Raina
Di loket administrasi, petugas memeriksa formulirku lalu menjelaskan bahwa status kuliahku masih bisa diaktifkan. Aku perlu bertemu dosen pembimbing untuk menyusun ulang jadwal dan memastikan mata kuliah yang tertunda.
“Jadi aku belum terlambat?” tanyaku.
“Belum. Tapi sebaiknya konsultasi dilakukan pekan ini. Setelah itu bagian akademik bisa memproses jadwal.”
Aku mengangguk. “Apa saya perlu membawa surat keterangan dokter?”
“Kalau ada, silakan disertakan. Untuk tahap awal, formulir ini cukup.”
Riri menunggu di kursi dekat dinding. Saat aku kembali, ia bertanya, “Selesai?”
“Belum semuanya. Aku harus membuat jadwal konsultasi dan menyiapkan surat dokter.”
“Bagus. Berarti kita punya daftar jelas.”
“Daftar yang membuatku sadar aku punya banyak pekerjaan.”
“Lebih baik banyak pekerjaan kecil daripada satu masalah besar yang tidak jelas.”
Kami mencari meja kosong untuk mengisi permohonan konsultasi. Suasana koridor padat. Seseorang berbicara keras di dekat pintu, sementara pengeras suara mengumumkan perubahan ruang kuliah. Dengung di telingaku kembali muncul. Aku berhenti menulis dan memejamkan mata beberapa detik.
Riri segera mendekat. “Ra?”
“Aku dengar dengung lagi. Tidak terlalu kuat.”
“Kita keluar sebentar.”
“Aku mau menyelesaikan satu baris ini dulu.”
“Baris itu tidak akan kabur.”
Aku menatapnya. “Aku tahu.”
“Kalau tahu, ayo.” Riri mengambil formulir dan membantuku berdiri.
Kami keluar ke halaman yang lebih tenang. Aku duduk di bangku dekat pohon, melepas penyumbat telinga sebentar untuk memastikan tidak ada rasa sakit, lalu memasangnya kembali. Dengung perlahan mereda.
“Kamu mau menghubungi Leon?” tanya Riri.
“Belum. Aku tidak ingin membuatnya cemas sebelum tahu apakah ini serius.”
“Dia pasti tetap cemas.”
“Kalau begitu, aku akan memberi tahu dengan jujur, bukan menyembunyikannya.” Aku mengeluarkan ponsel dan menulis bahwa telingaku sempat berdenging, tetapi sudah membaik setelah istirahat. Leon membalas cepat, menanyakan apakah aku ingin pulang. Aku menjawab aku ingin menyelesaikan konsultasi dulu, selama kondisiku tetap baik.
“Dia menerima?” tanya Riri.
“Iya. Katanya ia percaya padaku.”
“Bagus. Jangan lupa percaya juga pada tubuhmu.”
Aku mengangguk. Setelah beberapa menit, kami kembali ke gedung dan menyelesaikan permohonan. Petugas memberi tahu jadwal yang tersedia. Aku mencatatnya dengan hati-hati.
Saat keluar, aku melihat mobil Leon terparkir agak jauh dari gerbang. Pak Arif berdiri di sampingnya. Leon duduk di dalam, tetapi kaca jendela turun sedikit. Aku langsung mengenalinya.
Aku menghampiri mobil. Riri berjalan di sampingku dengan senyum yang seolah berkata, akhirnya ketahuan juga.
Leon keluar begitu melihatku. “Kamu sudah selesai?”
“Sudah untuk hari ini. Kenapa kamu di sini?”
Ia menatapku, jelas sedang menyusun jawaban. “Aku khawatir suara kampus akan membuat telingamu terganggu. Aku tidak mau masuk dan mengganggu urusanmu. Jadi aku menunggu di mobil.”
“Sejak kapan?”
“Tidak lama.”
Pak Arif berdeham pelan. “Sejak sebelum tengah hari, Nona.”
Leon meliriknya. Riri menahan tawa.
Aku menyilangkan tangan. “Kamu bilang tidak akan muncul tanpa memberi tahu.”
“Aku memang tidak muncul di hadapanmu.”
“Itu bukan inti janjinya.”
Leon menunduk sebentar. “Kamu benar. Aku seharusnya memberi tahu. Aku takut membuatmu merasa diawasi, jadi kupikir menunggu diam-diam lebih baik.”
“Justru karena diam-diam, aku merasa kamu tidak percaya padaku.”
“Aku percaya padamu. Aku belum pandai mengelola rasa khawatirku.”
Aku menghela napas. “Telingaku sempat berdenging, tapi sudah membaik setelah kami keluar sebentar. Aku dan Riri bisa mengurusnya. Kalau aku membutuhkanmu, aku akan menelepon.”
“Aku tahu.”
“Jadi lain kali, jangan menunggu diam-diam. Tanyakan saja apakah aku ingin ditemani.”
“Aku akan melakukannya.”
Riri menepuk bahuku. “Aku sudah bilang dia akan cemas.”
“Dan aku sudah bilang aku bisa mengurus diriku.”
“Kalian berdua benar,” kata Leon. “Aku yang harus belajar.”
“Setidaknya kamu mengakui.” Aku menatap mobil. “Kamu masih ada rapat?”
“Sudah selesai.”
“Kalau begitu, kita pulang bersama. Tapi bukan karena aku tidak sanggup pulang sendiri.”
“Aku mengerti. Kita pulang bersama karena kamu memilih begitu.”
Aku mengangguk. Kami berjalan menuju mobil yang dikemudikan Pak Arif. Kami akan mengantar Riri pulang lebih dahulu, kemudian melanjutkan ke rumah. Sebelum naik mobil, ia berbisik, “Jangan biarkan dia jadi satpam kampus.”
“Aku dengar,” kata Leon.
“Bagus. Berarti pesannya sampai.”
Di perjalanan pulang, Leon tidak menanyakan setiap detail. Ia menunggu sampai aku sendiri bercerita tentang formulir, jadwal konsultasi, dan dengung singkat di telinga. Aku melihatnya berusaha menahan pertanyaan yang mungkin sudah berbaris di kepalanya.
“Aku senang kamu tidak masuk ke kampus,” kataku.
“Aku juga senang kamu mengurus semuanya.”
“Jangan mengubahnya jadi pujian berlebihan.”
“Aku hanya mengatakan yang sebenarnya.”
Aku bersandar di kursi. Untuk hari ini, langkah kecilku cukup. Kampus masih ramai, telingaku masih perlu dijaga, dan urusan kuliah belum selesai. Tetapi aku tidak lagi merasa harus memilih antara mandiri dan menerima perhatian. Aku bisa melakukan keduanya, selama kami saling bicara dengan jujur.
***
Leon
Pagi itu, Raina sedang menempel jadwal konsultasi kuliahnya di dekat meja belajar ketika Pak Arif mengabarkan ada tamu di depan. Ia menyebut nama Mama Farah dan Raihan. Tanganku yang sedang memegang cangkir berhenti.
“Mereka datang?” tanya Raina.
“Ya. Mereka baru tiba,” jawabku. “Kamu ingin bertemu sekarang atau perlu waktu?”
Raina menatap jadwal yang baru ditempel, lalu mengalihkan pandangan kepadaku. “Aku takut mereka tidak suka melihatku.”
“Aku tidak bisa menjanjikan apa yang mereka rasakan, tapi aku akan berada di sampingmu. Kamu boleh berhenti kapan saja.”
“Apa Mama Farah tahu video itu sudah dirilis?”
“Tahu. Pengacara yang menghubungi Devi sebelumnya juga sudah berbicara dengan beliau.”
Raina meremas ujung lengan bajunya. “Kalau aku tidak tahu harus berkata apa?”
“Kita bisa mulai dengan salam.”
“Itu saja?”
“Kadang itu sudah cukup.”
Raina menghela napas. “Baik. Aku mau menemui mereka. Tapi jangan menjawab semua pertanyaan untukku.”
“Aku akan menunggu kamu bicara.”
Kami berjalan ke ruang tamu. Mama Farah berdiri saat melihat kami, sementara Raihan, adik Farah, menoleh dari sofa. Wajah Mama tampak lelah. Ia mengenakan kerudung abu-abu dan menggenggam tasnya erat. Raihan memandang Raina dengan mata yang sulit kutafsirkan.
“Assalamu’alaikum,” ujar Raina pelan.
“Wa’alaikumsalam,” jawab Mama.
Raina menunduk hormat. “Saya Raina.”
Mama tidak langsung mendekat. Ia memandang Raina cukup lama, seolah wajah itu menyimpan banyak hal yang pernah ia dengar, tetapi belum pernah ia lihat sendiri.
“Aku tahu,” katanya akhirnya. “Farah sering bercerita tentangmu.”
Raina tampak terkejut. “Farah pernah bercerita?”
“Sejak kamu dirawat setelah kecelakaan. Ia mengenal kisahmu dari Leon, lalu bercerita lagi setelah kamu tinggal bersama mereka.” Mama menarik napas. “Aku minta maaf karena baru datang sekarang.”
Raina menggeleng. “Ibu tidak perlu minta maaf. Saya juga belum tahu bagaimana harus bertemu Ibu.”
Raihan berdiri. “Kak Raina?” Ia berhenti, lalu mengoreksi dirinya. “Maksudku, Raina.”
Raina tersenyum gugup. “Panggil Raina saja.”
Raihan mendekat dan memeluknya dengan hati-hati, memberi ruang untuk mundur. Raina kaku sesaat, kemudian membalas pelukan itu. Aku melihat bahunya mengendur sedikit.
“Aku minta maaf baru bisa bertemu,” ujar Raihan. “Setelah Kak Farah meninggal, rumah rasanya penuh urusan dan semua orang seperti berjalan tanpa tahu harus ke mana.”
“Aku mengerti,” kata Raina. “Aku juga masih sering tidak tahu harus bagaimana.”
Mama duduk kembali. Kami ikut duduk. Pak Arif membawakan teh, lalu meninggalkan ruang tamu. Percakapan awal berjalan pelan. Mama bertanya tentang kesehatan Raina dan kabar telinganya. Raina menjelaskan bahwa ia sedang mengurus kuliah, tetapi belum mulai mengikuti kelas.
“Kamu berencana kembali kuliah?” tanya Mama.
“Insyaallah. Saya baru mengurus berkas. Saya ingin mencoba bertahap.”
“Itu bagus. Farah selalu senang kalau orang punya sesuatu yang ingin diperjuangkan.”
Raina memandang tangannya. “Saya berharap bisa menjadi seperti yang Farah inginkan.”
Mama segera menggeleng. “Kamu tidak perlu menjadi siapa pun yang Farah inginkan. Farah menyayangimu sebagai dirimu sendiri.”
Kalimat itu membuat Raina terdiam. Aku tak menyela. Ia perlu mendengar kata-kata itu langsung dari keluarga Farah, bukan dariku saja.
Mama membuka tas dan mengeluarkan sebuah kotak kayu berukuran sedang. Kotak itu memiliki ukiran bunga kecil di bagian tutupnya. Ia meletakkannya di meja, tetapi tidak mendorongnya ke arah Raina.
“Ini barang-barang Farah,” katanya. “Aku menyimpannya setelah ia pergi. Ada beberapa benda yang menurutku sebaiknya kamu terima. Namun kamu tidak harus membukanya sekarang.”
Raina memandang kotak itu lama. “Bolehkah saya melihatnya?”
“Tentu.”
Ia menyentuh ukiran pada tutupnya dengan ujung jari, lalu menarik tangan. Matanya mulai berkaca-kaca.
“Kalau belum siap, kita bisa membawanya ke kamar,” kataku.
Raina menggeleng kecil. “Aku siap membawanya. Membuka isinya mungkin nanti.”
Mama mengangguk. Raihan membantu mengangkat kotak itu, tetapi Raina meminta agar ia yang memegang satu sisinya. Mereka membawanya bersama-sama ke ruang keluarga. Gerakan sederhana itu membuat kami semua diam, seolah kotak tersebut lebih berat daripada ukurannya.
Raina kemudian bertanya apakah Mama ingin minum teh lagi. Mama menolak, tetapi mengucapkan terima kasih. Hal-hal kecil seperti itu membuat pertemuan terasa lebih nyata bagiku. Mereka tidak perlu membicarakan duka sepanjang waktu agar tetap mengingat Farah.
“Kalau ada hal tentang Farah yang ingin kamu tanyakan, kamu boleh bertanya kapan saja,” ujar Mama.
“Aku akan mengingatnya. Tapi aku tidak mau Ibu merasa harus menjawab semuanya hari ini.”
“Terima kasih sudah memikirkan perasaanku.”
“Aku tahu rasanya ditanya saat belum siap menjawab.”
Mama menggenggam tangannya lebih erat. “Kamu benar. Kita belajar pelan-pelan.”
Sebelum pamit untuk beristirahat, Mama menggenggam tangan Raina. “Kita tidak perlu terburu-buru menjadi dekat. Aku hanya ingin mengenalmu.”
“Aku juga ingin mengenal Ibu,” jawab Raina.
Aku mengantar Mama dan Raihan menuju kamar tamu yang telah disiapkan. Di lorong, Mama menahanku sebentar.
“Leon, jagalah Raina baik-baik,” katanya lirih.
“Aku akan berusaha.”
“Jangan hanya karena pesan Farah.”
Aku menatapnya. Mama tidak menunggu jawabanku. Ia berjalan menyusul Raihan, meninggalkan kalimat yang terasa seperti pengingat dan pertanyaan sekaligus.