Leon
Raina menghabiskan beberapa menit lagi di ruang keluarga, lalu meminta beristirahat. Aku mengantarnya ke kamar yang telah disiapkan. Ia terlihat lelah, tetapi tidak ingin aku menganggap dirinya rapuh.
“Aku bisa jalan sendiri,” katanya saat aku hendak membantunya.
“Aku tahu. Aku cuma memastikan kamu tahu kamar mandinya di sebelah kanan.”
“Aku bisa melihat, Leon.”
“Benar. Kebiasaan lama.”
Ia tertawa. “Kamu harus belajar berhenti menuntunku setiap lima langkah.”
“Aku sedang belajar.”
Raina masuk kamar dan meletakkan tasnya. Aku menunggu di pintu.
“Kamu mau aku tinggal?” tanyaku.
“Tidak perlu. Aku ingin mandi dan tidur sebentar.”
“Baik. Aku ada di ruang kerja.”
“Jangan pergi tanpa bilang.”
“Aku tidak akan.”
Aku pergi ke ruang kerja, tetapi tidak langsung membuka laptop. Ada beberapa urusan perusahaan yang tertunda karena aku terlalu lama tidak masuk kantor. Devi mengirim daftar rapat dan jadwal, tetapi pikiranku masih tertahan pada foto-foto Farah dan cara Raina menatapnya.
Aku ingin Raina bertemu Mama Farah dan Raihan, tetapi bukan untuk memaksakan keakraban di antara orang-orang yang masih berduka. Raina berhak menentukan waktunya sendiri. Aku tidak ingin pertemuan itu dipaksakan oleh rasa bersalah atau kewajiban.
Ketukan terdengar di pintu ruang kerja. Pak Arif masuk setelah aku mempersilakannya.
“Pak, saya sudah memeriksa kendaraan. Saya juga siap bertugas lagi mulai hari ini.”
“Terima kasih, Pak Arif. Maaf beberapa hari ini saya tidak banyak memberi kabar.”
“Tidak apa-apa, Pak. Saya tahu keadaan sedang ramai.”
“Wartawan mungkin mencoba datang ke rumah. Kalau melihat mereka, jangan berdebat. Hubungi keamanan dan Devi.”
“Siap.” Pak Arif berhenti sejenak. “Apa Nona Raina sudah lebih tenang?”
“Sedikit. Dia sempat panik saat dikerumuni kamera.”
“Kasihan. Setelah kecelakaan dulu, banyak hal berat yang harus dia hadapi.”
Aku mengangguk. “Aku tidak mau memperlakukannya seolah ia tidak mampu. Tapi aku juga tidak ingin membiarkannya menghadapi semuanya sendirian.”
“Kalau begitu, tanyakan apa yang dia perlukan. Jangan menebak, Pak.”
Aku tersenyum. Nasihat sederhana itu tepat mengenai kebiasaanku. “Benar. Saya akan bertanya.”
Pak Arif pamit untuk memeriksa jadwal kendaraan. Aku kembali menatap layar ponsel. Ada panggilan dari Devi.
“Bagaimana keadaan Raina?” tanyanya begitu aku mengangkat.
“Lebih tenang. Dia sudah bertemu Riri dan sekarang beristirahat.”
“Syukurlah. Media masih menunggu di depan hotel. Tim komunikasi sedang menyiapkan pernyataan lanjutan.”
“Video klarifikasi Farah sudah cukup jelas. Pastikan pengacara mengirimkan salinan resmi dan tidak membocorkan hal pribadi yang tidak perlu.”
“Sudah. Pengacara kepercayaan Farah juga bersedia menjelaskan bahwa pernikahan kalian bukan hubungan gelap seperti yang diberitakan.”
“Bagus. Jangan jadikan Raina alat untuk membela citra perusahaan. Fokus pada fakta.”
“Aku paham. Kamu sendiri kapan kembali ke kantor?”
“Besok. Aku harus memastikan Raina siap dan tidak ada kebutuhan lain di rumah.”
“Leon, semua orang di kantor menunggumu.”
“Aku tahu. Tapi dia istriku dan baru mengalami serangan panik. Aku tidak akan meninggalkannya tanpa bicara.”
Devi menghela napas di ujung telepon. “Baik. Aku atur rapatmu mulai siang.”
“Terima kasih.”
Setelah panggilan berakhir, aku kembali bekerja. Raina beristirahat setelah perjalanan dari hotel dan percakapan tentang foto. Kami sepakat makan malam bersama bila ia sudah cukup tenang.
Malam mulai turun. Raina kembali ke kamar dan memintaku duduk sebentar di ruang keluarga setelah makan malam.
“Aku masih takut menghadapi berita itu,” katanya. “Tapi aku tidak ingin bersembunyi selamanya.”
“Kita hadapi pelan-pelan. Besok aku akan menjelaskan lagi soal Devi dan wartawan kalau ada yang belum jelas.”
“Jangan cuma menjelaskan. Kalau ada kejadian seperti tadi malam, beri kabar.”
“Aku berjanji.”
Ia menyandarkan punggung ke sofa. Di dinding, foto Farah tetap ada. Aku tahu perjalanan kami akan membawa banyak kenangan, tetapi untuk saat ini Raina tidak meminta rumah itu menghapus masa lalu. Ia hanya meminta agar masa kini tidak disembunyikan darinya.
Aku menggeser ponsel yang sejak tadi berada di tanganku. Raina mengambil segelas teh dan menatapku, menunggu kabar tentang pembicaraan dengan Devi.
“Devi bilang apa?”
“Wartawan masih berada di sekitar hotel. Pengacara kepercayaan Farah menyiapkan pernyataan dan video klarifikasi. Aku juga bilang jangan membagikan hal pribadi di luar yang diperlukan.”
“Video Farah itu benar-benar bisa dipakai?”
“Iya. Pengacara menyimpannya dan punya izin untuk merilisnya jika pernikahan kami disalahpahami.”
“Aku senang Kak Farah sudah memikirkan semuanya. Tapi aku tidak ingin wajahku terus muncul di televisi.”
“Aku juga tidak. Kami akan meminta mereka fokus pada fakta dan menghentikan penyebaran foto yang melanggar privasi.”
“Jangan sampai kamu mengurus semuanya lalu aku hanya diberi kabar setelah selesai.”
“Kamu benar. Aku akan meminta persetujuanmu sebelum membuat pernyataan yang melibatkanmu.”
“Kalau aku tidak setuju?”
“Kita cari cara lain. Itu juga menyangkut hidupmu.”
Raina mengangguk. Ia tidak terlihat sepenuhnya tenang, tetapi bahunya tidak setegang tadi. Aku duduk di kursi seberangnya.
“Besok aku harus ke kantor,” kataku. “Aku bisa menunda kalau kamu ingin aku tetap di rumah.”
“Jangan menunda pekerjaan hanya karena aku takut. Aku akan baik-baik saja, apalagi Pak Arif sudah kembali.”
“Kamu yakin?”
“Aku tidak ingin menjadi alasan kamu meninggalkan tanggung jawab. Tapi aku mau kamu memberi kabar.”
“Aku akan mengirim pesan saat sampai dan sebelum pulang.”
“Jangan berlebihan. Satu pesan cukup.”
“Aku akan menahan diri.”
Raina tersenyum. “Kita lihat nanti.”
Pak Arif mengabarkan mobil siap jika diperlukan. Aku berterima kasih, lalu membiarkannya menyelesaikan tugas.
Setelah Pak Arif pergi, Raina berkata ia ingin beristirahat. Aku menawarkan untuk menemani, tetapi ia meminta waktu sendiri. Aku tidak tersinggung. Kami sudah sepakat untuk bertanya dan menghormati jawaban.
“Kalau ada apa-apa, panggil aku,” kataku.
“Iya. Dan jangan berdiri di luar pintu seperti penjaga.”
“Aku akan berusaha.”
“Leon.”
“Aku tidak akan berjaga.”
Ia tertawa kecil lalu menutup pintu. Aku kembali ke ruang kerja dan menghubungi Devi, memastikan jadwal besok serta pengaturan keamanan rumah. Kali ini aku tidak mengambil keputusan yang menyangkut Raina tanpa memberitahunya. Aku menuliskan apa yang perlu dibicarakan esok, lalu menutup laptop sebelum pikiranku dipenuhi pekerjaan lagi.
Malam pertama kami di rumah besar berjalan tenang. Dari kamar, Raina memanggilku untuk memastikan aku masih di rumah. Aku menjawab dari ruang keluarga. Ia lalu berkata, “Bagus. Selamat malam.”
“Selamat malam, Ra.”
Aku mematikan lampu ruang keluarga. Rumah itu masih menyimpan banyak kenangan Farah, tetapi kini juga mulai menyimpan percakapan baru antara aku dan Raina.