Hendra tidak bisa berkonsentrasi sepanjang rapat.
Presentasi yang terpampang di layar berjalan silih berganti.
Para direksi bergantian menyampaikan laporan.
Namun pikirannya tetap kembali pada satu pemandangan yang ia lihat pagi tadi.
Adrian.
Dan sekretarisnya.
Bagi orang lain, mungkin itu bukan sesuatu yang aneh.
Seorang direktur bepergian bersama sekretarisnya adalah hal yang lumrah.
Tetapi...
Tatapan mata mereka tidak bisa membohongi orang yang sudah puluhan tahun berkecimpung di dunia bisnis.
Hendra sudah terlalu sering melihat hubungan profesional berubah menjadi hubungan pribadi.
Dan instingnya jarang meleset.
---
Usai rapat, Hendra kembali ke kamar hotel.
Ia membuka ponselnya lalu menghubungi seseorang.
Tak lama kemudian, telepon tersambung.
"Selamat siang, Pak."
"Rudi."
"Iya, Pak."
"Kamu lagi di Surabaya?"
"Betul."
"Ada yang perlu saya kerjakan?"
Hendra berjalan menuju jendela.
Tatapannya menerawang ke arah jalan raya yang ramai.
"Aku ingin kamu menyelidiki seseorang."
"Siapa, Pak?"
"Adrian Pratama."
Rudi terdiam beberapa detik.
"Direktur Adrian Group itu?"
"Iya."
"Apa yang harus saya cari?"
Hendra berbicara dengan nada tenang.
"Saya tidak mau fitnah."
"Saya juga tidak mau mengambil kesimpulan hanya berdasarkan apa yang saya lihat."
"Karena itu..."
"Saya butuh fakta."
"Fakta seperti apa, Pak?"
"Selidiki perjalanan bisnisnya."
"Siapa saja yang selalu ikut."
"Hotel tempat menginap."
"Kalau memang ada hubungan yang tidak semestinya..."
Hendra berhenti sejenak.
"...aku ingin tahu kebenarannya."
"Baik, Pak."
"Tapi saya ingin memastikan."
"Penyelidikan ini bersifat rahasia?"
"Rahasia."
"Jangan sampai Adrian tahu."
"Apalagi wanita yang bersamanya."
"Siap."
Telepon pun berakhir.
---
Rudi bukan orang sembarangan.
Selama hampir lima belas tahun, ia menjadi kepala divisi audit internal di perusahaan Hendra.
Sesekali, ia juga dipercaya melakukan investigasi terhadap dugaan penyalahgunaan jabatan, kebocoran proyek, hingga penipuan mitra bisnis.
Ia terbiasa bekerja tanpa menarik perhatian.
Dan yang paling penting...
Ia hanya menyampaikan fakta.
Bukan dugaan.
---
Sore itu juga, Rudi tiba di Grand Jasmina Hotel.
Ia tidak langsung bertanya kepada petugas.
Sebaliknya, ia duduk di area kafe hotel sambil menikmati secangkir kopi.
Beberapa menit kemudian...
Lift terbuka.
Adrian dan Nadia keluar.
Keduanya mengenakan pakaian kerja.
Mereka berjalan menuju restoran hotel sambil membahas jadwal presentasi sore.
Rudi memperhatikan dari kejauhan.
Ia tidak melihat sesuatu yang mencurigakan.
Tidak ada sentuhan.
Tidak ada sikap berlebihan.
Semuanya tampak profesional.
Namun...
Ia tetap mengambil beberapa catatan kecil.
Adrian Pratama.
Nadia.
Sering bepergian berdua.
Menginap di hotel yang sama.
Belum cukup.
Ia membutuhkan informasi yang lebih kuat.
---
Malam harinya, Rudi kembali menghubungi Hendra.
"Pak."
"Iya."
"Sementara belum ada sesuatu yang bisa disimpulkan."
Hendra mengangguk pelan.
"Bagus."
"Jangan memaksakan mencari kesalahan kalau memang tidak ada."
"Itu juga yang saya pikirkan."
"Namun saya menemukan satu hal."
"Apa?"
"Hampir semua perjalanan dinas Pak Adrian selalu ditemani sekretaris yang sama."
"Itu masih wajar."
"Betul, Pak."
"Karena itu saya belum menyimpulkan apa pun."
Hendra tersenyum tipis.
"Itulah alasan saya mempercayai kamu."
"Teruskan."
"Tapi ingat..."
"Jangan melanggar hukum."
"Jangan menyusup ke kamar."
"Jangan mengambil data pribadi."
"Saya hanya ingin mengetahui fakta yang bisa diperoleh secara sah."
"Siap, Pak."
---
Di sisi lain hotel...
Adrian berdiri seorang diri di balkon kamarnya.
Lampu-lampu kota Surabaya berkelap-kelip di kejauhan.
Ponselnya kembali menampilkan foto Arina sebagai wallpaper.
Ia menatap foto itu cukup lama.
Semakin lama ia menjalani kehidupan ganda ini...
Semakin besar pula rasa bersalah yang menghimpit dadanya.
Di dalam kamar, Nadia keluar dari ruang kerja kecil yang terhubung dengan suite sambil membawa map presentasi.
"Pak."
"Besok materi sudah siap."
Adrian mengangguk tanpa menoleh.
"Terima kasih."
Nadia memperhatikan raut wajah pria itu.
"Bapak memikirkan Bu Arina lagi?"
Adrian tidak menjawab.
Keheningannya sudah menjadi jawaban.
Dan Nadia mulai menyadari...
Meskipun Adrian telah melangkah terlalu jauh bersamanya...
Masih ada satu orang yang belum benar-benar bisa ia keluarkan dari hatinya.
Sementara itu...
Di kota yang berbeda, Arina memandangi ponselnya yang tetap sunyi.
Ia tersenyum kecil, meski hatinya dipenuhi kegelisahan.
Ia tidak tahu...
Bahwa tanpa sepengetahuannya, seseorang kini sedang berusaha mengungkap kebenaran.
Dan jika penyelidikan Hendra membuahkan hasil...
Rahasia yang selama ini disembunyikan Adrian dan Nadia mungkin akan segera terbongkar.
--------
Malam itu, Rudi masih berada di lobi Grand Jasmina Hotel.
Ia memandangi layar laptopnya sambil sesekali memperhatikan pintu lift.
Penyelidikan yang diminta Pak Hendra harus dilakukan dengan hati-hati.
Ia tidak ingin melanggar hukum.
Apalagi sampai mencemarkan nama seseorang tanpa bukti yang sah.
Saat itu pula seorang pelayan hotel yang dikenalnya sejak lama menghampiri.
"Pak Rudi?"
Rudi menoleh.
"Ternyata benar Bapak."
"Sudah lama tidak bertemu."
Mereka berjabat tangan.
Setelah berbincang beberapa menit, Rudi bertanya dengan nada santai.
"Saya sedang mengamati rombongan perusahaan yang menginap di sini."
Pelayan itu tersenyum.
"Oh, rombongan Adrian Group?"
"Iya."
"Mereka sering ke sini?"
Pelayan itu mengangguk.
"Cukup sering, Pak."
"Terutama Pak Adrian."
"Selalu dengan sekretarisnya?"
Pelayan itu tampak ragu.
"Saya kurang enak kalau membahas tamu."
Rudi mengangguk memahami.
"Tidak perlu menceritakan hal-hal pribadi."
"Saya hanya ingin memastikan apakah mereka memang langganan hotel ini."
"Iya."
"Hampir setiap perjalanan dinas selalu menginap di sini."
Jawaban itu langsung dicatat Rudi.
---
Keesokan paginya.
Rudi duduk di restoran hotel.
Tak lama kemudian, Adrian dan Nadia turun untuk sarapan.
Mereka memilih meja di sudut ruangan.
Tidak ada karyawan lain bersama mereka.
Sambil menikmati kopi, mereka membahas jadwal presentasi.
Sesekali Nadia tersenyum.
Adrian pun membalas senyumnya.
Di mata orang lain...
Mereka tampak seperti pasangan yang sangat akrab.
Beberapa menit kemudian, setelah selesai sarapan, Nadia berdiri.
"Pak."
Ia merapikan kerah jas Adrian yang sedikit terlipat.
Gerakan itu berlangsung singkat.
Namun terlalu akrab untuk hubungan atasan dan bawahan.
Adrian tidak menolak.
Sebaliknya, ia hanya tersenyum tipis.
Momen itu sempat tertangkap kamera ponsel Rudi dari kejauhan.
Bukan sebagai pelanggaran privasi di dalam kamar.
Melainkan di area publik hotel.
Tak lama kemudian, saat hendak berjalan menuju ruang rapat, Adrian secara spontan menggenggam tangan Nadia beberapa detik sebelum menyadari ada beberapa tamu yang melintas.
Ia segera melepaskannya.
Tetapi semuanya sudah terlambat.
Rudi berhasil mengabadikan momen tersebut.
Ia menatap layar ponselnya.
Wajahnya berubah serius.
"Bukti ini memang belum membuktikan seluruh cerita..."
gumamnya.
"...tetapi sudah cukup menunjukkan bahwa hubungan mereka melampaui batas profesional."
---
Sore harinya, Rudi menemui Hendra di sebuah ruang rapat hotel.
Ia meletakkan beberapa foto di atas meja.
Hendra memperhatikannya satu per satu.
Foto Adrian dan Nadia sarapan berdua.
Foto Nadia merapikan kerah jas Adrian.
Foto ketika tangan mereka sempat saling menggenggam.
Hendra menarik napas panjang.
"Jadi..."
"Insting saya tidak salah."
Rudi menggeleng pelan.
"Saya belum bisa mengatakan lebih dari yang tampak di foto."
"Tetapi kedekatan mereka jelas tidak seperti hubungan kerja biasa."
Hendra memejamkan mata beberapa saat.
Bayangan wajah Arina kembali terlintas.
Keponakan tirinya itu masih menunggu suaminya pulang dengan penuh kepercayaan.
Sementara di kota lain...
Suaminya justru membangun kedekatan dengan wanita lain.
"Jangan sebarkan foto-foto ini."
kata Hendra akhirnya.
"Simpan baik-baik."
"Saya sendiri yang akan menentukan kapan saatnya Arina mengetahui semua ini."
Rudi mengangguk.
"Baik, Pak."
Namun jauh di lubuk hati Hendra...
Ia tahu.
Hari ketika seluruh rahasia itu terbongkar...
Sudah semakin dekat.
------
Dua hari kemudian.
Perjalanan bisnis di Surabaya akhirnya selesai.
Adrian kembali ke Jakarta dengan tubuh yang lelah, tetapi pikirannya jauh lebih kacau.
Hubungannya dengan Nadia semakin sulit dihentikan.
Sementara setiap kali melihat wajah Arina...
Rasa bersalah itu semakin menghimpit dadanya.
Namun pagi itu, ia tak punya waktu memikirkan semua itu.
Hari ini adalah Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan Adrian Group.
Seluruh jajaran direksi sudah hadir sejak pukul delapan pagi.
Para komisaris, investor, dan pemegang saham mulai memenuhi ballroom utama kantor pusat.
Suasananya jauh lebih formal daripada biasanya.
---
"Pak Adrian."
Nadia menghampiri sambil membawa tablet.
"Semua pemegang saham sudah registrasi."
"Bagaimana dengan investor baru?"
Nadia membuka daftar.
"Belum ada informasi detail, Pak."
"Katanya hari ini akan diumumkan."
Adrian mengangguk.
Ia memang mendengar kabar bahwa beberapa bulan lalu terjadi transaksi pembelian saham dalam jumlah besar.
Namun identitas pembelinya dirahasiakan.
Bahkan direksi tidak diberi tahu.
Yang mereka ketahui hanya satu.
Pemegang saham baru itu langsung menjadi pemilik saham terbesar perusahaan.
---
Pukul sembilan tepat.
Seluruh peserta rapat berdiri ketika Ketua Komisaris memasuki ruangan.
Setelah pembukaan selesai, beliau mengambil mikrofon.
"Sebelum memasuki agenda utama..."
"Ada satu hal penting yang ingin kami umumkan."
Ruangan mendadak hening.
"Beberapa bulan terakhir telah terjadi proses akuisisi saham yang sesuai dengan ketentuan perusahaan."
"Hari ini, kami secara resmi memperkenalkan pemegang saham terbesar Adrian Group."
Semua mata langsung tertuju ke pintu ballroom.
Pintu perlahan terbuka.
Seorang pria paruh baya melangkah masuk dengan tenang.
Setelan jas hitam yang sederhana justru membuat wibawanya semakin terasa.
Tatapannya lurus ke depan.
Langkahnya mantap.
Adrian yang duduk di meja direksi ikut menoleh.
Lalu...
Matanya membelalak.
"Itu..."
Ia mengenali wajah itu.
Pria yang ditemuinya di Grand Jasmina Hotel.
Pak Hendra.
Ketua Komisaris tersenyum.
"Izinkan saya memperkenalkan..."
"Tuan Hendra Wijaya."
"Tuan Hendra kini secara resmi menjadi pemegang saham terbesar Adrian Group."
Suasana ballroom langsung dipenuhi tepuk tangan.
Beberapa orang tampak terkejut.
Nama Hendra Wijaya sudah lama dikenal sebagai pengusaha yang sukses mengembangkan bisnis properti, logistik, dan investasi. Tidak ada yang menyangka ia diam-diam mengakumulasi kepemilikan saham hingga menjadi pemegang saham terbesar perusahaan.
Adrian ikut berdiri.
Ia bertepuk tangan bersama peserta rapat lainnya.
Saat Hendra berjalan melewati meja direksi...
Adrian tersenyum sopan.
"Selamat datang, Pak."
Hendra menghentikan langkahnya.
Ia membalas senyum Adrian.
Namun...
Senyum itu tidak sampai ke matanya.
Tatapannya begitu tajam.
Tenang.
Dingin.
Seolah mampu menembus semua kepura-puraan yang selama ini Adrian bangun.
Entah mengapa...
Jantung Adrian tiba-tiba berdegup lebih cepat.
Tatapan itu...
Sama persis seperti saat mereka bertemu di Grand Jasmina Hotel.
Bedanya...
Kini Hendra bukan lagi sekadar tamu hotel.
Ia adalah orang yang memiliki pengaruh terbesar di perusahaan tempat Adrian mengabdikan kariernya.
"Terima kasih, Pak Adrian."
Suara Hendra terdengar tenang.
"Saya berharap kita bisa bekerja sama dengan baik."
"Tentu, Pak."
Adrian berusaha terdengar percaya diri.
Namun saat Hendra kembali menatapnya beberapa detik lebih lama...
Adrian merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan.
Tatapan itu bukan tatapan seorang investor kepada direksi.
Melainkan tatapan seseorang...
Yang seolah sudah mengetahui sebuah rahasia besar.
---
Rapat pun dimulai.
Adrian memaparkan laporan kinerja perusahaan dengan sangat baik.
Presentasinya berjalan lancar.
Beberapa pemegang saham menganggukkan kepala puas.
Namun setiap kali Adrian mengalihkan pandangan ke arah kursi utama...
Hendra selalu memperhatikannya.
Tanpa senyum.
Tanpa ekspresi.
Hanya tatapan tajam yang membuat Adrian kehilangan fokus beberapa kali.
Nadia yang duduk di belakang meja direksi ikut menyadarinya.
Ia menunduk, lalu berbisik pelan saat sesi istirahat.
"Pak..."
"Hm?"
"Pak Hendra terus memperhatikan Bapak."
"Aku juga sadar."
"Apa Bapak kenal beliau?"
Adrian mengingat pertemuan mereka di hotel.
"Baru sekali."
"Di Surabaya."
Nadia langsung mengangkat wajah.
"Di Grand Jasmina?"
"Iya."
Wajah Nadia perlahan berubah pucat.
Jika Hendra benar-benar mengenali mereka...
Maka perjalanan bisnis itu mungkin telah meninggalkan jejak yang jauh lebih besar daripada yang mereka bayangkan.
Sementara itu...
Di ruang VIP yang terhubung dengan ballroom, Hendra berdiri di depan jendela.
Rudi masuk sambil membawa sebuah map.
"Pak."
"Semua data yang Bapak minta sudah saya siapkan."
Hendra menerima map itu.
Ia belum membukanya.
Tatapannya tetap mengarah ke ballroom, tepat ke arah Adrian yang sedang berbincang dengan beberapa komisaris.
"Belum."
ucap Hendra pelan.
"Belum saatnya."
"Saya ingin melihat..."
"Apakah dia masih memiliki keberanian untuk terus berbohong."
Rudi mengangguk.
"Baik, Pak."
Tanpa disadari Adrian...
Orang yang kini memiliki kuasa terbesar di perusahaan tempatnya bekerja...
Juga merupakan orang yang paling dekat dengan keluarga istrinya.
Dan jika saatnya tiba...
Hendra tidak hanya bisa menghancurkan karier Adrian.
Ia juga mampu membuka seluruh kebohongan yang selama ini disembunyikan dari Arina.
------
Malam mulai turun.
Lampu-lampu kota Jakarta menyala satu per satu.
Di ruang kerja pribadinya, Hendra duduk seorang diri.
Di atas meja terdapat sebuah kotak kayu tua yang sudah puluhan tahun tidak pernah ia buka.
Perlahan, ia membuka tutupnya.
Di dalamnya tersimpan beberapa foto lama, sepucuk surat yang mulai menguning, dan sebuah gelang bayi berwarna merah muda.
Hendra mengambil salah satu foto.
Seorang gadis muda tersenyum malu-malu di sampingnya.
Namanya...
Maya.
Wanita yang tidak pernah benar-benar bisa ia lupakan.
---
Dua puluh tujuh tahun yang lalu...
Hendra masih menjadi pemuda yang sedang merintis usaha keluarga.
Saat itu usianya tiga puluh tiga tahun.
Sedangkan Maya baru berusia dua puluh tiga tahun.
Mereka saling mengenal dalam sebuah acara keluarga besar.
Hubungan mereka berkembang dalam waktu singkat.
Namun semuanya berakhir pada sebuah malam yang menjadi penyesalan terbesar dalam hidup Hendra.
Setelah sebuah pesta, Hendra pulang dalam keadaan mabuk.
Malam itu ia membuat keputusan yang buruk, dan hubungan mereka terjadi dalam keadaan yang seharusnya tidak pernah dibiarkan terjadi.
Keesokan harinya, Hendra diliputi rasa bersalah.
Sebelum sempat memperbaiki semuanya, ia dipaksa berangkat ke luar negeri untuk mengambil alih cabang perusahaan keluarga yang sedang berada di ambang kebangkrutan.
Ia berusaha mencari Maya.
Namun mereka kehilangan kontak.
Waktu terus berjalan.
Dan penyesalan itu ikut terbawa selama bertahun-tahun.
---
Sementara di Indonesia...
Maya menyadari dirinya mengandung.
Ia memilih tidak mencari Hendra.
Bukan karena membenci pria itu.
Melainkan karena ia tahu Hendra sudah berada di luar negeri dan hidupnya telah berubah.
Ia memutuskan mempertahankan kandungannya.
Sendirian.
Sembilan bulan kemudian...
Lahirlah seorang bayi perempuan.
Ia diberi nama...
Arina.
Selama beberapa tahun, Maya membesarkan Arina tanpa suami.
Ia bekerja apa saja demi memastikan putrinya tetap bisa makan dan bersekolah.
Hingga akhirnya...
Seorang pria datang melamar dirinya.
Namanya Bima.
Keponakan Hendra.
Usianya sebaya dengan Maya.
Bima mengetahui bahwa Maya memiliki seorang anak kecil.
Namun ia tidak pernah menanyakan siapa ayah kandung Arina.
Baginya...
Yang terpenting adalah masa depan.
Ia menerima Arina seperti darah dagingnya sendiri.
Sejak hari itu...
Arina tumbuh dengan memanggil Bima sebagai ayah.
Dan tak seorang pun mengetahui siapa ayah biologisnya.
---
Dua puluh tahun kemudian...
Hendra kembali menetap di Indonesia.
Bisnisnya berkembang pesat.
Ia pulang untuk membangun investasi di tanah air.
Hari pertama kepulangannya...
Bima datang menjemput di bandara bersama istrinya.
Begitu melihat wanita yang turun dari mobil...
Hendra membeku.
"Maya..."
Wanita itu juga terdiam.
Wajahnya langsung pucat.
Tak ada satu pun dari mereka yang mampu mengucapkan sepatah kata.
Bima sama sekali tidak menyadari keanehan itu.
Ia justru tertawa sambil merangkul bahu Hendra.
"Om, akhirnya pulang juga."
Beberapa hari kemudian...
Maya diam-diam menemui Hendra.
Di rumah lama yang sudah lama kosong.
Suasana terasa begitu canggung.
"Mengapa kamu tidak pernah mencariku?"
tanya Hendra lirih.
Maya menundukkan kepala.
"Karena semuanya sudah terlambat."
"Lalu... Arina?"
Air mata Maya langsung jatuh.
"Dia putrimu."
Hendra membeku.
"Dilahirkan beberapa bulan setelah kamu pergi."
Kalimat itu membuat dunia Hendra seakan berhenti berputar.
Ia menghitung usia Arina.
Mengingat kembali waktu keberangkatannya ke luar negeri.
Semuanya...
Semuanya cocok.
"Kenapa kamu tidak pernah memberitahuku?"
"Aku tidak ingin menghancurkan hidup siapa pun."
"Menghancurkan?"
"Bima mencintai Arina seperti anak kandungnya."
"Dia tidak pernah membedakan."
"Dia ayah yang baik."
"Aku tidak sanggup merusak keluarga yang sudah kami bangun."
Hendra menutup wajahnya.
Selama bertahun-tahun...
Ia tidak pernah tahu.
Putri kandungnya tumbuh tanpa dirinya.
Belajar berjalan tanpa dirinya.
Masuk sekolah tanpa dirinya.
Menangis tanpa dirinya.
Dan memanggil pria lain dengan sebutan "Ayah".
---
Sejak hari itu...
Hendra membuat satu keputusan.
Ia tidak akan merebut posisi Bima.
Karena bagaimanapun...
Pria itulah yang telah membesarkan Arina dengan penuh kasih sayang.
Namun dalam diam...
Hendra berjanji akan menjaga Arina dengan caranya sendiri.
Ia menjadi paman yang selalu hadir.
Membantu ketika Arina kesulitan.
Mengawasi dari kejauhan.
Tanpa pernah mengungkapkan siapa dirinya sebenarnya.
Dan ketika ia mengetahui Adrian mengkhianati Arina...
Janji itu kembali teringat.
Hendra menggenggam foto bayi Arina yang selama ini ia simpan.
Matanya memerah.
"Aku memang terlambat menjadi ayahmu..."
bisiknya pelan.
"Tapi aku tidak akan terlambat melindungimu."
Tatapannya berubah tajam.
Kali ini bukan lagi tatapan seorang paman.
Melainkan seorang ayah...
yang bersiap melakukan apa pun demi menyelamatkan putri kandungnya dari pria yang telah menghancurkan kepercayaannya.
--------
Bersambung....