Leon
Raina pulang dari kampus dengan senyum yang tidak sampai ke matanya. Ia meletakkan tas di sofa dan berkata diskusi kelompok berlangsung lama. Aku tidak langsung bertanya. Kami sudah sepakat bahwa ia boleh memilih kapan ingin bercerita.
“Kamu lelah?” tanyaku.
“Sedikit.”
“Mau makan sekarang atau nanti?”
“Nanti saja. Aku mau mandi dulu.”
“Baik. Aku menyiapkan makanan dan menyimpannya di meja.”
Raina mengangguk lalu berjalan ke kamar. Aku kembali ke ruang kerja, tetapi pikiranku tidak benar-benar tertuju pada dokumen. Aku memikirkan wajahnya, lalu mengingatkan diri bahwa rasa khawatir bukan bukti telah terjadi sesuatu yang buruk.
Saat makan malam, ia mengambil piring sendiri. Aku duduk di seberangnya.
“Bagaimana tugas kelompokmu?”
“Lumayan. Kami membagi bagian bacaan.”
“Bagianmu yang mana?”
“Kesimpulan.”
“Kamu nyaman mengerjakannya?”
“Iya. Aku akan mulai besok.”
Aku melihat ia makan lebih lambat dari biasanya. “Kamu ingin membicarakan hal lain?”
Raina berhenti sebentar. “Tidak malam ini.”
“Baik.”
Ia tampak lega mendengar jawabanku. Kami menghabiskan makan malam sambil membicarakan jadwal kuliah dan cerita Raihan yang salah mengirim pesan ke grup keluarga. Raina tertawa kecil.
“Dia mengirim foto sup asin Farah ke grup?” tanyanya.
“Katanya supaya semua orang ingat pelajaran penting: jangan memuji masakan hanya karena takut mengecewakan.”
“Pelajaran itu juga berlaku untuk telur dadarmu.”
“Aku sudah menerima kritikmu.”
“Belum tentu kamu menjalankannya.”
“Aku akan mencicipi dulu lain kali.”
“Bagus.”
Setelah makan, aku membawa piring ke dapur. Raina menyusul untuk mencuci gelas. Aku ingin menyuruhnya istirahat, tetapi menahan diri.
“Kamu ingin aku bantu?” tanyaku.
“Boleh. Tolong bilas piringnya.”
Aku melakukannya. Kami bekerja berdampingan tanpa banyak bicara. Setelah selesai, ia duduk di ruang keluarga dengan buku kuliah. Aku membuat dua cangkir teh dan meletakkan satu di dekatnya.
“Terima kasih.”
“Kamu mau cerita sekarang?”
Raina memandang halaman buku. “Aku belum tahu harus mulai dari mana.”
“Mulai dari bagian yang paling mudah, atau tidak perlu mulai malam ini.”
“Kalau aku belum cerita, kamu akan membuat dugaan sendiri?”
“Aku mungkin khawatir, tapi aku tidak mau menganggap dugaanku sebagai fakta.”
Ia mengangguk pelan. “Aku butuh waktu.”
“Kamu boleh memilikinya.”
Kami membaca dalam diam. Sesekali Raina menandai kalimat dan mengetik catatan di ponselnya. Aku membuka laptop, tetapi memastikan suaranya tidak mengganggu. Setelah beberapa waktu, ia menutup buku.
“Leon, kalau suatu hari aku mengatakan sesuatu yang membuatmu tidak nyaman, kamu akan tetap mendengarkan?”
“Aku akan berusaha. Mungkin aku perlu waktu memahami perasaanku, tapi aku tidak akan meninggalkan percakapan itu.”
“Janji?”
“Janji.”
Ia menatapku beberapa saat, lalu mengangguk. Aku tidak bertanya apa maksudnya. Ia sudah meminta waktu, dan aku harus menghormatinya.
Sebelum tidur, kami membahas jadwal kelas esok hari dan siapa yang akan mengantarnya. Raina memilih Pak Arif karena aku harus berangkat lebih awal.
“Kalau aku pulang bersama Riri, tidak apa-apa?”
“Tentu. Kabari kalau jadwal berubah.”
Ia tersenyum kecil. “Aku tahu.”
Aku mengucapkan selamat malam dan membiarkannya masuk kamar. Di ruang kerja, aku menyelesaikan satu laporan tanpa memeriksa ponsel. Aku tidak tahu apa yang ia simpan, tetapi aku tahu ia akan bicara saat siap. Kepercayaanku harus tampak dalam tindakanku, bukan hanya kata-kata.
***
Raina
Hari itu aku tiba di kampus lebih awal. Aku ingin mengembalikan buku yang kupinjam dan menyelesaikan catatan kelompok sebelum kelas dimulai. Riri menungguku di kantin dengan dua gelas teh.
“Kamu kelihatan lebih tenang dari kemarin,” katanya.
“Aku tidur lebih baik.”
“Bagus. Kalau masih kepikiran Azzam, kamu boleh bilang.”
“Aku memikirkannya, tapi tidak ingin kembali kepadanya.”
“Aku tahu. Dua hal itu bisa benar bersamaan.”
Kami duduk sebentar, lalu berjalan menuju perpustakaan. Saat keluar, aku melihat Azzam menunggu di dekat gerbang samping. Ia tidak masuk ke area kampus dan berdiri di tempat terbuka. Aku langsung mengenalinya.
Riri mengikuti arah pandangku. “Kamu mau aku ikut?”
“Iya. Aku tidak ingin bicara sendirian.”
“Kita bisa pergi saja.”
“Aku ingin memastikan batasnya jelas. Kalau aku berubah pikiran, kita langsung kembali.”
Riri mengangguk. Kami menghampiri Azzam bersama-sama. Ia tidak mencoba mendekat lebih jauh.
“Aku cuma ingin mengembalikan ini,” katanya sambil menyodorkan buku kecil.
Aku mengenali buku catatan lamaku yang dulu tertinggal di rumahnya. “Kenapa baru sekarang?”
“Aku menemukannya saat berkemas. Aku pikir kamu mungkin ingin menyimpannya.”
Aku menerima buku itu, tetapi tidak membukanya. “Terima kasih.”
“Aku juga ingin minta maaf lagi soal kemarin. Aku tidak seharusnya berkata masih mencintaimu.”
“Kalau kamu benar-benar menyesal, jangan membuatku mengulang penolakan.”
“Aku paham.”
“Pertunanganmu belum terjadi, tapi itu bukan urusanku. Kamu harus menyelesaikan masalahmu dengan keluargamu sendiri.”
“Aku tahu. Aku tidak akan meminta kamu menunggu.”
“Dan jangan datang ke kampus untuk mencari kesempatan bicara. Kalau ada barang lain, kirim lewat Riri atau titipkan ke Pak Arif.”
Riri menatap Azzam tajam, tetapi tidak menyela.
“Aku akan menghormati itu,” kata Azzam. “Aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja.”
“Aku baik-baik saja. Hidupku sekarang bukan sesuatu yang perlu kamu periksa.”
Azzam menunduk. “Kamu benar.”
“Semoga kamu juga bisa menjalani hidupmu tanpa terus menoleh ke belakang.”
“Aku akan mencoba.”
“Aku tidak mengatakan ini supaya kamu merasa bersalah. Aku cuma tidak mau kita mengulang sesuatu yang sudah selesai.”
“Aku mengerti.”
“Kalau kamu ingin bertanggung jawab, bicaralah jujur kepada keluargamu dan perempuan yang dijodohkan denganmu. Jangan biarkan siapa pun menunggu dalam ketidakjelasan seperti yang dulu kamu lakukan kepadaku.”
Ia mengangguk. “Aku akan bicara dengan mereka.”
Aku memastikan ia tidak mencoba mengikuti kami, lalu berbalik bersama Riri. Langkahku terasa goyah, tetapi aku tidak menyesal sudah bicara.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Riri.
“Aku tidak tahu. Aku lega, tapi sedih juga.”
“Sedih karena apa?”
“Azzam dulu pernah berjanji akan menemaniku mengunjungi panti setelah ujian. Dia tidak datang. Setelah itu dia mulai menjauh, lalu memutuskan hubungan.”
“Pantas kamu sedih. Kamu bukan cuma kehilangan dia, kamu juga kehilangan gambaran masa depan yang pernah kamu percaya.”
“Aku tidak ingin kembali ke gambaran itu.”
“Kamu tidak harus. Tapi kamu boleh berduka karena pernah mempercayainya.”
Aku mengangguk. Kata-kata Riri membantu menjelaskan mengapa penolakan tidak membuatku langsung lega. Aku masih berduka atas waktu dan harapan yang pernah kuberikan. Itu tidak berarti aku ingin mengulangnya.
Sebelum kelas dimulai, aku menghapus nomor Azzam dari daftar kontak favorit dan mematikan notifikasi percakapan lama. Aku belum memblokirnya, tetapi memastikan namanya tidak muncul setiap kali membuka ponsel.
“Apa itu membantu?” tanya Riri.
“Sedikit. Aku ingin melihat ke depan, bukan terus menunggu pesan darinya.”
“Bagus. Satu langkah kecil.”
“Jangan bilang aku lulus ujian.”
“Aku tidak bilang begitu. Aku bilang satu langkah kecil.”
Kami masuk kelas bersama. Aku mencoba mengikuti pelajaran dan mencatat poin penting. Ketika selesai, aku tidak lagi melirik gerbang untuk mencari Azzam. Aku pulang dengan tas penuh buku dan pikiran yang masih belum rapi.
Sore hari, aku pulang bersama Riri. Ia menurunkanku di gerbang rumah dan sebelum pergi berkata, “Aku tidak marah karena kamu punya masa lalu. Aku marah karena kamu menanggungnya sendirian.”
“Aku tahu.”
“Jangan tunggu sampai Leon mendengar dari orang lain.”
“Aku akan bicara.”
Aku masuk rumah dengan buku lama di tangan. Leon sedang bekerja di ruang keluarga. Ia mengangkat wajah saat melihatku.
“Kamu pulang.”
“Iya.”
Ia tersenyum, tetapi aku melihat ia memperhatikan wajahku. Aku belum sanggup bicara saat itu. Aku menyimpan buku di laci dan mengatakan akan menemuinya setelah berganti pakaian. Namun ucapan Riri menetap di kepalaku.