Leon
Aku meminta Pak Arif menjemput kami dari pintu samping hotel. Ia kembali bertugas setelah sehari mengambil waktu istirahat. Begitu melihat Raina, ia turun dari mobil dan membukakan pintu dengan wajah lega.
“Nona Raina, syukurlah Anda baik-baik saja,” katanya.
“Pak Arif,” Raina tersenyum. “Aku juga senang melihat Bapak.”
“Saya sudah menunggu kabar dari Pak Leon. Semalam saya tidak tahu harus mencari ke mana.”
“Maaf membuat semua orang khawatir,” kata Raina.
Pak Arif menggeleng. “Yang penting Anda aman.”
Riri duduk di samping Raina di kursi belakang. Aku memilih kursi depan bersama Pak Arif. Perjalanan ke rumah besar memakan waktu hampir satu jam karena kami mengambil jalan yang lebih sepi. Aku meminta Devi menghubungi keamanan rumah agar tidak ada wartawan menunggu di gerbang.
“Pak Arif sudah kembali bekerja?” tanya Raina dari belakang.
“Iya, Nona. Saya sudah cukup beristirahat. Pak Leon memberi saya waktu istirahat kemarin.”
“Semoga Bapak tidak bosan di rumah.”
“Kalau saya diam saja di rumah, istri saya malah menyuruh memperbaiki semua keran.”
Riri tertawa. “Berarti kembali bekerja lebih aman daripada memperbaiki keran.”
“Betul, Nona,” jawab Pak Arif. “Keran itu lebih sulit daripada membawa mobil.”
Aku ikut tertawa. Ketegangan di dalam mobil sedikit mencair. Raina masih tampak lelah, tetapi ia mulai bertanya kepada Riri tentang kabar anak-anak panti. Riri bercerita bahwa Ajeng berkali-kali menanyakan kapan Raina pulang berkunjung.
“Aku ingin bertemu mereka,” kata Raina. “Tapi mungkin bukan hari ini.”
“Kamu tidak perlu memaksakan diri,” kataku. “Kita atur kalau kamu sudah siap.”
Raina mengangguk. “Aku mau pulang ke rumah besar dulu. Aku belum siap kembali ke panti kalau wartawan masih menunggu.”
“Baik.”
Gerbang terbuka. Rumah itu tampak lebih besar daripada unit tempat kami bermalam sebelum pergi ke pantai. Aku tahu Raina belum pernah melihatnya. Sebelum ia bisa masuk, aku harus memastikan ia tidak terkejut oleh foto-foto Farah yang terpajang di beberapa ruangan.
“Leon,” katanya ketika melihat halaman luas. “Ini rumahmu?”
“Rumah keluarga. Aku tinggal di sini dulu sebelum pindah ke unit.”
“Kamu bilang akan membawa aku pulang, tapi tidak bilang rumahnya sebesar ini.”
“Maaf. Aku seharusnya memberi tahu.”
Raina tersenyum kecil. “Aku hanya kaget. Jangan minta maaf untuk semuanya.”
Pak Arif membawa tas kami ke dalam. Riri tetap bersama Raina dan membantu mengenalkan ruang tamu. Aku meminta staf rumah menyiapkan kamar yang pernah dipakai Raina saat ia datang sebelumnya, bukan kamar Farah.
“Aku tidak mau kamu merasa harus menempati kamar siapa pun,” kataku. “Kamar ini bisa kamu atur sendiri.”
“Aku mengerti.” Raina memandang sekeliling. “Tapi aku juga tidak ingin semua jejak Kak Farah dihilangkan karena aku datang.”
“Aku tidak akan menghapusnya.”
Riri memperhatikan kami. “Kalian berdua sudah belajar bicara lebih jelas rupanya.”
“Masih belajar,” jawab Raina.
Setelah meletakkan barang, Raina meminta duduk sebentar sebelum melihat bagian lain rumah. Aku mengiyakan. Pak Arif kembali ke ruang depan setelah memastikan mobil terkunci. Aku berterima kasih atas bantuannya.
“Kalau ada perlu, panggil saya, Pak,” katanya. “Saya senang bisa kembali bertugas.”
Raina menoleh kepadanya. “Jangan lupa istirahat juga, Pak.”
“Siap, Nona.”
Riri kemudian berpamitan karena Bu Asih menunggu kabar. Raina memeluknya cukup lama.
“Telepon aku kalau kamu mulai cemas,” kata Riri.
“Iya.”
“Jangan cuma mengetik ‘aku baik-baik saja’ lalu menghilang.”
“Aku janji.”
Setelah Riri pergi, rumah terasa sunyi. Aku tahu Raina perlu waktu untuk menyesuaikan diri. Di koridor dekat ruang keluarga, beberapa foto Farah terlihat di dinding. Aku menunggu untuk melihat apakah Raina siap menghadapinya.
***
Raina
Aku melihat foto pertama Farah di dinding koridor saat berjalan menuju ruang keluarga. Ia mengenakan gaun sederhana dan tersenyum ke arah kamera. Wajahnya tampak lembut. Aku mengenal wajah itu dari beberapa foto dan video, tetapi melihatnya di rumah membuatnya terasa lebih nyata.
Aku berhenti. Leon yang berjalan di sampingku ikut berhenti.
“Kamu mau kembali ke kamar?” tanyanya.
“Tidak. Aku ingin melihat.”
“Kamu tidak harus memaksa diri.”
“Aku tahu.” Aku mendekati foto itu. “Ini diambil kapan?”
“Beberapa tahun lalu, saat kami menghadiri acara keluarga.”
“Dia terlihat bahagia.”
“Dia sering membuat orang lain merasa nyaman. Bahkan saat dirinya sedang sakit.”
Aku menoleh kepadanya. “Kamu masih merindukannya?”
“Iya. Aku akan selalu merindukan Farah sebagai bagian dari hidupku. Tapi merindukan seseorang tidak berarti aku berhenti melangkah.”
Aku mengangguk. Jawaban itu terasa jujur, meski ada bagian kecil di dalam diriku yang ingin mendengar bahwa tidak ada lagi ruang untuk siapa pun selain aku. Aku tahu keinginan itu tidak adil. Farah telah meninggal, tetapi ia tetap bagian penting dari hidup Leon, yang kini mengakui betapa terlambat ia menghargainya.
“Foto-fotonya banyak?” tanyaku.
“Beberapa lagi di ruang keluarga dan ruang kerja. Kalau kamu ingin berhenti, kita berhenti.”
“Aku ingin melihat satu per satu. Aku tidak mau merasa seperti orang asing yang datang lalu harus menghapus pemilik rumah sebelumnya.”
“Kamu bukan orang asing.”
Aku mengalihkan pandangan ke foto berikutnya. Farah berdiri di taman sambil membawa pot kecil. Ia tampak memandang sesuatu di luar bingkai.
“Ini saat dia merawat kebun?”
“Iya,” jawab Leon. “Ada tanaman yang ia pindahkan karena tempat sebelumnya terlalu teduh.”
“Kamu sering bercerita tentangnya?”
“Dulu aku menghindarinya karena takut membuatmu merasa dibandingkan.”
“Jangan menyembunyikannya. Aku lebih takut pada hal yang tidak dikatakan.”
Leon mengangguk. “Baik. Farah suka menanam bunga, tapi tidak sabar menunggu bunga mekar. Dia sering membeli bibit baru sebelum yang lama tumbuh.”
Aku tersenyum. “Kedengarannya seperti orang yang tidak suka menunggu.”
“Benar. Kalau menunggu hasil pemeriksaan, dia bisa bertanya ke dokter setiap jam.”
“Dokter Mahen pasti hafal suaranya.”
“Dokter Mahen pernah bilang Farah lebih sulit dikendalikan daripada pasiennya.”
Aku tertawa kecil. Cerita itu membuat foto-foto tersebut terasa bukan sekadar kenangan sedih, melainkan kehidupan yang pernah dijalani seseorang.
Kami sampai di ruang keluarga. Di atas meja ada foto Farah bersama Raihan dan Mama Farah. Aku mengenali mereka dari cerita Leon. Aku menyentuh bingkai itu dengan ujung jari.
“Aku belum pernah bertemu mereka setelah Farah meninggal,” kataku.
“Mereka belum datang ke sini. Aku juga belum tahu bagaimana memulai pembicaraan.”
“Aku takut mereka membenciku.”
“Mereka tahu Farah menyayangimu.”
“Tahu dari video belum tentu membuat mereka langsung menerima.”
“Benar. Kita tidak perlu memaksa mereka.”
Aku duduk di sofa. “Aku ingin bertemu mereka suatu hari nanti. Tapi aku ingin datang sebagai diriku sendiri, bukan pengganti Kak Farah.”
“Kamu tidak akan pernah menjadi penggantinya.”
Aku menatap Leon. “Aku tahu. Aku hanya perlu mengingatkan diriku sendiri.”
Ia duduk di kursi seberang, tidak mendekat tanpa izin. Sikap itu membuatku merasa aman. Aku melihat sekali lagi foto Farah. “Dia memberikan matanya kepadaku.”
“Dia membuat keputusan itu dengan sadar.”
“Aku ingin hidup dengan baik, bukan karena merasa berutang, tetapi karena ia memberiku kesempatan.”
Leon memandangku dengan mata berkaca-kaca. “Aku tahu dia akan senang mendengar itu.”
Aku menahan air mata. Hari itu aku tidak bisa bertemu Farah, tetapi aku mulai mengenalnya melalui rumah yang pernah ia tinggali dan cerita yang Leon bagikan tanpa menyuruhku menjadi dirinya.
Di foto berikutnya, Farah duduk di kursi taman, memegang sebuah buku. Sampulnya berwarna biru muda. Wajahnya tidak menghadap kamera; ia tampak sedang tertawa kepada seseorang di luar bingkai.
“Dia sering membaca?” tanyaku.
“Kalau sedang menunggu, iya. Dia bisa membaca di mana saja. Bahkan di ruang tunggu rumah sakit.”
“Buku apa yang dia suka?”
“Novel romantis dan buku masak. Tapi resep yang dibuatnya sering berbeda dari buku.”
“Berarti dia suka bereksperimen?”
“Dia suka merasa yakin meski belum membaca instruksi.” Leon tersenyum mengenang. “Pernah membuat kue terlalu asin karena mengira gula dan garam berada di wadah yang sama.”
Aku tertawa. “Lalu kamu tetap memakannya?”
“Aku mencoba satu potong. Setelah itu aku minum banyak air.”
“Kenapa tidak bilang rasanya asin?”
“Aku bilang. Dia tidak percaya.”
Cerita kecil itu membuatku bisa melihat Farah sebagai manusia biasa, bukan sosok sempurna yang harus kutiru. Aku senang Leon menceritakan hal-hal ringan, bukan hanya sakit dan kematiannya.
Di rak dekat jendela ada beberapa bingkai kecil. Salah satunya memperlihatkan Farah bersama Mama dan Raihan di ruang keluarga. Aku mendekat dan menatap gambar itu lama.
“Ini kapan?” tanyaku.
“Saat keluarganya berkumpul, sebelum sakitnya memburuk.”
“Dia tampak senang.”
“Raihan sering berhasil membuatnya tertawa.”
Aku menyentuh pinggir bingkai. “Aku ingin berterima kasih kepadanya, tapi sekarang tidak mungkin.”
“Kamu bisa mendoakannya.”
“Aku selalu mendoakannya.” Suaraku mengecil. “Tapi kadang aku takut hidupku sekarang membuat orang lupa bahwa dia yang memberikan kesempatan ini.”
Leon duduk di sofa. “Aku tidak akan melupakan Farah. Dan kamu tidak perlu mengingatkanku dengan cara mengorbankan kebahagiaanmu.”
“Aku tahu. Hanya saja, saat melihat foto-foto ini, aku merasa seolah aku masuk ke cerita yang sudah lebih dulu berjalan.”
“Rumah ini menyimpan masa lalu. Tapi kamu bukan tamu yang harus meminta izin untuk hidup di dalamnya.”
Aku menoleh. “Kalimatmu terdengar bagus sekali.”
“Aku tidak menghafalnya.”
“Buktikan dengan tidak menyuruhku tinggal di kamar yang kamu pilih tanpa bertanya.”
“Kamu mau mengganti warna tirainya?”
“Aku belum tahu. Mungkin nanti.”
“Silakan. Kita pilih bersama kalau kamu mau.”
Aku kembali duduk. Riri mengirim pesan menanyakan apakah aku sudah sampai. Aku membalas bahwa aku aman dan sedang melihat foto Farah. Ia menulis bahwa aku boleh menelepon kapan saja. Pesan sederhana itu membuatku merasa tetap terhubung dengan rumah yang selama ini menjadi tempat berlindungku.
Aku menatap bingkai Farah sekali lagi. “Aku ingin suatu hari bertemu Mama dan Raihan. Aku tidak mau mereka mendengar tentangku hanya dari berita.”
“Kita akan atur. Aku tidak akan memaksa waktu atau cara pertemuan itu.”
“Terima kasih.”
Di luar jendela, cahaya sore mulai berubah. Aku belum siap mengenal seluruh kenangan Farah dalam satu hari. Namun untuk pertama kalinya, aku tidak ingin menghindari foto-fotonya. Aku ingin mengenalnya secukupnya, tanpa menjadikan diriku salinannya.