Dua hari berlalu.
Sejak percakapannya dengan Siska, Arina berusaha menjalani hari-harinya seperti biasa.
Ia tidak lagi menanyakan kepulangan Adrian.
Tidak lagi bertanya mengapa suaminya sering menatap layar ponsel sambil tersenyum tipis.
Ia memilih mengamati.
Diam.
Karena ia sadar...
Orang yang sedang menyembunyikan sesuatu sering kali justru membuka kedoknya sendiri.
---
Pagi itu Adrian sedang menikmati sarapan.
Arina menuangkan segelas jus jeruk ke hadapannya.
"Mas."
"Hm?"
"Katanya minggu depan ke Surabaya?"
"Iya."
"Berapa hari?"
"Tiga hari."
Arina mengangguk pelan.
"Lama juga."
"Soalnya banyak klien."
"Aku boleh ikut?"
Sendok di tangan Adrian berhenti.
"Ikut?"
"Iya."
"Sudah lama kita nggak jalan berdua."
"Aku bisa nunggu di hotel waktu Mas kerja."
Adrian tampak berpikir beberapa detik.
Lalu menggeleng.
"Nggak bisa."
"Kenapa?"
"Jadwalku padat."
"Nanti kamu malah sendirian."
Arina memaksakan senyum.
"Iya juga."
Padahal...
Bukan itu jawaban yang ingin ia dengar.
Selama menikah, Adrian tidak pernah keberatan jika sesekali Arina ikut dalam perjalanan bisnis yang santai.
Kini ia bahkan menolak tanpa berpikir panjang.
Semakin lama...
Hati Arina semakin dipenuhi tanda tanya.
---
Di kantor.
Nadia masuk membawa beberapa berkas.
"Pak."
"Iya?"
"Tadi pagi istri Bapak menelepon resepsionis."
Adrian langsung mengangkat kepala.
"Apa katanya?"
"Beliau hanya memastikan jadwal keberangkatan Bapak minggu depan."
Adrian mengembuskan napas pelan.
"Dia curiga?"
Nadia mendekat.
"Mungkin."
Ruangan mendadak sunyi.
"Kalau memang curiga..."
ucap Nadia hati-hati,
"...apa Bapak akan jujur?"
Adrian tidak menjawab.
Ia hanya memandang keluar jendela.
Nadia sudah mengetahui jawabannya.
Pria itu belum siap kehilangan rumah tangganya.
Namun...
Ia juga belum mampu melepaskan dirinya.
---
Malam harinya.
Saat Adrian mandi, ponselnya kembali berdering.
Kali ini Arina tidak melihat nama pengirimnya.
Ponsel itu hanya menampilkan notifikasi singkat.
Reservasi Anda telah dikonfirmasi.
Grand Jasmina Hotel.
Jantung Arina berdegup lebih cepat.
Ia tidak membuka pesan itu.
Tetapi nama hotel tersebut kembali muncul.
Hotel yang sama.
Hotel yang juga tercetak di kartu parkir beberapa hari lalu.
"Kenapa selalu hotel itu...?"
bisiknya.
---
Keesokan harinya.
Adrian berangkat lebih pagi.
Begitu mobil suaminya keluar dari halaman, Arina langsung mengambil ponselnya.
Tangannya sedikit gemetar.
Ia membuka mesin pencari.
Lalu mengetik pelan.
Grand Jasmina Hotel Surabaya.
Foto-foto hotel bermunculan.
Bangunan megah.
Lobi yang mewah.
Restoran.
Kolam renang.
Ruang pertemuan.
Semuanya tampak seperti hotel bisnis pada umumnya.
Arina menghela napas.
"Mungkin memang di sana tempat rapat."
Namun saat ia membuka galeri foto pengunjung...
Tatapannya berhenti pada salah satu gambar.
Seorang tamu mengunggah foto koridor hotel.
Entah mengapa...
Koridor itu terasa sangat familiar.
Arina memicingkan mata.
Lalu tiba-tiba ia teringat.
Beberapa bulan lalu Adrian pernah mengirim foto sedang bekerja di hotel.
Latar belakangnya...
Mirip sekali dengan koridor itu.
Saat itu Arina tidak pernah berpikir apa-apa.
Sekarang...
Semuanya terasa berbeda.
---
Siang hari.
Nadia menerima telepon dari bagian reservasi.
"Selamat siang, Bu Nadia."
"Iya."
"Reservasi atas nama Pak Adrian sudah kami perbarui."
"Baik."
"Kamar executive suite seperti biasanya."
Nadia tersenyum puas.
"Terima kasih."
Ia menutup telepon sambil membayangkan tiga hari yang akan mereka habiskan bersama.
Baginya...
Hubungan ini tinggal menunggu waktu.
Cepat atau lambat...
Adrian pasti akan memilih dirinya.
Yang belum Nadia sadari...
Semakin lama sebuah kebohongan disembunyikan...
Semakin banyak jejak yang tertinggal.
---
Sore menjelang.
Arina sedang menyiram bunga di halaman ketika ponselnya berbunyi.
Nomor yang tidak dikenal.
"Halo?"
"Selamat sore."
Suara perempuan di seberang terdengar sopan.
"Apakah benar ini Ibu Arina, istri Bapak Adrian Pratama?"
"Iya, benar."
"Saya dari Grand Jasmina Hotel."
Jantung Arina seolah berhenti berdetak.
"Saya ingin mengonfirmasi reservasi yang sempat berubah. Mohon maaf, apakah Bapak Adrian tetap datang bersama Ibu seperti data reservasi lama, atau hanya sendiri?"
Selama beberapa detik...
Arina tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun.
Reservasi lama?
Datang bersama istri?
Kalau begitu...
Siapa yang mengubah data itu?
Dan...
Untuk siapa kamar itu sekarang dipersiapkan?
--------
Arina menggenggam ponselnya semakin erat.
Suara wanita di seberang masih terdengar ramah.
"Halo, Bu? Apakah masih tersambung?"
Arina menelan ludah.
"I-iya."
"Maaf, Bu. Kami hanya ingin memastikan data reservasi. Sebelumnya kamar executive suite tercatat untuk Bapak Adrian Pratama dan pendamping. Kemarin ada perubahan menjadi satu tamu. Kami hanya ingin memastikan agar tidak terjadi kesalahan saat check-in."
Arina memejamkan mata.
Tangannya mulai dingin.
"Oh... begitu."
"Iya, Bu."
"Mungkin... memang ada perubahan jadwal."
Suara Arina terdengar begitu tenang.
Padahal dadanya terasa sesak.
"Kalau begitu kami anggap reservasi terbaru yang berlaku. Terima kasih, Bu."
"Sama-sama."
Telepon terputus.
Arina masih berdiri mematung di halaman.
Angin sore berembus pelan.
Namun tubuhnya terasa begitu berat.
Reservasi untuk dua orang.
Lalu diubah menjadi satu orang.
Kenapa?
Dan...
Siapa pendamping yang sebelumnya dicatat?
---
Malam itu Adrian pulang lebih awal.
Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari terakhir.
Arina menyambutnya seperti biasa.
"Makan malam sudah siap."
"Baik."
Mereka duduk berhadapan di meja makan.
Suasana begitu sunyi.
Hanya terdengar bunyi sendok yang sesekali beradu dengan piring.
Arina beberapa kali menatap wajah suaminya.
Pria itu tetap terlihat tenang.
Seolah tidak sedang menyembunyikan apa pun.
"Mas."
"Hm?"
"Perjalanan ke Surabaya jadi hari Senin, ya?"
"Iya."
"Kapan pulangnya?"
"Rabu malam."
Arina mengangguk pelan.
"Lumayan lama."
"Banyak pekerjaan."
Jawaban Adrian singkat.
Sama seperti beberapa hari terakhir.
Arina menarik napas perlahan.
"Mas..."
"Iya?"
"Biasanya hotel yang dipakai perusahaan apa?"
Sendok di tangan Adrian berhenti.
Hanya sepersekian detik.
Namun cukup untuk disadari Arina.
"Kenapa tanya begitu?"
"Nggak apa-apa."
"Aku cuma penasaran."
Adrian mengambil segelas air.
"Tergantung kota."
"Kalau Surabaya?"
"Belum tentu."
"Bisa berubah-ubah."
Arina hanya tersenyum.
Padahal...
Ia sudah mengetahui jawabannya.
Grand Jasmina Hotel.
Dan Adrian baru saja berbohong.
---
Di kantor.
Nadia masuk membawa tiket pesawat.
"Pak, semua sudah siap."
"Terima kasih."
"Besok sore saya berangkat lebih dulu untuk memastikan ruang rapat."
Adrian mengangguk.
"Oke."
Nadia menutup map.
Lalu berkata pelan.
"Istri Bapak sudah tahu?"
"Tahu soal perjalanan dinas."
"Maksud saya..."
Nadia menatap Adrian lekat-lekat.
"...soal kita?"
Adrian langsung menggeleng.
"Belum."
"Dan jangan sampai tahu."
Nadia tersenyum tipis.
"Rahasia memang menyenangkan..."
Ia berhenti sejenak.
"...sampai akhirnya terbongkar."
Kalimat itu membuat Adrian terdiam.
Entah mengapa...
Belakangan ini ia juga mulai merasa tidak tenang.
---
Keesokan harinya.
Arina sedang merapikan ruang kerja Adrian.
Ia menemukan sebuah buku agenda yang tertinggal di atas meja.
Bukan buku harian.
Hanya agenda kerja.
Saat hendak menyimpannya, selembar nota kecil jatuh ke lantai.
Arina memungutnya.
Di sudut kanan atas tertulis logo toko perhiasan.
Aurora Jewelry Boutique.
Tanggal pembelian...
Dua minggu yang lalu.
Arina mengernyit.
"Perhiasan?"
Ia membuka nota itu.
Isinya hanya satu barang.
Gelang emas putih dengan liontin bunga melati.
Nilainya tidak murah.
Arina mencoba mengingat.
Adrian tidak pernah memberinya gelang dalam beberapa bulan terakhir.
Bahkan...
Hari ulang tahun pernikahan mereka baru saja lewat tanpa hadiah apa pun.
Lalu...
Gelang itu untuk siapa?
Jantung Arina kembali berdegup lebih cepat.
Ia teringat sesuatu.
Beberapa malam lalu Adrian melarangnya membuka koper sepulang perjalanan bisnis.
Apakah...
Gelang itu yang disembunyikan?
Tanpa sadar, jemarinya mulai gemetar.
---
Sore harinya.
Di sebuah kafe dekat kantor.
Nadia duduk sambil menikmati secangkir kopi.
Tak lama kemudian Adrian datang.
"Maaf terlambat."
"Tidak apa-apa."
Pelayan datang membawa pesanan.
Setelah pelayan pergi, Nadia membuka tas tangannya.
Ia mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil.
"Pak."
"Apa ini?"
"Gelang yang tertinggal di koper Bapak."
Adrian langsung mengenali kotak itu.
"Untung tidak ditemukan."
Nadia tersenyum.
"Hampir saja."
Adrian mengembuskan napas panjang.
"Mulai sekarang kita harus lebih hati-hati."
Nadia menatap pria itu beberapa saat.
"Lelah ya..."
"Lelah apa?"
"Terus berbohong."
Adrian tidak menjawab.
"Kalau memang sudah tidak bahagia..."
lanjut Nadia pelan,
"...kenapa masih bertahan?"
Pertanyaan itu menggantung di udara.
Adrian memandang keluar jendela.
Bayangan wajah Arina muncul di benaknya.
Wanita yang selalu menunggunya pulang.
Yang tak pernah membantah.
Yang selalu percaya.
Rasa bersalah menyelinap di dadanya.
Namun...
Ia juga tidak sanggup mengakhiri hubungannya dengan Nadia.
Tanpa mereka sadari...
Di seberang jalan, sebuah mobil berhenti karena lampu merah.
Di balik kaca mobil itu...
Arina sedang duduk di kursi penumpang bersama Siska.
Awalnya ia tidak memperhatikan kafe tersebut.
Sampai matanya menangkap sosok yang sangat dikenalnya.
Adrian.
Duduk berdua dengan Nadia.
Wajah Arina perlahan memucat.
"Apa..."
bisiknya lirih.
"Itu... Mas Adrian?"
Lampu lalu lintas berubah hijau.
Mobil kembali melaju.
Namun bayangan yang sempat tertangkap mata Arina...
Sudah cukup untuk membuat seluruh tubuhnya bergetar.
Untuk pertama kalinya...
Kecurigaannya tidak lagi hanya berasal dari firasat.
Kini...
Ia telah melihat suaminya bersama wanita yang sama, di luar jam kerja.
Dan hatinya mulai takut menghadapi satu kenyataan...
yang selama ini berusaha ia sangkal.
----------
"Rin... kamu kenapa?"
Siska langsung menyadari wajah sahabatnya berubah pucat.
Arina masih menoleh ke belakang, berusaha melihat kembali ke arah kafe yang kini semakin jauh.
"Itu... tadi..."
"Apa?"
"Itu Mas Adrian."
Siska spontan menoleh melalui kaca spion.
Namun mobil mereka sudah terlalu jauh.
"Apa kamu yakin?"
Arina mengangguk pelan.
"Dia duduk sama Nadia."
Siska menggenggam kemudi lebih erat.
"Di luar jam kantor?"
"Iya."
Keheningan memenuhi mobil.
Beberapa saat kemudian, Siska meminggirkan mobil ke bahu jalan.
"Rin."
"Hm?"
"Kamu benar-benar yakin itu Adrian?"
Arina memejamkan mata.
"Aku hafal suamiku."
Jawaban itu lirih.
Namun penuh keyakinan.
---
Sepanjang perjalanan pulang, Arina hampir tidak mengucapkan sepatah kata pun.
Pemandangan Adrian dan Nadia yang duduk berdua terus terulang di benaknya.
Mungkin...
Mereka memang sedang membahas pekerjaan.
Mungkin...
Itu hanya kebetulan.
Namun mengapa mereka bertemu di kafe?
Mengapa bukan di kantor?
Mengapa Adrian tidak pernah bercerita?
Pertanyaan demi pertanyaan memenuhi pikirannya.
---
Malam harinya.
Adrian pulang sekitar pukul delapan.
Seperti biasa, Arina sudah menunggu di ruang makan.
"Kamu belum makan?"
"Tunggu Mas."
Adrian menarik kursi.
"Maaf, tadi ada meeting."
Arina menatap wajah suaminya.
"Meeting?"
"Iya."
"Di kantor?"
"Iya."
Jawaban itu keluar tanpa ragu.
Padahal beberapa jam sebelumnya...
Arina melihatnya berada di sebuah kafe bersama Nadia.
Untuk pertama kalinya sejak menikah...
Arina mengetahui suaminya berbohong secara langsung.
Dadanya terasa sesak.
Namun ia tetap tersenyum.
"Oh..."
"Habis meeting sama siapa?"
"Klien."
"Klien dari mana?"
Adrian mengambil segelas air.
"Bandung."
"Banyak yang dibahas."
Arina mengangguk pelan.
Ia tidak melanjutkan pertanyaan.
Bukan karena percaya.
Melainkan karena ingin melihat...
Sampai sejauh mana Adrian akan mempertahankan kebohongannya.
---
Malam itu, setelah Adrian tertidur, Arina tidak bisa memejamkan mata.
Ia memandang langit-langit kamar.
Air matanya perlahan mengalir.
Bukan karena ia sudah mengetahui semuanya.
Melainkan karena ia mulai kehilangan sesuatu yang selama ini paling ia percaya.
Kejujuran suaminya.
---
Keesokan paginya.
Siska datang ke rumah.
"Aku kepikiran semalaman."
Arina menuangkan teh untuk sahabatnya.
"Aku juga."
"Rin."
Siska menatapnya serius.
"Kalau kamu memang mau mencari tahu..."
Arina mengangkat wajah.
"...jangan pakai perasaan."
"Pakai bukti."
Arina terdiam.
"Bukti?"
"Iya."
"Kalau ternyata mereka memang tidak ada hubungan, kamu tidak akan menyesal sudah menuduh."
"Tapi kalau memang ada sesuatu..."
Siska menggenggam tangan Arina.
"...kamu juga tidak akan terus hidup dalam kebohongan."
Ucapan itu membuat Arina berpikir lama.
Selama ini ia hanya mengandalkan firasat.
Belum ada bukti yang benar-benar menunjukkan perselingkuhan.
Namun...
Semua kejanggalan mulai saling terhubung.
---
Di kantor.
Nadia sedang menyusun berkas keberangkatan.
"Pak."
"Iya?"
"Mobil akan menjemput kita besok pukul enam pagi."
"Kita?"
Nadia tersenyum kecil.
"Maksud saya..."
Ia segera memperbaiki ucapannya.
"...menjemput Bapak, lalu saya menyusul ke bandara."
Adrian mengangguk tanpa menaruh curiga.
Namun di luar ruangan...
Rina, staf administrasi yang beberapa kali memperhatikan kedekatan mereka, tanpa sengaja mendengar ucapan Nadia.
"Kita?"
gumamnya pelan.
Ia mengernyit.
Mengapa seorang sekretaris berbicara seolah-olah mereka selalu bepergian bersama?
Rasa penasarannya mulai tumbuh.
---
Sore harinya.
Arina sedang melipat pakaian Adrian untuk perjalanan dinas.
Ia memasukkan kemeja, dasi, dan beberapa perlengkapan lain ke dalam koper.
Saat hendak menutup koper...
Ia teringat sesuatu.
Tangannya berhenti.
Perlahan ia membuka laci meja rias.
Ia mengambil sebuah benda kecil.
Sebuah gantungan kunci mungil berbentuk pesawat yang dihadiahkan Adrian pada ulang tahun pernikahan mereka yang kedua.
Di balik gantungan itu, terdapat fitur pelacak lokasi yang dulu sengaja dipasang Adrian agar mudah ditemukan jika tertinggal.
Arina menatap benda itu cukup lama.
Dulu Adrian berkata sambil tertawa,
"Kalau kopernya hilang, kita tinggal cari pakai ini."
Saat itu mereka menganggapnya hanya candaan.
Kini...
Gantungan kecil itu justru membuat Arina memikirkan sesuatu.
Ia menggenggamnya erat.
"Lakukan atau tidak...?"
bisiknya.
Jika ia memasangnya di koper Adrian...
Ia mungkin akan mengetahui apakah suaminya benar-benar pergi ke tempat yang ia katakan.
Namun di sisi lain...
Ia merasa bersalah karena harus diam-diam melacak suaminya sendiri.
Air mata kembali memenuhi matanya.
"Kenapa kita sampai seperti ini, Mas..."
Arina memandang koper di hadapannya.
Untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun pernikahan mereka...
Ia berdiri di persimpangan.
Tetap mempercayai suaminya tanpa pertanyaan...
Atau mulai mencari kebenaran, meski mungkin akan menghancurkan seluruh hidupnya.
Tangannya perlahan bergerak mendekati koper.
Namun sebelum gantungan kecil itu sempat dipasang...
Terdengar suara Adrian dari arah pintu kamar.
"Arina... kamu lagi ngapain?"
Jantung Arina seolah berhenti berdetak.
Perlahan ia menoleh.
Adrian berdiri di ambang pintu, menatap langsung ke arah koper dan benda yang masih berada di tangan istrinya.
-----------
Bersambung...