Jantung Arina berdegup begitu keras.
Refleks, ia menggenggam erat gantungan kunci berbentuk pesawat itu hingga tersembunyi di balik telapak tangannya.
Adrian melangkah masuk ke dalam kamar.
"Kamu lagi ngapain?"
Arina berusaha tersenyum.
"Mau beresin koper."
Tatapan Adrian jatuh pada koper yang masih terbuka.
"Lho, bukannya tadi sudah selesai?"
"Aku cuma takut ada yang ketinggalan."
Adrian mengangguk pelan.
Lalu pandangannya beralih ke tangan Arina.
"Itu apa?"
Arina menunduk.
"Oh..."
Ia memperlihatkan gantungan kunci kecil itu.
"Gantungan yang pernah Mas kasih."
Ekspresi Adrian sedikit melunak.
"Gantungan itu masih kamu simpan?"
Arina tersenyum tipis.
"Semua pemberian Mas masih aku simpan."
Kalimat itu membuat Adrian tercekat.
Sesaat ia terdiam.
Rasa bersalah kembali menyusup ke dalam hatinya.
---
Malam itu...
Saat Adrian sudah tertidur, Arina masih terjaga.
Gantungan kecil itu tergeletak di atas nakas.
Ia memandanginya lama.
Lalu perlahan menggeleng.
"Tidak..."
"Aku tidak mau seperti ini."
Ia memilih menyimpannya kembali ke dalam laci.
Jika memang harus mengetahui kebenaran...
Ia ingin menemukannya tanpa mengkhianati prinsipnya sendiri.
Meski hatinya semakin terluka.
---
Keesokan paginya.
Hari keberangkatan Adrian ke Surabaya.
Arina bangun sebelum subuh.
Ia memasakkan nasi goreng kesukaan suaminya.
Menyiapkan kopi hangat.
Bahkan menyetrika ulang jas yang akan dipakai Adrian.
Seolah-olah...
Tidak ada keretakan di antara mereka.
"Mas."
"Iya?"
"Jangan lupa makan."
"Iya."
"Kalau capek, istirahat."
"Iya."
"Jaga kesehatan."
Adrian mengangguk.
Tatapannya sempat berhenti pada wajah Arina.
Wanita itu tersenyum seperti biasa.
Tidak marah.
Tidak bertanya.
Tidak menangis.
Justru sikap itulah yang membuat hati Adrian semakin berat.
Sebelum keluar rumah, Arina merapikan kerah jasnya.
"Hati-hati di jalan."
"Terima kasih."
Untuk sesaat, Adrian ingin memeluk istrinya.
Namun ponselnya bergetar.
Pesan dari Nadia.
"Saya sudah sampai bandara, Pak."
Adrian buru-buru memasukkan ponselnya ke saku.
"Aku berangkat dulu."
"Iya."
Arina berdiri di depan pintu hingga mobil suaminya menghilang.
Baru setelah itu...
Senyumnya perlahan runtuh.
---
Bandara Juanda.
Nadia sudah menunggu di ruang tunggu keberangkatan.
Ia mengenakan setelan kerja berwarna putih gading.
Begitu Adrian datang, ia melambaikan tangan kecil.
"Pak."
"Sudah lama?"
"Baru lima menit."
Mereka berjalan berdampingan menuju ruang tunggu.
Beberapa karyawan dari perusahaan lain melihat mereka.
Tak sedikit yang mengira mereka adalah pasangan suami istri yang sedang melakukan perjalanan bisnis bersama.
Nadia tersenyum dalam hati.
Perasaan itu membuatnya semakin yakin.
Suatu hari nanti...
Ia ingin berjalan di samping Adrian tanpa harus bersembunyi.
---
Di rumah.
Arina sedang membereskan meja makan ketika Siska datang.
"Gimana?"
Arina hanya menggeleng.
"Dia berangkat."
"Kamu jadi nyari tahu?"
"Aku masih bingung."
Siska menghela napas.
"Lalu kamu mau terus begini?"
"Aku cuma..."
Suara Arina bergetar.
"Aku masih berharap semua ini cuma salah paham."
Siska memandang sahabatnya dengan iba.
"Rin."
"Kadang..."
"Kebenaran memang menyakitkan."
"Tapi hidup dalam kebohongan jauh lebih kejam."
Kalimat itu membuat Arina terdiam cukup lama.
---
Siang harinya.
Pesawat Adrian mendarat di Surabaya.
Mobil hotel sudah menunggu di luar terminal.
"Selamat datang, Pak Adrian."
Seorang sopir membuka pintu.
"Nona Nadia."
Nadia ikut masuk ke mobil.
Sepanjang perjalanan, mereka membahas agenda rapat.
Setidaknya...
Begitulah yang terlihat dari luar.
Sesampainya di Grand Jasmina Hotel, petugas resepsionis langsung menyambut mereka.
"Selamat siang, Pak Adrian."
"Reservasi atas nama Adrian Pratama."
"Baik, Pak."
Petugas mengetik beberapa saat.
Kemudian tersenyum.
"Executive Suite sudah kami siapkan."
Nadia melirik Adrian.
Adrian membalas tatapan itu dengan singkat.
Namun sebelum kartu akses diberikan...
Seorang resepsionis lain menghampiri.
"Maaf, Mbak."
"Kemarin ada perubahan data reservasi dari kantor pusat."
"Iya."
"Yang ini tetap satu kamar, kan?"
Petugas itu langsung menyadari ucapannya.
Wajahnya berubah panik.
"Maaf... maksud saya..."
Ia buru-buru memperbaiki kalimatnya.
"...satu reservasi."
Adrian langsung mengambil kartu akses itu.
"Terima kasih."
Lalu mereka segera berjalan menuju lift.
Tidak ada yang menyadari...
Di sudut lobi hotel, seorang pria paruh baya yang baru selesai check-in sempat memperhatikan wajah Adrian.
Pria itu mengernyit.
"Adrian?"
Ia mencoba mengingat-ingat.
Bukankah pria itu suami dari keponakan sahabat lamanya?
Lalu...
Mengapa ia datang ke hotel bersama wanita yang jelas bukan istrinya?
Pria itu terus memandang ke arah lift yang pintunya baru saja tertutup.
Ekspresinya berubah serius.
Mungkin...
Apa yang baru saja dilihatnya bukan urusannya.
Namun jika benar pria itu adalah Adrian...
Maka seseorang sedang hidup dalam kebohongan.
Dan cepat atau lambat...
Rahasia itu pasti akan sampai kepada orang yang paling berhak mengetahuinya.
-----------
Pintu Executive Suite menutup perlahan.
Suasana kamar begitu sunyi.
Hanya terdengar suara pendingin ruangan dan napas keduanya yang masih sedikit tersengal setelah perjalanan.
Nadia meletakkan tas kerjanya di atas sofa.
"Akhirnya sampai juga."
Adrian mengendurkan dasinya.
"Besok jadwal rapat padat."
Nadia tersenyum tipis.
"Bapak selalu membahas pekerjaan."
"Itu memang alasan kita ada di sini."
Nadia menatap Adrian cukup lama.
"Benarkah hanya itu alasannya?"
Ruangan kembali hening.
Adrian tidak langsung menjawab.
Tatapannya justru berhenti pada wajah Nadia.
Selama tiga tahun terakhir, wanita itu selalu berada di sisinya. Menyusun jadwalnya, menemaninya dalam perjalanan bisnis, mendengarkan keluh kesahnya saat perusahaan menghadapi masalah.
Perhatian-perhatian kecil itu perlahan membuat batas antara hubungan profesional dan pribadi menjadi kabur.
Nadia melangkah mendekat.
"Pak..."
Suaranya jauh lebih pelan daripada biasanya.
"Kalau Bapak menyesal... kita masih bisa berhenti."
Adrian menghela napas panjang.
"Aku sudah terlalu jauh."
Kalimat itu membuat mata Nadia berkaca-kaca.
"Bahkan sekarang... aku sendiri tidak tahu bagaimana memperbaiki semuanya."
Nadia mengangkat tangan, merapikan kerah jas Adrian yang sedikit miring.
Gerakannya lembut.
Penuh kehati-hatian.
Adrian memandang wanita itu tanpa berkedip.
Sesaat kemudian, ia meraih pergelangan tangan Nadia.
"Nadia..."
Wanita itu mengangkat wajah.
Tanpa sepatah kata pun, Adrian menarik Nadia ke dalam pelukannya.
Nadia memejamkan mata.
Selama ini, ia selalu menginginkan kedekatan itu.
Dan kini, ia membiarkan dirinya tenggelam dalam pelukan Adrian, seolah lupa bahwa pria yang dipeluknya masih berstatus suami orang lain.
Tak ada lagi percakapan.
Hanya keheningan yang dipenuhi perasaan rumit—rasa memiliki, rasa bersalah, dan keputusan-keputusan yang telah membawa mereka melampaui batas yang seharusnya tidak pernah dilewati.
Di sisi lain kota...
Arina sedang merapikan ruang tamu yang terasa begitu lengang.
Ia sesekali melirik jam dinding.
Biasanya pada jam seperti ini Adrian akan mengirim pesan singkat.
"Sudah makan?"
"Jangan tidur terlalu malam."
Namun malam itu...
Tidak ada satu pun pesan yang masuk.
Arina mencoba menghubungi suaminya.
Sambungan masuk.
Tetapi tidak diangkat.
"Mas mungkin masih rapat..."
bisiknya, lebih untuk menenangkan dirinya sendiri.
Ia meletakkan ponsel di atas meja.
Lalu menatap foto pernikahan mereka.
Tanpa ia sadari, pada saat ia masih mempertahankan kepercayaannya...
Suaminya sedang membuat pilihan yang akan mengubah hidup mereka selamanya.
Dan di Grand Jasmina Hotel...
Seseorang tanpa sengaja melihat nama Adrian Pratama dan Nadia tercantum dalam daftar tamu rombongan perusahaan.
Pandangan orang itu berubah tajam.
"Aneh..."
gumamnya.
"Kalau ini benar perjalanan bisnis... kenapa mereka terlihat begitu dekat?"
Ia tidak tahu seluruh cerita.
Namun firasatnya mengatakan...
Rahasia besar itu tak akan bisa disembunyikan lebih lama lagi.
---------
Sinar matahari pagi menembus celah tirai Executive Suite.
Adrian membuka mata lebih dulu.
Beberapa detik ia hanya menatap langit-langit kamar, seolah mencoba mengingat bagaimana ia bisa kembali berada di titik ini.
Di sisi lain ranjang, Nadia masih terlelap.
Ia mengembuskan napas panjang.
Rasa bersalah kembali menghantamnya.
Tanpa berkata apa-apa, Adrian bangkit, mengambil jubah hotel yang tergantung di dekat kamar mandi, lalu berjalan ke balkon.
Udara pagi Surabaya terasa lembap.
Namun dadanya justru terasa semakin sesak.
Ponselnya bergetar.
Layar menampilkan foto Arina yang sedang tersenyum.
Arina menelepon.
Adrian menatap layar itu beberapa detik.
Akhirnya ia mengangkat panggilan.
"Mas... sudah sampai dari semalam, kan?"
"Iya."
"Maaf baru telepon. Semalam rapat sampai larut."
Arina tersenyum lega dari seberang.
"Aku cuma mau memastikan Mas baik-baik saja."
"Iya... aku baik."
Setelah telepon berakhir, Adrian menundukkan kepala.
Untuk pertama kalinya, ia merasa kebohongannya mulai menghancurkan dirinya sendiri.
---
Sementara itu...
Di lobi Grand Jasmina Hotel.
Pria paruh baya yang sempat melihat Adrian sehari sebelumnya masih duduk menikmati secangkir kopi.
Namanya Hendra Wijaya.
Seorang pengusaha properti yang disegani.
Namun bagi Arina...
Ia bukan orang asing.
Hendra adalah paman tiri Arina, adik dari ayah sambung yang sejak kecil memperlakukan Arina seperti keponakan sendiri.
Hendra memang jarang bertemu Arina karena kesibukan bisnis.
Tetapi ia mengenal Adrian dengan baik.
Bahkan ia pernah menghadiri pesta pernikahan mereka tujuh tahun lalu.
Semakin dipikirkannya, semakin yakin ia bahwa pria yang dilihat kemarin memang Adrian.
Namun satu hal mengganggunya.
Wanita yang bersama Adrian jelas bukan Arina.
"Jangan-jangan aku salah lihat..."
gumamnya.
Ia sebenarnya ingin mengabaikan kejadian itu.
Tetapi nalurinya sebagai pebisnis membuatnya terbiasa memeriksa sesuatu sebelum mengambil kesimpulan.
Saat hendak menuju ruang rapat, Hendra melihat pintu lift terbuka.
Adrian keluar bersama Nadia.
Keduanya mengenakan pakaian kerja yang rapi.
Mereka berbincang pelan sambil berjalan berdampingan.
Begitu melihat Hendra, Adrian langsung menghentikan langkahnya.
Wajahnya berubah tegang.
"Pak Hendra..."
Hendra tersenyum tipis.
"Adrian?"
"Kebetulan sekali bertemu di sini."
"Iya, Pak."
Adrian berusaha terdengar tenang.
"Sedang perjalanan bisnis."
Hendra mengangguk, lalu mengalihkan pandangan kepada Nadia.
"Perkenalkan?"
"Nadia, Pak. Sekretaris saya."
Nadia menyapa dengan sopan.
"Senang bertemu dengan Bapak."
Hendra membalas sapaan itu.
Namun pengalamannya selama puluhan tahun membaca bahasa tubuh orang membuatnya menangkap sesuatu.
Jarak mereka memang sopan.
Tetapi tatapan mata, cara mereka saling memahami tanpa banyak bicara, dan kecanggungan Adrian saat memperkenalkan Nadia terasa tidak wajar.
"Baiklah."
"Saya tidak mengganggu."
"Semoga rapatnya lancar."
"Terima kasih, Pak."
Hendra melangkah pergi.
Namun pikirannya tidak bisa tenang.
Di dalam mobil menuju lokasi proyek, ia membuka galeri ponselnya.
Ia menemukan foto lama saat pesta pernikahan Adrian dan Arina.
Wajah Arina yang tersenyum bahagia membuat dadanya terasa berat.
"Apa yang sebenarnya sedang kamu lakukan, Adrian?"
Hendra bukan tipe orang yang mudah menyebarkan tuduhan.
Ia memutuskan satu hal.
Ia tidak akan memberi tahu Arina sebelum memiliki bukti yang benar-benar jelas.
Tetapi mulai hari itu...
Ia akan memperhatikan setiap gerak-gerik Adrian.
Jika firasatnya benar...
Ia tidak akan tinggal diam membiarkan keponakan tirinya terus hidup dalam kebohongan.
----------
Bersambung