Leon
Anggukan kecil Raina menjadi jawaban yang kutunggu. Wajahnya masih memerah, tetapi ia tidak menarik diri. Aku menahan gerakan tanganku, memastikan ia benar-benar nyaman.
“Kamu yakin?” tanyaku pelan.
Raina membuka mata. “Aku mengangguk, kan?”
“Aku ingin mendengarnya kalau kamu berubah pikiran.”
“Aku tahu. Jangan membuatku semakin gugup.”
Aku tersenyum tipis. “Maaf.”
Aku mencium keningnya, lalu menunggu lagi. Ia mengulurkan tangan dan menggenggam jemariku. Isyarat sederhana itu membuatku mengerti bahwa ia ingin melanjutkan kedekatan kami, tetapi tetap perlu merasa aman. Aku tidak ingin menjadikan malam itu sebagai bukti bahwa ia harus membalas semua yang pernah kulakukan untuknya.
“Kalau kamu merasa tidak nyaman, katakan,” bisikku.
“Iya.”
“Tidak perlu memaksakan diri.”
“Leon, aku paham.” Raina menarik napas panjang. “Aku juga ingin kita dekat. Hanya saja ini pertama kalinya bagiku. Jadi, jangan terburu-buru.”
“Aku akan pelan-pelan.”
Ia tersenyum malu. Aku membalas senyumnya, lalu mendekat dengan hati-hati. Di luar jendela, lampu-lampu hotel masih menyala dan suara kota terdengar jauh. Aku menutup tirai, bukan untuk menciptakan suasana seperti dalam film, melainkan agar Raina tidak merasa sedang dilihat siapa pun.
Kami saling mendekat. Ketika ia kembali menggenggam tanganku, aku menganggapnya sebagai izin untuk tetap berada di sisinya, bukan sebagai janji bahwa semua luka akan sembuh malam itu. Aku mengecup kening dan pipinya. Ia menutup mata, lalu berbisik bahwa ia gugup. Aku menjawab bahwa aku juga gugup.
“CEO bisa gugup juga?” tanyanya.
“CEO juga manusia.”
“Selama ini kamu berlagak tidak pernah takut.”
“Aku takut banyak hal. Cuma biasanya aku menyembunyikannya.”
“Jangan disembunyikan dariku.”
Kalimat itu membuatku berhenti sejenak. Kami baru saja bicara tentang luka dan kepercayaan. Aku ingin menjawab dengan janji yang jujur, bukan kata-kata besar.
“Aku akan berusaha mengatakan yang sebenarnya,” kataku. “Bahkan saat aku takut kamu kecewa.”
“Bagus.”
Malam berjalan dalam keheningan yang tidak lagi canggung. Kami saling menjaga, berbicara pelan, dan membiarkan kedekatan itu menjadi milik kami berdua. Tidak ada yang perlu dibuktikan kepada siapa pun. Saat Raina mulai mengantuk, aku merapikan selimut dan memastikan ia nyaman.
“Kamu masih di sini?” tanyanya dengan mata setengah tertutup.
“Aku di sini.”
“Jangan pergi diam-diam.”
“Aku tidak akan pergi tanpa memberitahumu.”
Ia mengangguk lalu tertidur. Aku duduk sebentar di sampingnya, memperhatikan napasnya yang mulai teratur. Rasa lega datang bersama penyesalan. Pada sore sebelum keributan di lobi, ketika ponselku berdering, aku meninggalkan kamar tanpa menjelaskan apa pun. Aku mengira bisa menyelesaikan urusan itu cepat. Aku tidak memikirkan bagaimana Raina akan merasa ketika selesai mandi dan mendapati kamar kosong.
Ingatan tentang telepon Devi kembali muncul. Saat itu ia mengabarkan wartawan sudah mengetahui hotel tempat kami menginap. Aku keluar kamar sementara Raina sedang mandi, lalu meminta petugas keamanan memastikan mereka tidak masuk ke area tamu. Ketika kembali, Raina sudah tidak ada. Jantungku seolah berhenti sebelum aku mengetahui ia pergi mencari Riri.
Aku duduk kembali dan mengusap wajah. Aku tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi. Yang bisa kulakukan adalah menceritakan semuanya tanpa menyembunyikan bagian yang membuatku terlihat buruk.
Saat cahaya pagi mulai menyentuh tirai, Raina bergerak dan membuka mata. Aku mengulurkan segelas air.
“Pagi,” sapaku.
Ia menerima gelas itu. “Kamu benar-benar di sini.”
“Aku bilang tidak akan pergi diam-diam.”
“Bagus.” Ia meminum air sedikit. “Nanti kamu ceritakan semuanya tentang telepon Devi, ya. Aku tidak mau ada bagian yang cuma kutebak.”
“Iya. Aku akan cerita.”
Raina menatapku serius. “Dan jangan anggap malam ini membuat semua masalah selesai.”
“Aku tidak akan.”
“Hubungan kita tetap perlu dibicarakan.”
“Aku siap.”
Ia mengembalikan gelas. Kami mendengar suara kendaraan dari jalan, lalu ketukan pelan dari pintu kamar. Aku berdiri, tetapi Raina menahan tanganku.
“Siapa?” tanyanya.
“Aku belum tahu.”
Ketukan itu terdengar lagi. Aku berjalan ke pintu, sementara Raina bangkit dan merapikan rambutnya. Pagi itu belum dimulai dengan penjelasanku, tetapi kami berdua sudah tahu percakapan itu tidak bisa ditunda lagi.
***
Raina
Ketukan di pintu kamar membuatku kembali teringat pada kilatan kamera malam sebelumnya. Aku menegang. Leon melihat perubahan wajahku dan tidak langsung membuka pintu.
“Kamu mau aku yang lihat dulu?” tanyanya.
“Iya. Tapi jangan biarkan orang masuk begitu saja.”
Leon mengintip melalui lubang pintu. “Petugas hotel.” Ia membuka sedikit. Petugas itu mengantarkan sarapan dan meminta maaf karena ada beberapa wartawan di luar gedung. Leon menutup pintu kembali dan meletakkan nampan di meja.
“Wartawan masih di luar?” tanyaku.
“Beberapa orang. Pihak keamanan sedang mengatur jalan keluar yang tidak ramai.”
Aku duduk di kursi, menatap piring tanpa selera. “Aku tidak mau disorot lagi.”
“Kita tidak akan keluar sebelum kamu siap. Aku juga akan minta Devi menghubungi Riri.”
“Riri sudah menunggu dari semalam.”
Leon berhenti sejenak. “Kamu benar. Aku seharusnya tidak lupa.”
Aku merasa bersalah melihat wajahnya berubah. “Aku bukan menyalahkanmu. Aku hanya khawatir dia sendirian.”
“Dia ada di lobi. Petugas hotel bilang seorang temanmu menunggu sejak dini hari.”
Aku menunduk. Aku membayangkan Riri mondar-mandir di lobi setelah tidak bisa menemukan aku. “Kita temui dia setelah sarapan.”
Leon duduk di seberangku. “Sebelum itu, aku perlu menjelaskan soal telepon tadi malam. Devi yang menelepon. Dia bilang wartawan melihat kita masuk hotel dan mulai berkumpul di sekitar lobi.”
“Jadi itu sebabnya kamu keluar?”
“Iya. Aku keluar untuk bicara dengan keamanan dan memastikan mereka tidak masuk ke lantai kamar. Aku pikir cuma sebentar. Saat kembali, kamu sudah pergi ke lobi.”
“Aku bangun dan kamu tidak ada. Aku tidak tahu apa-apa.”
“Aku salah karena tidak meninggalkan pesan.”
“Ponselku juga tidak ada padaku.” Aku menghela napas. “Aku merasa bodoh karena mengira kamu sengaja pergi.”
“Kamu tidak bodoh. Aku yang membuatmu khawatir.” Leon mengambil ponsel yang kemarin kami beli dari tasnya dan menyerahkannya. “Ini milikmu. Seharusnya langsung kuberikan, bukan kusimpan.” Aku memastikan ponsel itu menyala dan bisa kugunakan.
“Aku ingin kamu paham, setelah semua yang terjadi, aku mudah berpikir orang akan meninggalkanku tanpa penjelasan.”
“Aku paham. Aku tidak bisa meminta kamu langsung percaya, tapi aku bisa berusaha tidak mengulanginya.”
Aku memandangnya. “Kamu bilang Devi memberitahu wartawan melihat kita. Berarti sejak awal kamu tahu mereka ada?”
“Belum saat kita berjalan dari restoran. Devi menelepon setelah kita masuk kamar. Ia sedang memantau berita dan melihat foto-foto baru.”
“Kenapa tidak bilang kepadaku waktu itu?”
“Aku seharusnya bilang. Aku panik memikirkan cara menjaga kamu tetap tenang dan membuat keputusan sendiri. Itu bukan alasan.”
Aku tidak langsung menjawab. Penjelasan itu terdengar masuk akal, tetapi aku masih ingin melihat apakah Leon akan terus terbuka setelah ini.
Setelah sarapan, Leon menelepon Devi dan meminta Riri ditemani petugas hotel ke pintu samping. Beberapa menit kemudian, Riri muncul dengan tas selempang dan wajah kesal bercampur lega.
“Raina!” Ia langsung memelukku. “Kamu tahu aku hampir menghubungi semua orang di panti?”
“Maaf, Ri. Semalam keadaan kacau.”
“Kacau bagaimana? Aku cuma tahu kamu minta dijemput, lalu kamu menghilang di tengah wartawan.”
Leon menyela dengan hati-hati. “Saya yang membawanya kembali ke kamar. Dia pingsan karena panik.”
Riri menoleh kepadanya. “Dan kamu tidak mengabari saya?”
“Aku salah. Maaf.”
Riri mengembuskan napas. “Aku tidak ingin marah, tapi kalian berdua bikin aku khawatir.”
Aku menggenggam tangannya. “Aku baik-baik saja sekarang.”
“Jangan bilang baik-baik saja hanya supaya aku berhenti bertanya.”
“Aku masih takut, tapi lebih tenang.”
Riri mengangguk, lalu menatap Leon. “Kalian mau pulang ke mana?”
“Ke rumah besar,” jawab Leon. “Aku ingin Raina tinggal di tempat yang lebih aman dan tenang. Kalau kamu mau ikut, kami antar ke panti setelahnya.”
Aku mengangguk kepada Leon. “Aku ingin pulang ke rumah besar. Setelah itu kita bisa mengantar Riri.” Lalu aku menatap sahabatku. “Temani aku sebentar, ya?”
“Tentu. Tapi setelah itu aku harus kembali. Bu Asih pasti bertanya-tanya.”
Kami keluar melalui pintu samping dengan bantuan petugas hotel. Leon berjalan di dekatku, tidak menggenggam tanganku sampai aku sendiri meraih lengannya. Mobil sudah menunggu. Untuk pertama kalinya sejak berita itu muncul, aku merasa ada orang-orang yang berjalan bersamaku, bukan hanya kamera yang mengejarku.