Arina membeku.
Jari-jarinya yang menggenggam kotak hadiah perlahan mengencang hingga ruas-ruasnya memutih.
Dari balik dinding kaca ruang rapat, ia melihat Adrian dan Nadia berdiri saling berhadapan.
Tidak ada pelukan.
Tidak ada sentuhan yang melampaui batas.
Namun cara Adrian menatap wanita itu...
adalah tatapan yang sudah lama tidak pernah Arina rasakan.
Hangat.
Tenang.
Penuh perhatian.
Tatapan yang dulu selalu menjadi miliknya.
"Bu Arina?"
Suara resepsionis yang baru keluar dari lift membuat Arina tersentak.
"Oh... iya."
"Saya antar masuk?"
Arina buru-buru menggeleng.
"Tidak usah."
Ia memaksakan senyum.
"Aku... tunggu di sini saja."
Resepsionis itu mengangguk lalu pergi.
Begitu lorong kembali sepi, Arina mengembuskan napas panjang.
"Mungkin aku terlalu sensitif..."
gumamnya.
"Dia memang sedang rapat."
Ia terus berusaha menenangkan pikirannya.
Namun entah mengapa...
perasaannya mengatakan sesuatu yang berbeda.
---
Di dalam ruang rapat.
Nadia sengaja melirik ke arah pintu kaca.
Bayangan Arina masih terlihat berdiri di luar.
Sudut bibirnya melengkung tipis.
"Pak."
"Hm?"
"Istri Bapak benar-benar beruntung."
Adrian mengangkat kepala.
"Maksudmu?"
"Bapak selalu bekerja keras untuk keluarga."
Kalimat itu terdengar seperti pujian.
Padahal sebenarnya...
Nadia sedang memastikan Adrian tidak segera keluar.
Ia ingin Arina melihat lebih lama.
Melihat kedekatan mereka.
Membiarkan benih kecurigaan tumbuh dengan sendirinya.
"Kalau tidak ada lagi yang perlu dibahas, saya kembali ke ruangan."
Adrian mengangguk.
"Oke."
Nadia membuka pintu.
Begitu keluar...
Ia berpura-pura terkejut.
"Bu Arina?"
Arina tersenyum sopan.
"Halo."
"Astaga... sejak kapan di sini?"
"Baru saja."
"Kenapa tidak masuk?"
"Aku cuma mau kasih ini."
Arina mengangkat kotak hadiah kecil di tangannya.
"Oh..."
Nadia tersenyum ramah.
"Pak Adrian pasti senang."
Kalimat itu terdengar biasa.
Tetapi mata Nadia sempat melirik bunga lily yang dibawa Arina.
Dalam hati ia mencibir.
"Masih saja berusaha menyenangkan suami yang bahkan tidak mengingat hari pernikahan kalian."
Namun wajahnya tetap dipenuhi keramahan.
"Silakan masuk, Bu."
---
Adrian menoleh saat pintu kembali terbuka.
Ekspresinya berubah.
"Arina?"
"Iya."
Arina berjalan perlahan.
"Aku cuma mau nganter hadiah yang tadi ketinggalan."
Adrian terlihat sedikit canggung.
"Oh... makasih."
Kotak itu diterimanya begitu saja.
Tanpa dibuka.
Tanpa rasa penasaran.
Tanpa pelukan.
Arina menunggu.
Mungkin Adrian akan mengucapkan sesuatu.
Namun yang terdengar justru...
"Kamu pulang naik apa?"
"Taksi."
"Nanti hati-hati."
Hanya itu.
Tidak ada ucapan selamat ulang tahun pernikahan.
Tidak ada rasa antusias.
Seolah hadiah itu hanyalah sebuah berkas kantor.
Senyum Arina perlahan memudar.
"Aku pulang dulu."
"Iya."
Adrian kembali melihat laptopnya.
Arina menatap pria itu selama beberapa detik.
Lalu berbalik pergi.
Begitu pintu tertutup...
Ruangan kembali sunyi.
Adrian menatap kotak hadiah di tangannya.
Entah mengapa...
Dadanya terasa berat.
---
Di dalam lift.
Arina masih tersenyum.
Namun saat pintu lift menutup rapat...
Air matanya akhirnya jatuh.
Ia buru-buru mengusap pipinya.
"Jangan nangis..."
bisiknya.
"Cuma karena dia sibuk."
Tetapi hatinya tahu.
Bukan kesibukan yang membuat Adrian berubah.
Melainkan sesuatu yang belum ia ketahui.
---
Di sisi lain.
Nadia berdiri di pantry kantor sambil menuang kopi.
Seorang staf pemasaran menghampirinya.
"Bu Nadia."
"Iya?"
"Tadi istri Pak Adrian cantik banget ya."
Nadia tersenyum tipis.
"Iya."
"Kelihatannya baik."
"Istri Pak Adrian memang baik."
Jawaban itu tulus.
Arina memang baik.
Terlalu baik.
Dan justru itulah yang membuat Nadia merasa lebih mudah mengalahkannya.
Menurut Nadia...
Wanita sebaik Arina tidak akan pernah berani mempertahankan suaminya.
Ia yakin...
Jika suatu hari perselingkuhan ini terbongkar...
Arina hanya akan menangis.
Lalu menyerah.
Nadia sama sekali tidak tahu...
Bahwa perempuan yang terlihat lembut sering kali menyimpan kekuatan terbesar saat hatinya benar-benar dihancurkan.
---
Malam harinya.
Adrian pulang lebih larut dari biasanya.
Arina sudah menyiapkan makan malam lagi.
Meski kejadian di kantor terus terbayang di pikirannya, ia tetap berusaha menjadi istri yang sama.
"Mas, makan dulu."
"Nanti saja."
"Aku sudah panasin."
"Aku capek."
Adrian langsung masuk ke kamar kerja.
Pintu ditutup.
Arina kembali duduk sendirian di meja makan.
Tatapannya kosong.
Beberapa menit kemudian...
Ponsel Adrian yang tertinggal di sofa bergetar.
Layar menyala.
Sebuah notifikasi muncul.
Nadia
"Jangan lupa minum obat ya. Aku khawatir sakit kepalamu kambuh. Selamat istirahat, Pak 😊."
Arina tidak berniat membuka ponsel itu.
Namun nama yang muncul membuat napasnya tercekat.
Ia teringat kejadian siang tadi.
Ucapan Nadia.
Tatapan Adrian.
Perhatian kecil yang tampak begitu alami.
Jantungnya berdegup semakin cepat.
Perlahan...
Sebuah pertanyaan yang selama ini tak pernah berani ia pikirkan mulai muncul di benaknya.
Mengapa seorang sekretaris begitu memperhatikan suamiku... bahkan hingga hal-hal yang tidak pernah kuceritakan kepada siapa pun?
Di dalam kamar kerja, Adrian sama sekali tidak sadar bahwa satu notifikasi sederhana...
telah menjadi retakan pertama yang akan membuka seluruh rahasia di balik setiap perjalanan bisnisnya.
------------------------
Arina menatap layar ponsel Adrian yang baru saja padam.
Ia tidak membuka pesan itu.
Tidak membaca isinya.
Apalagi memeriksa percakapan suaminya.
Selama tujuh tahun menikah, Arina selalu percaya bahwa kepercayaan adalah fondasi terpenting dalam sebuah rumah tangga. Ia tak pernah menanyakan dengan siapa Adrian bertemu, tak pernah menghubungi berkali-kali saat suaminya bepergian, dan tak pernah sekalipun memeriksa isi ponselnya.
Namun malam ini...
Untuk pertama kalinya, keyakinan itu mulai retak.
"Mas."
Arina mengetuk pelan pintu ruang kerja.
"Boleh masuk?"
"Masuk."
Adrian masih sibuk menatap layar laptop.
Jarinya bergerak cepat di atas papan ketik.
Arina meletakkan secangkir teh hangat di samping laptopnya.
"Aku buatkan teh."
"Makasih."
Jawaban itu singkat.
Tanpa menoleh.
Pandangan Arina kemudian jatuh pada koper hitam yang masih tergeletak di sudut ruangan.
"Kopernya belum dibongkar?"
"Nanti saja."
"Biar aku bereskan."
"Tidak usah."
Jawaban Adrian terdengar terlalu cepat.
Arina mengangkat wajah.
Selama ini, Adrian tak pernah keberatan jika ia membereskan koper sepulang perjalanan bisnis.
Hari ini...
Sikapnya berbeda.
"Aku cuma mau bantu."
"Besok saja."
Nada suaranya mulai terdengar tidak sabar.
Arina mengangguk pelan.
"Baik."
Setelah pintu tertutup kembali, Adrian mengusap wajahnya.
Tatapannya beralih ke koper di sudut ruangan.
Di kantong bagian dalam masih tersimpan sebuah gelang wanita yang tanpa sengaja tertinggal setelah pertemuannya dengan Nadia.
Ia belum sempat mengembalikannya.
"Untung Arina tadi nggak jadi buka koper..."
gumamnya lirih.
---
Di kamar tidur, Arina duduk termenung.
Pesan dari Nadia.
Larangan menyentuh koper.
Tatapan Adrian di kantor.
Semua potongan kejadian itu terus berputar di kepalanya.
"Jangan berpikir macam-macam..."
bisiknya.
"Mungkin aku memang terlalu sensitif."
Namun semakin ia mencoba meyakinkan dirinya, semakin kuat pula rasa gelisah yang menggerogoti hati.
---
Keesokan paginya.
Seperti biasa, Arina mengumpulkan pakaian kotor sebelum dicuci.
Ia mengambil jas abu-abu milik Adrian yang masih tergantung rapi di ruang ganti.
Saat merapikan bagian kerah...
Tangannya berhenti.
Ada sehelai rambut panjang berwarna cokelat terang yang tersangkut di sana.
Arina menatapnya lama.
Rambutnya sendiri hitam legam.
Dengan hati-hati ia mengambil helaian rambut itu.
Dadanya mulai berdebar.
"Mungkin rambut rekan kerja..."
gumamnya, mencoba tetap berpikir positif.
Namun ketika ia mendekatkan jas itu ke hidungnya, ada aroma parfum yang asing.
Lembut.
Manis.
Sangat feminin.
Bukan aroma parfum Adrian.
Dan jelas bukan parfum yang pernah ia pakai.
Arina memejamkan mata.
Untuk pertama kalinya...
Ia kesulitan mencari alasan.
---
Di kantor.
Nadia menyerahkan agenda perjalanan berikutnya.
"Pak, minggu depan ada kunjungan ke Surabaya."
Adrian membuka berkas itu.
"Berapa hari?"
"Tiga hari."
"Hotel sudah dipesan?"
"Sudah."
Nadia tersenyum tipis.
"Seperti biasa."
Tatapan mereka bertemu sejenak.
Tak perlu penjelasan lebih panjang.
Keduanya sama-sama memahami arti kalimat itu.
---
Sementara itu, di rumah...
Arina hendak memasukkan jas Adrian ke mesin cuci ketika sesuatu terjatuh dari saku bagian dalam.
Sebuah kartu parkir.
Ia memungutnya.
Matanya langsung tertuju pada tulisan yang tercetak jelas.
Grand Jasmina Hotel
Tanggal pada kartu itu membuat napasnya tercekat.
Tanggal yang sama ketika Adrian mengatakan harus makan malam dengan klien hingga larut malam.
Arina mengernyit.
Bukankah Adrian mengatakan rapat berlangsung di kantor cabang?
Mengapa justru ada kartu parkir hotel?
"Mungkin kliennya menginap di sana..."
Ia kembali mencari pembenaran.
Tetapi kali ini...
Bahkan dirinya sendiri tidak sepenuhnya percaya.
Arina duduk di kursi ruang makan.
Di hadapannya tergeletak dua benda kecil.
Sehelai rambut.
Dan kartu parkir Grand Jasmina Hotel.
Bagi orang lain, mungkin keduanya tidak berarti apa-apa.
Namun bagi seorang istri...
Dua benda itu mulai mengusik kepercayaan yang selama ini ia jaga sepenuh hati.
Tatapannya beralih ke foto pernikahan yang tergantung di dinding.
Di dalam foto itu, Adrian menggenggam tangannya erat sambil tersenyum penuh cinta.
Arina mengusap bingkai foto itu perlahan.
"Apa yang sebenarnya sedang kamu sembunyikan dariku, Mas?"
Tak ada jawaban.
Hanya keheningan yang memenuhi rumah mereka.
Dan tanpa disadari Arina...
Langkahnya menuju kebenaran baru saja dimulai.
--------------
Sejak menemukan kartu parkir Grand Jasmina Hotel, hati Arina tak lagi setenang dulu.
Ia memang masih tersenyum di hadapan Adrian.
Masih menyiapkan sarapan.
Masih menyetrika kemeja dan dasinya seperti biasa.
Namun kini, setiap perhatian yang ia berikan selalu disertai satu pertanyaan yang terus menghantuinya.
Apa selama ini aku hanya hidup dalam kebohongan?
---
Pagi itu Adrian turun dari lantai atas dengan setelan jas biru tua.
"Mas, sarapannya sudah siap."
"Aku nggak sempat."
"Tapi ini cuma sebentar."
"Nanti makan di kantor."
Adrian mengambil kunci mobil.
Sebelum keluar, Arina merapikan dasinya yang sedikit miring.
Sentuhan lembut itu membuat Adrian menatap istrinya beberapa detik.
"Kenapa?"
"Nggak apa-apa."
Arina tersenyum.
"Cuma pengin lihat wajah Mas lebih lama."
Kalimat sederhana itu justru membuat Adrian merasa bersalah.
Ia hampir mengatakan sesuatu.
Namun ponselnya kembali bergetar.
Nama Nadia muncul di layar.
"Pak, klien sudah datang lebih cepat."
Adrian langsung memasukkan ponselnya ke saku.
"Aku berangkat dulu."
"Iya... hati-hati."
Arina berdiri di depan pintu sampai mobil Adrian benar-benar menghilang dari pandangan.
Senyumnya perlahan memudar.
---
Di kantor.
Nadia sudah menunggu di depan ruang direktur.
"Selamat pagi, Pak."
"Pagi."
"Kopi Bapak sudah saya siapkan."
"Terima kasih."
Nadia mengikuti Adrian masuk ke ruangan.
"Ngomong-ngomong..."
Adrian meletakkan tas kerjanya.
"Minggu depan benar tiga hari?"
"Iya."
Nadia membuka tablet.
"Semua jadwal sudah saya atur."
"Bagus."
"Seperti biasanya."
Kalimat terakhir diucapkannya pelan.
Adrian memahami maksudnya.
Ia hanya mengangguk tanpa memberi jawaban.
---
Di rumah.
Arina membuka lemari kerja Adrian.
Bukan untuk mencari bukti.
Ia hanya ingin menyimpan beberapa dokumen yang semalam tertinggal di ruang tamu.
Tanpa sengaja, sebuah map berwarna hitam terjatuh.
Isinya adalah salinan jadwal perjalanan bisnis Adrian selama beberapa bulan terakhir.
Arina membukanya sekilas.
Jakarta.
Bandung.
Surabaya.
Yogyakarta.
Hampir setiap bulan.
Ia tersenyum kecil.
"Mas memang sibuk sekali..."
Namun saat hendak menutup map itu, matanya menangkap sesuatu.
Setiap perjalanan selalu dipesankan oleh satu nama.
Nadia Prameswari.
Tentu saja.
Nadia memang sekretaris Adrian.
Tidak ada yang aneh.
Tetapi entah mengapa...
Nama itu kini terasa begitu mengganggu.
---
Siang harinya.
Arina pergi menemui sahabat lamanya, Siska.
Mereka sudah berteman sejak kuliah.
"Kelihatan capek."
Siska langsung menyadari perubahan wajah Arina.
Arina hanya tersenyum hambar.
"Aku cuma kurang tidur."
"Kamu bohong."
Arina terdiam.
Sudah lama ia tidak bercerita kepada siapa pun.
Namun hari itu...
Entah mengapa, semua beban di dadanya terasa ingin keluar.
"Aku ngerasa Adrian berubah."
Siska tidak langsung menyela.
"Berubah bagaimana?"
"Lebih dingin."
"Sering pulang malam."
"Sering sibuk sama ponselnya."
"Lalu..."
Arina menarik napas panjang.
"Aku menemukan kartu parkir hotel."
Wajah Siska langsung berubah serius.
"Hotel?"
Arina mengangguk.
"Terus ada rambut perempuan di jasnya."
Siska menggenggam tangan sahabatnya.
"Kamu sudah tanya?"
Arina menggeleng.
"Aku takut."
"Takut apa?"
"Takut kalau semua kecurigaanku ternyata benar."
Suara Arina mulai bergetar.
"Aku lebih siap dibohongi daripada kehilangan dia..."
Mata Siska ikut berkaca-kaca.
"Rin..."
"Tapi kalau aku salah menuduh, aku juga akan menghancurkan rumah tanggaku sendiri."
Siska menghela napas panjang.
"Kalau begitu..."
"Jangan menuduh."
"Tapi cari tahu dulu kebenarannya."
Kalimat itu terus terngiang di kepala Arina.
Cari tahu dulu kebenarannya.
---
Sore harinya.
Adrian menerima sebuah telepon.
"Pak."
Suara Nadia terdengar dari seberang.
"Reservasi Grand Jasmina Hotel sudah dikonfirmasi."
Adrian menatap layar komputernya.
"Baik."
"Suite yang biasa juga sudah tersedia."
Adrian terdiam beberapa saat.
"Terima kasih."
Ia menutup telepon.
Tanpa disadari...
Di balik pintu ruangannya, salah seorang staf administrasi baru saja mendengar potongan percakapan itu.
Meski tidak memahami maksudnya, ia sempat bertanya-tanya.
Mengapa perjalanan bisnis atasannya selalu dipesankan kamar suite di hotel yang sama?
Pertanyaan kecil itu mungkin tampak sepele.
Namun perlahan...
Rahasia yang selama ini disimpan Adrian dan Nadia mulai meninggalkan jejak.
Jejak yang suatu hari nanti akan membawa Arina pada kebenaran yang paling menyakitkan.
-------------
Bersambung....