Leon
Raina pulang dengan wajah yang tampak lebih berat daripada pagi tadi. Ia meletakkan tas di ruang keluarga dan mengatakan ingin berganti pakaian sebelum bicara. Aku mengangguk. Selama ia di kamar, aku menutup laptop dan menunggu tanpa mengirim pertanyaan melalui ponsel.
Saat ia kembali, ia duduk di sofa. Aku membuatkan teh dan duduk tidak terlalu dekat.
“Kamu mau cerita?” tanyaku.
“Iya. Tapi aku mungkin perlu waktu memilih kata-kata.”
“Kita tidak perlu terburu-buru.”
Raina memegang cangkir dengan kedua tangan. “Azzam datang ke kampus beberapa hari lalu. Awalnya dia meminta maaf. Dia juga bilang masih mencintaiku.”
Nama itu membuat dadaku menegang. Aku menahan pertanyaan yang muncul bertubi-tubi.
“Dia datang lagi hari ini?”
“Iya. Dia mengembalikan buku catatan lamaku dan meminta maaf lagi.”
“Apakah dia mengganggumu?”
“Tidak. Dia menjaga jarak. Aku bicara dengannya di tempat ramai bersama Riri. Aku menyuruhnya tidak datang lagi.”
“Terima kasih sudah memberitahuku.”
Raina menatapku. “Kamu marah?”
“Aku terkejut. Aku mungkin cemburu mendengar dia masih mencintaimu, tapi aku tidak marah karena kamu bertemu dengannya.”
“Aku takut kamu mengira aku menyembunyikannya karena masih menyukainya.”
“Aku tidak mau menyimpulkan tanpa mendengar darimu.”
“Aku tidak ingin kembali kepadanya. Tapi mendengar dia bilang begitu membuatku sedih.”
“Sedih karena masih mencintainya?” tanyaku, lalu segera menyadari pertanyaanku terlalu tajam. “Maaf. Kamu tidak perlu menjawab kalau belum siap.”
Raina menggeleng. “Aku sedih karena teringat diriku yang dulu. Aku pernah sangat menunggunya. Aku juga kehilangan masa depan yang pernah kubayangkan bersamanya.”
“Aku mengerti.”
“Aku tidak tahu apakah aku sedih karena dia atau karena masa lalu itu.”
“Kamu tidak perlu langsung tahu.”
Ia menunduk. “Aku seharusnya memberitahumu sejak awal. Aku hanya takut kamu berubah.”
“Aku memang merasa tidak nyaman, tapi aku tidak ingin kamu menanggungnya sendirian. Aku juga tidak mau rasa cemburuku membuatmu takut bicara.”
“Aku tidak ingin menyembunyikan hal seperti ini lagi.”
Aku mengangguk. “Aku akan berusaha mendengar dulu sebelum bertanya lebih jauh.”
Kami diam sejenak. Aku menyadari bagian tersulit bukan mendengar Azzam masih mencintai Raina, melainkan menerima bahwa aku tidak bisa mengatur bagaimana masa lalu muncul kembali. Raina sudah membuat pilihannya sendiri. Aku harus menghormatinya.
“Aku boleh bertanya satu hal?” kataku.
“Boleh.”
“Kalau Azzam menghubungimu lagi, kamu ingin menanganinya sendiri atau bersama Riri?”
“Aku belum tahu. Tapi aku akan memberitahumu. Aku tidak ingin kamu langsung menghubunginya atau membuat keputusan untukku.”
“Aku tidak akan melakukan itu.”
“Kalau kamu merasa cemburu, bilang saja. Jangan diam sampai aku harus menebak.”
“Aku akan mencoba.”
“Aku juga akan mencoba tidak menunda cerita sampai kamu harus menebak.”
Aku mengulurkan tangan di atas meja, tetapi tidak menyentuhnya. Raina memandang tanganku, lalu meletakkan jemarinya di atas jemariku.
“Terima kasih sudah cerita,” kataku.
“Terima kasih sudah mendengarkan.”
“Apakah kamu ingin membahasnya lagi malam ini?”
“Tidak. Aku sudah lelah.”
“Baik. Kita bisa berhenti di sini.”
Ia tampak lega. Aku tidak meminta Raina mengulang rincian percakapan mereka. Ia sudah menjelaskan apa yang penting: Azzam datang, meminta maaf, mengaku masih mencintainya, dan ia menolak. Sisanya bukan sesuatu yang harus kuperiksa.
Kami makan malam setelah itu. Raina sudah menyiapkan makanan pagi itu sebelum berangkat dan meminta maaf karena hampir lupa memanaskannya. Aku mengatakan tidak apa-apa. Kami membicarakan tugas kuliahnya, lalu suasana kembali sedikit ringan.
“Riri marah karena aku tidak cerita dari awal,” katanya.
“Dia mungkin khawatir.”
“Katanya dia tidak marah karena aku punya masa lalu. Dia marah karena aku menanggungnya sendirian.”
“Itu terdengar seperti Riri peduli padamu.”
“Dia memang begitu. Tegurannya bisa panjang.”
“Aku akan berusaha tidak membuatnya perlu menegurku.”
“Kamu tidak bisa mengendalikan semua hal.”
“Aku tahu.”
Raina menceritakan bagaimana ia mematikan notifikasi percakapan lama. Ia belum tahu apakah akan menyimpan buku catatan itu. Aku tidak menyuruhnya membuang atau mempertahankannya.
“Buku itu cuma benda,” kataku. “Kamu tidak perlu membuktikan apa pun kepadaku.”
“Aku tahu. Aku ingin memutuskan sendiri.”
“Itu hakmu.”
Kami tidak menyelesaikan semua yang terasa ganjil malam itu. Namun Raina sudah menceritakan kebenaran, dan aku sudah mendengarnya tanpa meninggalkan ruangan.
“Kalau aku bertanya soal Azzam lagi, kamu boleh bilang berhenti,” kataku. “Aku tidak ingin membuatmu merasa sedang diadili.”
“Aku bisa menjawab kalau aku siap.”
“Dan kalau aku cemburu, aku akan bilang itu perasaanku, bukan menuduhmu.”
Raina mengangguk. “Aku akan berusaha tidak menunda sampai kamu harus menebak.”
Sebelum tidur, aku ingin memastikan ia tidak merasa percakapan tadi berubah menjadi tuntutan. Aku bertanya apakah ia ingin bicara lagi besok, atau menganggap pembicaraan ini selesai untuk sementara.
“Untuk sementara cukup,” katanya. “Kalau ada hal baru, aku akan cerita.”
“Aku percaya.”
“Dan kalau kamu masih cemburu besok, bilang saja.”
“Aku akan mengatakannya dengan baik.”
“Bagus.”
Aku mengangguk. Kami tidak menghapus perasaan satu sama lain, tetapi kami sepakat untuk tidak menjadikannya alasan menyakiti. Raina masuk kamar setelah mengucapkan selamat malam. Aku tetap di ruang keluarga sebentar, lalu mematikan lampu.
***
Raina
Setelah menceritakan tentang Azzam kepada Leon, aku tidur lebih nyenyak daripada malam-malam sebelumnya. Masih ada kegelisahan karena melihat wajahnya berubah saat mendengar pengakuan Azzam, tetapi setidaknya tidak ada lagi rahasia di antara kami.
Pagi berikutnya, Leon bertanya apakah aku ingin berangkat bersama Pak Arif atau diantar olehnya. Aku memilih Pak Arif karena jadwal kantor Leon lebih pagi. Ia menerima jawabanku tanpa terlihat kecewa.
“Semoga kelasmu lancar,” katanya.
“Semoga rapatmu tidak terlalu panjang.”
“Kalau terlalu panjang, aku akan menyalahkan telur dadar.”
“Telur dadar tidak bersalah.”
Kami tersenyum. Saat mobil berangkat, aku mengirim pesan kepada Riri bahwa aku sudah bicara dengan Leon. Ia membalas dengan tanda jempol dan menulis, “Akhirnya.”
Di kampus, aku mengembalikan buku catatan lama ke dalam tas. Aku masih belum membukanya. Riri melihatnya ketika kami duduk di kantin.
“Kamu sudah cerita?”
“Sudah.”
“Bagaimana reaksi Leon?”
“Dia terkejut dan cemburu sedikit, tapi dia mendengarkan.”
“Bagus. Dia tidak berhak marah kepadamu karena orang lain mengaku masih mencintaimu.”
“Aku tahu. Tapi aku paham kenapa dia merasa tidak nyaman.”
“Yang penting kalian membicarakannya.”
Aku mengangguk. “Aku juga bilang bahwa aku tidak ingin kembali kepada Azzam. Aku cuma sedih mengingat masa lalu.”
“Itu masuk akal. Perasaan tidak selalu sederhana.”
Kami membicarakan tugas kelompok sebentar. Riri lalu menatapku dengan serius.
“Ra, kalau ada hal lain yang kamu sembunyikan, katakan sebelum orang lain yang bercerita.”
“Aku tidak menyimpan apa-apa lagi.”
“Bagus. Aku bukan mau mengatur hidupmu. Aku hanya tidak ingin kamu terjebak di tengah karena takut menyakiti orang.”
“Aku tahu. Terima kasih sudah marah kepadaku.”
“Aku belum marah sepenuhnya.”
“Berapa persen?”
“Enam puluh.”
“Masih banyak.”
“Bisa berkurang kalau kamu terus jujur.”
Aku tertawa. “Aku akan berusaha.”
Kelas hari itu berjalan lancar. Saat suara di lorong mulai ramai, aku memasang penyumbat telinga dan menunggu sampai pergantian kelas selesai. Aku tidak ingin setiap ketidaknyamanan membuatku membatalkan semuanya, tetapi aku juga tidak lagi memaksakan diri untuk tampak baik-baik saja.
Sore hari, aku pulang lebih awal. Leon belum tiba, jadi aku duduk di ruang keluarga dan membuka buku catatan Azzam. Beberapa halaman berisi catatan kuliah lama, beberapa lagi daftar hal yang ingin kulakukan sebelum kecelakaan. Aku tidak menemukan pesan darinya, hanya tulisan tanganku sendiri.
Aku membaca satu halaman yang mencatat rencanaku mengunjungi panti setelah ujian. Dulu, Azzam berjanji akan ikut. Janji itu tidak pernah terjadi. Aku menutup buku. Tidak ada kemarahan besar, hanya kesadaran bahwa masa lalu memang sudah berlalu.
Ketika Leon pulang, aku menunjukkan buku itu.
“Aku sudah membacanya sedikit,” kataku. “Tidak ada hal penting. Aku akan menyimpannya atau membuangnya nanti.”
“Kamu tidak harus memutuskan sekarang.”
“Aku tahu. Aku cuma ingin menunjukkan bahwa aku tidak menyembunyikannya lagi.”
“Terima kasih.”
Aku menarik napas. “Aku juga ingin bilang, kalau Azzam menghubungi lagi, aku akan memberitahumu. Tapi aku ingin kamu mendengarkan dulu sebelum mengambil tindakan.”
“Aku setuju. Aku tidak akan menghubunginya atau melakukan apa pun tanpa membicarakannya denganmu.”
“Bagus.”
“Kamu akan melakukan hal yang sama kalau ada sesuatu yang membuatmu tidak nyaman?”
“Iya. Aku akan mencoba tidak menunggu sampai semuanya menumpuk.”
Kami duduk bersebelahan. Percakapan kami tidak membuat rasa cemburu Leon lenyap, dan aku tidak berharap demikian. Namun kami sudah sepakat untuk tidak membiarkan rasa takut memilihkan tindakan bagi kami.
Malam itu aku mengirim pesan kepada Riri bahwa semuanya sudah dibicarakan. Ia menjawab bahwa ia menurunkan kadar marahnya menjadi tiga puluh persen. Aku membalas bahwa itu masih terlalu tinggi. Ia mengirim tanda jempol, lalu mengingatkanku membawa bahan bacaan besok.
Aku meletakkan ponsel dan menatap Leon yang sedang membaca laporan. Kali ini, pikiranku tidak sibuk mencari alasan untuk menyembunyikan sesuatu. Aku belum tahu bagaimana pertemuan Azzam akan memengaruhi hari-hari berikutnya, tetapi aku tahu aku tidak akan menghadapinya sendirian.
Sebelum tidur, aku memeriksa kembali jadwal kelas dan memastikan ada waktu istirahat besok. Aku tidak perlu meminta Leon mengurusnya. Ia tahu aku bisa membuat keputusan sendiri, dan aku tahu aku boleh meminta dukungannya kapan saja.
“Selamat malam,” kataku.
“Selamat malam, Ra.”
Aku mematikan lampu dengan pikiran yang lebih ringan. Besok mungkin masih ada rasa cemburu atau sedih yang muncul, tetapi sekarang kami tidak perlu menghadapi bayangan yang sama sendirian.