Raina
Hari-hari kuliah mulai membentuk pola. Aku berangkat dengan Pak Arif, bertemu Riri di kampus, mengikuti kelas yang dijadwalkan, lalu pulang sebelum terlalu lelah. Leon selalu bertanya apakah aku ingin ditemani ke gerbang, tetapi ia menerima jawabanku jika aku memilih berjalan sendiri.
Pagi itu ia bersikeras menyiapkan sarapan lagi. Kali ini telur dadarnya utuh, meskipun agak tebal di satu sisi.
“Kamu belajar dari video?” tanyaku.
“Aku mengamati kesalahanku sendiri.”
“Itu lebih sulit.”
“Dan lebih mahal. Aku menghabiskan beberapa butir telur.”
“Setidaknya kita tidak akan kekurangan sarapan.”
Kami makan bersama sebelum aku berangkat. Leon menanyakan apakah aku ingin ia menjemput setelah kelas.
“Aku ingin pulang bersama Pak Arif. Kamu ada rapat, kan?”
“Ada sampai sore. Aku hanya memastikan.”
“Kalau jadwalku berubah, aku akan menghubungimu.”
“Baik.”
Aku pergi dengan senyum kecil. Kata-kata itu mungkin sederhana, tetapi terasa berbeda dari masa ketika setiap keputusan dibuatkan untukku. Kini Leon bertanya, lalu memberi ruang untuk jawabanku.
Di kampus, aku mengikuti kelas dan mencatat materi. Saat dosen menulis di papan, aku sempat merasa pusing karena terlalu lama menatap tulisan kecil. Aku keluar sebentar, minum air, lalu kembali. Riri tidak memaksaku pulang.
“Kamu masih kuat?” tanyanya setelah kelas.
“Masih. Aku cuma perlu istirahat sebentar.”
“Kalau nanti ada kelas tambahan, kita atur ulang.”
“Aku belum mau membuat rencana terlalu jauh.”
“Bagus. Kita urus hari ini dulu.”
Sore harinya, Leon belum pulang ketika aku tiba. Aku menyelesaikan bacaan di ruang kerja kecil, lalu mendengar mobilnya datang. Ia masuk sambil melonggarkan dasi.
“Panjang harimu?” tanyaku.
“Rapatnya mundur satu jam. Tapi selesai juga.”
“Kamu sudah makan?”
“Belum.”
Aku berdiri. “Kalau begitu, aku ambilkan makanan.”
“Tidak perlu. Aku bisa sendiri.”
“Kamu selalu bilang begitu kalau aku menawarkan sesuatu.”
“Aku tidak ingin merepotkanmu.”
“Kita tinggal serumah. Mengambilkan makanan bukan pengorbanan besar.”
Aku membawa piring ke meja. Leon duduk dan makan perlahan. Aku mengambil air untuknya. Ia berterima kasih, lalu menyebut telur dadar pagi tadi berhasil membuatnya kenyang sampai sore.
“Jadi sekarang kamu ahli memasak?”
“Belum. Tapi aku bisa membuat telur yang tidak robek.”
“Pencapaian besar.”
“Jangan mengecilkan usahaku.”
Aku tertawa. “Maaf, Mas Leon.”
Kata itu keluar begitu saja. Kami berdua sama-sama terdiam. Selama ini aku memanggilnya dengan namanya. Leon meletakkan sendok, menatapku seolah takut salah memahami.
“Kamu memanggilku apa?”
“Mas Leon.” Wajahku terasa hangat. “Aku tidak tahu kenapa. Tadi terucap saja.”
“Aku suka.”
“Jangan langsung dibiasakan.”
“Aku tidak akan memaksamu mengulanginya.”
“Bagus.”
Ia kembali makan, tetapi senyum kecilnya tidak hilang. Aku duduk di seberangnya. Panggilan itu terasa lebih mesra daripada yang kuperkirakan, tetapi juga tidak membuatku merasa kehilangan kendali. Aku mengucapkannya karena ingin, bukan karena harus.
Malam itu kami membahas jadwal kelas minggu depan. Leon tidak menambahkan jadwal penjemputan tanpa bertanya. Aku mengatur dua hari bersama Riri dan satu hari sendiri. Ketika selesai, ia berkata, “Kalau kamu memanggilku Mas lagi, aku tidak keberatan.”
“Aku tahu.”
“Tidak berarti kamu harus.”
“Aku juga tahu.”
Ia mengangguk. Aku mematikan lampu ruang kerja setelah menyimpan buku. Ada banyak hal yang belum selesai dalam hidup kami, tetapi keakraban tidak harus tumbuh melalui keputusan besar. Kadang ia hadir lewat sepiring makanan, jadwal yang dihormati, dan sebuah panggilan yang kupilih sendiri.
***
Leon
Pagi itu, aku mencoba membuat sarapan baru: roti panggang, telur orak-arik, dan buah potong. Kali ini tidak ada kulit telur yang tertinggal. Raina masuk dapur dan melihat meja.
“Ini sarapan kedua?”
“Versi yang ditingkatkan.”
“Kamu memotong buahnya seragam sekali.”
“Aku mengikuti tutorial.”
“Berarti ada kemajuan.”
“Silakan dicoba.”
Raina menggigit roti. “Enak.”
“Benarkah?”
“Jangan minta penilaian seperti juri acara memasak.”
“Aku hanya ingin tahu.”
“Enak. Telurnya juga tidak terlalu asin.”
“Aku belajar takaran.”
Ia tersenyum. “Kamu tidak perlu mengubah seluruh rutinitasmu hanya karena aku kembali kuliah.”
“Aku tidak mengubahnya. Aku cuma ingin sarapan bersama.”
Aku menyadari Raina memperhatikanku saat memeriksa buah potong.
“Kamu mengikuti tutorial sampai bagian bentuk buah?” tanyanya.
“Aku ingin hasilnya terlihat rapi.”
“Rasanya tetap sama kalau potongannya tidak seragam.”
“Aku tahu, tapi aku ingin membuatnya sedikit istimewa.”
“Kalau begitu, aku menghargai usahamu. Tapi jangan bangun terlalu pagi kalau nanti kamu kelelahan.”
“Aku akan mengatur waktuku.”
Ia tertawa pelan. “Kamu benar-benar memakai kata mengatur untuk sarapan.”
“Kalau suatu hari kamu tidak sempat, tidak apa-apa.”
“Aku tahu.”
Raina duduk dan makan pelan. Kami berbincang tentang tugas kelompok dan jadwal kantor. Ia bercerita bahwa tugasnya tidak terlalu berat, tetapi beberapa bacaan memerlukan waktu. Aku mendengarkan tanpa menawarkan diri mengerjakan bagian yang bukan tanggung jawabku.
“Kelompokmu sudah menentukan pembagian?” tanyaku.
“Sudah. Aku memilih bagian yang membahas kesimpulan. Riri mengambil data.”
“Kamu nyaman dengan pilihan itu?”
“Ya. Kalau nanti kesulitan, aku bisa bertanya.”
“Bagus.”
“Jangan bilang kamu sudah mencari artikel untukku.”
“Aku belum.”
“Belum?”
“Aku tidak akan mencarinya kecuali kamu minta.”
Raina tersenyum puas. “Kamu memang sedang belajar.”
Setelah sarapan, ia menyiapkan tas. Aku mengantarnya sampai mobil dan bertanya apakah ia ingin aku menjemput nanti.
“Kalau rapatmu selesai tepat waktu, boleh. Kalau tidak, Pak Arif sudah tahu jadwal.”
“Baik. Aku akan memberi kabar.”
Ia mengangguk lalu berangkat. Di kantor, aku menyelesaikan rapat tanpa tergoda memeriksa ponsel. Menjelang siang, Devi membawakan laporan penjualan dan bertanya apakah aku ingin makan di ruang rapat.
“Aku akan makan di sini. Terima kasih.”
“Bu Raina tidak membawa bekal hari ini?”
“Dia tidak harus mengantarkan bekal setiap hari.”
Devi mengangkat kedua tangan. “Saya hanya bertanya.”
“Aku tahu.” Aku tersenyum. “Dia sedang kuliah.”
Satu jam kemudian, rapat terakhir dibatalkan. Aku mengirim pesan kepada Raina bahwa aku bisa menjemputnya jika ia masih ingin. Ia menjawab iya, tetapi meminta agar aku menunggu di gerbang utama, bukan di dalam gedung.
Saat ia masuk mobil, ia tampak lelah tapi puas.
“Bagaimana diskusinya?”
“Belum selesai. Tapi kelompokku membagi tugas dengan baik. Aku mendapat bagian yang bisa kukerjakan di rumah.”
“Kamu senang?”
“Iya. Aku merasa seperti mulai menjadi diriku lagi.”
Aku mengulurkan tangan, tetapi berhenti. Raina yang meraih tanganku lebih dulu.
“Aku juga senang melihatmu kembali ke hal-hal yang kamu sukai,” kataku.
“Terima kasih sudah mengantar-jemput tanpa menjadikannya pengawasan.”
“Aku belajar.”
“Terus belajar, Mas Leon.”
Panggilan itu membuatku tersenyum sepanjang perjalanan pulang. Aku tidak menjadikannya janji tentang masa depan. Aku hanya menyimpannya sebagai kehangatan kecil yang diberikan Raina dengan sukarela.
Sesampainya di rumah, Raina menyimpan buku dan menunjukkan kepadaku daftar tugasnya. Aku bertanya apakah ia ingin aku duduk menemaninya belajar atau lebih suka bekerja sendiri.
“Temani saja, tapi jangan ikut membaca semua catatanku.”
“Aku akan duduk di ruang sebelah.”
“Boleh. Kalau aku butuh bantuan, aku panggil.”
Aku mengambil dokumen kantor dan duduk di sofa seberang. Sesekali Raina membacakan satu kalimat dan bertanya apakah susunannya sudah jelas. Aku menjawab berdasarkan yang kupahami, lalu mengingatkan bahwa isi akademiknya sebaiknya ia pastikan dengan kelompoknya.
“Kamu tidak sedang mencoba menjadi dosen, kan?” tanyanya.
“Tidak. Aku cuma menjadi suami yang kebetulan duduk di dekatmu.”
“Bagus. Posisi itu cocok.”
Kami bekerja dalam suasana tenang. Ketika ia selesai membaca, ia menutup buku dan meregangkan bahu. Aku menawarkan teh. Kali ini ia menerimanya.
“Terima kasih.”
“Sama-sama.”
Malam itu aku menyadari sarapan sederhana tadi terasa lebih berarti karena tidak menjadi kewajiban. Raina menerimanya, mengomentari rasanya, lalu menjalani harinya sendiri. Aku bisa mendukungnya tanpa harus mengatur semua langkahnya. Sebelum tidur, ia menyebutku “Mas” lagi, dan aku membiarkan panggilan itu tetap menjadi pilihannya.