Raina
Keesokan paginya, kotak kayu itu menunggu di meja ruang keluarga sesudah kami selesai sarapan bersama Mama Farah dan Raihan. Leon berdiri beberapa langkah darinya, tidak mendekat.
“Kamu mau membukanya?” tanyanya.
“Aku belum tahu.”
“Kita bisa menunggu.”
“Aku takut kalau menunggu, aku malah semakin takut.”
Leon mengangguk. “Kamu yang menentukan.”
Aku duduk di sofa. Raihan keluar dari lorong dan membawa segelas air. Ia meletakkannya di meja, lalu bertanya, “Kalian tidak keberatan kalau aku duduk sebentar?”
“Silakan,” jawabku.
Ia duduk di kursi seberang. “Mama bilang kotak itu berisi beberapa barang pribadi Kak Farah. Ada buku, selendang, foto, dan surat-surat yang memang ia simpan untuk keluarga.”
“Apakah ada yang tidak boleh kubaca?”
“Tidak ada larangan. Tapi kalau kamu menemukan sesuatu yang terasa terlalu pribadi, kamu tidak perlu membacanya.”
Aku menatap kotak itu. “Aku belum pernah melihat barang-barang Farah sejak dia meninggal.”
“Waktu itu kamu sedang menjalani banyak hal,” ujar Leon. “Tidak ada yang ingin memaksamu.”
“Aku tahu. Tapi rasanya tetap seperti terlambat.”
“Rasa terlambat itu tidak berarti kamu salah,” kata Raihan. “Kak Farah sendiri yang meminta Mama menyimpan beberapa barang ini. Ia tahu mungkin kamu belum siap saat itu.”
Aku mengusap tutup kotak. “Apa dia pernah menyebut aku kepadamu?”
Raihan tersenyum tipis. “Pernah. Ia bilang kamu keras kepala kalau sudah punya keputusan.”
Aku menoleh kepada Leon. “Kamu juga sering bilang begitu.”
“Berarti kami punya kesimpulan yang sama,” sahut Leon.
“Dan dia bilang aku suka menolong orang meski sedang kesusahan sendiri,” lanjut Raihan. “Aku pikir dia sedang membicarakan seseorang yang sangat berbeda dariku. Setelah melihatmu, aku mengerti.”
Aku menunduk. Aku tidak tahu harus menjawab apa. Pujian dari orang yang kehilangan Farah membuatku merasa seperti sedang menerima sesuatu yang bukan hakku.
Raihan menyadari perubahan wajahku. “Aku tidak mengatakan itu supaya kamu merasa wajib membalas kebaikan Kak Farah. Aku hanya ingin kamu tahu ia mengingatmu dengan sayang.”
“Terima kasih.”
Aku membuka kait kecil di depan kotak. Tutupnya terangkat perlahan. Di dalamnya ada selendang biru muda yang terlipat rapi, beberapa foto, buku catatan bersampul krem, dan amplop berisi surat. Aroma lembut yang tersisa dari kain itu membuat dadaku terasa sesak.
“Selendang itu sering dipakai Kak Farah,” kata Raihan. “Dia membelinya waktu kami masih tinggal bersama.”
Aku mengangkatnya hati-hati. “Boleh aku menyimpannya?”
“Tentu. Itu salah satu barang yang Mama ingin berikan kepadamu.”
Aku menyentuhkan kain ke pipi. Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan.
Leon tidak memelukku langsung. Ia bertanya pelan, “Kamu mau aku duduk di dekatmu?”
“Iya.”
Ia duduk di sisi sofa, tetap memberi ruang. Aku bersandar sebentar pada bahunya. Raihan memalingkan wajah, memberi kami waktu.
Di bawah selendang ada foto Farah bersama Mama dan Raihan. Mereka tersenyum di taman. Aku pernah melihat foto Farah di koridor, tetapi foto ini terasa berbeda karena memperlihatkan keluarga yang dulu menjadi rumahnya.
“Dia kelihatan bahagia,” kataku.
“Dia bahagia hari itu,” jawab Raihan. “Tapi hidupnya tidak selalu mudah.”
“Aku berharap aku sempat bertemu dengannya lebih lama.”
“Dia juga berharap begitu.” Raihan menarik napas. “Saat sakitnya memburuk, ia sering menanyakan pemulihanmu dan apa yang masih bisa diupayakan untuk penglihatanmu. Mama pernah bilang ia terus mengkhawatirkanmu.”
Aku menatap buku catatan krem, tetapi tidak membukanya. “Aku belum siap membaca ini.”
“Tidak apa-apa,” ujar Leon. “Kamu bisa menyimpannya.”
“Bukan karena aku tidak ingin tahu. Aku hanya takut menemukan sesuatu yang membuatku merasa harus melakukan lebih banyak.”
Raihan berkata, “Kak Farah tidak pernah meminta kamu membayar apa pun. Kalau ada pesan di dalamnya, bacalah saat kamu merasa siap. Jangan membacanya sebagai utang.”
Aku mengangguk. Kami lalu mengembalikan barang-barang itu ke kotak, kecuali selendang dan satu foto yang ingin kusimpan di meja samping tempat tidur.
Mama datang menghampiri kami. Ia melihat kotak yang telah dibuka, lalu duduk di sebelahku.
“Bagaimana rasanya?”
“Sedih, tapi juga hangat.”
“Itu juga yang kurasakan setiap membuka barang-barangnya.” Mama menyentuh bahuku. “Kamu boleh menyimpan apa pun yang kamu mau.”
“Aku ingin menyimpan selendang dan foto ini. Sisanya akan kujaga di kotak.”
Mama tersenyum. “Farah pasti senang.”
Aku tidak menjawab. Aku hanya menggenggam kain biru itu, mencoba menerima bahwa menyayangi kenangan Farah tidak berarti aku harus hidup di dalam bayangannya.
***
Leon
Pagi berikutnya, Mama Farah bertanya apakah kami bisa mengunjungi makam Farah. Raina langsung mengangguk, meski aku melihat ia menarik napas panjang sebelum menjawab.
“Kamu yakin?” tanyaku saat kami bersiap.
“Aku ingin pergi. Aku cuma takut menangis.”
“Menangis tidak apa-apa.”
“Kalau aku tidak bisa berhenti?”
“Kita akan duduk selama yang kamu perlukan.”
Raihan datang membawa bunga sederhana. Mama menyiapkan botol air dan tisu. Tidak ada yang membicarakan perjalanan seolah-olah itu tugas yang harus diselesaikan. Kami berangkat ketika matahari belum terlalu terik. Pak Arif mengemudi dengan tenang, sementara Raina duduk di sampingku.
Di sepanjang jalan, Raina menggenggam selendang biru Farah yang ia bawa. Ia tidak menggunakannya, hanya memegang kain itu di pangkuan.
“Farah suka warna biru?” tanyanya kepada Mama.
“Dia suka banyak warna, tapi biru membuatnya merasa tenang.”
“Mama yang memilihkan warna itu untuknya,” ujar Mama. “Farah kemudian sering memakainya karena merasa nyaman.”
Raina mengusap kain di pangkuan. “Aku senang Ibu menceritakan asalnya.”
“Dia senang kalau barangnya dirawat dan digunakan,” jawab Mama.
Raina tersenyum kecil, lalu kembali menatap jendela. Aku tidak menambahkan cerita. Ia pantas mengingat Farah dengan caranya sendiri, tanpa setiap kenangan harus menjadi pembuktian bahwa mereka pernah dekat.
Setibanya di pemakaman, Raihan memimpin kami ke makam Farah. Mama meletakkan bunga dengan hati-hati. Kami membaca doa bersama. Raina berdiri paling dekat denganku, namun tidak meminta untuk digandeng. Aku membiarkan ia menentukan jaraknya.
Setelah doa selesai, Mama duduk di bangku kecil di dekat makam. Raihan berdiri di sisinya. Raina berjongkok perlahan, membersihkan daun kering yang menempel di batu nisan.
“Assalamu’alaikum, Farah,” bisiknya. “Aku datang bersama Leon, Ibu, dan Raihan.”
Aku menunduk. Suaranya bergetar.
“Aku belum tahu bagaimana cara menjalani semua ini. Kadang aku merasa bahagia, lalu merasa bersalah karena bisa bahagia setelah kamu pergi.”
Mama mengusap matanya. Raihan meletakkan tangan di bahunya.
“Raina,” kataku pelan, “kamu tidak perlu meminta izin untuk merasa bahagia.”
“Aku tahu. Tapi perasaan tidak selalu mengikuti apa yang kita tahu.”
“Aku mengerti.”
Raina menatap nisan lagi. “Aku akan berusaha menjadi diriku sendiri. Aku tidak akan menggantikanmu. Tapi aku juga tidak akan melupakan kebaikanmu.”
Aku menahan napas. Kata-katanya sederhana, tetapi bagiku terasa seperti janji yang tidak pernah diminta Farah secara paksa. Raina memilihnya sendiri.
Mama duduk di dekat Raina. “Farah ingin kamu bahagia. Bukan bahagia karena merasa berutang, tapi karena kamu pantas mendapatkannya.”
“Aku akan mencoba percaya itu, Bu.”
Mama menggenggam tangannya. “Tidak harus hari ini.”
Kami menghabiskan waktu cukup lama di sana. Raihan bercerita tentang Farah saat kecil, bagaimana ia selalu memaksa adiknya memakai jas hujan meski hujan hanya gerimis. Raina tertawa kecil mendengarnya.
“Dia juga cerewet soal payung?” tanyanya.
“Lebih cerewet,” jawab Raihan. “Kalau aku lupa membawa payung, dia menyuruhku berteduh di warung sampai dijemput.”
“Farah memang suka memastikan semua orang aman,” kataku.
Raina menoleh kepadaku. “Kalian sama-sama punya kebiasaan itu.”
“Bedanya, aku masih belajar tidak berlebihan.”
“Jangan belajar dari cara Farah menjaga orang. Belajarlah dari cara dia tetap menghormati pilihan mereka.”
Aku mengangguk. “Kamu benar.”
Raina mengeluarkan tisu dari tas, tetapi hanya menepuk sudut matanya. “Aku kira akan lebih sulit berdiri di sini.”
“Apakah sekarang lebih mudah?” tanyaku.
“Tidak mudah. Tapi aku tidak merasa sendirian.”
Mama mengangguk. “Kamu tidak sendirian.”
Raihan lalu menceritakan bahwa Farah pernah mengajaknya ke makam saat ia sedang marah kepada keluarga. Farah tidak memaksanya bercerita, hanya duduk bersamanya sampai ia siap pulang.
“Dia sering tahu kapan harus diam,” katanya.
Raina memandang makam. “Aku ingin belajar seperti itu.”
“Kamu sudah melakukannya hari ini,” ujarku.
“Aku masih banyak bicara.”
“Kamu juga tahu kapan memberi ruang.”
Raina tidak membantah. Ia kembali menunduk membaca doa singkat, lalu mengusap debu dari batu nisan dengan tisu basah yang dibawa Mama. Kami menunggu sampai ia selesai tanpa menyuruhnya cepat-cepat.
Sebelum pulang, Mama membaca doa sekali lagi. Raina menaburkan bunga terakhir, lalu berdiri perlahan. Ia tidak menangis sekeras yang ia takutkan, tetapi matanya merah. Aku mengulurkan tangan.
“Boleh?” tanyaku.
Ia mengangguk. Aku menggenggam tangannya, tidak menariknya pergi sampai ia siap. Kami berjalan bersama menuju mobil. Di jalan pulang, suasana hening, tetapi bukan hening yang canggung. Raina bersandar dan memejamkan mata. Mama dan Raihan duduk bersama kami selama perjalanan. Tak ada seorang pun yang meminta Raina segera tersenyum.