Leon
Pagi itu aku baru saja menuangkan kopi ketika bel rumah berbunyi untuk ketiga kalinya. Raina sedang menyusun buku kuliahnya di meja makan. Ia mengangkat wajah, lalu menatapku seolah bertanya apakah aku menunggu seseorang.
“Tidak,” kataku. “Kamu lanjut saja. Biar aku lihat.”
Aku berjalan ke ruang depan dan membuka layar kamera pagar. Seorang perempuan berdiri di luar, mengenakan kacamata hitam besar dan syal yang melilit leher. Aku mengenalinya dari foto lama yang pernah Raina tunjukkan: Tante Marta.
Raina muncul di belakangku. Bahunya langsung kaku.
“Dia datang,” bisiknya.
“Kamu mau aku menolak?”
Raina tidak langsung menjawab. Ia menarik napas dan meremas ujung lengan bajunya. “Aku mau tahu apa yang dia inginkan. Tapi aku tidak mau bicara dengannya sendirian.”
“Baik. Kita temui bersama. Kalau kamu ingin berhenti, bilang.”
Aku menekan tombol interkom. “Ada perlu apa, Bu Marta?”
“Leon, buka dulu. Masa keluarga sendiri disuruh bicara lewat pagar?” suaranya terdengar manis, tapi matanya mengamati kamera.
“Saya tidak mengundang Ibu. Sebutkan keperluannya.”
Ia mendecakkan lidah. “Aku ingin bicara dengan Raina.”
Raina mengangguk kepadaku. Setelah memastikan gerbang kecil terbuka dan kamera merekam, aku membiarkannya masuk ke teras, bukan ke dalam rumah. Raina memilih duduk di kursi dekat pintu. Aku tetap berdiri beberapa langkah darinya.
Marta melepas kacamatanya. “Kamu makin terkenal, ya. Wajahmu muncul di televisi. Mereka bilang kamu istri Leon yang dulu buta itu.”
“Mereka membicarakan pemulihanku,” jawab Raina. “Bukan undangan untuk Tante datang.”
Senyum Marta menipis. “Aku ini yang membesarkanmu.”
Raina menatapnya tenang. “Tante pernah menjagaku saat kecil. Itu tidak membuat Tante berhak datang kapan saja dan meminta sesuatu.”
“Aku tidak minta macam-macam.” Marta melirikku. “Aku cuma perlu bantuan. Bisnisku sedang macet. Lima puluh juta cukup untuk menutup utang.”
“Tidak,” kataku.
Marta tertawa kecil. “Aku sedang bicara dengan Raina.”
“Dan saya menjawab sebagai suaminya. Tidak ada uang yang akan diberikan.”
Raina mengangkat satu tangan, memintaku berhenti. “Aku bisa menjawab sendiri, Mas.” Ia menghadap tantenya lagi. “Jawabanku juga tidak.”
Marta mengerutkan dahi. “Kamu bahkan tidak mau mendengar alasanku?”
“Aku sudah mendengarnya. Tante perlu uang. Tapi aku tidak akan memberikannya.”
“Setelah semua yang kulakukan untukmu?”
“Tante menyerahkanku kepada Leon setelah aku mengalami kecelakaan dan tidak bisa melihat,” ujar Raina. Suaranya bergetar, namun ia tidak mengalihkan pandangan. “Aku sudah lama berhenti menagih penjelasan. Tapi aku tidak akan mengubah masa lalu itu menjadi alasan untuk terus membayar Tante.”
Marta menegang. “Jaga ucapanmu. Kalau aku bicara ke wartawan, orang-orang akan tahu cerita yang sebenarnya. Mereka akan tahu bagaimana kamu dulu.”
“Silakan bicara,” kata Raina. “Tapi jangan memutarbalikkan ceritaku. Aku tidak akan membayar agar Tante diam.”
Aku melihat jari-jarinya saling menggenggam. Aku ingin menyela, tetapi ia sudah menetapkan batasnya. Tugasku adalah berdiri di sisinya, bukan mengambil alih suaranya.
Marta berdiri mendadak. “Kamu pikir suamimu akan selalu melindungimu? Popularitasnya bisa hilang. Nanti kalau kalian bertengkar, kamu akan tahu siapa yang masih punya keluarga.”
“Aku tidak akan membahas rumah tanggaku dengan Tante.” Raina bangkit perlahan. “Pertemuan ini selesai.”
Marta memandangku, berharap aku menantangnya. Aku hanya menunjuk gerbang. “Pak Arif akan mengantar Ibu keluar. Jangan datang lagi tanpa janji.”
“Aku bisa keluar sendiri.” Ia berjalan cepat melewati kami, lalu berhenti di dekat pintu. “Kalian akan menyesal memperlakukanku begini.”
“Tante yang memilih datang untuk meminta uang dan mengancam,” kata Raina. “Aku hanya memilih untuk tidak menurut.”
Marta mengumpat, lalu melangkah keluar. Dari balik pagar ia melontarkan sumpah serapah sebelum Pak Arif mengawalnya sampai ke mobil. Kami tidak membalas. Namun suaranya yang meninggi membuat Raina menekan telapak tangan ke telinga kanan.
Raina tetap berdiri menghadap pintu beberapa saat. Aku mendekat, tapi tidak menyentuhnya sebelum ia menoleh.
“Kamu baik-baik saja?” tanyaku.
“Telingaku berdenging.” Ia menghela napas. “Tapi aku lega sudah menjawab sendiri.”
“Kamu memang berhak menjawab sendiri.”
“Terima kasih karena berhenti mengambil alih setelah aku mengingatkanmu.”
“Aku sempat melakukannya.”
“Aku tahu.” Sudut bibirnya naik sedikit. “Wajahmu tadi seperti ingin menyuruhnya pulang sejak kalimat pertama.”
“Itu karena aku memang ingin menyuruhnya pulang sejak kalimat pertama.”
Raina tertawa pendek. Suara itu membuat ketegangan di ruangan sedikit mengendur.
“Kalau dia benar-benar bicara kepada wartawan?” tanyanya.
“Kita akan menjawab berdasarkan fakta, kalau memang perlu. Tapi kita tidak akan mengejar setiap ancaman.”
“Kita?”
“Kita. Kamu tidak harus menghadapi akibatnya sendirian.”
Ia mengangguk, lalu mengambil cangkir kopiku dan memindahkannya dari tepi meja. “Kopi kamu hampir tumpah.”
“Kamu baru saja menghadapi ancaman, lalu masih sempat menyelamatkan kopi.”
“Prioritas.”
Aku tersenyum. Setelah ia duduk kembali, aku mengambil ponsel untuk menghubungi penasihat perusahaan dan meminta staf keamanan menyimpan rekaman kamera. Tidak ada alasan mengubahnya menjadi perkara besar, tetapi ancaman Marta perlu dicatat. Raina tahu apa yang kulakukan; aku menjelaskan setiap langkah sebelum mengirim pesan.
“Aku hanya meminta rekamannya disimpan,” kataku. “Tidak ada yang akan menghubungi wartawan.”
“Bagus. Jangan membuat keributan atas namaku.”
“Aku tidak akan.”
Hari itu kami tidak membicarakan Marta lagi sampai makan siang. Raina membuka jadwal kuliahnya, dan aku memeriksa berkas kerja. Di antara halaman dan angka, kehadirannya di seberang meja terasa seperti keputusan yang sederhana: kami tetap menjalani hari, tanpa membiarkan satu ancaman menentukan semuanya.
Sebelum kembali ke ruang kerja, aku bertanya apakah ia ingin aku memberi tahu Mama Farah tentang kunjungan itu. Raina menggeleng.
“Aku akan menghubunginya sendiri kalau sudah siap. Aku belum mau mendengar banyak pendapat sekaligus.”
“Aku mengerti.”
“Tapi jangan rahasiakan darinya kalau dia bertanya.”
“Aku tidak akan berbohong.”
Kejujuran sederhana itu penting setelah semua yang kami bicarakan tentang Azzam. Aku menyadari betapa mudahnya niat melindungi berubah menjadi keputusan sepihak. Kali ini aku tidak akan mengatur cerita Raina, bahkan kepada orang-orang yang menyayanginya.
Ia membuka kalender kuliah dan menandai konsultasi tugas untuk pekan depan. “Aku mau tetap menjalani jadwalku. Kalau aku membatalkan semuanya gara-gara Tante, rasanya dia masih mengendalikan hariku.”
“Kita jalani satu hari dulu,” kataku. “Kalau besok kamu merasa berbeda, kita ubah rencananya.”
“Setuju. Tapi jangan bawa mobil sampai depan kelas.”
“Aku bahkan belum menawarkan.”
“Wajahmu sudah menawarkan.”
Aku tertawa dan mengangkat kedua tangan tanda menyerah. Lalu kami kembali ke pekerjaan masing-masing, membiarkan ancaman itu menjadi sesuatu yang kami catat, bukan pusat seluruh hidup kami.