Raina
Hari berikutnya, aku duduk di meja kecil ruang keluarga dengan map kuliah terbuka. Kertas-kertas itu sudah lama tidak kusentuh. Ada formulir penundaan, lembar nilai, dan catatan yang dulu kutulis sebelum hidupku berubah berulang kali.
Riri menelepon ketika aku sedang membandingkan jadwal administrasi.
“Ra, kamu jadi mengurus kampus minggu ini?” tanyanya.
“Iya. Aku ingin tahu apa saja yang perlu kulengkapi.”
“Bagus. Aku temani. Jangan mencoba mengurus semuanya sendiri, nanti kamu malah pusing lalu menyalahkan formulir.”
“Aku tidak pernah menyalahkan formulir.”
“Kamu pernah bilang kertas pendaftaran itu sengaja dibuat untuk menguji kesabaran manusia.”
“Itu fakta.”
Riri tertawa. “Besok pagi kita ke kampus. Aku bisa menjemputmu.”
“Aku akan minta Pak Arif mengantar kita.”
“Leon tahu?”
“Aku akan bicara malam ini. Dia sedang bekerja.”
Malamnya, Leon duduk di ruang makan membaca beberapa dokumen. Aku meletakkan map di sampingnya.
“Aku dan Riri mau ke kampus besok untuk mengurus kuliahku.”
Ia langsung mengangkat pandangan. “Besok? Kamu sudah siap?”
“Aku belum mulai kuliah. Hanya mengurus berkas dan bertanya tentang statusku.”
“Aku paham. Apa kamu ingin aku ikut?”
“Tidak perlu. Riri menemaniku. Pak Arif bisa mengantar.”
Leon diam sejenak. “Kampus ramai. Suara bising mungkin membuat telingamu tidak nyaman.”
“Aku tahu. Dokter Mahen juga sudah mengajariku memakai penyumbat telinga kalau perlu. Aku akan membawanya.”
“Kalau begitu, aku tidak akan melarangmu.”
“Aku juga tidak meminta izin untuk berhenti hidup,” kataku. Nadaku lebih tajam daripada yang kurencanakan. Aku segera menarik napas. “Maaf. Aku cuma ingin mengurus sesuatu yang penting bagiku.”
Leon meletakkan dokumen. “Kamu tidak perlu minta maaf. Aku harus belajar membedakan khawatir dan mengatur.”
“Terima kasih.”
“Boleh aku menawarkan satu hal?”
“Apa?”
“Kalau kamu merasa pening atau telingamu berdenging, berhenti dulu. Telepon aku atau Riri. Jangan memaksakan diri demi menyelesaikan berkas hari itu juga.”
“Aku setuju. Tapi kamu juga jangan membatalkan semua pekerjaan dan muncul tiba-tiba.”
Ia tersenyum kecil. “Aku akan berusaha menahan diri.”
“Berusaha saja tidak cukup.”
“Baik. Aku tidak akan muncul tanpa memberi tahu.”
Pagi berikutnya, Riri tiba tepat waktu. Kami berangkat bersama Pak Arif. Di perjalanan, Riri bertanya apakah aku sudah melihat komentar tentang video Farah.
“Sedikit. Ada yang mendukung, ada yang tetap punya pendapat sendiri.”
“Jangan baca semuanya. Orang bisa menulis apa pun dari balik layar.”
“Aku sedang belajar.”
“Belajar yang cepat, ya. Nanti kalau kita terlambat mengurus berkas, aku salahkan kamu.”
“Katanya kamu yang menjemput.”
“Justru itu. Aku akan menyalahkanmu dengan penuh hak.”
Pak Arif tertawa pelan dari depan. “Saya ikut senang melihat Nona Raina kembali mengurus kuliah.”
“Aku juga senang, Pak. Rasanya aneh memegang map ini lagi.”
“Tidak apa-apa, Nona. Yang penting langkahnya dimulai.”
Setibanya di kampus, suara kendaraan, mahasiswa, dan pengeras suara bercampur menjadi satu. Aku berhenti sejenak di dekat gerbang. Telingaku terasa penuh, seperti ada dengung tipis di balik semua suara itu.
Riri segera menyentuh lenganku. “Kamu baik-baik saja?”
“Iya. Cuma ramai.”
“Kita bisa tunggu sebentar.”
Aku mengambil penyumbat telinga dari tas dan memasangnya sesuai petunjuk dokter. Suara kampus tidak hilang, tetapi terasa lebih jauh. Aku menghela napas perlahan.
“Kalau masih tidak nyaman, kita pulang,” kata Riri.
“Aku ingin mencoba masuk sampai bagian administrasi.”
“Pelan-pelan. Tidak ada yang mengejar.”
Kami berjalan melewati taman kecil menuju gedung akademik. Aku memperhatikan papan petunjuk dan merasa ingatan lama muncul satu per satu: bangku tempat aku menunggu Riri, kantin yang menjual teh terlalu manis, lorong menuju ruang administrasi.
“Masih ingat jalan?” tanya Riri.
“Masih. Aku dulu sering mengeluh jaraknya jauh.”
“Sekarang juga jauh.”
“Bedanya sekarang aku punya teman untuk mengeluh.”
Riri merangkul bahuku sebentar. “Itu tugas sahabat.”
Sebelum masuk, aku melirik ke halaman parkir. Sebuah mobil hitam berhenti agak jauh dari gerbang. Aku tidak dapat memastikan siapa di dalamnya. Mungkin hanya kendaraan yang menunggu penumpang. Aku mengalihkan pandangan dan melanjutkan langkah. Ada urusan yang harus kuselesaikan dengan kakiku sendiri.
***
Leon
Aku tahu Raina dan Riri sudah tiba di kampus dari pesan Pak Arif. Raina tidak memintaku datang, dan aku sudah berjanji tidak akan muncul tanpa memberi tahu. Maka aku tetap di kantor, mencoba membaca laporan yang sama untuk ketiga kalinya.
“Pak, rapat berikutnya mulai sepuluh menit lagi,” kata Devi dari ambang pintu.
“Aku tahu.”
“Kamu membaca halaman yang sama sejak tadi.”
“Aku sedang memeriksa detail.”
“Detailnya mungkin sudah hafal namamu.”
Aku menutup laporan. “Raina sudah sampai kampus?”
“Pak Arif mengirim kabar. Bu Raina dan Riri masuk ke gedung akademik.”
Aku mengangguk. Ia tidak bertanya lagi. Rapat berlangsung, tetapi pikiranku sesekali kembali pada suara kampus dan telinga Raina yang masih sensitif setelah kecelakaan. Aku tahu ia membawa penyumbat telinga. Aku tahu Riri menemaninya. Aku juga tahu rasa khawatirku tidak otomatis memberiku hak untuk mengendalikan pilihannya.
Seusai rapat, aku menghubungi Pak Arif. Ia menjawab setelah nada kedua.
“Bagaimana keadaan Raina?”
“Beliau sedang mengurus formulir, Pak. Riri mendampingi. Tadi suara di halaman cukup ramai, tapi beliau sudah memakai penyumbat telinga dan tidak mengeluh.”
“Terima kasih. Aku tidak akan meminta kalian kembali lebih cepat.”
“Baik, Pak.”
Aku meletakkan ponsel. Setengah jam kemudian, Devi membawa kabar bahwa pernyataan Farah terus disebarkan dan beberapa media telah memperbaiki judul. Itu seharusnya membuatku lega. Namun mataku terus kembali ke ponsel, berharap Raina memberi kabar tanpa merasa wajib melapor.
Akhirnya sebuah pesan masuk: “Sudah di ruang administrasi. Ramai, tapi masih aman.”
Aku membalas, “Terima kasih sudah memberi kabar. Jangan terburu-buru.” Lalu aku meletakkan ponsel di laci agar tidak terus memeriksanya.
Menjelang siang, Devi menyodorkan jadwal rapat yang baru. “Kalau Bapak ingin mengantar Bu Raina pulang, rapat dengan tim keuangan bisa dipindah setengah jam.”
Aku memandangnya. “Aku tidak bilang ingin mengantar.”
“Belum. Tapi wajah Bapak sudah mengatakannya.”
“Devi.”
“Saya hanya menyampaikan pilihan. Keputusan tetap di tangan Bapak.”
Aku berterima kasih atas sarannya, lalu menyelesaikan rapat. Selepas itu, aku meminta Pak Arif memastikan posisi mobil untuk menjemput Raina jika ia selesai. Aku sempat berniat tetap di kantor. Namun rasa khawatir membuatku memanggil kendaraan daring menuju kampus. Aku meminta Pak Arif tetap menunggu bersama mobil yang tadi mengantar Raina. Keputusan datang tanpa memberi kabar itu bertentangan dengan janjiku.
Setelah turun dari kendaraan daring, aku masuk ke mobil Pak Arif yang diparkir agak jauh dari gerbang dan duduk di belakang. Kaca jendela cukup gelap, tetapi aku tetap menjaga jarak dari pintu masuk. Aku merasa bodoh duduk di sana seperti tokoh dalam film, menunggu seseorang yang bahkan tidak tahu aku datang.
Pak Arif menoleh sedikit. “Tuan tidak ingin masuk?”
“Tidak. Dia datang untuk urusannya sendiri.”
“Betul, Pak.”
“Aku hanya ingin siap kalau dia merasa tidak enak badan.”
“Saya mengerti.”
Aku tidak sepenuhnya yakin ia mengerti, tetapi tak perlu membahasnya. Dari tempatku, aku dapat melihat mahasiswa keluar masuk. Suara dari pengeras kampus terdengar samar, disusul klakson dan deru motor. Aku membayangkan bagaimana semua itu mungkin terasa bagi Raina, lalu segera mengingatkan diri bahwa ia tidak rapuh seperti yang kadang kubayangkan.
Ponselku bergetar. Raina mengirim foto selembar formulir yang sudah diberi cap penerimaan. “Satu selesai. Tinggal bertanya tentang jadwal konsultasi.”
Aku tersenyum sendiri. “Bagus. Kamu hebat.”
“Jangan memujiku seperti anak kecil.”
“Maaf. Kamu berhasil mengurus satu tahap.”
“Lebih baik.”
Aku mengetik, “Aku ada di dekat kampus kalau kamu butuh.” Jariku berhenti. Kalimat itu bisa membuatnya merasa aku memantau. Aku menghapusnya.
Pak Arif melihat gerakanku dari kaca spion. “Tidak jadi mengirim, Pak?”
“Belum. Dia belum butuh.”
“Kadang diam juga bentuk percaya.”
Aku menatapnya. “Kamu makin bijak setelah libur.”
“Karena saya sempat tidur cukup, Pak.”
Aku tertawa pendek. Kami menunggu tanpa mengganggu. Sesekali aku melihat jam, tetapi tidak menghubungi Raina lagi. Untuk pertama kalinya, menunggu terasa seperti latihan menahan diri, bukan sekadar menghitung menit.