Raina
Sesampainya di rumah, aku membawa selendang biru ke kamar dan meletakkannya di atas kursi. Kunjungan ke makam Farah meninggalkan rasa lelah yang berbeda. Aku tidak ingin menangis lagi, tetapi juga tidak ingin mengusir kenangan itu.
Leon mengetuk pintu sebelum masuk.
“Boleh aku masuk?”
“Boleh.”
Ia duduk di kursi dekat meja. “Kamu ingin istirahat sendiri atau ditemani?”
“Temani sebentar. Tapi jangan ajak bicara dulu.”
Leon mengangguk. Ia duduk diam. Aku berbaring, memandang langit-langit. Beberapa menit berlalu sebelum aku berkata, “Tadi aku merasa seperti sedang bicara kepada Farah, tapi juga kepada diriku sendiri.”
“Apa yang kamu katakan kepadanya?”
“Aku bilang aku akan menjadi diriku sendiri. Tapi aku masih takut tidak cukup baik.”
“Cukup baik untuk siapa?”
“Untuk semua orang. Untuk kamu, Mama, Raihan. Untuk Farah.”
Leon tidak langsung menjawab. “Kamu tidak harus memenuhi ukuran siapa pun.”
“Aku tahu. Tapi aku ingin mereka menerimaku.”
“Mereka datang karena ingin mengenalmu. Itu sudah awal yang baik.”
Aku duduk dan memeluk lutut. “Mama Farah terlihat sangat sedih. Aku takut kehadiranku malah membuatnya teringat kehilangan Farah.”
“Dia pasti teringat. Tapi itu bukan berarti dia menyalahkanmu.”
“Bagaimana kamu tahu?”
“Aku tidak tahu sepenuhnya. Aku hanya tahu Mama tidak akan menyerahkan kotak itu kalau ia ingin menjauhkanmu.”
Aku mengangguk. Leon keluar sebentar untuk menyapa Mama dan Raihan. Beberapa menit kemudian aku berdiri untuk mengambil air. Saat melewati lorong, aku mendengar Mama berkata lirih kepada Leon, “Aku berharap rumah ini kembali ramai. Aku ingin melihat kalian punya keluarga kecil sendiri suatu hari nanti.”
Langkahku terhenti. Leon menjawab dengan suara rendah, tetapi aku dapat mendengarnya.
“Ma, jangan bebani Raina dengan harapan itu. Dia baru mulai menata hidupnya.”
“Aku tidak akan memaksanya. Aku hanya berharap.”
“Kalau dia ingin punya anak nanti, itu keputusan kami bersama. Bukan kewajiban untuk mengisi kehilangan Farah.”
Aku mundur sebelum mereka menyadari aku mendengar. Dadaku terasa aneh. Bukan karena Mama berharap, tetapi karena kata-kata Leon yang melindungiku dari harapan itu. Aku kembali ke kamar dan menutup pintu pelan.
Tak lama kemudian, Leon masuk.
“Kamu mendengar percakapanku dengan Mama?” tanyanya setelah melihat wajahku.
“Sedikit.”
“Aku minta maaf kalau itu membuatmu tidak nyaman.”
“Tidak. Aku justru lega kamu mengatakannya.”
“Aku tidak ingin kamu merasa harus memberi kami anak.”
“Aku belum tahu apa yang kuinginkan. Sekarang aku hanya ingin kembali kuliah dan menata kesehatan.”
“Itu cukup. Tidak perlu memutuskan apa pun sekarang.”
Aku menatapnya. “Kamu sendiri ingin punya anak?”
Leon terdiam sebentar. “Mungkin suatu hari. Tapi aku tidak menganggap itu syarat agar pernikahan kita lengkap.”
“Dan kalau aku tidak bisa?”
“Kalau hari itu tiba, kita akan menghadapinya bersama. Aku tidak akan menyalahkanmu.”
Aku menghela napas. “Terima kasih sudah bicara jujur.”
“Aku tidak ingin ada tekanan diam-diam di antara kita.”
“Harapan Mama boleh ada. Tapi jangan sampai berubah menjadi kewajiban.”
“Tidak akan.”
Aku menyandarkan kepala ke bahunya. “Aku juga takut kalau suatu saat orang-orang bertanya terus,” kataku. “Apa aku harus segera menjawab? Apa mereka akan kecewa kalau jawabanku belum ada?”
“Kalau mereka bertanya, kamu boleh menjawab bahwa itu urusan kita dan kita belum memutuskan.”
“Dan kamu tidak akan merasa aku mempermalukanmu?”
“Tidak. Aku akan berdiri bersamamu.”
Aku menatapnya untuk memastikan ia bersungguh-sungguh. Leon tidak memalingkan muka.
“Aku senang dia berharap, meski aku belum siap memikirkannya.”
“Kamu boleh merasakan keduanya.”
Kami duduk diam beberapa saat. Dari ruang keluarga terdengar Raihan tertawa menanggapi sesuatu yang dikatakan Mama. Rumah itu terasa lebih ramai, tetapi aku tidak merasa harus mengisi setiap ruang kosong. Farah tetap bagian dari cerita keluarga ini. Aku tidak perlu menghapusnya agar bisa menemukan tempatku sendiri.
***
Leon
Dua hari setelah kami berziarah, menjelang malam, Mama Farah mengajak kami makan bersama. Ia memilih ruang makan yang biasa digunakan Farah. Selama beberapa hari terakhir, Raina hanya melewati ruangan itu atau duduk di sana untuk minum teh. Makan malam ini terasa seperti langkah yang berbeda.
“Kalau kamu tidak nyaman, kita bisa makan di ruang keluarga,” kataku kepada Raina.
“Aku ingin mencoba di sini,” jawabnya. “Aku tidak mau meja ini menjadi tempat yang selalu kuhindari.”
Mama mendengar percakapan kami. “Kita bisa pindah kapan saja. Tidak ada aturan.”
“Aku tahu, Bu. Terima kasih.”
Raihan membantu Pak Arif menata piring. Ia menaruh satu sendok tambahan di tempat yang salah, lalu segera memindahkannya.
“Dulu Kak Farah selalu duduk di ujung sana,” katanya. “Aku biasanya duduk di dekat jendela.”
“Kalau begitu, duduklah di dekat jendela,” ujar Mama. “Kita tidak perlu mengubah semua kebiasaan.”
Raina memandang kursi di ujung meja. “Apa aku sebaiknya duduk di sana?”
Mama menggeleng lembut. “Duduklah di mana pun kamu nyaman. Tempat itu bukan milik siapa pun selamanya.”
Raina memilih kursi di sisi meja, sementara aku duduk di dekatnya. Mama mengambil tempat di ujung. Raihan duduk berhadapan denganku.
Makanan sederhana tersaji: sup, tumis sayur, dan ayam panggang. Tak ada yang berusaha membuatnya menjadi acara besar. Namun kami semua tahu makan malam itu penting.
“Raina, bagaimana urusan kampusmu?” tanya Mama.
“Sudah mengajukan pengaktifan status. Minggu ini aku akan konsultasi untuk menyusun jadwal.”
“Bagus. Jangan memaksakan diri kalau belum kuat.”
“Aku akan mencoba bertahap.”
“Kalau kamu butuh bantuan, bilang saja.”
“Terima kasih, Bu.”
Raihan mengangkat gelas. “Untuk langkah pertama Raina kembali kuliah.”
“Jangan membuat acara penghargaan,” kata Raina, tersenyum malu.
“Tidak ada piala,” jawab Raihan. “Paling-paling Mama akan memberi tambahan lauk.”
Mama mengambilkan ayam ke piring Raina. “Itu bentuk dukungan yang paling mudah kulakukan.”
Raina tertawa kecil. Suasana perlahan mencair. Raihan bercerita tentang Farah yang pernah mencoba membuat sup lalu lupa menambahkan garam. Mama mengoreksi bahwa Farah justru menambahkan garam dua kali. Raina mendengarkan dengan penuh perhatian.
“Dia pernah memasak untukku juga,” kataku. “Rasanya waktu itu terlalu asin.”
“Kenapa kamu tidak bilang?” tanya Raina.
“Aku bilang enak.”
“Itu bukan jawaban jujur.”
“Dia baru belajar.”
“Lalu siapa yang menghabiskan supnya?”
“Aku.”
Raihan tertawa. “Kak Farah bilang begitu juga.”
Mama menatapku dengan senyum tipis. “Dia tahu waktu itu kamu ingin menyenangkan hatinya.”
“Aku tidak selalu begitu.”
Raina menyenggol lenganku pelan. “Kamu pernah bilang sup terlalu asin itu enak?”
“Aku tidak mau membuatnya kecewa.”
“Lalu dia belajar dari mana kalau perlu mengurangi garam?”
“Dia menyadari sendiri.”
“Setelah semua orang minum air satu teko?” tanya Raihan.
Kami tertawa bersama. Suara tawa itu tidak menghapus kesedihan, tetapi memberi ruang bagi hal lain untuk hadir di meja yang sama.
Setelah makan, Mama meminta Raina tinggal sebentar. Aku mulai hendak ikut, tetapi Raina menggeleng.
“Aku ingin bicara dengan Ibu berdua saja. Tidak lama.”
“Baik. Aku di ruang keluarga.”
Aku berjalan pergi bersama Raihan. Dari ruang keluarga, ia menuangkan teh.
“Raina terlihat nyaman dengan Mama,” katanya.
“Kurasa mereka sedang berusaha saling mengenal.”
“Bagus. Kak Farah pasti senang melihat kami bisa duduk bersama.”
Aku diam sejenak. “Aku berharap Raina tidak merasa harus menggantikan posisi Farah.”
“Dia tidak akan. Mama juga tahu itu.”
“Kadang orang berharap sesuatu tanpa sadar bebannya jatuh pada orang lain.”
Raihan mengangguk. “Kamu sudah bicara dengan Mama?”
“Sudah. Aku bilang keputusan soal masa depan kami milik Raina dan aku.”
“Bagus. Jangan biarkan rasa sayang berubah jadi tuntutan.”
Ketika Raina bergabung kembali, wajahnya tampak lebih tenang. Mama mengantarnya sampai lorong dan menggenggam tangannya.
“Terima kasih sudah menerima kotak itu,” kata Mama.
“Terima kasih sudah mempercayakannya kepadaku.”
Sebelum tidur, Raina mengirim pesan singkat kepada Riri tentang kunjungan Mama dan Raihan. Riri menjawab bahwa ia senang Raina mendapat kesempatan mengenal keluarga Farah, lalu mengingatkannya agar tetap memberi waktu kepada dirinya sendiri.
“Aku sudah belajar bilang kalau butuh jeda,” kata Raina setelah meletakkan ponsel.
“Aku tahu,” jawabku. “Dan aku akan mendengarkan.”
Malam itu, kami pulang ke kamar tanpa membawa janji besar. Raina meletakkan foto Farah di meja samping ranjang dan melipat selendang biru dengan rapi.
“Bagaimana makan malam tadi?” tanyaku.
“Awalnya aku takut duduk di meja yang biasa dipakai Farah.”
“Lalu?”
“Lalu aku sadar meja itu cukup besar untuk semua kenangan dan orang yang masih hidup.”
Aku tersenyum. Raina mematikan lampu kecil. Hari itu berakhir dengan kesedihan yang tetap ada, tetapi tidak lagi membuat kami menjauh satu sama lain.