Raina
Pagi itu, sebelum aku sempat bertanya apakah Leon sudah siap berangkat, ponselnya bergetar di atas meja makan. Ia memandang layar, lalu ekspresinya berubah serius.
“Devi?” tanyaku.
“Iya. Katanya ada sesuatu yang perlu kita lihat bersama.” Leon menatapku, tidak langsung menjawab panggilan. “Kamu bersedia?”
Aku tahu ia sedang berusaha menepati janjinya. “Angkat saja. Kalau menyangkut aku, aku ingin tahu.”
Leon menyalakan pengeras suara. Suara Devi terdengar jernih. “Pagi, Pak. Maaf menghubungi sepagi ini. Pengacara kepercayaan almarhumah Bu Farah mengirim salinan lengkap arsip izin dan bagian video yang belum kami gunakan. Beliau mengizinkan video itu dipakai jika berita tentang pernikahan Bapak dan Bu Raina mulai menyudutkan salah satu pihak.”
Aku terdiam mendengar nama Farah. Leon menarik kursi dan duduk di dekatku.
“Apakah videonya sudah boleh dipublikasikan?” tanyanya.
“Sudah. Pengacara memastikan izin Farah jelas. Pernyataan resminya juga sudah disiapkan. Saya ingin Bapak dan Bu Raina menilai bagian tambahan ini sebelum ada pengiriman lebih lanjut.”
Leon menoleh kepadaku. “Bagian awal sudah kurilis kemarin tanpa sempat meminta persetujuanmu. Aku salah mengambil keputusan sendiri. Bagian tambahan ini bisa kita tahan. Kamu ingin melihatnya sekarang?”
Aku mengangguk. “Iya.”
Devi mengirimkan berkas. Beberapa detik kemudian, wajah Farah muncul di layar. Ia duduk di dekat jendela, mengenakan kerudung warna lembut. Senyumnya tidak selebar yang kuingat, tetapi matanya tetap hangat.
“Raina,” katanya di dalam video, “kalau kamu melihat ini, mungkin orang-orang sedang membicarakanmu tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku ingin kamu tahu bahwa aku mengenalmu. Aku tahu Leon menikahimu dan aku merestuinya. Kamu bukan perempuan simpanan, bukan orang yang merebut tempatku. Kamu adalah manusia yang pantas diperlakukan dengan baik.”
Napasku tercekat. Leon diam di sampingku. Di layar, Farah melanjutkan pesannya, suaranya pelan namun jelas.
“Aku tidak meminta kamu menggantikanku. Jangan pernah merasa harus menjadi seperti aku supaya diterima. Jadilah Raina. Leon memang keras kepala, jadi kalau dia membuatmu kesal, tegur saja. Jangan diam hanya karena takut merepotkan.”
Air mataku jatuh. Aku menyekanya, tetapi muncul lagi.
“Dan Leon,” kata Farah sambil tersenyum kecil, “jangan menjadikan rasa bersalah sebagai alasan untuk mempertahankan seseorang. Kalau kamu memilih Raina, pilihlah karena kamu menghormati dan menyayanginya. Beri dia ruang untuk menjawab dengan hatinya sendiri.”
Video berakhir dengan ucapan salam dan senyum Farah. Layar kembali gelap. Tak ada yang langsung bicara. Aku memegang ujung serbet, berusaha merapikan napas.
“Ra,” panggil Leon lembut. “Kamu tidak harus menjawab apa pun sekarang.”
“Aku cuma…” Aku menelan ludah. “Aku merasa seperti baru saja mendengar dia bicara langsung kepadaku.”
“Aku juga.” Leon menunduk. “Aku tidak mau menggunakan pesannya untuk menekanmu.”
“Aku tahu.”
Ia mengulurkan tangan, tetapi berhenti sebelum menyentuh tanganku. Aku yang lebih dulu meraih jemarinya.
“Boleh kita kirim?” tanyaku. “Kalau itu bisa menghentikan orang menyebutku macam-macam, aku setuju. Tapi aku ingin pernyataannya tidak membuat Farah seperti alat pembelaan.”
Leon mengangguk. “Kita minta pengacara menjelaskan bahwa ini pesan pribadi yang Farah sendiri izinkan untuk disampaikan. Tidak perlu menambah cerita.”
Devi masih menunggu di telepon. Leon menyampaikan keputusan kami. Ia lalu meminta pernyataan resmi dikirim tanpa menyebut detail kehidupan pribadi yang tidak perlu. Beberapa jam kemudian, bagian tambahan yang kami setujui diunggah melalui akun resmi perusahaan bersama keterangan singkat dari pengacara Farah.
Pemberitahuan berita bermunculan. Judul-judul yang semula menyebut “wanita misterius” dan “simpanan CEO” mulai berubah. Sebagian media meminta maaf, sebagian lain hanya memperbarui berita tanpa mengakui kesalahan. Aku membaca komentar yang mendukung, lalu berhenti saat menemukan satu dua orang yang masih meragukan semuanya.
“Jangan baca semuanya,” kata Leon.
“Aku hanya ingin tahu apakah cukup.”
“Tidak ada penjelasan yang bisa membuat semua orang setuju.”
Aku mematikan layar. “Tapi setidaknya Farah sudah mengatakan kebenarannya dengan suaranya sendiri.”
Leon mengangguk. “Dan kita tidak perlu membuktikan rumah tangga kita kepada setiap orang.”
Ponselnya bergetar lagi. Kali ini pesan dari kantor. Leon membaca sekilas, lalu menatapku seolah hendak meminta izin.
“Pergilah,” kataku. “Kamu sudah menunda cukup lama.”
Ia berdiri, tetapi sebelum pergi ia berkata, “Aku akan memberi kabar saat sampai.”
“Cukup satu pesan, ingat?”
Senyum tipisnya muncul. “Aku ingat.”
Setelah pintu tertutup, aku kembali menatap layar yang kini gelap. Suara Farah masih tinggal di benakku. Untuk pertama kalinya sejak kehilangan dirinya, kenangan itu tidak hanya terasa seperti luka. Ada ketenangan kecil yang ikut tertinggal.
***
Leon
Pesan yang kujanjikan kukirim begitu mobil berhenti di depan gedung kantor. “Sudah sampai. Semuanya baik.” Aku menatap pesan itu beberapa detik sebelum menekan kirim, lalu teringat ucapan Raina agar aku tidak berlebihan. Jadi aku tidak menambahkan foto, laporan lalu lintas, ataupun keterangan bahwa aku sudah minum kopi.
Devi menungguku di lobi dengan map di tangan. “Pagi, Pak. Saya sudah susun rapat dan siapkan respons untuk media.”
“Terima kasih. Kita bahas yang penting saja. Video Farah sudah cukup menjelaskan posisi Raina. Jangan memperpanjang gosip dengan bantahan setiap jam.”
“Baik. Ada beberapa media yang ingin wawancara.”
“Tolak yang meminta Raina tampil. Dia tidak punya kewajiban menjadi juru bicara rumah tangga kita.”
Devi mengangguk. “Saya juga sudah minta semua karyawan tidak menyebarkan foto hotel.”
Aku melihat beberapa orang di lobi melirikku. Berita memang sudah sampai ke kantor. Aku tidak menyalahkan rasa ingin tahu mereka, tetapi aku tak ingin Raina menjadi bahan obrolan di tempat kerjaku.
Hari berjalan padat. Di sela rapat, aku beberapa kali membuka ponsel, lalu menutupnya lagi. Raina baik-baik saja, begitu pesannya pagi tadi. Aku harus belajar percaya pada kalimat itu, bukan memeriksanya setiap sepuluh menit.
Menjelang tengah hari, Devi mengetuk pintu ruanganku.
“Pak, ada Bu Raina di bawah.”
Aku spontan berdiri. “Dia datang sendiri?”
“Pak Arif mengantarnya. Katanya membawa bekal.”
Aku turun sebelum Devi sempat menggodaku. Raina berdiri dekat meja resepsionis sambil memegang tas kain. Ia mengenakan blus sederhana dan tampak sedikit canggung karena beberapa pegawai menyapanya.
“Kamu tidak perlu repot datang,” kataku saat mendekat.
“Aku tahu. Tapi aku ingin tahu kantormu seperti apa. Lagi pula, aku membuat terlalu banyak nasi.”
“Alasan yang sangat meyakinkan.”
“Kalau aku bilang rindu, kamu malah akan membatalkan semua rapat.”
Aku tertawa kecil. “Aku tidak akan membatalkan rapat. Tapi aku senang kamu datang.”
Devi menghampiri kami. “Bu Raina, akhirnya kita bertemu langsung. Saya Devi.”
Raina menyambut uluran tangannya. “Aku tahu namamu. Terima kasih sudah mengurus banyak hal untuk Leon.”
“Sebagian besar mengingatkan beliau untuk makan dan membaca jadwalnya sendiri,” jawab Devi. “Kadang-kadang beliau menganggap rapat bisa muncul dari udara.”
“Aku mendengar itu,” kataku.
“Memang sengaja,” balas Devi.
Seorang pria dari bagian operasional ikut mendekat. “Pak, berkas yang tadi—Oh, maaf. Ini Bu Raina?”
“Benar,” ujar Devi. “Ini Alvin, yang sering menyelamatkan jadwal kantor saat saya sedang rapat.”
Alvin tersenyum ramah. “Senang bertemu dengan Ibu. Kami sudah mendengar banyak tentang kebaikan Ibu dari Devi.”
Raina mengangkat alis. “Semoga yang baik-baik saja.”
“Sebagian besar,” kata Alvin. “Sisanya soal Pak Leon yang tidak bisa membedakan makan siang dan rapat siang.”
“Fitnah yang sudah berulang,” kataku.
“Berarti ada dasarnya,” sahut Raina. Ia membuka tas kain dan menunjukkan kotak makan. “Aku membawa nasi, sayur, dan ayam. Tapi kalau kamu harus rapat, aku bisa pulang.”
“Aku punya waktu setengah jam.”
Kami makan di ruanganku. Raina tidak memaksa bertanya tentang setiap orang yang menatapnya. Ia justru bercerita tentang perjalanan singkatnya bersama Pak Arif dan bagaimana ia sempat salah masuk lift. Tawa kecilnya membuat suasana kantor yang sejak pagi penuh ketegangan terasa lebih ringan.
“Video Farah sudah banyak dibagikan,” kata Devi ketika mengantarkan air minum. “Komentar dukungan lebih banyak sekarang.”
“Syukurlah,” jawab Raina. “Tapi jangan sampai orang memakai videonya untuk menyerang pihak lain.”
“Pengacara sudah meminta media menjaga konteks,” kataku. “Kita tidak akan menanggapi komentar yang memancing.”
Raina memandangku. “Kamu sendiri bagaimana? Apa ada dampak di kantor?”
“Beberapa investor meminta penjelasan. Aku sudah memberi jawaban seperlunya. Urusan perusahaan tetap berjalan.”
“Kalau ada yang sulit, bilang. Aku tidak mau kamu menanggung semuanya sendirian hanya karena berusaha melindungiku.”
“Aku akan bilang.” Aku menjeda, lalu menambahkan, “Dan kamu juga harus bilang kalau kantor ini membuatmu tidak nyaman.”
“Sejauh ini tidak. Devi dan Alvin ramah.”
Alvin yang masih berdiri di dekat pintu berpura-pura membungkuk. “Kami menerima pujian itu dengan penuh tanggung jawab.”
Raina tertawa. Saat waktunya kembali, ia merapikan kotak makan. Aku menawarkan untuk mengantarnya pulang, tetapi ia menggeleng.
“Kerjakan saja pekerjaanmu. Pak Arif menunggu.”
“Aku akan mengantar sampai lobi.”
“Boleh. Tapi jangan minta semua pegawai mengawal.”
“Aku tidak berniat begitu.”
Devi tersenyum tipis. “Saya sudah menyiapkan pengawalan?”
“Tidak ada,” kataku cepat.
“Bagus,” ujar Raina. “Aku cuma datang membawa bekal, bukan menghadiri konferensi pers.”
Sebelum keluar, ia melambaikan tangan kepada Devi dan Alvin. Mereka membalasnya. Aku mengikutinya sampai lobi, lalu membiarkannya pergi bersama Pak Arif. Kali ini aku tidak merasa harus memastikan setiap langkahnya. Cukup melihat ia berjalan dengan tenang dan tahu ia akan memberi kabar jika perlu.
Saat Raina pulang, aku kembali ke ruanganku setelah mengantar Raina pergi. Devi menyusul membawa jadwal rapat sore.
“Bu Raina kelihatannya nyaman bertemu tim,” katanya.
“Aku juga melihatnya.”
“Pak Alvin sudah bertanya apakah beliau akan datang lagi.”
“Kenapa?”
“Katanya bekal hari ini membuat makan siang kantor terasa lebih manusiawi.”
“Jangan jadikan dia alasan untuk mengundang Raina setiap hari.”
“Saya tidak berani. Nanti beliau mengira kita memanfaatkan kemampuan memasak Bu Raina.”
Aku tertawa pendek. “Kamu memang selalu punya jawaban.”
“Saya belajar dari atasan.”
“Kalau begitu, kualitas jawabannya harus ditingkatkan.”
Devi meletakkan map di meja. “Ada satu hal lagi. Beberapa karyawan bertanya apakah Bapak akan memberi pernyataan internal tentang berita itu.”
“Sore ini kumpulkan mereka sebentar sebelum rapat terakhir. Aku akan menjelaskan bahwa Raina adalah istriku, dan urusan pribadinya tidak boleh menjadi bahan gosip. Aku tidak akan meminta mereka mengomentari video Farah.”
“Baik.”
Aku berhenti sejenak. “Jangan sebut nama Raina seolah-olah dia masalah yang harus diselesaikan.”
“Saya paham, Pak.”
Sore itu aku menyampaikan hal yang sama kepada tim. Aku tidak menjelaskan detail pernikahan kami. Aku hanya meminta semua orang menjaga profesionalitas dan tidak menyebarkan foto yang diperoleh tanpa izin. Ada beberapa wajah canggung, tetapi tak seorang pun membantah.
Dalam perjalanan pulang, aku mengirim pesan kepada Raina bahwa rapat selesai. Ia menjawab dengan foto kotak makan yang sudah dicuci.
“Bekasnya sudah bersih,” tulisnya. “Jangan sampai kamu bilang aku mengirim pulang piring kotor.”
“Aku tidak berani.”
“Bagus. Aku juga tidak berencana mengulang bekal setiap hari.”
“Aku belum meminta.”
“Kamu belum, tapi Devi pasti sedang menyusun strategi.”
Aku tertawa sendiri di dalam mobil. Hari itu bukan hari yang menghapus semua tekanan, tetapi untuk pertama kalinya sejak rumor muncul, aku dapat membayangkan kantor dan rumah sebagai dua bagian hidup yang tidak perlu saling melukai.