat?”
“Kita tentukan sesuai hasil pemeriksaan, bukan menambah obat sendiri,” jawabnya. Aku meminta penjelasannya sekali lagi dan menyimpan catatan itu.
Leon duduk tegak di kursi. “Apakah ada hal lain yang sebaiknya kami lakukan?”
Mahen menoleh kepadaku lebih dulu, memastikan aku tidak keberatan ia menjawab. “Jaga lingkungan tetap tenang. Raina sudah tahu cara mengatur paparan suara. Bantu kalau diminta, tapi biarkan dia menentukan kapan perlu istirahat.”
“Saya mengerti,” kata Leon.
Aku menyukai jawaban itu. Mahen menuliskan petunjuk singkat dan memberikannya kepadaku. Aku membaca setiap baris, lalu menyimpan kertas itu di tas.
“Jadi aku tidak perlu panik?” tanyaku.
“Tidak ada alasan untuk panik dari pemeriksaan hari ini,” jawab Mahen. “Tapi tetap perhatikan perubahan gejala. Tenang bukan berarti mengabaikan.”
“Baik.”
Saat kami keluar, Leon bertanya apakah aku ingin langsung pulang atau mampir membeli makan. Aku memilih pulang. Dengingnya masih ada, namun tidak sekeras saat di rumah.
Di mobil, ia mematikan pendingin udara yang berisik dan membuka jendela sedikit. “Begini lebih nyaman?”
“Iya. Terima kasih sudah bertanya.”
“Aku sedang belajar.”
“Kamu sudah lebih baik daripada dulu.”
“Dulu aku akan mengatur seluruh jadwalmu karena khawatir.”
“Dan aku akan kesal.”
“Aku ingat.”
Kami tertawa pelan. Aku menutup mata, bersandar, dan membiarkan jalan pulang berlangsung tanpa musik. Sesampainya di rumah, aku beristirahat di kamar. Leon bekerja dari ruang sebelah, tetapi tetap memberi tahu jika ia perlu menjawab panggilan.
Menjelang sore, ponselku kembali bergetar. Kali ini Mama Farah yang menelepon.
“Raina, apa Tante Marta datang menemuimu?” tanyanya lembut.
Aku tidak bertanya dari mana ia tahu. “Iya, Ma. Dia minta uang dan mengancam bicara ke wartawan.”
“Kamu aman?”
“Aku aman. Dia sudah pergi. Saat datang itu dia berteriak di depan pagar. Telingaku sempat berdenging, tapi Dokter Mahen sudah memeriksa.”
“Aduh, Nak. Kamu sekarang bagaimana?”
“Lebih baik. Aku harus menghindari suara bising dan memantau gejalanya.”
“Kalau kamu ingin kami datang, bilang saja.”
“Terima kasih. Untuk sekarang aku ingin istirahat. Aku juga tidak mau Mama atau Raihan membalas pesannya kalau dia menghubungi kalian.”
“Kami tidak akan ikut campur tanpa izinmu. Tapi kamu tetap keluarga kami, dan kami akan mendukungmu.”
Mataku kembali terasa panas. “Aku tahu.”
“Kamu tidak harus menyelesaikan semuanya hari ini.”
“Aku juga sedang belajar itu.”
Setelah menutup telepon, aku duduk di tepi ranjang. Leon mengetuk pintu sebelum masuk.
“Mama Farah?”
“Iya. Dia mendukungku.”
“Kamu ingin bicara lebih banyak?”
“Nanti. Sekarang aku ingin tidur sebentar.”
“Aku ada di ruang kerja.”
Ia tidak mencoba menyuruhku beristirahat atau menawarkan bantuan lain. Ia hanya memberitahuku di mana ia berada. Aku berbaring, menarik selimut, dan membiarkan rumah tetap sunyi.
Ketika terbangun, dengingnya masih samar, seperti garis tipis di kejauhan. Aku tidak panik. Aku mengingat petunjuk dokter dan menuliskan jam serta perubahan yang kurasakan. Bukan karena aku ingin terus memikirkannya, melainkan agar bisa menjelaskan dengan jelas jika perlu kontrol.
Leon datang membawa sup. “Makan sedikit?”
“Boleh.”
“Aku meletakkannya di meja. Kalau aromanya mengganggu, bilang.”
“Tidak mengganggu.”
Kami makan di kamar dengan percakapan ringan. Aku bercerita tentang pesan Mama Farah, sedangkan Leon bercerita bahwa Pak Arif memastikan Marta sudah meninggalkan lingkungan rumah.
“Dia tidak mencoba masuk lagi?”
“Tidak. Rekaman tersimpan. Aku belum melakukan apa pun selain memastikan keamanan rumah.”
“Bagus. Aku tidak mau ini berubah menjadi perang.”
“Aku juga.”
Malam itu aku menyimpan instruksi Dokter Mahen di meja samping ranjang. Ancaman Marta masih membekas, tetapi aku tidak sendirian menghadapinya. Tubuhku memberi tanda bahwa aku perlu tenang; aku memilih mendengarkannya.
Aku membaca kembali catatan pemeriksaan sekali, lalu memasukkannya ke map kesehatan. Tidak ada diagnosis dramatis atau obat yang harus segera kuminum. Hanya anjuran yang jelas dan tanda-tanda yang perlu kuperhatikan. Kepastian kecil itu menurunkan ketegangan yang sejak pagi menempel di pundakku.
Leon duduk di kursi dekat jendela. “Kamu mau aku tetap di sini atau kembali bekerja?”
“Kamu boleh kembali. Aku tidak perlu ditemani terus.”
“Baik. Panggil aku kalau kamu butuh sesuatu.”
“Aku akan panggil.”
Ia pergi tanpa terlihat tersinggung. Aku menghargai itu. Perhatian yang baik tidak selalu berupa seseorang yang duduk di sampingku; kadang perhatian berarti percaya ketika aku bilang aku sanggup sendiri.
Aku mematikan lampu dan memejamkan mata. Dengingnya hampir lenyap, sementara suara rumah terdengar jauh dan akrab. Aku tidur lebih awal, dengan janji pada diri sendiri untuk menghubungi klinik bila ada perubahan, bukan menahan khawatir sendirian.
Sebelum tertidur, aku mengingat kembali percakapan di pagar. Aku tidak berteriak, tidak mengancam balik, dan tidak memberikan uang hanya untuk menghentikan ketakutan sesaat. Jawabanku sederhana, namun tetap milikku. Itu cukup untuk hari ini.
Aku memejamkan mata sambil mengulang kalimat Dokter Mahen: tenang bukan berarti mengabaikan. Aku akan merawat diriku, meminta bantuan saat perlu, dan membiarkan urusan lain menunggu sampai esok.
***
Leon
Pagi hari setelah pemeriksaan, Raina mengatakan denging di telinganya sudah jauh berkurang. Aku berusaha tidak menunjukkan betapa leganya aku, agar ia tidak merasa harus meyakinkanku berkali-kali.
“Kalau hari ini kamu ingin tetap di rumah, tidak perlu memaksakan kuliah,” kataku.
“Aku memang tidak ada kelas pagi. Nanti aku putuskan setelah sarapan.”
“Baik.”
Ia memperhatikanku. “Kamu sengaja tidak memberi saran panjang?”
“Aku sedang latihan menjawab sesuai yang ditanyakan.”
“Kemajuan.”
Aku tersenyum dan menggeser piring ke arahnya. Kami sarapan tanpa tergesa. Setelah itu, Raina memutuskan untuk tetap di rumah sampai siang dan melihat kondisinya. Keputusan itu miliknya, dan aku mengatur rapat daring dari ruang kerja.
Sekitar pukul sebelas, penasihat perusahaan menghubungi kami tentang kemungkinan Marta menghubungi media. Ia menyarankan agar kami menyiapkan pernyataan singkat. Aku tidak menyetujuinya sebelum bertanya kepada Raina.
“Mereka menyarankan pernyataan kalau wartawan bertanya,” kataku. “Kamu mau menyiapkannya sekarang, atau menunggu sampai ada yang benar-benar menghubungi?”
“Menunggu. Aku tidak mau membuka cerita ini sendiri.”
“Aku sampaikan begitu.”
“Kalau ada pertanyaan, aku ingin membaca jawabannya sebelum dikirim.”
“Tentu.”
Aku meneruskan keputusan itu. Penasihat perusahaan menerima tanpa mendesak. Tak lama kemudian, Raina mengirim pesan kepada Riri bahwa ia merasa lebih baik. Riri membalas dengan foto secangkir teh dan pesan agar ia tidak memaksakan diri. Raina tertawa kecil.
“Dia mengirim teh lewat foto?” tanyaku.
“Katanya tehnya tidak bisa menembus layar, jadi aku harus membayangkannya.”
“Sahabatmu punya cara dukungan yang hemat biaya.”
“Dan berhasil.”
Menjelang siang, ponselku menerima pesan dari nomor baru. Marta menulis bahwa ia menyesal kami membuatnya harus bicara kepada orang luar. Aku tidak menjawab. Aku memperlihatkan pesan itu kepada Raina.
Ia membacanya dua kali. “Jangan balas.”
“Baik.”
“Simpan saja. Kalau dia benar-benar ingin memperbaiki hubungan, dia bisa meminta maaf tanpa menuntut uang.”
“Kamu ingin memblokir nomornya?”
“Belum. Aku ingin tahu kalau ada pesan lagi, tapi aku tidak mau membacanya sendiri setiap saat. Aku akan matikan notifikasinya.”
“Kita bisa mengaturnya bersama.”
Aku mematikan notifikasi nomor tersebut pada ponselku, lalu Raina meletakkan ponselnya sendiri. Setelah itu, ia membuka buku kuliah. Dengingnya hampir tidak terdengar. Ia membaca selama setengah jam, lalu berhenti sendiri.
“Aku akan istirahat sebentar,” katanya.
“Aku buatkan teh?”
“Boleh, tapi jangan yang terlalu panas.”
Aku membawakan teh dan duduk agak jauh agar ia bisa membaca. Kami tidak mengisi setiap keheningan dengan percakapan. Sesekali ia bertanya tentang pekerjaanku, dan aku menjawab singkat. Rumah terasa biasa lagi, meski peristiwa kemarin belum benar-benar hilang.
Sore harinya, Raina ingin berjalan sebentar di halaman. Aku bertanya apakah ia mau ditemani. Ia mengangguk. Kami berjalan pelan di jalur kecil dekat taman.
“Aku masih kesal,” katanya. “Bukan hanya karena uang. Dia selalu membuatku merasa harus membuktikan bahwa aku pantas menolak.”
“Kamu tidak perlu membuktikan apa pun.”
“Aku tahu. Tapi sekarang aku bisa mengatakannya tanpa merasa harus meminta izin.”
“Itu perubahan besar.”
“Mungkin.” Ia berhenti di dekat pot bunga. “Dulu aku ingin keluarga yang datang mencariku. Sekarang ketika Tante datang, yang dia cari uang.”
Aku tidak punya kalimat yang bisa memperbaiki kenyataan itu. “Aku turut sedih.”
“Aku juga. Tapi aku tidak mau rasa sedih membuatku menyerahkan kendali lagi.”
“Kamu tidak harus memilih antara sedih dan tegas.”
Ia memandangku. “Itu kalimat yang bagus.”
“Aku menyimpannya dari percakapan kita sebelumnya.”
Ia tertawa. “Ternyata percakapan itu berguna.”
Kami kembali masuk. Raina memutuskan untuk memberi tahu Mama Farah bahwa ia tidak akan menemui Marta tanpa janji dan pendamping yang ia pilih. Ia menyusun pesannya sendiri, membacanya keras-keras, lalu mengirim setelah yakin.
“Sudah,” katanya. “Aku tidak mau membuat larangan yang terlalu rumit. Aku cuma ingin dia tahu batasnya.”
“Jelas dan cukup.”
Menjelang malam, kami menerima balasan Mama Farah yang mengatakan ia menghormati keputusan Raina. Tidak lama kemudian, Raihan juga mengirim pesan dukungan tanpa menanyakan detail yang tidak ingin Raina ceritakan.
Saat makan malam, Raina duduk di seberangku. Ia tampak lelah, namun lebih tenang daripada kemarin.
“Kalau Marta muncul lagi, kita hadapi sesuai yang kamu mau,” kataku.
“Kalau dia datang lagi, aku tidak akan bertemu hari itu. Aku akan meminta dia membuat janji dan menjelaskan keperluannya. Kalau dia mengancam lagi, aku tidak akan membalas.”
“Aku akan mengikuti keputusanmu.”
“Dan kalau ada yang perlu dilakukan demi keamanan rumah, beri tahu aku dulu.”
“Aku janji.”
Ia menatapku beberapa detik. “Aku senang kita bisa membicarakan ini tanpa salah satu dari kita memutuskan semuanya sendiri.”
“Aku juga.”
Setelah makan, kami membereskan meja bersama. Raina mencuci cangkir, sementara aku mengeringkannya. Tidak ada pengumuman besar atau penyelesaian dramatis. Hanya dua orang yang belajar membagi beban dan menghormati batas.
Ia lalu mengambil buku catatan dan menulis tiga hal yang ingin ia ingat: jadwal kuliah, instruksi dokter, serta keputusan untuk tidak menjawab pesan Marta saat emosi masih tinggi. Aku membiarkannya menulis tanpa menawarkan susunan yang lebih rapi.
“Kamu membuat daftar?” tanyaku.
“Supaya pikiranku berhenti mengulang hal yang sama.”
“Berhasil?”
“Lumayan. Yang paling sulit cuma jangan membuka pesan itu lagi.”
“Kamu sudah mengarsipkannya.”
“Aku tahu. Tapi rasa ingin tahu tetap ada.”
“Kalau kamu ingin membacanya nanti, kamu bisa memilih waktunya. Tidak harus sekarang.”
Ia menutup buku. “Itu yang akan kulakukan.”
Kami menaruh cangkir di rak, lalu menyiapkan kebutuhan untuk esok tanpa menjadwalkan terlalu banyak. Raina memilih sendiri pakaian dan buku yang akan dibawa. Aku membantu menyiapkan air minum setelah ia memintanya. Tindakan kecil itu terasa lebih tepat daripada berusaha menghapus semua risiko dari jalannya.
Sebelum tidur, ia berkata telinganya tidak lagi berdenging. Aku mengingatkan agar ia tetap mengikuti arahan Dokter Mahen dan menghubungi klinik jika gejalanya kembali memburuk. Ia mengangguk.
“Aku akan kontrol kalau perlu,” katanya. “Kamu tidak harus mengingatkanku setiap jam.”
“Aku mengerti.”
“Bagus. Sekarang kita tidur.”
Aku mematikan lampu. Di dalam gelap, aku mendengar napasnya yang perlahan teratur. Ancaman Marta belum tentu menjadi yang terakhir, tetapi malam itu Raina tidak lagi berdiri sendirian di hadapannya. Ia sudah memilih batasnya sendiri, dan aku berada di sisinya dengan cara yang ia izinkan.