Raina
Pagi itu aku berangkat dengan perasaan cukup tenang. Tugas kelompok sudah dibagi dan jadwal konsultasi kuliahku berjalan sesuai rencana. Leon mengantarku ke kampus karena ia memang akan melewati daerah itu sebelum ke kantor.
“Kamu mau aku menunggu sampai kamu masuk gerbang?” tanyanya.
“Tidak perlu. Aku bisa jalan bersama Riri.”
“Baik. Kabari kalau jadwal pulang berubah.”
“Pasti.”
Aku turun dan melambaikan tangan. Leon menunggu sampai aku bertemu Riri, lalu mobilnya bergerak pergi. Riri melihatnya menjauh.
“Dia mulai bisa melepasmu tanpa laporan cuaca dan kondisi lalu lintas,” katanya.
“Jangan dipuji dulu. Masih tahap percobaan.”
“Kalau begitu, kita pantau.”
Kami masuk ke gedung dan mengikuti kelas. Hari itu suara kampus terasa lebih ramai karena ada kegiatan mahasiswa di halaman. Aku memakai penyumbat telinga saat berpindah gedung, lalu melepasnya ketika suasana kelas lebih tenang. Aku mulai percaya pada kemampuanku mengenali batas tubuh sendiri.
Menjelang siang, Riri harus mengurus sesuatu di bagian akademik. Aku menunggu di dekat gerbang samping, membalas pesan kelompok. Dari kejauhan terdengar seseorang memanggil namaku.
“Raina?”
Jari-jariku berhenti di atas layar. Suara itu kukenal, meski sudah lama tidak kudengar secara langsung. Aku mengangkat wajah.
Azzam berdiri beberapa meter dariku.
Untuk sesaat, seluruh suara kampus terasa menjauh. Aku hanya melihat wajahnya, ekspresi terkejutnya, dan cara matanya berpindah dari wajahku ke mataku.
“Kamu bisa melihat?” katanya. Ia menambahkan bahwa sesudah melihat berita pernikahanku, ia sempat mendengar kabar kecelakaanku dari Tante Marta.
Aku tidak menjawab. Dadaku terasa sesak. Ada begitu banyak hal yang pernah ingin kukatakan kepadanya, tetapi sekarang semuanya bercampur menjadi satu dan tidak ada yang terasa tepat.
“Raina, ini benar-benar kamu?”
Aku mundur setapak. “Azzam.”
“Aku tidak tahu kamu sudah…” Ia menggantung kalimatnya. “Kamu sudah bisa melihat lagi.”
“Iya.”
Ia menatapku seolah ingin melanjutkan, tetapi aku tidak sanggup berdiri di sana. Tanganku mulai gemetar. Aku mencoba menarik napas seperti yang diajarkan dokter.
“Maaf,” kataku singkat. “Aku harus pergi.”
“Tunggu, aku cuma—”
Aku berbalik sebelum ia menyelesaikan kalimatnya. Langkahku cepat, tetapi aku berusaha tidak berlari. Riri muncul dari arah gedung administrasi dan melihatku. Ia segera menghampiri.
“Ra, ada apa?”
Aku tidak menjawab sampai kami masuk ke lorong yang lebih sepi. Baru setelah itu aku mengeluarkan napas panjang.
“Aku melihat Azzam.”
Riri menegang. “Dia datang ke sini?”
“Dia memanggil namaku di dekat gerbang.”
“Dia bicara apa?”
“Dia terkejut karena aku bisa melihat.”
“Lalu?”
“Aku pergi.”
Riri memandang ke arah gerbang, wajahnya berubah keras. “Dia tidak seharusnya membuatmu merasa harus lari.”
“Aku memang belum siap bicara dengannya.”
“Kamu tidak wajib bicara. Tapi kamu juga tidak perlu menghadapi ini sendirian.”
“Aku tahu.” Aku menggenggam ponsel. Nama Leon ada di daftar pesan terbaru. Aku bisa menghubunginya sekarang. Ia pasti akan bertanya apa yang terjadi, lalu mungkin merasa cemas atau ingin menjemputku. Aku belum sanggup membicarakan Azzam sebelum memahami sendiri apa yang kurasakan.
“Riri, jangan bilang Leon dulu.”
Ia menatapku tajam. “Kenapa?”
“Aku hanya perlu waktu. Aku tidak ingin membuatnya cemas sebelum aku tahu apa yang harus kukatakan.”
“Itu pilihanmu, tapi jangan biarkan terlalu lama.”
“Aku janji akan memikirkannya.”
Riri jelas tidak puas. Ia masih tampak geram, tetapi tidak memaksaku menjelaskan lebih jauh. Kami kembali ke kelas setelah memastikan aku sudah tenang. Sepanjang sisa hari, aku berusaha mengikuti pelajaran, tetapi pikiranku beberapa kali kembali pada suara Azzam.
Ketika Leon mengirim pesan menanyakan apakah kelas selesai, aku membalas bahwa semuanya berjalan baik dan aku akan pulang sesuai jadwal. Aku tidak berbohong tentang kesehatanku. Aku hanya tidak menceritakan pertemuan itu.
Sore itu, sebelum masuk mobil, aku menatap gerbang kampus sekali lagi. Azzam sudah tidak ada. Aku tahu pertemuan itu tidak menghapus apa pun yang pernah terjadi di antara kami. Namun aku belum siap membuka pintu lama, bahkan hanya untuk melihat apa yang tertinggal di dalamnya.
***
Raina
Keesokan paginya, aku berangkat ke kampus dengan perasaan yang belum benar-benar tenang. Aku sudah tidur, sudah mandi, bahkan sempat sarapan bersama Leon, tetapi wajah Azzam masih muncul setiap kali pikiranku berhenti bekerja.
Leon mengantarku sampai gerbang. “Kamu yakin tidak ingin aku menunggu sampai Riri datang?”
“Aku yakin. Riri sudah mengirim pesan, katanya tinggal beberapa menit.”
“Baik. Kabari kalau rencana berubah.”
“Iya.”
Ia tidak menanyakan kenapa suaraku terdengar lebih pelan. Aku bersyukur sekaligus merasa bersalah karena masih menyimpan sesuatu darinya.
Riri tiba membawa dua gelas minuman dingin. Ia menyodorkan satu kepadaku.
“Untuk menjaga semangat kuliah.”
“Ini teh manis.”
“Semangat juga butuh gula.”
Kami berjalan ke gedung. Aku berusaha fokus pada kelas, tetapi beberapa kali melirik ke luar jendela. Saat kelas selesai, Riri harus menemui dosen untuk membicarakan tugas kelompok. Aku menunggu di selasar dekat gerbang samping, tempat yang agak teduh.
“Raina.”
Aku mengenali suara itu sebelum berbalik. Azzam berdiri di dekat pagar, tidak terlalu dekat. Ia tidak mencoba menyentuhku atau menghalangi jalan.
“Kita perlu bicara,” katanya.
“Aku tidak yakin perlu.”
“Aku tahu aku tidak berhak memaksamu. Aku hanya ingin meminta maaf.”
Aku menggenggam tali tas. “Kamu sudah meminta maaf dulu.”
“Belum dengan benar. Waktu itu aku pergi ketika kamu sedang butuh kejelasan. Aku memilih diam dan membiarkan kamu menunggu.”
“Kamu memutuskan hubungan kita di kafe. Setelah itu kamu mengirim pesan dan meminta agar itu menjadi kali terakhir kita berhubungan.”
“Aku tahu.” Ia menundukkan kepala. “Aku pengecut.”
Aku menatapnya, berusaha menemukan perasaan yang dulu pernah membuatku menganggapnya pusat hidupku. Ada sisa sedih, tetapi juga jarak yang panjang.
“Apa yang kamu inginkan sekarang?” tanyaku.
“Aku masih mencintaimu.”
Kalimat itu membuat tubuhku kaku. Aku mengalihkan pandangan, melihat mahasiswa berlalu-lalang seolah mereka bisa membantuku menahan napas.
“Aku tidak seharusnya mengatakan itu,” lanjutnya. “Aku tahu kamu sudah menikah. Tapi aku tidak mau berbohong. Pertunanganku baru sebatas rencana keluarga. Orang tuaku menjodohkanku, tetapi belum ada pernikahan.”
“Azzam, itu tidak mengubah apa pun.”
“Aku tidak memintamu meninggalkan Leon. Aku cuma ingin kamu tahu aku menyesal.”
“Kamu datang ke kampus untuk meminta maaf atau berharap aku masih menunggumu?”
Ia terdiam. “Mungkin keduanya.”
“Kalau begitu, kamu harus tahu aku tidak menunggumu lagi.”
“Aku mengerti.”
“Tidak. Kamu mungkin baru mulai mengerti. Aku pernah mencintaimu dan kamu pergi. Aku membangun hidupku setelah itu. Aku tidak bisa kembali ke masa ketika aku menunggu penjelasan darimu.”
“Aku tidak berharap semuanya langsung kembali.”
“Bagus. Karena tidak akan kembali.”
Azzam mengangguk perlahan. Ia terlihat ingin bicara lagi, tetapi aku mengangkat tangan.
“Aku menerima permintaan maafmu. Tapi aku tidak ingin kamu terus menungguku di kampus. Kalau kamu memang menyesal, hormati hidupku sekarang.”
“Aku akan menghormatinya.”
“Dan jangan menghubungiku tanpa alasan.”
“Baik.”
Azzam menggenggam tali tasnya. “Aku sebenarnya tidak tahu bagaimana harus menghadapi orang tuaku. Mereka sudah membicarakan pertunangan, tetapi aku tidak berani menolak. Aku terlalu lama menghindari keputusan.”
“Itu urusan yang harus kamu selesaikan sendiri,” kataku. “Jangan gunakan aku sebagai alasan untuk menunda.”
“Aku tidak akan.”
“Kalau kamu memang ingin bertanggung jawab, bicaralah jujur kepada keluargamu dan perempuan yang dijodohkan denganmu. Jangan biarkan siapa pun menunggu dalam ketidakjelasan seperti yang dulu kamu lakukan kepadaku.”
Ia mengangguk. “Kamu benar.”
“Aku tidak mengatakan ini supaya kamu merasa bersalah. Aku hanya tidak ingin mengulang cerita lama.”
“Aku mengerti.”
“Dan tentang aku, jawabannya tetap tidak. Aku tidak ingin memulai hubungan lagi denganmu.”
“Aku mendengar.”
Aku memastikan ia tidak mencoba mengikuti kami, lalu berjalan pergi. Langkahku tidak secepat kemarin, tetapi jantungku tetap berdebar. Riri baru keluar dari gedung saat aku sampai di ujung selasar. Ia melihat Azzam dari kejauhan, lalu memandangku.
“Dia datang lagi?”
“Iya.”
“Dia mengatakan apa?”
“Meminta maaf. Katanya masih mencintaiku.”
Riri mengatupkan rahang. “Dan kamu?”
“Aku menolaknya. Aku bilang aku tidak menunggunya lagi.”
“Bagus.”
“Jangan bilang bagus seolah aku baru lulus ujian.”
“Aku lega kamu bisa mengatakan batasmu.”
Aku menoleh ke gerbang. Azzam masih berdiri di sana, tetapi tidak mengejar. “Aku tidak tahu kenapa aku merasa sedih.”
“Karena penolakan tidak menghapus masa lalu.”
“Aku tidak ingin kembali kepadanya.”
“Aku percaya.”
“Jangan bilang Leon dulu.”
Riri menatapku lama. “Kamu harus memutuskan sendiri, tapi aku tidak suka kamu menyembunyikan hal penting dari suamimu.”
“Aku akan memikirkannya.”
Di halaman kampus, aku berhenti sejenak dan mengatur napas. Riri tidak memintaku menjelaskan lebih jauh. Kami sepakat membicarakan tugas kuliah saat aku sudah siap, bukan memaksa pikiranku kembali ke buku saat jantungku masih berdebar.
Dalam perjalanan pulang, kata-kata Azzam berputar kembali. Bukan karena aku ingin menerimanya, tetapi karena aku sedang mengucapkan selamat tinggal pada sesuatu yang dulu kukira tidak akan selesai. Aku pulang dengan keputusan yang jelas, namun hati yang lebih berat.