Raina
Aku menyangka setelah Tante Marta pergi, dadaku akan terasa ringan sepenuhnya. Ternyata lega dan takut bisa tinggal bersamaan. Setiap kali ponselku bergetar, aku membayangkan namaku muncul di berita dengan cerita yang dipelintir.
Leon tidak bertanya berulang kali apakah aku baik-baik saja. Ia hanya meletakkan segelas air di samping buku-bukuku dan mengingatkan bahwa aku boleh berhenti belajar kapan pun.
“Kamu kelihatan ingin menyuruhku tidur siang,” kataku.
“Aku sedang berusaha tidak mengatur.”
“Usahamu terlihat.”
“Itu pujian?”
“Anggap saja begitu.”
Aku tersenyum, lalu kembali menatap catatan. Huruf-hurufnya beberapa kali kabur bukan karena penglihatanku, melainkan karena pikiranku melayang kepada ancaman Tante. Akhirnya aku menutup buku.
“Aku mau bicara dengan Riri,” kataku. “Bukan untuk minta dia menyelesaikan apa pun. Aku hanya mau cerita.”
“Telepon saja.”
Aku menghubunginya. Riri sedang di rumah, dan ia langsung tahu ada yang menggangguku dari suaraku.
“Tante Marta datang, ya?” tanyanya.
Aku terdiam. “Kok kamu tahu?”
“Tadi pagi dia mengirim pesan kepadaku. Katanya ingin bertemu kamu, tapi aku belum sempat membalas.”
“Dia meminta uang lagi.”
“Lagi?”
“Iya. Lima puluh juta. Kalau aku menolak, dia mengancam mau bicara ke wartawan.”
Riri mengumpat pelan, lalu segera menurunkan suaranya. “Maaf. Kamu pasti kaget.”
“Aku kaget, tapi aku menolak. Leon ada di sampingku, tapi dia membiarkanku menjawab sendiri.”
“Bagus. Kamu ingin aku datang?”
“Belum. Aku cuma ingin bilang supaya kamu tidak menjawab pesannya. Jangan jadi perantara.”
“Tentu. Kamu juga tidak perlu membuktikan apa pun kepadanya.”
Aku melirik Leon. Ia sedang membaca berkas, tetapi telinganya jelas menangkap percakapan kami. “Aku tahu.”
“Kamu benar-benar tahu, atau cuma bilang begitu karena capek?”
“Dua-duanya mungkin.”
Riri menghela napas. “Kalau nanti kamu berubah pikiran, telepon aku. Aku bisa menemanimu tanpa ikut campur.”
“Itu yang kubutuhkan.”
Setelah panggilan berakhir, Leon menutup mapnya. “Apa dia pernah menghubungi Riri sebelumnya?”
“Sepertinya baru hari ini. Aku tidak tahu sejak kapan dia punya nomor Riri.”
“Mungkin dari unggahan kampus atau kontak lama.”
“Aku tidak mau menebak-nebak. Kalau dia menghubungi orang lain, aku ingin mereka tidak membalas atas namaku.”
Leon mengangguk. “Kita bisa sampaikan itu kepada orang-orang terdekat. Kamu yang menentukan siapa saja.”
“Mama Farah dan Raihan juga. Tapi aku ingin memberi tahu mereka sendiri.”
“Baik.”
Aku mengirim pesan singkat kepada Mama Farah dan Raihan bahwa Tante Marta mungkin akan mencoba menghubungi mereka. Aku meminta mereka tidak memberikan uang atau informasi pribadi, lalu mengatakan bahwa aku akan menjelaskan lebih lengkap jika mereka bertanya. Mama Farah membalas dengan satu kalimat: ia percaya kepadaku dan siap mendengarkan kapan pun.
Kalimat sederhana itu membuat mataku panas. Leon melihatnya, tetapi tidak menyentuhku sebelum bertanya.
“Boleh kupeluk?”
Aku mengangguk. Ia duduk di sampingku dan merangkul bahuku perlahan. Aku bersandar sebentar, membiarkan napasku kembali teratur.
“Aku dulu sering berpikir kalau menolak Tante berarti aku anak yang tidak tahu terima kasih,” kataku. “Padahal aku bahkan tidak pernah tahu apa yang sebenarnya kulakukan sampai dia marah.”
“Kamu tidak berutang kepatuhan tanpa batas kepada siapa pun.”
“Aku tahu kalimat itu benar. Tapi rasanya masih sulit.”
“Kamu boleh membutuhkan waktu untuk mempercayainya.”
Aku menarik diri sedikit agar bisa melihat wajahnya. “Kamu tidak merasa aku harus melaporkan semua ini kepada pengacara?”
“Itu pilihanmu. Untuk sekarang, kita menyimpan pesan dan rekaman. Kalau dia benar-benar menyebarkan fitnah atau mengganggumu, kita pertimbangkan langkah berikutnya bersama.”
“Aku tidak mau berita tentang keluargaku jadi tontonan.”
“Kalau begitu kita tidak akan membuat pernyataan dulu.”
Hari berjalan pelan. Aku mencoba membaca lagi, kali ini hanya beberapa halaman. Menjelang sore, kami menerima pesan dari nomor yang tidak kukenal. Isinya singkat: “Aku harap kamu tidak membuatku melakukan sesuatu yang akan kita sesali.”
Jantungku berdegup cepat. Aku menunjukkan pesan itu kepada Leon.
“Kamu mengenali nomornya?” tanyanya.
“Tidak.”
Ia tidak langsung membalas. “Kamu mau aku simpan tangkapan layarnya?”
“Ya. Tapi jangan jawab.”
Ia melakukan sesuai permintaanku, kemudian meletakkan ponsel di meja. Tidak ada balasan, tidak ada ancaman tandingan. Hanya bukti yang disimpan dan keputusan untuk tidak terseret.
Malamnya, aku berdiri di balkon kecil. Angin membawa suara kendaraan dari jalan, cukup jauh dan tidak menusuk telinga. Leon keluar membawa selimut tipis.
“Kamu tidak harus menjagaku setiap menit,” kataku.
“Aku tahu. Aku ingin menemani, bukan berjaga.”
“Bedanya tipis.”
“Kalau kamu bilang ingin sendirian, aku masuk.”
“Untuk sekarang, tetap di sini.”
Ia menyampirkan selimut di bahuku. Aku memandang lampu-lampu kota dan mencoba memisahkan masa lalu dari malam ini. Tante bisa mengancam, tetapi ia tidak lagi menentukan jawabanku. Dan saat ketakutanku muncul, aku bisa memilih siapa yang kuajak bicara.
Sebelum masuk, aku membuka catatan lama di ponsel. Ada beberapa nomor yang kusimpan sejak masa sebelum menikah, termasuk nomor Tante. Aku tidak menghapusnya malam itu. Menghapus nomor bukan jawaban yang harus kuberikan saat sedang marah; aku ingin memilihnya dengan kepala jernih.
Leon melihat layar ponselku. “Kamu sedang memikirkan apa?”
“Apakah aku perlu memblokirnya.”
“Kamu tidak harus memutuskan sekarang.”
“Itu sebabnya aku belum melakukannya.” Aku mengunci layar. “Aku ingin keputusan ini datang dariku, bukan dari rasa takut atau marah.”
“Apa pun pilihanmu, aku akan menghormatinya.”
“Kalau begitu, malam ini aku memilih tidur.”
“Pilihan yang bagus.”
Kami masuk. Aku meletakkan ponsel dalam mode senyap dan menyimpan pesan dari nomor yang kuduga terkait Marta tanpa membacanya lagi. Untuk pertama kalinya sejak pagi, aku tidak merasa harus menyiapkan jawaban bagi semua kemungkinan. Esok belum datang; malam ini cukup untuk beristirahat.
Di kamar, aku memilih baju untuk esok dan menaruh penyumbat telinga di saku tas. Rutinitas kecil itu menenangkan. Aku tidak tahu apakah Tante akan menghubungi lagi, tetapi aku tahu siapa yang bisa kuhubungi jika merasa kewalahan. Perbedaan itu membuat ancamannya terasa sedikit lebih jauh.
***
Leon
Pagi setelah Marta pergi, Raina mengatakan denging di telinganya masih muncul sesekali. Ia tidak tampak panik, tetapi beberapa kali menghentikan gerakan tangannya dan menunggu sampai suara itu mereda. Aku duduk di meja makan, berusaha menyelesaikan surel tanpa membuat rumah terasa seperti ruang perawatan.
“Kalau masih mengganggu, kita hubungi Dokter Mahen,” kataku.
“Aku memang mau meneleponnya. Bukan karena keadaan darurat, hanya ingin memastikan apa yang perlu kuperhatikan.”
“Baik. Kamu yang jelaskan gejalanya.”
Raina menelepon klinik sendiri. Ia menerangkan bahwa telinganya sensitif sejak kecelakaan dan kemarin terpapar suara keras. Dengingnya muncul setelah Tante Marta berteriak di depan pagar, tetapi tidak disertai nyeri atau pusing. Mahen menyarankan pemeriksaan dalam waktu dekat dan memberi jadwal keesokan hari.
Setelah panggilan usai, Raina menuliskan waktu kemunculan denging dan hal-hal yang ia rasakan. “Aku ingin menyampaikan urutannya dengan jelas, supaya tidak lupa nanti.”
“Perlu kubantu mencatat?”
“Tidak, terima kasih. Aku bisa.”
Ia mencatat bahwa suara itu muncul sesudah Marta berteriak, lebih jelas saat rumah sunyi, lalu perlahan melemah. Aku memperhatikan caranya bekerja dengan teliti, tanpa menganggap catatan itu bukti bahwa keadaannya parah. Raina ingin memahami tubuhnya sendiri, dan aku tidak perlu mengubah kehati-hatian menjadi kepanikan.
“Sudah cukup?” tanyaku.
“Untuk sekarang. Kalau ada perubahan, aku tambahkan.”
“Kedengarannya seperti rencana yang masuk akal.”
“Aku juga pikir begitu.”
Aku mengangguk dan kembali ke laptop. Sebagian diriku ingin meminta staf mengatur semuanya, dari mobil sampai ruang tunggu yang tenang. Namun Raina sudah mengurus janji temu sendiri. Aku hanya perlu menawarkan bantuan, bukan mengambil alih.
“Besok aku bisa menemanimu,” kataku setelah beberapa menit.
“Aku mau kamu ikut, kalau jadwalmu memungkinkan.”
“Aku akan mengatur rapat dari rumah.”
“Tidak perlu membatalkan semua pekerjaan.”
“Cukup memindahkan satu rapat. Aku tetap bisa bekerja setelahnya.”
Ia berpikir sejenak, lalu mengangguk. “Kalau begitu, boleh.”
Kami menyepakati waktu berangkat dan kendaraan tanpa membuatnya seperti operasi besar. Raina meminta radio tetap mati selama perjalanan. Aku mencatatnya agar tidak lupa, lalu ia tertawa melihat caraku mengetik catatan di ponsel.
“Kamu menulis ‘jangan nyalakan radio’?”
“Supaya aku tidak melakukan kesalahan yang bisa dihindari.”
“Kalau begitu, tulis juga ‘jangan bertanya setiap lima menit apakah telingaku masih berdenging’.”
Aku menambahkan kalimat itu. “Sudah.”
“Bagus. Kamu lulus ujian pertama.”
“Masih ada ujian berikutnya?”
“Selalu.”
Nada ringan itu melegakan. Kami tidak membicarakan Marta sampai ponsel Raina bergetar. Sebuah pesan dari nomor yang kemarin menghubunginya muncul lagi. Kali ini hanya tertulis, “Kamu akan tahu akibatnya kalau terus menutup pintu untuk keluarga.”
Raina membacanya, lalu meletakkan ponsel dengan layar menghadap meja.
“Pesan itu dari dia?” tanyaku.
“Aku menduga begitu. Aku tidak akan membalas.”
“Kamu ingin menyimpan tangkapan layarnya?”
“Ya. Setelah itu aku mau matikan notifikasi nomor ini.”
Aku membiarkannya melakukan sendiri. Ia mengambil tangkapan layar, mengarsipkan percakapan, lalu mengaktifkan mode senyap untuk nomor tersebut. Tidak ada jawaban yang dikirim. Tidak ada percakapan yang berkembang menjadi pertengkaran baru.
“Kalau nanti dia menghubungi orang lain?” tanyaku.
“Aku akan meminta mereka tidak menjadi perantara. Sama seperti yang kubilang ke Riri.”
“Baik.”
“Dan aku tidak ingin kamu membalasnya atas namaku.”
“Aku tidak akan.”
Raina kembali membuka buku kuliahnya. Ia membaca satu halaman, lalu berhenti sejenak. Aku melihat tangannya bergerak ke arah telinga, tetapi ia tidak mengeluh.
“Dengingnya datang lagi?” tanyaku, lalu segera teringat pesannya. “Maaf. Aku tidak perlu bertanya.”
“Tidak apa-apa. Tadi cuma sebentar.” Ia tersenyum tipis. “Kamu sedang belajar, aku juga.”
Aku kembali mengerjakan surel. Suasana rumah tidak sepenuhnya pulih, tetapi kecemasan tidak lagi mengisi setiap sudut. Kami makan siang bersama. Raina memilih makanan yang tidak terlalu berbumbu, lalu mengingatkanku agar tidak membawa ponsel ke meja.
“Katanya kamu harus istirahat dari layar,” ujarnya.
“Aku tidak sedang memeriksakan telinga.”
“Bukan berarti kamu tidak boleh istirahat.”
Aku meletakkan ponsel. “Baik, Dokter Raina.”
“Biaya konsultasinya mahal.”
“Kalau begitu aku akan patuh.”
Sesudah makan, Raina beristirahat di ruang keluarga. Aku duduk di dekat jendela dengan berkas kerja, menjaga agar suara panggilan rapat tidak mengganggunya. Saat ada panggilan masuk, aku menjawab di ruang kerja dengan pintu tertutup. Tidak ada yang perlu dibesar-besarkan; cukup menyesuaikan diri.
Sore itu ia bertanya apakah aku masih marah kepada Marta.
“Aku marah karena dia menekanmu,” jawabku. “Tapi aku tidak akan bertindak tanpa membicarakannya denganmu.”
“Aku tidak ingin kamu menyimpan marah sampai akhirnya meledak.”
“Aku akan mengatakannya kalau perasaanku mulai menguasai keputusan.”
“Dan aku akan bilang kalau aku ingin kamu cukup mendengarkan, bukan menyelesaikan.”
“Sepakat.”
Ia mengusap sisi cangkirnya dengan ibu jari. “Aku tahu kamu marah karena dia mengancamku. Tapi aku tidak ingin semua orang bertindak atas nama melindungiku sampai aku kehilangan kendali lagi.”
“Aku mengerti. Aku bisa merasa marah tanpa menjadikan perasaan itu perintah.”
“Itu yang ingin kudengar.”
“Kalau aku mulai melampaui batas, katakan langsung.”
“Akan kulakukan. Dan kalau aku mulai menutup diri, kamu boleh bertanya sekali. Setelah itu beri aku waktu.”
“Sepakat,” kataku. Kali ini kesepakatan itu terasa lebih jelas karena kami menyebutkan apa yang masing-masing butuhkan.
Menjelang malam, kami menyiapkan barang untuk pemeriksaan: kartu pasien, catatan gejala, dan penyumbat telinga. Raina memeriksa semuanya sendiri, sementara aku menaruh kunci mobil di meja dekat pintu.
“Besok kita dengarkan penjelasan Dokter Mahen,” katanya.
“Lalu kita ikuti saran beliau.”
“Ya. Tidak perlu menebak-nebak dulu.”
Aku memandangnya. Ia terdengar lebih tenang, meski ancaman Marta masih mengusik. Aku tidak mengatakan bahwa semuanya pasti baik-baik saja. Aku tidak tahu itu. Yang bisa kujanjikan adalah hadir, jujur, dan menghormati pilihan Raina.
Sebelum tidur, ia memastikan alarmnya sudah dipasang. Aku tidak mengingatkannya lagi soal jadwal. Saat lampu padam, rumah kembali hening. Kali ini, kami tahu apa yang akan dilakukan jika dengingnya bertahan: pergi ke klinik, menjelaskan gejalanya, lalu mendengar penilaian dokter.