Raina
Pagi pertama kuliah kembali, aku berdiri di depan cermin lebih lama daripada biasanya. Kemeja sederhana, celana kain, dan tas berisi buku membuatku tampak seperti mahasiswi lagi. Namun perasaanku belum ikut kembali ke masa sebelum semua yang terjadi.
Leon muncul di ambang pintu setelah mengetuk.
“Kamu siap?”
“Secara pakaian, iya. Secara hati, belum tahu.”
“Kita tidak harus langsung merasa siap. Kita hanya perlu sampai di sana dan melihat bagaimana keadaan.”
“Aku punya penyumbat telinga, air minum, dan jadwal konsultasi yang sudah disetujui.”
“Berarti kamu sudah mempersiapkan banyak hal.”
“Aku juga membawa biskuit.”
“Pilihan yang tepat.”
Aku menatapnya curiga. “Jangan bilang kamu menyiapkannya.”
“Aku tidak. Riri yang menyarankan.”
“Bagus. Kalau kamu yang menyiapkan, pasti satu kotak penuh.”
Leon tersenyum. “Aku belajar dari pengalaman.”
Di meja makan, Mama Farah dan Raihan masih menginap. Mama bertanya apakah aku ingin sarapan dulu. Aku mengangguk, meski hanya makan sedikit. Leon sudah menyiapkan mobil dan memastikan Pak Arif tahu jadwal pulang-pergi. Aku mengingatkannya bahwa ia tidak perlu menungguku sepanjang hari.
“Aku ada rapat sampai siang,” katanya. “Pak Arif akan mengantar dan menjemput. Kalau jadwal berubah, kamu bisa menghubungiku.”
“Aku bisa pulang sendiri bersama Riri.”
“Aku tahu. Pak Arif hanya berjaga kalau kamu ingin dijemput.”
“Baik.”
Sebelum berangkat, Mama mendekat. “Jangan memaksakan diri, Raina. Kuliah bisa dijalani pelan-pelan.”
“Aku akan ingat, Bu.”
Raihan mengangkat ibu jari. “Semoga dosennya tidak memberi tugas pada hari pertama.”
“Kalau memberi, aku akan menyalahkanmu karena mendoakan,” kataku.
“Adil.”
Leon mengantarku sampai kampus. Riri sudah menunggu di gerbang. Ia melambaikan tangan begitu melihat mobil.
“Akhirnya, mahasiswa teladan kembali,” katanya saat aku turun.
“Jangan memanggilku teladan. Nanti orang percaya.”
“Tidak ada yang percaya tanpa bukti.”
Leon keluar dan menyapa Riri. “Tolong kabari kalau Raina merasa tidak nyaman.”
Riri mengangguk. “Saya akan menemani dia, tapi saya tidak akan memperlakukannya seperti barang pecah belah.”
“Aku tidak meminta begitu.”
“Bagus. Saya hanya memastikan.”
Aku menepuk lengan Riri. “Kamu baru bertemu, jangan langsung menguji suamiku.”
“Kalau tidak diuji, bagaimana tahu nilainya?”
Leon tertawa kecil. “Aku tidak keberatan.”
Aku melambaikan tangan ketika ia kembali ke mobil. Kami berjalan menuju gedung kuliah. Suara mahasiswa dan langkah kaki memenuhi lorong. Aku memasang penyumbat telinga sebelum suara terlalu ramai. Riri menyesuaikan langkahnya denganku tanpa menanyakan setiap beberapa detik apakah aku baik-baik saja.
Dosen pembimbing menerima kami di ruangannya. Ia memeriksa berkas dan menjelaskan mata kuliah yang bisa kuambil terlebih dahulu. Aku mendengarkan, mencatat, lalu mengajukan pertanyaan. Ada beberapa hal yang harus kukonfirmasi, tetapi semuanya terasa mungkin.
“Jangan mengambil beban penuh dulu,” kata dosen itu. “Kita susun jadwal yang realistis. Kalau kondisi kesehatanmu berubah, beri tahu kampus.”
“Saya setuju, Bu. Saya ingin kembali bertahap.”
Setelah konsultasi, aku mengikuti satu kelas pengantar. Duduk di bangku yang sama dengan mahasiswa lain membuatku gugup. Ketika dosen meminta kami memperkenalkan diri, aku memperkenalkan diri tanpa menjelaskan semua yang pernah terjadi. Cukup namaku, jurusan, dan alasan aku kembali.
Riri menunggu di luar kelas. “Bagaimana?”
“Capek, tapi tidak buruk.”
“Berarti hari pertama berhasil.”
“Berhasil melewati satu kelas.”
“Itu definisi berhasil.”
Pak Arif menjemput kami sesuai waktu yang disepakati. Leon mengirim pesan singkat menanyakan apakah aku sudah selesai. Aku membalas bahwa aku pulang bersama Riri dan akan menelepon jika perlu.
Malamnya, Leon mendengarkan ceritaku tanpa menyela. Aku bercerita tentang kelas, dosen, dan bangku yang terasa keras. Ia tidak mengubah hal kecil menjadi pujian besar.
“Besok kamu mau kembali?” tanyanya.
“Aku akan lihat jadwalku. Tapi hari ini aku senang sudah mencoba.”
“Aku juga senang kamu mencoba.”
Aku menyandarkan kepala ke bahunya. Hari pertama belum membuat semua rasa takut hilang. Namun untuk pertama kalinya, masa depanku terasa memiliki ruang yang tidak hanya diisi rumah, kecelakaan, atau kenangan Farah.
***
Leon
Raina berangkat kuliah pagi ini bersama Pak Arif, sementara aku harus ke kantor. Sebelum ia keluar, ia menunjukkan jadwal kelas yang sudah disusun dosen pembimbingnya.
“Hari ini dua kelas. Kalau telingaku mulai berdenging, aku akan keluar sebentar.”
“Baik. Jangan ragu memberi tahu Riri.”
“Aku tahu.” Ia mengangkat alis. “Kamu tidak perlu mengulang semua yang sudah kita sepakati.”
“Maaf. Aku masih belajar.”
“Kamu boleh bertanya sekali.”
“Bagaimana perasaanmu?”
“Gugup, tapi siap mencoba.”
“Terima kasih sudah menjawab.”
Ia tersenyum, kemudian pergi. Aku mencoba fokus pada rapat. Kali ini aku tidak mengirim pesan untuk memastikan ia sudah sampai. Raina berjanji akan mengabari kalau perlu, dan aku ingin membiarkan janjinya cukup.
Pagi itu rapat membahas anggaran divisi baru. Aku mendengarkan laporan Devi dan beberapa manajer, lalu mencatat keputusan yang harus dibuat. Sempat satu orang menanyakan berita tentang pernikahanku dan dampaknya pada nama perusahaan.
“Apakah kita harus mengeluarkan pernyataan tambahan?” tanyanya.
“Tidak. Pernyataan pengacara Farah sudah menjelaskan apa yang perlu diketahui. Jangan gunakan urusan pribadi saya untuk mengalihkan pembicaraan dari pekerjaan.”
“Saya hanya ingin memastikan.”
“Pastikan dengan melihat angka dan laporan. Raina bukan persoalan perusahaan.”
Devi menutup mapnya setelah rapat selesai. “Jawaban Bapak tadi jelas.”
“Apakah terdengar terlalu keras?”
“Tidak. Bapak hanya mengembalikan rapat ke topik yang seharusnya.”
Menjelang siang, Devi masuk membawa dokumen.
“Pak, Bu Raina mengirim kabar. Kelas pertamanya selesai. Katanya suasana ramai, tetapi ia memakai penyumbat telinga.”
“Apakah ia meminta sesuatu?”
“Tidak. Hanya memberi kabar.”
“Terima kasih. Jangan minta Pak Arif menunggu lebih dekat. Ikuti jadwal yang sudah disepakati.”
Devi tersenyum. “Saya tidak mengubahnya.”
Aku membalas pesan Raina, “Semoga kelas keduanya lancar. Aku di kantor kalau kamu perlu.” Ia menjawab, “Terima kasih. Aku masih baik.” Aku membaca jawabannya sekali, lalu kembali bekerja. Sulit menahan diri untuk tidak bertanya lebih banyak, tetapi aku tahu pertanyaan berulang tidak akan membuat telinganya lebih nyaman.
Sore hari, Raina pulang dengan langkah lelah. Aku sudah tiba di rumah lebih dulu dan menyambutnya di ruang keluarga.
“Bagaimana kelasnya?”
“Dosen memberi tugas bacaan.”
“Raihan kalah dalam doanya.”
“Dia harus meminta maaf.”
Raina meletakkan tas di sofa, lalu mengusap telinganya. “Tapi aku bisa mengikuti kelas sampai selesai. Tadi sempat ramai saat pergantian jam, tapi sudah membaik.”
“Apa yang kamu lakukan?”
“Aku keluar sebentar, minum, lalu kembali setelah lebih tenang.”
“Bagus.”
Ia menatapku. “Kamu tidak akan bilang aku hebat seperti anak kecil?”
“Aku akan bilang kamu mengatur dirimu dengan baik.”
“Lebih baik.”
Ia mengambil air sendiri dari meja. Aku memperhatikan, tetapi tidak berdiri untuk mengambilkan sebelum ia meminta. Raina menoleh dan tersenyum kecil.
“Kamu menahan diri?”
“Iya.”
“Terima kasih. Aku bisa melakukan beberapa hal sendiri, tapi bukan berarti aku tidak mau menerima bantuan.”
“Aku akan menunggu kamu memberi tanda.”
“Kadang kamu boleh bertanya dulu.”
“Baik. Aku sedang belajar membedakan kapan harus bertanya dan kapan harus diam.”
“Tidak harus sempurna hari ini.”
Malam itu kami makan bersama. Raina menceritakan kelasnya, sementara aku membahas rapat tanpa membawa urusan media ke meja makan. Setelah itu ia membuka buku dan membaca tugas. Aku menawarkan diri membuat sarapan esok hari.
“Kamu bisa memasak telur?” tanyanya.
“Aku bisa mengikuti resep.”
“Itu tidak menjawab pertanyaanku.”
“Aku pernah membuat telur dadar.”
“Berapa lama yang lalu?”
“Tidak penting.”
“Leon.”
“Beberapa tahun.”
“Jangan bakar dapur.”
“Aku akan berhati-hati.”
Raina tertawa, lalu kembali membaca. Aku menyiapkan resep sederhana di ponsel dan meletakkan bahan-bahan yang diperlukan di meja dapur. Ia mengingatkanku agar tidak membuatnya terlalu asin. Aku menjawab bahwa aku akan mencicipinya dulu.
“Jangan percaya diri sebelum telurnya matang,” katanya.
“Aku akan mengingat nasihat itu.”
Sebelum tidur, Raina menyimpan buku-bukunya. Ia terlihat lebih santai daripada kemarin. Aku tidak bertanya apakah ia sudah pulih sepenuhnya. Aku hanya mengucapkan selamat malam, lalu membiarkan hari panjang itu selesai tanpa menjadikannya ujian.